Wednesday, August 31, 2016

TERNYATA OH TERNYATA...



Roma 12 :3, "Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang diantara kamu : Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan ALLAH kepada kamu masing-masing."

Musim liburan tiba dan anak pertama kami mendapatkan liburan kenaikan kelas yang cukup panjang tahun ini. Kami lantas mengajaknya ke Pekan Raya Jakarta, karena saat itu sedang diadakan Jakarta Fair dalam rangka hari Ulang Tahun Kota Jakarta. Ketika sampai, kami lalu mencari tempat parkir mobil, sebelum turun Papa berkata, "Lebih baik HP kita tinggalkan saja ya di mobil, kan nanti kita sama-sama terus." "Saya bawa saja Pa, kan nanti mau foto anak-anak," jawabku. Setelah membeli tiket kami masuk dan langsung melihat tempat permainan anak-anak dan anak anak-asyik bermain disana. Setelah selesai bermain hari mulai malam dan mereka mulai merasa lapar lalu kami pun makan.

Selesai makan, kami berjalan-jalan lagi. Ketika saya ingin mengambil foto mereka sebelum pulang. saya merogoh tas saya ternyata HP tidak ada didalamnya."Pa kok HP Mama kok tidak ada ya.. apa tadi waktu bayar jatuh? Tapi HP kan lumayan berat kalau jatuh pasti terasa," saya kebingungan. "Coba cek yang benar siapa tahu keselip," kata Papa. Lalu saya mengeluarkan semua isi tas, dan membalik tasnya, "tuuuh.. betulkan tidak ada Pa.." jawabku khawatir.
Ketika sampai dimobil, saya mulai memeriksa disana sini, tetapi tidak ketemu juga.
"Mungkin waktu Mama membuka tas dan mau membayar, ada yang ambil.. tapi masa iya, HP nya dipaling bawah kok", saya coba menjelaskan situasinya.
"Tadikan sudah Papa bilang kita tinggalkan saja HP nya dimobil. Ya sudahlah kita laporkan saja ya".
Setelah mengisi form kehilangan kamipun pulang. Sepanjang perjalanan saya menyesal tidak mendengarkan Papa dan berpikir kok bisa HP dibagian bawah tas hilang sedangkan dompet diatasnya tidak hilang. Saya teringat foto-foto kenangan dan data-data yang ada didalamnya. Ketika sampai dirumah, kami dikagetkan sesuatu...
"Ma ini HP nya sedang dicharge, tadi katanya dibawa..", Papa berkata sambil tersenyum. Oh.. ternyata.. tinggal dirumah. Besok paginya Papa menelpon security semalam untuk membatalkan laporan karena HP ternyata tinggal dirumah.

Terkadang ketika sesuatu terjadi karena kealpaan kita, gantinya introspeksi diri tetapi kita mengkira-kira orang lain yang bersalah. Ayat kita hari ini mengingatkan kembali bahwa kita hendaklah berpikir tidak terlalu jauh tetapi percaya dan berserah kepada TUHAN. Tuhan memberkati.

Tuesday, August 30, 2016

Sahabat Sejati


Yohanes 15 : 13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”


Aku mempunyai  sahabat,  baik di tempat tinggal maupun di lingkungan gerejaku.  Pada suatu hari aku dan tiga orang sahabatku yang seiman, berencana untuk bisa meluangkan waktu bersama untuk bisa berkumpul dan berbagi cerita dengan waktu yang cukup.  Namun karena kesibukan masing-masing, apa yang direncanakan belum juga terwujud. Sampai pada suatu hari.
“Kalau hari Kamis bisakah?” Tanyaku kepada temanku. “Nanti aku tanya lagi, soalnya teman kita yang satu ini suka nginap di rumah  saudaranya.” Jawab sahabatku “Kalau bisa tolong segera kabarkan ya, supaya aku bisa atur waktu.”  Demikian penggalan percakapanku dengan salah seorang sahabatku, sebelum akhirnya kami berempat mendapat kesepakatan untuk bisa jalan bersama dengan tujuan sebuah tempat wisata.

Sepanjang perjalanan menuju tempat itu, kami bercerita tentang kesibukan masing-masing dalam rumah tangga, juga peran masing-masing dalam gereja. Pada waktu tiba di tempat wisata, di lokasi itu  kami menemukan ada  sebuah rumah mungil, tempat menjual souvenir. “Ini gembok buat apa ya?’’ Tanya temanku kepada penjaga toko, sambil memegang gembok berwarna-warni yang bergambar hati.  “Itu gembok cinta bunda” kata penjaga toko. “ “Maksudnya apa?”  “Biasanya orang beli dan menuliskan nama di atas gembok itu, lalu gembok itu digantung di pagar yang ada di depan sana, sebagai tanda saling mencintai.”  Kata penjaga toko,  sambil menunjuk pagar di samping rumah mungil, yang penuh dengan gembok2 yang tergantung.   Karena penasaran, aku keluar dan melihat-lihat gembok-gembok yang tergantung itu.  Di situ kudapati tulisan nama orang, umumnya nama pria dan wanita, walaupun ada juga nama wanita dan wanita.  Aku jadi punya ide, kupanggil ke tiga temanku dan kusampaikan ideku.  “Masing-masing kita tulis nama di gembok ini.”  “Kalau orang pacaran berjanji sehidup semati,  kita berjanji setia pada Tuhan, supaya kalaupun kita berpisah di dunia ini, kita akan bertemu di surga.” Kata temanku menambahkan. “Betul sekali, nanti kalau diantara kita punya kesempatan kembali kesini lagi, tolong lihat, apakah kunci yang kita gantung masih di tempatnya.”  Kami berempat tertawa dan berebutan untuk membayar harga gembok,  lalu mencari posisi pagar yang mudah diingat tempatnya, untuk menggantung kunci yang ada nama kami berempat.

Mempunyai sahabat  sejati adalah impian setiap orang.  Seseorang mengatakan “Bukan suatu keajaiban ketika kamu memiliki sejuta teman. Sebuah keajaiban itu, ketika kamu mempunyai seorang teman yang selalu ada di samping kamu ketika berjuta orang menjauhimu.” Kata orang teman terbaik itu seperti berlian langka. Sangat sulit untuk ditemukan dan beruntung bagi yang memiliki.  Ayat kita pagi ini mengingatkanku, bahwa masing-masing kita paling tidak mempunyai seorang sahabat sejati, yang telah rela mati bagi kita, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita.  Terima kasih Tuhan karena telah menjadi sahabat sejatiku.

Monday, August 29, 2016

Piknik Lansia


Yesaya 1 : 17, “Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda.” 

Setelah mendapat persetujuan majelis, pimpinan BWA dibantu oleh beberapa ibu-ibu muda lainnya mengatur acara piknik sehari untuk para orang tua senior yang berada di gereja kami. Tibalah hari yang dinantikan.  Pagi itu, matahari masih bersembunyi di ufuk timur, sebuah bus besar parkir di depan rumah salah satu anggota gereja, siap mengangkut para peserta piknik. “Selamat pagi bapak-bapak  dan ibu-ibu yang kekasih, saya mau absen dulu jumlah peserta piknik” kata seorang ibu. “Semua peserta sudah lengkap, kecuali seorang oma yang tidak jadi ikut karena kurang sehat.  Bapak Pendeta "A"  dan ibu akan ketemu kita di farm house,” demikian lanjut ibu tadi menjelaskan status peserta piknik lainnya,  sebelum meminta gembala jemaat  berdoa untuk mengawali perjalanan.  Setiap peserta telah memilih teman duduk sebangku. Tawa canda mulai terdengar,   wajah-wajah cerah nampak dari setiap peserta. Laporan perjalanan segera tersebar melalui photo2 yang dikirim melalui WA. Setibanya di lokasi, bapak Pendeta “A” dan ibu  sudah menunggu. “Terima kasih ibu-ibu yang mengingat kami, walaupun kami sudah lebih sering di Bandung, tapi kami diingat dan diajak dalam piknik ini.” Itulah yang disampaikan oleh Bapak Pendeta “A” dengan senyum lebar, ketika pertama kali bertemu dengan rombongan peserta yang turun dari bus. Ada dua tempat lokasi yang kami kunjungi hari itu,  para ibu dan bapak senior silih berganti mengambil gambar, termasuk para pendamping.

Ketika saatnya untuk pulang, bernyanyi dan berjoget bersama, mengisi sepanjang perjalanan pulang itu.    Pertanyaan2 dengan hadiah  yang telah disiapkan oleh ibu-ibu muda peserta piknik, menjadi acara yang dinikmati sekaligus ajang untuk berbagi kasih.   Pada waktu acara pesan dan kesan disampaikan, semua menyampaikan kesannya dan berharap akan ada acara2 lainnya untuk para senior di waktu yang akan datang. Seorang ibu berdiri dan berbicara : ”Saya mau mewakili peserta senior, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada gereja dan ibu-ibu yang sudah mengatur hingga terselenggaranya piknik hari ini. Tidak bisa saya ungkapkan kebahagiaan hati saya hari ini.  Biarlah Tuhan saja yang membalas segala kebaikan hati ibu-ibu sekalian. Saya berdoa, semoga anak-anak muda kita, akan  melakukan hal yang sama kepada ibu-ibu muda yang ada saat ini, ketika mereka juga sudah seperti kami-kami ini. ” “Amin..” kata peserta lainnya.  

Matahari telah kembali ke peraduannya, berganti dengan bulan yang muncul tersenyum manis,   menyinari wajah para orang tua yang turun dari bus, sebelum masing-masing pulang ke rumah membawa kenangan yang indah.
Piknik sehari untuk para orang tua yang dilaksanakan di gereja saya, menunjukkan kepedulian terhadap  para orang tua senior,  yang kebanyakan sudah ditinggalkan pasangan hidupnya, para janda.  Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah para orang tua tersebut, membuatku merasa bahagia. Benarlah pepatah yang mengatakan :” Bila engkau ingin bahagia, bahagiakan orang lain.”

Sunday, August 28, 2016

WASPADALAH


Ibrani 4:1  Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.

Jalan tol atau jalan bebas hambatan sangat membantu dalam mempersingkat perjalanan. Saya ingat, beberapa tahun yang lalu, ketika belum ada jalan tol langsung dari Bekasi ke Bandung, saya harus melakukan perjalanan selama kurang lebih 5-6 jam sebab saat itu, jalan tol yang dibangun baru sampai ke Cikampek dan selanjutnya melalui jalan biasa. Saya harus melakukan perjalanan dari Bekasi ke Bandung paling tidak satu pekan sekali oleh karena ada satu tugas yang harus dilakukan di Bandung. Pagi-pagi sekali, ketika ayam belum berkokok, saya sudah melakukan perjalanan ke Bandung melalui tol Cikampek, lanjut menuju Purwakarta dan Padalarang.

“Pa,  besok ke Bandung lagi ya.? “Betul, ada apa ma?”  “Hati-hati pa, jangan ngebut-ngebut. Kini, perjalanan ke Bandung cukup ditempuh dalam 2-3 jam saja, sebab jalan tol langsung dari Bekasi sampai Bandung sudah ada, tapi rawan kecelakaan.”  Demikian istri saya mengingatkan.   Memang, dengan adanya tol Bekasi – Bandung ini, memudahkan orang untuk melakukan perjalanan melalui jalan ini. Dengan jalan yang bagus dan bebas hambatan, mobil-mobil yang dipacu kecepatannya berharap dapat tiba lebih cepat di tujuan. Jalan yang relatif lurus dengan sedikit kelokan, membuat para pengemudi sering lepas kontrol dalam mengendalikan kendaraannya. Memang, enak sekali memacu kendaraan di jalan tol, namun bila lengah bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Menurut pengelola jalan tol, penyebab kecelakaan yang paling utama adalah kurangnya antisipasi pengemudi alias kurang waspada. Kurangnya respon kita terhadap kendaraan-kendaraan lain.

Dengan kisah ini, kita diingatkan kembali, bahwa kita tetap harus waspada. Sama seperti jalan tol, yang bebas hambatan, kita dapat lupa diri untuk memacu kecepatan kendaraan kita, sehingga kita bisa lepas kendali atau kurang antisipasi (kurang waspada) yang bisa mengakibatkan kecelakaan. Begitu juga dalam kerohanian kita, terkadang kita tidak sadar akan apa yang kita lakukan, sering kali kita menganggap bahwa sudah melakukan yang terbaik untuk Tuhan. Sudah mengembalikan persembahan dan perpuluhan. Sudah banyak menolong orang miskin dan juga aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan gereja. Namun, kita juga tetap harus waspada, jangan melupakan hal-hal yang sepertinya dianggap kecil. Renungan pagi ini boleh jadi merupakan salah satu cara agar kita boleh tetap waspada dalam menjalani hari-hari di depan kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Saturday, August 27, 2016

BURUNG YANG BERNYANYI


Mazmur 103:2, "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"

Setiap pagi kami selalu dibangunkan oleh kicauan burung yang ada di pohon belakang rumah. Kira-kira jam 05.30, burung-burung tersebut mulai bernyanyi.  Memang terkadang, ada terlambat, itupun karena cuaca hujan, atau mendung sehingga sinar matahari terlambat memancarkan sinarnya. “Ah, alangkah senangnya mendengar kicauan burung-burung itu.”

“Anak-anak, ayo cepat bangun,  papa dan mama harus berangkat kerja lebih pagi!”  kataku, sambil memanggil nama anak-anakku agar segera bergabung untuk renungan pagi. “Kenapa sich ma buru-buru amat?”  “Papa masih ada kerjaan yang belum beres kemarin,  jadi harus pergi lebih cepat, mama juga.” kataku menjelaskan. Kami membaca firman Tuhan dan berdoa secepatnya, lalu langsung menuju ke tempat kerja masing-masing.  Kami seringkali ingin seperti burung-burung tersebut. Bangun pagi hari dengan suasana yang ceria. Bernyanyi memuji nama Tuhan. Namun, seringkali masalah yang terjadi pada hari sebelumnya mempengaruhi kami. Seringkali kami bangun pagi dengan terburu-buru, sehingga kami hanya melakukan renungan pagi hanya sebatas ritual saja. Kami tidak sempat lagi mengingat akan segala kebaikan Tuhan dan memuji-muji nama Tuhan.

Dalam buku Mazmur, kita membaca bahwa raja Daud selalu memuji Tuhan. Baik dalam keadaan susah maupun senang. Dalam keadaan apapun, dia tetap memuji Tuhan. Inilah yang menjadi peringatan bagi kita. Banyak kebaikan yang kita terima sepanjang hari-hari yang kita lalui yang kadang tidak sadar kita nikmati. Lepas dari segala masalah yang kita hadapi, kita harus selalu bersyukur atas kebaikan Tuhan. Bukankah kesulitan dan masalah yang kita hadapi telah berlalu? Itu yang membuktikan bahwa Tuhan turut campur tangan dalam melepaskan kita dari masalah kita. Tuhan sungguh amat baik dan kita jangan pernah melupakan segala kebaikan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

Wednesday, August 24, 2016

Gratis Untuk Anda Hari Ini !

Efesus 2:8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”


Hari Minggu yang cerah.  Sehabis olahraga dan makan pagi, saya ajak anak-anak berberes rumah. Kebetulan sedang tidak ada mbak yang biasa membantu.  “Bang, kamu menyapu dan mengepel ya…” kataku pada anakku yang kedua.  “Kalau kakak masak ya.  Dan adek sapu halaman luar” lanjutku pada si sulung dan si bungsu.  “Oke pa…” Mereka bergegas melakukan tugas masing-masing.  Aku membawa pakaian yang akan dimasukkan ke mesin cuci.  “Tut tit tut...tut tit tut…” kedengaran bunyi nada panggil di telepon genggamku.


“Selamat pagi pak...perkenalkan saya dari Telkom” terdengar suara wanita yang ramah di ujung telepon menyapa.  “Hari ini bapak beruntung. Sebagai pelanggan Indihome, saya tawarkan kepada bapak beberapa saluran televisi yang bagus…” dia menyebutkan beberapa saluran yang menawarkan tontontan film-film Hollywood.  Kebetulan aku tidak berlangganan saluran tersebut.  “Dan saya dapat tonton dengan gratis semuanya?” tanyaku menyimpulkan karena dia bilang saya hari ini tengah beruntung.  “Ohh, tidak gratis pak.  Tapi bapak bisa dapatkan semua dengan harga potongan khusus…”  suara di sana meneruskan penjelasan dan promosinya.


Tidak ada makan siang yang gratis, demikian ungkapan yang kita sering dengar.  Di dunia ini tidak ada yang gratis.  Semua ada nilai dan harga yang harus dibayar.  Tetapi surga menawarkan sesuatu yang sangat berharga dengan gratis!  Ayat inti Roti Pagi ini mengatakan bahwa Tuhan memberikan karunia keselamatan kepada kita. Diberikan secara cuma-cuma.  Gratis! Padahal, keselamatan itu harus ditebus dengan harga mahal yaitu darah Yesus yang telah tercurah bagi kita. Allah membayar dengan mahal pemberian keselamatan bagi kita.  Allah begitu sayang kepada anda dan saya.  Kehidupan kekal ditawarkan dengan gratis.  Mari kita menerima tawaran Allah ini dan tetap setia sampai Yesus datang.

Have a great day!

Tuesday, August 23, 2016

Iman yang teguh


Yesaya 46 : 4 , "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

"Besok kita periksa ke dokter ya mam." Ajak saya kepada ibu saya yang sedang merasakan   sakit. "Udah sebulan lebih ngga sembuh2.", jawab ibu saya. "Saya pikir mami sakit flu biasa, kalau begitu kita periksa aja mam." Jawab saya memastikan ajakan.
Kami baru saja merayakan ultah ibu saya yang ke 84 tahun di Bandung bulan Februari yang lalu. Ketika itu kondisi ibu saya masih sehat, namun beberapa hari setelah itu, ia merasakan sakit flu yang tak kunjung sembuh.

Akhirnya kami bawa untuk diperiksa ke dokter ahli dan hasil pemeriksaannya dinyatakan dia harus diambil tindakan operasi. Kami keluarga merasa kuatir karena tim dokter menyatakan bahwa seseorang yang berusia 84 jika dioperasi sangat beresiko dengan tingkat keberhasilan hanya 20 persen. Mendengar hal ini, kami anak-anaknya bingung dan berembuk mencari cara terbaik untuk memberitahukan kepada ibu kami untuk dioperasi. Oleh karena ibu kami pernah menyatakan untuk menolak operasi jika ia sakit.

Ketika kami beritahukan hal ini, ibu saya memberi jawaban yang pasti bahwa dia siap dioperasi karena ia percaya bahwa Tuhan yang selama ini telah memimpin dia, Tuhan yang sama akan menyembuhkan dia - Ia menunjukkan Iman yang besar.  Kamipun merasa dikuatkan. Operasi akhirnya telah dilakukan berhasil dengan baik atas pimpinan Tuhan. Saat ini Ibu saya telah sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa. Kami bersyukur dan memuji nama-Nya atas pimpinan dan pemeliharaan-Nya bagi ibu yang sangat kami cintai ini. Kiranya ini juga dapat menguatkan kita, ketika kita percaya dan yakin akan pimpinan Tuhan. Ia juga akan memberikan yang terbaik bagi kita. Tuhan memberkati.

Sunday, August 21, 2016

Tetaplah Berdoa


Matius 21 : 22, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”

Selama ini saya merasa hidup yang saya jalani aman-aman saja. Walaupun tidak bisa dikatakan bebas dari masalah, namun, semua masalah yang saya hadapi bisa saya atasi.  Saya mengasihi Tuhan, meskipun dengan kasih yang belum sempurna, karena sering kali saya masih  bergantung kepada kekuatan sendiri. Sampai pada suatu hari…..
“Menurut dokter, saya sakit apa dok?” tanyaku kepada dokter dengan perasaan cemas. Dari wajah dokter saya bisa menebak ada yang serius dengan penyakit yang saya derita saat itu. “Menurut hasil diagnosa saat ini, ibu menderita penyakit……” mendengar penjelasan dokter,  darah saya serasa berhenti mengalir. Terlintas semua kemungkinan buruk yang akan saya lalui dengan penyakit itu. “Tapi, untuk memastikan, kita perlu pemeriksaan lebih lanjut,” kata dokter. “Pemeriksaan apa dokter?”  “kita akan lakukan patologi,” dokter menjelaskan. Suami saya berusaha menenangkan saya: “Tenang saja, pasti hasilnya baik.”

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saya lebih banyak berdiam ketika berada dalam kendaraan bersama suami saya.   Malamnya,  secara pribadi saya berdoa dan berdoa, memohon serta bergumul kepada Allah, agar hasil patologi tidak ditemukan sel-sel atipik. Namun setelah hasil patologi keluar, ternyata harapan saya tidak terjadi. Saat itu saya sempat kecewa, marah dan sedih, karena merasa Allah tidak mau mengabulkan doa saya.  Namun beberapa waktu kemudian, saya mulai menyadari,  doa bukanlah cara  terakhir bagi kita untuk mendapatkan jalan dalam setiap keinginan, harapan dan pergumulan hidup,  tetapi doa  adalah cara  utama bagaimana kita  mau menyerahkan diri kita  sepenuhnya kepada Allah. Dengan berdoa kita  dapat melihat dan mengerti akan  maksud Allah disetiap perkara hidup kita. Sebab doa mengubah segala sesuatu menjadi lebih baik. Saya memutuskan untuk mencari pendapat dokter lain tentang penyakit saya. Ternyata, hasilnya tidak seburuk hasil temuan dokter yang pertama.  Dengan dasar itu,  membuat saya dapat memilih tindakkan apa yang sebaiknya diambil untuk penanganan kasus penyakit saya. Puji Tuhan,  setelah belasan tahun berlalu, sampai saat ini,  saya masih sehat-sehat saja. Secara rutin, paling tidak setahun sekali saya melakukan medical check up untuk memantau keadaan penyakit saya, hasilnya tidak ada perkembangan yang membahayakan.  Ketika penyakit saya tidak berkembang, saya bersyukur karena sebaliknya iman saya kepada Tuhan semakin bertumbuh, saya belajar menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Walaupun bukanlah rencana Allah untuk mendatangkan kesusahan dalam hidup anak-anak-Nya, namun Allah juga turut bekerja di dalam segala sesuatu, untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Meskipun saya penuh dengan kekurangan, Allah mengasihi saya.  Allah mendengar dan menjawab setiap doa yang disampaikan dengan penuh kepercayaan.  Allah menggunakan penyakit yang saya derita untuk membawa saya lebih dekat kepada-Nya. Kadang-kadang Allah menenangkan angin ribut, di waktu yang lain Allah membiarkan  lautan bergelora dan menenangkan anak-Nya. Apapun yang terjadi,  tetaplah berdoa, karena Doa mengubah segalanya.

Friday, August 19, 2016

Saudara di dalam Tuhan


Yohanes 11:51-52,  "Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai."

"Hallo, bapak bersiap-siap besok berangkat ke Afrika ya." Suara di telepon ini mengejutkan saya dari salah seorang pimpinan saya di negara seberang. "Saya belum punya surat-surat dan tiket pak?" Jawab saya keheranan. "Siapkan saja perlengkapan kamu, besok berangkat ke Denpasar-Bali bersama dua orang staff dan bapak ditunggu disana." Demikian pimpinan saya menjelaskan. "Surat-surat dan tiket sudah disiapkan." Ia menambahkan.  Dan saya makin bertambah kaget, dengan tugas yang belum jelas serta negara yang belum pernah samasekali saya kenal. "Baik pak", jawab saya kemudian sambil mengakhiri telepon, sementara saya dan keluarga sedang menikmati kebersamaan setelah melewati hari Sabat.

Sesuai jadwal, kami tiba di Denpasar keesokan harinya dan pesawat telah disiapkan untuk menuju Afrika, sementara saya belum pernah tahu berapa lama perjalanan yang akan ditempuh serta siapa orang yang akan ditemui disana. Setelah beberapa jam lamanya kami di udara, tepat tengah malam tibalah kami di Harare, Zimbabwe. Ketika menuruni anak tangga pesawat, seorang pria berbadan gelap menghampiri kemudian menyapa dan yang saya ketahui kemudian adalah dia yang mengantar kami ke hotel tempat menginap dan ia pula yang akan menjempt dan mengantar kami keesokan hari untuk melanjutkan perjalanan darat ke negara lain. Ditengah perjalanan hari itu saya mencoba bertanya kepadanya yang kebetulan duduk dibelakang kemudi tepat dismping saya. "Apakah disini ada orang kristen?." Sementara mobil melaju, sambil memegang kemudi ia menjawab "Mayoritas penduduk disini adalah orang kristen." "Apakah disini ada gereja Seventh-day Adventist?" Saya melanjutkan pertanyaan dengan antusias. "Oh ya disini ada gerejanya, saya tahu tempatnya." Jawabnya kemudian. Saya mengangguk dan terdiam sejenak, kemudian pemuda ini melanjutkan, "ayah, ibu, kakak dan saya adalah anggota Seventh-day Adventist."
"What..?! Kamu Adventist..?" Saya bertanya keheranan. "Ya, saya Adventist," ia menjawab dengan pasti. "Saya juga Adventist" kata saya kemudian. "Kalau begitu kita 'one family', kita bersaudara, kita bersahabat." Katanya menutup perbincangan kami.

Saya kemudian menyadari, bahwa dalam perjalanan tugas pekerjaan yang melelahkan ini, Tuhan ada bersama saya dan dengan cara-Nya yang ajaib, Ia mempertemukan kami anak-anak-Nya. Saya dari Indonesia dan pemuda ini dari Zimbabwe yang berbeda bangsa, suku, bahasa dan bahkan warna kulit menjadi satu keluarga Ilahi. Ia menunjukkan kepada saya dalam waktu yang singkat, bisa bertemu dengan sesama umatnya dari belahan dunia yang berbeda yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Sungguh, Tuhan maha ajaib. Dan Tuhan itu baik sampai selama-lamanya.
Tuhan kiranya memberkati kita sekalian, di akhir pekan menjelang hari sabat ini.

Thursday, August 18, 2016

Tetap Percaya dan Tenang



Mazmur 62:2, "Hanya dekat Allah saja  aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku."

“Apakah sudah dapat kepastian kira-kira mau  sekolah dimana  anak kita?” “Belum pa, masih ditimbang-timbang, dari segi biaya, jarak tempuh,  keamanan lokasi,  dll. Pokoknya,  masih banyak yang  harus dipikirkan.  Kita harus benar-benar perhitungkan semuanya, terlebih keamanannya,  anak kita kan perempuan.” Kataku kepada suamiku, sambil memberikan beribu kriteria yang harus dipenuhi untuk mencari sekolah anakku, agar aku bisa tenang melepaskannya.  “Jangan terlalu banyak yang dikuatirkan  ma,  nanti susah sendiri. Coba berpikir dengan tenang, mari kita sama-sama putuskan yang terbaik dari yang ada dengan membawakannya  doa.” Kata suamiku dengan kalemnya, menanggapi apa yang kusampaikan.

Hal di atas adalah salah satu dari peristiwa sehari-hari yang sering membuat kita terjebak dalam kehidupan yang dihantui dengan kekuatiran, ketidak tenangan.  Padahal, kita tidak pernah tahu secara pasti bagaimana kehidupan kita  esok atau Iusa. Apakah semakin baik  atau sebaliknya. Dalam menjalani kehidupan kita  sering merasa kuatir dan takut. Kekuatiran dan ketakutan itulah yang pada  akhirnya membuat hidup kita  menjadi tidak tenang.  Dari hari  ke hari  kondisi dunia semakin tidak pasti, orang yang "berduit" gelisah dan  tidak tenang memikirkan bagaimana caranya menyimpan uang dan  hartanya dengan aman. Begitupun sebaliknya dengan orang yang berkekurangan juga tidak dapat tenang karena hari-harinya dipenuhi oleh  rasa  kuatir bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sakit  penyakit, ketidakadilan, dan ditambah lagi dengan kondisi dunia yang semakin tidak aman dan  damai.

Namun sebagai umat Allah kita  harus tetap percaya dan  tenang. Bagaimana agar  hidup kita  tenang? Kunci untuk hidup tenang adalah memiliki penyerahan diri penuh kepada Allah.  Orang yang tenang dapat kuat menghadapi persoalan apapun. Namun sebaliknya orang yang tidak tenang, pikirannya akan cenderung menuju ke arah  yang negatif. Banyak keputusan-keputusan yang salah kita  buat ketika  kondisi hati kita  tidak tenang. Bila kita tenang, kita bisa  berdoa dan  banyak persoalan yang dapat kita  selesaikan ketika kita berdoa. Amin.

Wednesday, August 17, 2016

ALLAH Sumber Kekuatan




Nahum 1 : 7
"TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya."


Tentunya kita  menikah dengan pasangan kita, berharap kehidupan rumah tangga kita  nanti bahagia dan sejahtera. Tetapi bagaimana jika harapan-harapan itu tidak terealisasi bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, timbul masalah demi masalah yang melahirkan kekecewaan, kesedihan dan  kepahitan.

“Aku tadinya berharap satu kali kelak suamiku akan sadar,  dan memilih mempertahankan istri dan anak-anaknya  daripada mengikuti pengaruh-pengaruh yang negatif.  Demi anak-anak, aku rela berkorban, walaupun menderita, aku tidak mau diceraikan, karena aku tidak mau anak-anakku mempunyai orang tua yang tidak lengkap oleh karena perceraian,” kata temanku sambil menangis.  “Doa, air mata dan harapan demi harapan adalah hal yang aku lalui setiap hari, tapi nampaknya sia-sia.   Suamiku,  akhirnya memilih meninggalkan kami,” lanjutnya sambil menangis lebih keras.   “Tabah ya, ini ujian,  aku hanya bisa berdoa untukmu,  serahkanlah semua bebanmu kepada Tuhan,” kataku berusaha menghibur, sebagai sahabat karibnya.   “Coba lihat bekas2 sayatan pada lenganku,  ini adalah “silet” terbang di hadapanku yang meninggalkan luka. Kadang-kadang ada asap putih tebal yang tiba-tiba muncul dan hilang begitu saja, aroma wewangian bunga yang tercium.  Semua itu terjadi sepeninggal suamiku.”  Aku mendengarkan kisah kejadian gaib/magic yang dialami temanku dengan  rasa “ngeri” Aku mengajak temanku berdoa, juga menyarankannya untuk berpuasa bersama.

Puji Tuhan, kalau tadinya dia masih coba mencari jalan mengatasi masalahnya dengan cara-cara manusiawi, akhirnya dia mau menyerahkan sepenuhnya pada kekuatan dan kuasa Allah.  Allah kita adalah Allah yang luar biasa.  Kekuatan-kekuatan gaib tersebut hilang dan tidak mengganggunya lagi hingga saat ini.  Dia pun tetap berdoa untuk suaminya yang sudah meninggalkannya, agar Tuhan juga boleh melindungi dan memeliharakannya.  Bersama Tuhan dia dapat menjalani kehidupan dengan lebih tentram bersama anak-anaknya, di tengah tragedi rumah tangga yang dia alami.  Karena Tuhan itu  telah menjadi tempat pengungsiannya pada waktu kesusahan.  Mari kita senantiasa berlindung pada Tuhan yang maha baik.

Selamat berlibur dan menikmati perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke 71.
Tuhan Memberkati.


Tuesday, August 16, 2016

Jangan jemu-jemu berbuat baik


Galatia 6:9, "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." 

Semenjak saya memgenal Yesus, saya selalu rindu untuk ke rumah Tuhan dalam  setiap jam kebaktian yang diadakan oleh gereja, kecuali bila aku dalam keadaan kurang sehat.   Rasanya ada yang kurang kalau tidak datang ke gereja untuk berbakti.  Siapapun pembawa firman dan pelajaran apapun yang diberitakan, aku berusaha mengambil hal-hal baru yang bisa aku terapkan dalam hidup.

Sebuah mobil kijang berhenti di depanku  "Bu ayo naik, mau ke gereja kan?" Pintu mobil terbuka, seorang ibu membukakan pintu.   "Selamat malam," sapaku kepada bapak dan ibu Samosir yang ada dalam mobil itu, juga seorang anaknya.  "Selamat malam Bu. " Sahut mereka sambil menyodorkan  tangan. "Boleh minta tolong telepon ibu Dina, soalnya tadi janjian akan ikut mobilnya ke gereja, nanti dia cariin. " kataku kepada ibu Samosir, segera setelah mobil melaju.   Ibu Samosir segera menelpon ibu Dina, dan memberitahukan bahwa aku sudah menumpang kendaraannya . "Saya  ini bersyukur sekali kepada Tuhan, karena mobilku banyak.   Kalau mau ke gereja, mobilnya ganti-ganti.   Motor juga ada.  Mana ada yang ke gereja naik  mobil ganti-ganti sebanyak saya."  Kataku menyaksikan kebaikan Tuhan,   bagaimana aku biasa menumpang kendaraan umat-umat Tuhan yang mau ke gereja.  "Betul sekali, ibu lebih hebat dari kami, mobil kami hanya satu.”  kata ibu Samosir, sambil tertawa.  "Itulah baiknya Tuhan itu. Dan kalian juga  menjadi berkat bagi orang yang memerlukan tumpangan seperti saya.” Kataku melanjutkan.   “Yang sedih, kalau tidak ada yang lewat.   Pernah  saya jalan kaki sampai ke gereja. Pernah juga pulang, tidak jadi ke gereja,   karena sudah terlambat.  Katanya, gereja memang sepi sekali waktu itu,  karena ada demo, jalan macet total, jadi yang biasa ditumpangi tidak ke gereja.”  “Betul bu, kalau pulang sekarang memang macet sekali, kami juga sering kesulitan mengatasi kemacetan ini, yang menghambat untuk ke gereja.”  Sahut pak Samosir.

Kebaikan hati saudara-saudaraku, yang senantiasa terbuka untuk menolong mereka yang rindu ke rumah Tuhan, tanpa  disadari telah menolong orang-orang yang  haus akan firman Tuhan seperti aku,  dapat dipuaskan dahaganya.  Kalau saja jaman Yesus sudah ada kendaraan, mungkin Yesus juga akan berkata :  ”Karena pada waktu Aku tidak punya kendaraan, engkau memberi aku tumpangan.”  Aku berdoa, Tuhan menolong kita semua untuk  tidak jemu-jemu berbuat baik kepada siapapun, karena dengan demikian secara tidak langsung kita sudah melakukannya untuk Tuhan.

Monday, August 15, 2016

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan


Lukas 1 : 37, “Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.” 

Pada masa tuaku, saya tinggal hanya berdua bersama dengan suamiku.   Dengan doa yang sungguh-sungguh akhirnya suamiku mengikuti jejakku menerima kebenaran.   Sungguh suatu suka cita yang sangat besar dalam hidupku,   meskipun saya masih bergumul dan berdoa untuk ketiga anak dan mantu serta cucu-cuku.  Saya berharap satu kali kelak mereka juga bisa bersama-sama dengan aku datang ke gereja.

Saya belajar menggantungkan hidupku kepada  Tuhan Yesus.  Hal-hal sekecil apapun, setiap pertolongan dan jawaban doa,  saya imani sebagai bukti kasih Tuhan kepadaku.   Suatu hari mesin cuciku rusak, sudah berhari-hari tidak bisa dihidupkan. Saya  tidak mengerti soal mesin.   "Bu, setelah saya periksa, ada alat yang harus diganti, biayanya tujuh ratus ribu rupiah,  ongkos kerja seratus ribu.” Kata tukang servis . "Mahal ya pak.  Ini kan mesin tua, masa biaya penggantian dan ongkosnya, hampir sama dengan  mesin baru?" Kataku  sambil membayangkan cucian yang sudah menumpuk dan tanganku yang sudah tidak kuat lagi untuk memeras cucian, karena faktor usia.   "Maaf bu, tidak bisa kurang lagi, memang sudah segitu harganya.  Kalau setuju saya kerjakan.  "Ibu kabarin saya ya.“ Kata tukang servis  sambil mohon diri.    Saya tertunduk lesu menghadap mesin cuci.  Kemudian, sebagaimana kebiasaanku, aku berbicara kepada Tuhan : "Tuhan, Engkau mengetahui keadaan hamba. Mungkin untuk orang lain biaya sebesar itu tidak banyak, tapi bagi hamba itu besar sekali Tuhan.   Tuhan, bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Kalau Engkau berkehendak, mesin cuci ini juga bisa berfungsi lagi.  Tolonglah hambamu ini Tuhan…." Sambil terus berbicara,  layaknya Tuhan berada disampingku, aku coba hidupkan mesin itu. Sungguh ajaib, tiba-tiba mesin  itu bergetar dan hidup.   Puji Tuhan, sampai sekarang mesin itu masih bisa dipakai. Adakah yang mustahil bagi Tuhan?   Mesin cuci, hanyalah salah satu mujizat diantara sekian banyak mujizat yang kualami dalam hidup ini, ketika segala kesulitanku kuserahkan semuanya ke tangan Tuhan.

Firman Tuhan pagi ini mengatakan, sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.  Sering dalam hidup ini, ketika kita merasa segalanya masih bisa kita atasi, langkah pertama biasanya adalah mengusahakan dengan kemampuan diri sendiri.  Ketika menghadapi kesulitan, barulah kita datang kepada Tuhan. Memang, membutuhkan kesulitan untuk terjadinya sebuah mujizat ,  tetapi kemustahilanlah yang membuat itu menjadi mujizat yang besar.   Siapa yang bisa menjamin, ketika tidur malam akan bangun keesokan paginya?   Bukankah itu mujizat dari Tuhan.

Saturday, August 13, 2016

Doa Seorang Anak


Efesus 3:20, "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita."

Memperhatikan proses tumbuh kembang anak kami , adalah salah satu hal yang sangat membahagiakan.  Hari demi hari, di usianya yang masih dini, kami ikuti perkembangannya dari berbagai aspek, baik secara jasmani, mental dan spiritual. Kami berusaha agar dia dapat bertumbuh secara seimbang.  Oleh sebab itu selain makanan yang sehat yang kami berikan, kami juga selalu mengajak si kecil  untuk mengikuti perbaktian di rumah maupun ke gereja dalam setiap kesempatan, agar dia terbiasa dengan jam-jam perbaktian sejak kecil.

“Pa, si kecil sudah mulai belajar berceloteh, lucu sekali.” Laporku kepada suami tentang perkembangan si kecil.  “ Wah,  senang ya.  Sayang papa kerja,  kalau pulang di kecil sudah tidur.  Jangan lupa, kalau berdoa yang keras ma, supaya dia dengar,   supaya bila  dia sudah mulai besar dan bisa bicara, dia sudah terbiasa mendengar doa yang mama layangkan.” Saran suami kepadaku. Memang, pada waktu  dia sudah mulai bisa bicara, yang pertama,   kami mengajarinya berdoa untuk makan  “Tuhan berkatilah makanan kami.”   Suatu hari, ketika kami hendak pergi saya meminta anak saya yang masih kecil untuk berdoa: “Ayo sayang,  berdoa ya, kita mau pergi”  Diapun mulai berdoa “ Tuhan berkatilah makanan kami.” Setelah dia selesai berdoa, kami tersenyum,  sebab, sebenarnya kami mau pergi bukan mau makan.  Tapi kami percaya Tuhan mendengar doa si kecil.  Dari hari kehari,   secara bertahap kami  mengajarkan doa yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang mau didoakan.    Di lain kesempatan ketika dia diminta untuk berdoa, sering kali dia masih berdoa “Tuhan berkatilah makanan kami,”  walaupun tujuannya bukan itu.

Bapa kita yang di sorga begitu baik dan mengetahui isi hati kita.  Sebelum kita menyampaikan maksud kita, Dia sudah tahu apa yang kita butuhkan.  Mungkin kita tidak pandai merangkai kata, tapi Tuhan membaca apa yang ada dalam pikiran kita.  Dia dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan.  Kita hanya perlu menyerahkan  segalanya  di dalam doa yang tulus kepadaNya, dan percaya bahwa  jawaban doa Tuhan selalu yang terbaik untuk kita.  Tuhan memberkati.

Friday, August 12, 2016

Indah pada waktunya


Pengkhotbah 3 : 11, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” 

Sebagaimana pasangan suami istri pada umumnya,  kami merindukan kehadiran bayi kecil dalam keluarga kami.  Kami bertekad, bila Tuhan memberikan kepada kami keturunan, kami akan menjaga anak tersebut sebagai titipan Tuhan kepada kami.  “Selamat bu,  hasil pemeriksaan menunjukkan ibu positif hami.”  Kata dokter kepada ku,  juga kepada suamiku.  Betapa senangnya hati  ini.  “Jangan lupa minum vitamin dan makan makanan yang bergizi ya.” Kata suamiku kepadaku.  Diapun rajin menemaniku ke dokter untuk memeriksakan perkembangan janin dalam kandunganku.   Kami juga selalu berdoa bersungguh-sungguh kepada Tuhan agar anak kami dapat lahir dengan selamat dan  pada waktunya.

Pada saat usia kehamilan mendekati waktu untuk lahiran,  aku rajin jalan pagi dengan harapan dapat melahirkan dengan lebih mudah.   Tepat di suatu malam Sabtu,  saya merasakan kontraksi yang amat sangat  “Pa, rasanya ini sudah waktu untuk melahirkan.” “Ayo kita bersiap ke rumah sakit,” kata suami saya dengan wajah menunjukkan ke khawatiran, sebagaimana yang juga aku rasakan, maklum ini adalah kelahiran anak pertama.  Kami bergegas ke rumah sakit.   Waktu demi waktu berlalu,  sang bayi yang ditunggu-tunggu kelahirannya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan lahir.   “Pa,  sudah 23 jam sakitnya, tapi si ade belum lahir juga,” kataku dengan nada semakin kuatir.  Suamiku berusaha untuk terus memberi semangat, walaupun jelas terlihat dari wajahnya dia juga kuatir  Begitu juga dengan teman-teman gereja yang datang melawat pada waktu itu  “Semangat ya bu,  memang  setiap kelahiran beda-beda, ada yang cepat ada yang lambat.  Tapi kalau sudah lahir, nanti semua rasa sakit hilang.”  Mereka mendoakanku dan memberikan nasehat-nasehat berdasarkan pengalaman mereka dalam menghadapi kelahiran.

Puji Tuhan, anak yang dinantikan akhirnya lahir dengan normal tidakkurang satu apapun.
Benar sekali, seperti yang dikatakan oleh para ibu yang menjengukku, rasa sakit yang dirasakan berganti dengan kebahagiaan dengan lahirnya anak yang begitu manis.  Proses kelahiran yang cukup lama, menghasilkan jam dan tanggal kelahiran yang cantik dan mudah untuk dikenang, sekaligus mengenang keajaiban Tuhan.    Tuhan memberikan berkat indah pada waktunya, dan kami bersyukur atas segala berkat yang  diberikanNya dalam keluarga kami.  Kiranya berkat Tuhan juga menjadi bagian kita semua.

Thursday, August 11, 2016

Pembawa Damai


Matius 5 : 9, “Berbahagialah orang yang membawa damai , karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” 

Ketika ada kesempatan pulang ke kampung halaman,  bahagia sekali rasanya.  Pulang ke tempat dimana menyimpan kenangan yang indah di masa kecil adalah  saat yang sangat dinantikan.  Bisa bernostalgia masa lalu, juga bertemu dengan keluarga yang selama ini terpisah jauh.  Saat yang dinantikan tibalah.  “Pa, kalau nanti saya dan si kecil pulang kampung, papa tidak masalah ya sendirian di rumah?”  kataku kepada suamiku.  “Ok saja, jangan kuatir ma.  Papa sudah biasa mengurus diri sendiri.  Mama nikmatilah liburan di sana bersama keluarga,” suamiku memberi dukungan.

Sesampainya di kota yang dituju, aku dan anakku yang masih kecil,  bertemu dengan ibu dan saudara perempuanku.   Saudara-saudara lain juga datang berkumpul menyambut kedatanganku. Suasana begitu menyenangkan.  “Besok mau ke mana?” kata saudara perempuanku.  “Bagaimana kalau kita ke lokasi Gong Perdamaian, aku belum pernah ke sana,”  usulku, yang disetujui oleh saudara lainnya.  Keesokan harinya, kamipun menuju lokasi Gong Perdamaian yang ramai dikunjungi orang  baik dari penduduk setempat, maupun pendatang dari luar kota.  Gong Perdamaian terletak di atas bukit.  Dari situ, pengunjung bisa melihat keindahan pemandangan yang ada di sekitarnya juga di bawahnya, sehingga tidak heran semua berlomba-lomba mengambil photo pemandangan indah yang terhampar di depan mata. “ Wah,  di Gong ini ada logo kota, kabupaten dan 33 propinsi yang ada di Indonesia. Ada lambang 5 agama yang diakui, juga gambar bunga.” Kataku  kepada saudara perempuanku, sambil mengamati gambar-gambar yang ada di Gong tersebut.  Menurut keterangan, ini adalah Gong Perdamaian   ke empat dari lima buah gong perdamaian yang ada di Indonesia. Keberadaan gong sebagai simbol perdamaian itu bertujuan untuk meredam konflik yang kerap terjadi di Nusantara. Diharapkan dengan adanya gong perdamaian ini, perbedaan agama, suku, budaya, maupun pemikiran bukanlah sebagai hambatan bagi kita, tetapi bisa menjadi alat pemersatu bangsa.

Sepulangnya dari berwisata ,saya jadi merenung.   Sebenarnya peperangan dan konflik  sedang terjadi di mana saja, bahkan di sekitar atau dalam diri  kita. Ada peperangan  dan konflik yang jelas-jelas kelihatan,  tapi ada juga perang yang berlangsung diam-diam atau dikenal dengan perang dingin.  Dalam setiap peperangan,  senjata apapun yang digunakan,  maka setiap pihak yang bertikai pasti akan terluka.   Semoga  saja kita  bisa menjadi  orang-orang yang membawa damai, sebagaimana Yesus datang membawa damai, sehingga dimanapun kita berada, orang-orang  akan bisa merasakan kedamaian yang kita suarakan.

Wednesday, August 10, 2016

Carilah dahulu Kerajaan Allah


Matius 6 : 33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”  

Suatu hari saya melihat ada keluarga baru yang menempati rumah yang selama ini kosong.   "Tok tok, spada... selamat pagi De.  Kenalkan nama saya Sita.   Saya tinggal dua rumah dari sebelah kiri rumah Ade."  Kataku kepada tetangga baruku,  seraya menyerahkan kue hasil buatanku.    Saya memang suka lebih dahulu berkenalan kalau ada tetangga baru, dengan maksud bisa membantu bila ada hal-hal ingin diketahui oleh sang penghuni baru.   "Terima kasih kak,    mari silahkan masuk.   Maaf masih  berantakan rumahnya.” Kata ibu Ibeth, menyambutku dengan ramah,  sambil memperkenalkan suami dan ketiga anaknya.

Hari berganti hari, saya dan tetangga baru ini menjadi semakin akrab.   Kami sering bergantian berbagi makanan hasil masakan sendiri.   Waktu itu, saya sedang mencari –cari sebuah gereja untuk berbakti, karena saya tidak mendapatkan kedamaian dengan kegiatan keagamaan yang saya jalani saat itu.   Sudah beberapa  kumpulan perbaktian saya ikuti,  tapi saya belum juga menemukan yang  kena di hati .   "Mari kak, kami lagi berdoa pagi, kakak mau ikut berdoa bersama?"  Itulah yang saya dapati bila saya berkunjung  ke rumah ibu ibeth pada pagi hari.  Mezbah penyembahan pagi dan petang adalah hal rutin yang selalu dijalankan oleh keluarga ini.   Setiap berkesempatan mengikuti doa di keluarga ini, hati saya menjadi damai rasanya.  Sampai pada suatu hari : "Kak Sita, ada KKR di gereja kami, kakak mau ikut, nanti perginya bersama kami." Kata ibu ibeth kepadaku. Akhirnya selama 10 malam berturut saya mengikuti KKR yang diadakan.  Pada waktu malam panggilan, saya menyerahkan diri kepada Tuhan.   Masih banyak pelajaran firman Tuhan yang belum saya ketahui, tapi melalui kehidupan keluarga ibu Ibeth yang takut akan Tuhan,  saya belajar banyak.  Firman Tuhan menjadi lebih mudah untuk dimegerti, karena dipraktekkan dalam perilaku  hidup sehari-hari   dalam keluarganya.   Meskipun masih mendapat tantangan dari suami,  dan juga anggota keluarga lainnya, saya bertekad untuk tetap setia  kepada Tuhan.

Pengalaman  dalam mencari Tuhan, mengingatkan saya dengan ayat kita pagi ini, yang mengatakan carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka sekaliannya itu akan ditambahkan kepadamu.  Sekarang,  bersama dengan Tuhan, saya jalani hidup keseharianku. Di dalam keluarga Allah tempat aku bergabung,  aku mendapatkan apa yang selama ini tidak kumiliki.   Kiranya, kasih Tuhan juga menjadi bagian kita semua dan berkerajaan dalam hati kita masing-masing.

Tuesday, August 09, 2016

Yesus lebih menderita


Yesaya 53 : 4, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”

Suatu hari aku mendengar teriakan : “Ma..,Ma… tolong aku!”  “Ada apa pa?”  aku segera berlari ke luar rumah menghampiri suami.  Wajahku pucat, begitu juga wajah suamiku, tangan kirinya  berlumur darah.  “Aduh pa,  apa yang terjadi?” “Tanganku luka, kena pagar yang tajam.” Suamiku  menjawab sambil menahan sakit.  Kulihat darah masih mengalir, mengenai baju, juga celana panjang suamiku.  Dengan rasa ngeri, kami berdua berusaha untuk membersihkan luka, dan menaburkan obat yang ada, di atas bagian luka yang memang cukup dalam.

Esoknya, pada hari Sabtu,  seperti biasa aku dan suamiku pergi ke gereja. “ Kenapa tangan bapak?” Seorang bertanya kepada suamiku.  Lalu suamiku menceritakan apa yang terjadi. “Hati-hati pak,  ini sepertinya agak bengkak dan bernanah,  apakah sudah minum antibiotik?”  “Benar pak,  takutnya nanti bisa kena tetanus, infeksi, apalagi kalau pagarnya berkarat.”  Beberapa teman gereja saling bergantian bertanya dan memberi nasehat. “Besok, kalau masih belum sembuh, harus dibawa ke rumah sakit.”  Kata yang lainnya.  Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali telpon rumah berdering “Kring……” Seseorang menyapa di ujung telepon “Halo, bagaimana keadaan bapak pagi ini?”  “ Semakin bengkak, semalam dia tidak bisa tidur, badannya panas.” Jawabku dengan nada kuatir. “Kalau begitu, kita bawa saja ke rumah sakit, tunggu ya, nanti kami jemput.” Sesampainya di rumah sakit, suamiku langsung dibawa ke IGD, karena hari itu, hari Minggu. “Ibu, tolong tanda tangan kertas ini.” Kata dokter  “Apa ini dok, saya tidak ngerti.”  Aku ketakutan, tidak tahu apa yang harus dibuat. Aku minta tolong keluarga yang mengantar untuk menanda tangani surat itu,  yang rupanya adalah persetujuan untuk tindakkan operasi,  untuk membersihkan luka ditangan suamiku. Suamiku merasa begitu kesakitan pada waktu tindakan itu dilakukan, bahkan sampai menangis. Untuk menghiburnya, bapak yang mengantar mengatakan : “Pak, kalau sakit, ingat saja, bahwa Tuhan Yesus lebih menderita, waktu Dia mau disalibkan untuk kita.”  Mendengar itu suami saya dan saya menyetujui.  “Betul sekali, ini belum seberapa dibanding dengan pengorbanan Yesus. Saya harus kuat.” Kata suami saya, walaupun dengan wajah kesakitan dan airmata berlinang.  Kami yang ada di sekitarnya mengelus-ngelus tangannya untuk meringankan rasa sakit yang amat sangat yang dia rasakan.

Sepanjang malam itu, ketika rasa sakit muncul, aku dan suamiku mengingat ucapan bapak yang mengantar kami ke rumah sakit. ”Ini belum seberapa, dibanding dengan penderitaan Yesus.” Hal itu membuat kami jadi lebih kuat dan bisa melalui semua penderitaan sampai akhirnya tangan suamiku sembuh total.
Ketika menjalani hidup ini, sakit penyakit, penderitaan, dalam bentuknya yang bermacam-macam mungkin saja menjadi bahagian kita.  Bila hal itu menimpa aku,  aku membayangkan apa yang sudah Yesus alami. Tidak ada satupun yang aku alami saat ini yang tidak pernah di alami oleh Yesus.  Yesus sudah mengalami semua itu, jadi ketika aku datang kepadaNya, Yesus pasti mengerti apa yang kurasakan.  Yesus itu sumber kekuatanku, semoga Yesus juga menjadi kekuatan kita semua.

Monday, August 08, 2016

Domba yang ditemukan


Matius 18 : 14, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Pa, ngapain sich si Edwin sering datang ke sini dan ngobrol sama papa?” tanyaku kepada suamiku.  “Edwin ngajak saya untuk ikut KKR.” Kata suami ku. “Apa itu KKR?”  “Ceramah tentang Yesus.” Kata suamiku menjelaskan.  Mendengar itu, hatiku menjadi kesal, karena ceramah ini pasti berbeda dengan agama yang aku  yakini saat ini, dan berbeda juga dengan kepercayaan yang diyakini suami ku.  Aku jadi kurang senang dengan Edwin, pemuda yang sudah lama menjadi tetangga kami.

Akhirnya, pada suatu hari,   suamiku, memutuskan untuk menerima Yesus. Dia ke Rumah Tuhan setiap hari Sabtu, sementara aku masih rajin melakukan doa sebanyak lima kali sehari.  “Ma, pak Pendeta akan datang berdoa dan belajar firman Tuhan di rumah kita,” kata suamiku. “Apa…..!?   Aku tidak mau ikut, papa saja yang belajar!” jawabku dengan marah.  Dan memang, bila ada kumpulan belajar firman Tuhan di rumahku,  aku akan duduk dengan wajah cemberut dan membelakangi kumpulan orang banyak tersebut.  “Aku heran orang-orang gereja ini,  aku tidak pernah ramah kepada mereka, tapi mereka koq tetap baik dan sopan, juga tidak membalas kemarahanku.” Itulah yang ada dalam pikiranku saat itu. Sampai pada suatu hari, telpon rumah berbunyi, aku dengar suara seorang  bapak di ujung telepon : “Ibu, gereja akan retreat, bapak dan ibu ikut ya,  nanti naik mobil kami.” Awalnya aku enggan untuk ikut, tapi, karena tidak enak dengan bapak itu, akhirnya kuputuskan untuk ikut dan aku membawa kue yang terbuat dari singkong. “Ibu, kue singkongnya enak sekali, terima kasih ya, ibu sudah repot-repot bawa kue.” Kata ibu-ibu kepadaku.  Hatiku berbunga-bunga mendapat pujian, hal ini hampir tidak pernah kudapatkan selama ini dari teman-temanku yang lain.

Merasa diterima dengan begitu baik oleh kumpulan orang-orang gereja, bisikan yang selama ini kuabaikan, semakin jelas terdengar.   Empat hari setelah pulang dari retreat aku menelepon pak pendeta. “Pak Pendeta,  saya mau minta di baptis sekarang.”  Pendeta kaget tapi senang. Suamiku juga senang. “Pak Pendeta, saya dibaptis bukan karena siapa-siapa,  saya percaya Roh Kudus yang menuntun saya.  Saya tidak mengharapkan apa-apa dari gereja, saya hanya mau terima Tuhan Yesus dan mengikut Yesus.” Itulah yang kusampaikan kepada pak Pendeta.

Puji Tuhan, meskipun aku masih banyak kekurangan dan masalah,  bahkan ketika Tuhan mengijinkan suamiku untuk beristirahat sementara, semuanya bisa aku lalui, dengan pertolongan Tuhan dan saudara-saudara seimanku.   Meskipun aku tidak pintar, tapi aku belajar untuk menghidupkan setiap nasehat firman Tuhan yang aku dengar. Kata bapak yang mengajak aku retreat, aku adalah domba yang telah ditemukan, jadi aku rindu untuk membawa domba-domba yang lain datang ke rumah Tuhan. Setiap hari, ketika bertemu dengan orang-orang, aku selalu bersemangat, membayangkan untuk  membawa domba-domba itu ke kandang Tuhan.:)

Sunday, August 07, 2016

HE provides


Mazmur 34:9, "Takutlah akan Tuhan, hai orang2-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia."

Tangan saya bergetar. Saya tidak sanggup menatap wajah pimpinan saya. "Bagaimana pendapat mu? Apakah kamu bisa tetap bersama kami?", pertanyaan yang ditujukan kepada saya siang itu terus terngiang di telinga saya hingga malam hari menjelang tidur. Saya tidak dapat menutup mata. Saya gelisah dan sulit untuk tidur. "Kenapa kamu belum tidur Ma?", suara suami saya mengusik pikiran yang tengah berkecamuk malam itu. Setelah tidak menjawab beberapa saat, akhirnya saya katakan "Client saya mengirimkan surat complain yang cukup keras kepada kami hari ini", demikian saya mencoba menutupi perasaan saya. "Tidak biasanya kamu tidak bisa tidur karena masalah pekerjaan", suami saya mulai tampak menyelidiki. Saya berperang batin, haruskah saya mengatakan kepada suami saya bahwa perusahaan tempat saya bekerja segera menjalankan peraturan baru dalam hal hari kerja. Kami secepatnya harus masuk bekerja pada hari Sabtu. Tapi kemudian saya putuskan untuk menyimpannya dulu karena saya perlu mendiskusikan kembali dengan pimpinan saya.

"Saya bisa menambah jam kerja bahkan bersedia bekerja pada hari Minggu Pak? jika dibutuhkan," Saya mencoba meyakinkan pimpinan saya. "Kami tidak membutuhkan karyawan untuk bekerja terlalu lama di kantor dan masuk di akhir pekan", pimpinan saya menjawab datar. "Tapi  saya memiliki kontrak kerja yang mengijinkan saya tidak bekerja pada hari Sabtu pak," saya mencoba mengingatkan pimpinan saya, kalau-kalau dia telah lupa atas keputusannya saat itu. "Ya, saya mengerti, namun sekarang kita memiliki jajaran direksi yang baru dan mereka menjalankan policy baru, saya tidak bisa berbuat apa-apa, sebagai direktur saya juga adalah seorang karyawan", pimpinan saya mencoba menjelaskan situasi yang terjadi dan berusaha meyakinkan saya bahwa perusahaan masih membutuhkan saya. "Kamu akan kami tempatkan di salah satu negara dibawah wewenang Asia Pacifik dan hanya memerlukan waktu bekerja hanya setengah hari di hari Sabtu," pimpinan saya menjelaskan, dan menambahkan "Kami masih membutuhkan kamu dan berharap kamu bisa menerima keadaan yang terjadi, namun pilihan ada di tangan kamu." Saya meninggalkan ruang kerja pimpinan saya dengan beribu pertanyaan. Saya sudah bekerja cukup lama di sana, saya berdedikasi, saya selalu men-support pimpinan saya, saya tidak pernah membantah pimpinan saya, saya dapat membawa team saya menjadi team terbaik di Asia, bahkan saya yang menggagasi, merumuskan, memperkenalkan dan menjalankan cara kerja baru pada sistem lama tanpa mengurangi esensi kepentingan dan keterlibatan para pembuat keputusan dalam memberikan persetujuan. Saya, saya, dan saya...

Saya mulai meragukan pimpinan Tuhan. Saya mulai memiliki sudut pandang bahwa Tuhan tidak mengasihi saya. Saya mulai menuduh Tuhan tidak melihat pekerjaan baik yang saya sudah lakukan. Saya mulai berpikir bahwa Tuhan tidak berada di pihak saya ketika saya ingin tetap mempertahankan iman saya dan tidak menginjak2 hari Sabat. Saya merenung... hingga pada akhirnya Saya sedang beristirahat siang itu ketika telepon genggam saya berbunyi. "Ibu bisa datang bertemu pimpinan kami dari Asia Pasifik minggu depan?, demikian suara di ujung telepon menyadarkan saya bahwa Dia tidak pernah mengecewakan umat yang di kasihi-Nya. Dia tidak pernah mengabaikan hal-hal baik yang kita lakukan. Dia selalu memberikan yang terbaik menurut kehendak-Nya. Saya menarik nafas panjang, menutup mata dan mengucapkan syukur yang tak terhingga kepada-Nya. DIA menyediakan kebutuhan kita.

Tuhan memberkati, selamat berakhir pekan.


Saturday, August 06, 2016

Berkat Tuhan atas kami


Filipi 4:12-13, "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam kenyang, maupun dalam kelaparan; baik dalam kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."


"Apa kabarmu Nak?" saya sedang menelpon salah satu anak saya yang sedang berkuliah di luar kota. "Baik, papa", demikian dia menjawab. "Bagaimana dengan progress Feasibility Project yang sedang kamu lakukan", saya bertanya lebih lanjut.  "Belum selesai Pa, saya dan teman-teman banyak menemukan kesulitan dalam menyelesaikannya, ada saja kendala yang timbul, dan lagi....",  suara anak saya terdengar lirih, "target waktu project sudah lewat Pa....", demikian dia mencoba menjelaskan keadaan yang dia hadapi. Saya merenung sesaat setelah menutup telepon. Saya sedih dan sedikit kecewa. Timbul dalam pikiran untuk segera mengunjunginya dan menolongnya menyelesaikan project yang tertunda tersebut. Di sisi lain, hati saya mengatakan dengan menolongnya saya akan memjadi orang tua yang tidak mendidik karena saya telah membiarkannya untuk tidak mandiri.

"Tuhan, mengapa Engkau ijinkan hal-hal seperti ini terjadi bagi anak kami yang memilih bersekolah di sekolah-MU?," saya mulai meragukan kuasa Tuhan. Saya melanjutkan, "Sementara saat saya bersekolah dulu tidak menghadapi kesulitan yang berarti, walau keuangan tidak memadai, buku-buku tidak lengkap, namun bisa mendapat nilai yg cukup baik," saya seakan berbicara kepada diri saya sendiri, bahkan cenderung menyalahkan keadaan yg terjadi saat ini. Saya kecewa.

Sepulang dari kantor saya mendiskusikan hal tersebut dengan istri saya. Istri saya mengkhawatirkan keadaan anak kami. Kami mulai membandingkan anak kami dengan anak2 yang lain. Kami bertanya mengapa mereka bisa mendapatkan beasiswa sedangkan anak kami tidak? Setelah tamat mereka bisa cepat mendapatkan pekerjaan dll, kami terus membanding-bandingkan, dan merasa anak2 kami semua biasa2 saja. Sambil merenungkan dan membandingkan keadaan anak-anak kami dengan yang lain, tak terasa air mata menetes. Ini bukan air mata kesedihan namun air mata penyesalan saya kenapa harus membandingkan dengan orang lain, kenapa saya tidak bersyukur kepada Tuhan atas segala karyanya yang pikiran kita tak mampu menjangkaunya.

Dengan ayat di atas, saya berterima kasih kepada TUHAN atas segala karya-NYA kepada kami semua. Kami merasakan apa itu kesulitan, kami merasakan juga apa itu kelimpahan. Semakin saya renungkan semakin besar terima kasih kami kepada Tuhan.

Selamat Sabat, Tuhan memberkati.

Friday, August 05, 2016

Selamat di lengan-Nya


YEREMIA 29 : 11, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan  apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan  yang penuh harapan."

"Saya masih di rumah sakit," suaranya terdengar perlahan di ujung sana. "Ok, saya jenguk ke rumah sakit hari ini." Jawab saya mengakhiri pembicaraan kami lewat telepon sebelum saya berangkat.
Saya mengendarai sepeda motor dan berencana untuk besuk seorang teman di Rumah Sakit dan soerang teman lagi yang akan bertemu di rumahnya. Perjalanan dari rumah menuju rumah sakit saya tempuh dalam beberapa menit dengan kecepatan 70km/jam oleh karena situasi lalu lintasnya ramai lancar.

Tiba di rumah sakit saya pun langsung menuju kamar perawatan sambil membawakan sedikit makanan buah untuknya. Kami berbicang-bincang sejenak lalu saya mendoakannya dan kemudian permisi untuk pulang. Tetapi situasi jalanan saat ini tidak sama seperti ketika saya berangkat menuju rumah sakit. Kondisinya berubah yang tadinya lancar menjadi lautan kendaraan baik itu kendaraan roda dua maupun roda empat. Siang itu cuacanya sangat terik dengan pancaran sinar matahari yang tembus hingga kulit terasa menyengat. Saya masih sabar memacu motor saya, saya berusaha untuk menyalip dari segala sisi agar bisa cepat tiba di tujuan. Hingga sampai pada satu persimpangan jalan dimana semua kendaran tidak bisa bergerak sama sekali, dengan kondisi terjebak dia antara semua kendaraan dan tidak bisa bergerak kemana-mana ditengah2 panas teriknya matahari.
Dalam hati, saya mulai menggerutu kepada Tuhan "aduh Tuhan kenapa harus begini, begitu, dan segalanya." Saya mulai menyalahkan Tuhan untuk kondisi jalanan yang seperti ini. Saya mulai keluar dari kepadatan dan saat itu motor hanya bisa dipacu dengan kecepatan antara 5-10Km/jam, sangat pelan saya bisa membawa motor saya di antara kendaraan lain. Lalu ketika motor saya sedang berjalan di antara kepadatan, terjadi masalah pada bagian mesin motor saya yang secara mendadak berhenti kemudian mesin mati seketika sehingga itu semakin menambah kekesalan saya. Saya semakin menggerutu kepada Tuhan.

"Tuhan hari ini saya berniat baik membesuk teman saya yang sakit tetapi mengapa Engkau biarkan hal ini terjadi kepada saya." Gumam saya dalam hati lagi. Lalu saya pinggirkan motor tepat di depan sebuah toko kemudian istirahat sejenak dengan membeli minuman dingin sekaligus untuk menenangkan dan mendinginkan pikiran. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran, seandainya kondisi jalanan yang baru saja saya lewati tadi lancar seperti pada saat saya pergi menuju rumah sakit dengan kecepatan sekitar 70Km/jam, tak terbayangkan apa yang akan terjadi jika dalam kecepatan tinggi motor saya berhenti mendadak karena kerusakan mesin? bukan tidak mungkin saya akan terlempar dari motor dan bahkan lebih parahnya bisa di tabrak oleh kendaraan lain dari arah berlawanan. Seketika saya kemudian berdoa dalam hati mohon ampunan atas apa yang telah saya pikirkan dan umpatan yang buruk dalam hati dan itu telah menyakiti hati Tuhan dan mengucap syukur karena penyertaan Tuhan kepada saya.

Terkadang kita sering terlalu cepat mempersalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dan kemudian menyesal setelah mengetahui bahwa Tuhan sudah rencanakan yang terbaik bagi kita. Biarlah ini bisa menjadi pelajaran yang baik bagi kita hari ini, menguatkan dan mengangkat iman kerohanian kita. Tuhan memberkati kita selalu, Amin.



Thursday, August 04, 2016

Senyum itu baik


Amsal 15:13, “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.”

"Pak lewat atas(jalan layang) atau bawah.?" Saya memberhentikan mobil angkot/mikrolet yang sedang lewat. "Bapak mau kemana?" Tanya supirnya. "Saya mau ke persimpangan jalan didepan lewat sedikit." "Naik aja pak. Saya mah tergantung penumpang, mau kemana aja saya antar." Demikian saya duduk sendiri didalam angkot yang sepi tak ada penumpang lain ditengah panas terik matahari siang itu dua hari yang lalu.


Tak berapa lama mobil berjalan, naiklah sepasang suami istri yang menuju ke bagian depan dan duduk tepat disamping supir. "Saya boleh naik di depan sini kan pak?" Pria itu bertanya kepada pak supir. "Tentu saja boleh" jawab sang supir. "Boleh kan pak saya duduk didepan sini?" Pria itu bertanya kembali ke supir sambil menunjukkan wajah serius. Sang supir pun berkata sambil tersenyum dan melihat kearah pria itu, "boleh". Pria itu senang dan tersenyum sambil berkata, "ini lewat mana pak?" "Lewat jalan sini" balas sang supir. "Tapi ini lewat jalan kan pak?" ia bertanya kembali sambil meyakinkan sang supir bahwa mikrolet itu lewat di jalan. "Ngga, terbang." Jawab supir, kali ini ia sambil tertawa. "Hahahaha...begitu dong pak, sambil senyum dan ketawa aja kita, ngga perlu stress" lanjut pria itu, sambil melirik kearah istri nya dan kebelakang tempat saya duduk, berusaha meyakinkan yang lain pertanda setuju dengan ungkapannya. "Setiap hari kita harus buat senyum, minimal bertemu dengan orang harus senyum dan senang. Hidup ini hanya sebentar, untuk apa saya ketemu orang tapi muka saya kelihatan marah, ngga ada gunanya. Bikin hidup ngga indah. Gitu kan pak?" Ia menambahkan. Pria ini bergurau dengan bapak supir kemudian terjadi perbincangan selanjutnya sambil saling tertawa terbahak-bahak.


Pria ini bisa mengajak orang lain disekitarnya dan membuat mereka senyum dan tertawa walau dalam keadaan yang sulit atau susah. Demikian halnya dengan kita, kita bisa membuat suasana indah dan sejuk jika hati kita diliputi oleh perasaan senang setiap saat. Mari kita membuat sebuah pengaruh kebaikan dengan cara yang sederhana, hanya dengan perkataan yang baik dan dengan hati yang senang dan senyuman yang indah membuat orang senang dan mengetahui siapa kita. Dan kitapun berarti didalam lingkungan sekitar. Bukankah hati yang gembira adalah obat yang manjur.? Tuhan kiranya memberkati kita.

Wednesday, August 03, 2016

Menjadi terang yang kecil

Matius 5 : 16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Sorga.”

Saya sering mendatangi salah satu toko baju/celana langganan saya ketika akhir pekan tiba. Ada satu kebiasaan yang saya lakukan pada saat membayar atau menerima kembalian dari pemilik ataupun karyawan yang berkerja pada tempat itu.  Selain saya mengucapkan terima kasih saya juga selalu menambahkan dengan kata-kata “Tuhan memberkati." Karena sudah terbiasa pemilik atau pun karyawan yang bekerja di tempat itu jadi ikut membalas dengan kata-kata yang sama, padahal notabene mereka bukanlah orang kristen.  Itu selalu terjadi setiap saya berkunjung dan sama sekali tidak pernah ada masalah yang terjadi di antara saya dan pemilik atau pun karyawan toko tersebut.

Suatu hari, ketika saya selesai membayar dan  menerima kembalian,  saya kembali mengucapkan hal yang sama : “Terima kasih banyak dan Tuhan memberkati.” Pemilik atau karyawan toko pun membalas hal yang sama.  Sampai disitu tidak ada masalah apa-apa, namun tiba-tiba ada respon dari seorang ibu yang adalah salah satu dari pengunjung toko tersebut. Mungkin bisa dikatakan ibu ini kurang senang dengan ucapan yang saya sampaikan lalu ia berkata : “Tuhan yang mana mas? “ dengan wajah yang sedikit sinis, tetapi sambil memilih-milih pakaian. Saya kemudian menjawab nya dengan tenang : “Tuhan yang kita percaya” dengan sambil tersenyum  ke arah ibu tersebut,  tetapi tiba-tiba ia kembali berkata dan mengeluarkan sebuah pernyataan : “Tuhan kami tidak memakan binatang haram, bagaimana bisa kita percaya kepada Tuhan yang sama?” Belum sempat saya mencoba untuk menjawab pertanyaan Ibu tersebut, sang pemilik toko yang kebetulan berada dekat dengan kami langsung menjawab pertanyaan ibu tersebut. ”Mohon maaf bu, jangankan binatang haram, mas ini  tidak minum kopi, teh, ataupun merokok,  bahkan larangan untuk yang haram buat agama mereka lebih ketat bu. Saya tau karena mas ini termasuk langganan saya di sini,  dan saya  suka berbincang dengan mas ini bu, jadi saya tidak mengada-ada.   Contohnya saya sendiri pernah menawarkan minuman kopi ataupun teh, sama seperti yang saya tawarkan ke pada ibu atau kepada langganan lain tetapi mas ini selalu menolaknya bahkan dia hanya minta air putih saja. "Ditolak bukan karena takut ada sianida loh bu.” Sang pemilik toko mengakhiri cerita itu dengan candaan. Singkat cerita, sementara terjadi percakapan di antara pemilik toko dan ibu pengunjung itu, saya hanya terdiam sambil tersenyum dan berkata dalam hati kecil saya : “Terima kasih Tuhan, semoga saya selalu bisa mejadi terang yang kecil di manapun saya berada, amin.”  Wajah ibu itu yang tadinya tidak begitu senang dengan saya akhirnya berubah menjadi malu, atau bingung kepada saya.  Yang pasti pada akhirnya saya senang karena  dia sedikit tersenyum kepada saya.

Biarlah dalam setiap perbuatan dan perkataan kita selalu memantulkan atau merefleksikan Yesus. Semoga pengalaman sederhana saya  ini bisa menguatkan dan mengangkat imam kerohanian kita. Tuhan memberkati kita selalu, Amin.

Tuesday, August 02, 2016

"Bagaikan setetes air pelepas dahaga"


Matius 10:42
Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.


Saya terburu-buru keluar kamar saat anak laki-laki saya sedang menonton televisi. Saya menyapanya sekilas dan segera meninggalkannya. Saat hendak membuka pintu rumah saya mendengar dia bertanya, "Mama mau kemana? Koq seperti terburu-buru.?" Saya menjawab, "Mama mau ke ATM transfer uang untuk teman mama."  Dia kembali  bertanya, "Untuk apa", saya menjawab, "Tadi ada berita dari teman-teman bahwa ada salah satu dari teman mama sedang sakit. Seakan tidak mengerti anak laki2 saya kembali bertanya, "Kenapa mama harus transfer uang?" Kembali saya jawab, "Katanya dia harus pulang dari rumah sakit dan tiidak mampu bayar biaya rumah sakit. Tampak anak laki-laki saya berpikir sejenak dan kembali bertanya, "Bukannya teman-teman mama yang lain uangnya lebih banyak?. Saya menjawab dengan senyum,. "Uang mama memang sedikit tapi dia lebih sulit dari mama karna dia sakit.  "Tapi Mama kan belum gajian,", anak saya seakan memperingatkan, namun saya memcoba memberikannya pengertian, "Mama masih ada sedikit lagi dan besok kita harus berhemat. Saya meninggalkannya, dan saya mendengar ucapannya, "Hati-hati Ma. Semoga teman mama lekas sembuh."

Saya segera pergi ke ATM untuk mentransfer sejumlah uang yang hanya sisa sedikit. Kami dan sahabat-sahabat lainnya bersatu mendoakan teman yang sedang sakit tersebut dan memberikan bantuan uang semampunya masing-masing. Teman kami yang sedang sakit itu akhirnya bisa melewati masa kritis dan sembuh. Kami kembali bersama-sama berkumpul di gereja.

Sukacita yang sangat besar pada saat kita dapat membantu seorang sahabat atau saudara kita yang sangat kesulitan dengan apa yang kita miliki. Seberapapun yang kita berikan itu akan seperti air yang menetes bagi orang yang haus di padang gurun dan itu sangatlah berarti.

Tuhan memberkati

Monday, August 01, 2016

Yesus harta yang terindah


Matius 19 : 22, “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” 

Suatu hari saya dan beberapa teman gereja berkunjung ke sebuah keluarga.  Ketika tiba di rumah tersebut kami disambut oleh tuan rumah dengan ramah.  Pada dinding ruang tamu yang sederhana, saya melihat banyak sekali photo dari sang ibu rumah yang dipajang, dengan latar belakang gedung dan pemandangan yang indah-indah.  Karena penasaran saya bertanya : “  Bu,  photonya bagus-bagus,  di mana photo ini diambil?”  “Itu photo2 waktu saya kerja di Hongkong.” “Oh, ibu pernah kerja di Hongkong?” tanyaku.  “Benar, selama sepuluh tahun.   Sebelumnya saya  kerja di Singapur lima tahun.”  Kata si ibu menjelaskan dengan gaya bicaranya yang khas.

Kami mengamati photo demi photo yang terpajang di dinding, sementara si ibu bercerita:  “ Sebenarnya,  waktu di Hongkong, setiap 2 tahun selesai, saya ingin pulang.  Tapi, tiap kali mau pulang,  nyonya bilang sama saya : “Kakak, jangan pulang dulu, saya ada barang buat kamu.”  Saya pikir barang apa,  rupanya  bayi dalam kandungannya.   Saya bekerja, sejak keluarga itu baru menikah,  sampai  mereka mempunyai anak 4 orang.”  “Wah, ibu pasti banyak mendatangkan devisa buat negara....” kata kami sambil bercanda.  “Apa itu devisa?” kata si ibu dengan wajah kurang mengerti.  Setelah sadar yang dimaksud ibu itu menjawab : “Oh, itu, hihihi..(tertawa),  betul sekali, tiap bulan saya kirim uang ke kakak saya yang di Jakarta.   Untuk biaya hidup anak yang saya titipkan, karena ayahnya sudah meninggal. Untuk bayar cicilan rumah dan juga tabungan.”  Selesai berkata demikian, raut wajah  ibu itu  berubah dan dia terdiam sesaat.  “Kalau ingat ini saya jadi sedih, karena rumah, tabungan bahkan anak sayapun di kuasai oleh kakak saya. Setelah sekian lama bekerja, jadinya tidak punya apa-apa.” Kata ibu itu.  “Dulu waktu saya belum terima Yesus, saya tidak bisa terima, saya marah sekali, tapi sekarang, saya bisa relakan.” Lanjut si ibu, dan wajahnya senyum-senyum.  Melihat ekspresi wajahnya,  saya bergumam:  “Luar biasa..,  apabila Yesus mendapat tempat….” “Buat saya,  semua sudah tidak berarti, yang penting ada Yesus dalam hati saya.” Lanjutnya sambil  meletakkan kedua tangan di depan dadanya.  “Amin…” jawab kami serentak.  “Tuhan juga mempertemukan saya dengan bapak.” Sambil menunjuk suaminya yang duduk di samping. “Bapak yang merenovasi rumah, yang sekarang dikuasai oleh kakak saya itu , tapi waktu itu bapak dan saya belum terima Yesus.” Si ibu tersenyum, seakan terkenang saat mereka bertemu. Sang suami mengangguk-ngangguk mendengar cerita istrinya.

Kisah ini mengingatkan saya akan kisah orang muda yang ketika disuruh Yesus untuk menjual hartanya dan  membagikan kepada orang miskin, hatinya sedih, karena hartanya yang banyak dan itu masih menjadi “ilah” dalam hidupnya.  Sebaliknya, ibu tadi, yang telah kehilangan semua yang ada padanya, setelah menerima Yesus, dapat mengatakan, bahwa semua itu tidak ada artinya dibanding Yesus yang telah diam di dalam hatinya.  Sudahkah Yesus mendapat tempat dalam kehidupan kita, di atas segalanya?   Adalah menjadi doa dan harapan kita semua. Tuhan memberkati.