Wednesday, July 08, 2009

Keluarga Etty Sukaryati - FOM Juli 2009

Hari Sabat 4 Juli 2009, departemen Rumah Tangga Kemang Pratama telah memilih satu keluarga sebagai Family of The Month (FOM), yang akan didoakan khusus setiap hari sepanjang bulan Juli oleh setiap keluarga di jemaat Kemang Pratama. Pengumuman FOM mulai bulan ini dilakukan dengan cara yang sedikit berbeda, yaitu diumumkan oleh salah satu anggota keluarga yang menjadi FOM bulan sebelumnya. Ibu Errie yang menjadi FOM Juni 2009, menjadi pemimpin acara untuk mengumumkan FOM Juli ini. Dalam kesempatan ini Ibu Errie menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh anggota jemaat yang telah mendoakan keluarganya sepanjang bulan Juni. Atas pertolongan Tuhan ada 3 anggota keluarga Ibu Errie yang akan menerima Yesus menjadi Juruselamat pribadinya yaitu suami, anak dan menantunya. Mereka telah mengambil keputusan untuk mengikuti baptisan pada hari Sabat tanggal 25 Juli 2009 di gereja Kemang Pratama.

Terpilih sebagai FOM Juli 2009 adalah keluarga Ibu Etty Sukaryati. Sebuah lagu istimewa “Surely Goodness and Mercy” dinyanyikan dengan merdu oleh Bapak Munas Tambunan, mengiringi langkah Ibu Etty yang Sabat pagi ini ditemani oleh putrinya Yudith , menantunya Dolfi Tambunan dan cucunya Karen. Ibu Etty menyampaikan pokok-pokok doa yang perlu didoakan oleh jemaat, antara lain : mendoakan keluarga Yudith dan Dolfi yang baru dipersatukan dalam pernikahan beberapa minggu yang lalu agar keluarga ini senantiasa langgeng dan selalu diberkati Tuhan. Begitu juga dengan cucunya Karen yang tinggal bersamanya agar diberikan hikmat surga menjadi anak yang baik, pintar di sekolah dan anak yang selalu rajin ke gereja. Tak lupa ibu Etty juga meminta agar diusianya yang sudah tua dia juga diberikan kesehatan dan semakin setia kepada Tuhan. Doa berkat dilayangkan oleh Pendeta R.Y. Hutauruk. Marilah kita bersatu hati untuk mendoakan keluarga ibu Etty Sukaryati setiap hari dalam doa-doa di rumah tangga kita masing-masing. Tuhan kiranya memberkati keluarga yang didoakan, juga memberkati keluarga yang mendoakan.

Tuesday, July 07, 2009

Jangan Menyerah

2 Timotius 4 : 7-8 ”Aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya, tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya”

Saya pernah berkuliah di sebuah universitas yang terletak di bawah sebuah gunung yang cukup tinggi. Mendaki gunung dekat kampus adalah sebuah kegiatan rutin yang biasanya diadakan setiap tahun ajaran baru. Pendakian diadakan pada malam hari, targetnya menyaksikan matahari terbit dari puncak gunung tersebut. Sebagai mahasiswa baru saya tertantang untuk ikut dalam pendakian, walaupun seumur hidup belum pernah mendaki gunung. Pada awalnya, saya masih menikmati perjalanan tersebut, namun lama kelamaan, ketika stamina mulai menurun, ditambah dinginnya malam yang menusuk karena hujan yang turun, saya berkali-kali hampir menyerah dan ingin berbalik arah. Teman-teman yang kuat sudah berada jauh di depan, rombongan lain ada juga yang tertinggal di belakang bahkan mungkin kembali ke kampus.

Teman-teman yang dekat dengan saya memberi semangat ” Ayo sedikit lagi, jangan menyerah, kita hampir tiba, kamu pasti bisa, kita mau lihat matahari terbit” Kalimat itu berkali-kali disebutkan, setiap kali mereka melihat saya kelelahan, dan hampir menyerah. Secara bergantian teman yang lebih kuat menarik tangan saya. Saya jadi bersemangat lagi. Dan akhirnya pada suatu saat mereka berteriak ” Nah, kita sudah sampai, arahkan pandanganmu ke timur ya, sebentar lagi matahari terbit” Memang benar, sambil melonjorkan kaki, saya arahkan pandangan saya ke ufuk timur dan ketika sedikit demi sedikit matahari mulai terbit , seluruh keletihan saya lenyap oleh menyaksikan indahnya matahari terbit dari atas puncak gunung yang dicapai dengan begitu susah payah. Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Perjalanan kita menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan juga bukanlah perjalanan yang mudah. Ketika beban berat datang menimpa, kaki terasa begitu penat, dan hampir-hampir tidak sanggup untuk melangkah lagi, kita bisa saja tergoda untuk menyerah. Namun, kita harus tetap maju untuk mencapai tujuan akhir perjalanan kita, agar sampai di tujuan akhir dan dapat menyaksikan kemuliaan Tuhan. Peran teman-teman seperjalanan menuju tanah perjanjian sangatlah penting. Teman yang menguatkan, yang menghibur, yang memberi semangat, menopang serta menarik kita untuk terus maju dan tidak menyerah oleh situasi apapun.

Apabila kita setia sampai akhir, sebagaimana ayat kita pagi ini, kitapun akan dapat mengatakan ” Aku telah mengakiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya, tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya”.

Have a good day !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda dengan menggunakan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.

Jalan Kaki vs. Naik Kuda

Hari Sabat 4 Juli 2009, jemaat tengah bersiap memasuki jam kebaktian khotbah. Suasana terasa agak berbeda dari biasanya. Sebagian remaja anggota Pathfinder Kemang Pratama dan orang tua tengah mengikuti Kampore Pathfinder di Coban Rondo Malang. Ibu Naomi Tobing membawakan cerita untuk anak-anak yang berjudul Raja Ahab dan Izebel. Anak-anak mendengarkan dengan tekun kisah yang diceritakan dengan baik ini. Usai cerita, anak-anak kembali ke tempat duduk orang tua masing-masing. Bapak Munas Tambunan menyanyikan sebuah lagu istimewa “Hati Yesus Penuh”. Sebuah lagu yang indah yang dinyanyikan dengan merdu, mengajak jemaat untuk merenungkan bahwa Yesus senantiasa membuka hati-Nya untuk menerima keluh kesah kita. Jemaat disiapkan untuk mendengarkan khotbah dari Bapak Wilson Tobing, salah seorang ketua jemaat Kemang Pratama.

Bapak Wilson membawakan khotbah yang berjudul “Jalan Kaki vs. Naik Kuda” yang merujuk kepada ayat inti Yeremia 12:5 dan ayat sahut-sahutan Yeremia 12 : 14-17. Kita sering membaca dalam Alkitab bagaimana Allah mengijinkan ujian kepada umat-umatNya. Bahkan dalam kehidupan kita saat ini pun Allah mengijinkan ujian menimpa kita. Ny. Ellen G. White menuliskan dalam tulisan Roh Nubuat tentang Gideon yang mengalami ujian dari Tuhan. Gideon hidup dalam jaman dimana Allah memilih hakim, orang yang terbaik di pandangan Tuhan dan yang memiliki kredibiltas baik dan pantas bagi bangsa Israel. Pada saat Gideon diangkat menjadi hakim, mereka dihadapkan kepada bangsa Midian. Ada 32.000 orang disiapkan untuk mengalahkan bangsa Midian. Tapi Tuhan memberikan ujian. Dari ujian ini, ternyata hanya 300 orang atau kurang dari 1% yang lolos ujian dan diajak mengalahkan bangsa Midian. Allah yang memimpin peperangan, Gideon beserta orang pilihan hanya menjalankan. Penurutan Gideon kepada Tuhan yang dipadukan dengan pimpinan Tuhan, membawa kemenangan bagi bangsa Israel saat itu.

Banyak lagi hamba Tuhan yang mengalami ujian dan terbukti, bila mereka menurut dan Allah memimpin, maka mereka akan mencapai kemenangan. Daniel menghadapi ujian-ujian yang Allah berikan dalam hal kesetiaan kepada Tuhan. Daniel bekerja sama dengan Tuhan dan kemenangan diperolehnya. Kembali kepada ayat inti Yeremia 12 : 5 yang mengatakan bila kita telah dibuat lelah dalam perlombaan lari dengan manusia, bagaimana mungkin kita dapat menang bila kita berlomba dengan kuda. Ujian-ujian yang kita hadapi dari waktu ke waktu adalah untuk mempersiapkan kita untuk menjadi pemenang di dalam ujian yang berat satu saat nanti di akhir jaman. Lukas 21 : 16 mengatakan bahwa satu saat nanti banyak yang akan menentang kita saat kita mempertahankan kebenaran Allah. Banyak orang yang akan menentang dan membenci kita karena mempertahankan nama Tuhan. Kita mesti bersyukur atas ujian-ujian yang kita hadapi saat ini. Semua ujian-ujian yang Allah ijinkan menimpa kita saat ini, adalah satu ujian yang menolong kita untuk terus bertumbuh dalam iman kepadaNya. Sehingga bila saatnya tiba, ujian akhir menimpa kita, kita semua telah siap untuk bertahan dalam kebenaran dan menjadi pemenang seperti Gideon, Daniel dan hamba-hamba Tuhan lainnya. Puji Tuhan untuk firman yang baik pada Sabat ini. Bapak Wilson melayangkan doa tutup di kebaktian Sabat ini.

Monday, July 06, 2009

Hadapi Setiap Masalah !

Ayub 38 : 4, 5 “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi ? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? – Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur kepadanya?”




Kami baru saja menyelesaikan kebaktian gereja saat itu. Cukup terkejut juga ketika keluar dari area parkiran, kami sudah dihadang oleh kemacetan, padahal saat ini adalah hari libur panjang untuk anak-anak sekolah. ”Waduh pa kita lupa ! Kita seharusnya tidak lewat jalan ini”, kata saya menyesal melihat kondisi seperti ini . Memang tadi pagi sudah terlihat iring-iringan rombongan menuju ke daerah Jakarta Pusat, kelihatannya akan terjadi kemacetan luar biasa. Sayangnya kami lupa untuk menghindar dan mencari jalan alternatif. Kini dimana-mana kendaraan beraneka ragam dengan berbagai slogan yang dibawa oleh penumpang mulai dari balita sampai dengan dewasa lanjut usia kelihatan memenuhi jalan. “Wow, kok ramai sekali ya pa ?”, tanya si kecil terheran-heran, “Oh itu namanya kampanye nak,…orang-orang mau berkumpul di satu tempat dan nanti calon presidennya mau bicara.”, jawab suami saya menjelaskan kepada si kecil. Menit ke menit berlalu sampai sekitar satu jam, namun kendaraan sama sekali tidak bergerak! Kami terpaksa menikmati kemacetan ini. Sementara waktu anak-anak gembira melihat pemandangan yang ada “Mama lihat ! Itu ada orang yang rambutnya dibuat huruf nama calon presiden! Keren banget ya mam…”, kata si abang sambil tertawa geli. “Kasihan betul yang jalan kaki. Coba liat itu ada anak yang jatuh ! Mungkin mereka letih ya…”, giliran si sulung yang komentar.

"Kalau begitu, kita parkir saja dulu di gedung terdekat untuk menghindari macet ini.", kata suami saya. Kami lalu memarkir mobil ke salah satu halaman gedung. Tetapi setelah lebih dari dua jam menunggu, tanda-tanda lalu lintas akan normal kembali tidak kunjung tiba. “Coba aku tanya ke petugas keamanan di luar, siapa tahu dia bisa memberikan anjuran. Hal seperti ini kan sudah biasa terjadi di jalan ini.”, kata suami saya sambil keluar dari mobil. “Sebaiknya bapak ikuti saja kemacetan ini sekarang, karena kondisinya akan semakin parah menjelang sore. Biasanya sekitar jam 6 sore nanti massa baru bubar pulang. Jadi jalanan bisa semakin macet nanti pak!“, kata petugas keamanan yang ditemui memberi anjuran. “Ayo, kita lanjutkan perjalanan sekarang!”, kata suami kepada kami sambil mulai membawa mobil keluar dari area parkiran. Beberapa menit berlalu, kendaraan bergerak pelan sekali. Tetapi kami bisa terus bergerak maju sambil melihat-lihat ke depan. ”Papa pelan-pelan ambil ke jalur kanan deh…, kelihatannya yang di jalur kanan bergerak agak lancar!”, kata si sulung menganjurkan. Ternyata benar, di sebelah kanan ada polisi yang mengatur agar kita bisa terlepas dari iring-iringan panjang mobil peserta kampanye. Dan jalan yang terbentang di depan sangat lancar. “Wah, kita pikir tadi kemacetan ini panjang sekali ya, ternyata hanya terjadi di sebelah kiri jalan saja. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan kita ya.”, kata suami saya lega karena terbebas dari kemacetan.

Di dalam ayat renungan kita pada hari ini, Tuhan menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan dalam pengetahuan. Tetapi sebaliknya, kita memiliki Tuhan Yang Maha Tahu. Dia merencanakan semua pada saat penciptaan dengan baik dan teratur untuk kebaikan kita semua. Kita memiliki keterbatasan dan tidak tahu apa yang ada di hadapan kita. Apa yang kita hadapi saat ini mungkin bukan jalan hidup yang mudah, berhadapan dengan tantangan dan masalah. Terkadang kita tergoda untuk undur dan menghindar dari masalah, gantinya kita menghadapi masalah. Tuhan memiliki rencana baik bagi setiap pergumulan yang kita hadapi. Ada berkat yang Tuhan sediakan di ujung setiap permasalahan, yang kita tidak ketahui karena keterbatasan kita. Mata kita yang terbatas melihat kesulitan sebagai masalah besar saat ini, tapi Tuhan Yang Maha Tahu akan menunjukkan bahwa kesulitan saat ini menuntun kepada berkat yang besar di depan kita. Mari kita hadapi setiap masalah bersama Tuhan.

Have a nice day !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda dengan gunakan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.

Tantangan Bagi Umat Advent

Kebaktian Vesper pada hari Jumat 3 Juli 2009 terasa sedikit lengang. Sebagian anggota jemaat tengah mengikuti Kampore Pathfinder Uni Indonesia Kawasan Baruat yang diadakan di Wana Wisata Coban Rondo, Malang, Jawa Timur. Selebihnya ada juga anggota yang tengah berlibur. Kebaktian tetap berjalan tepat waktu pada pukul 19:30. Bapak Sulasta sebagai pembawa acara memulai acara dengan mengundang anggota yang hadir untuk menyanyikan lagu sion nomor 103, “Jalan Serta Yesus Slalu Sejahtera”. Setelah doa pembukaan yang dilayangkan oleh ibu Lies Purnama, kelompok UKSS Kemang Pratama 1, 3 dan Rawa Lumbu membawakan lagu pujian yang berjudul “Apakah Jangkarmu Akan Tahan”. Renungan Vesper dibawakan oleh William Banu. Dalam membawakan renungan, William menggunakan tiga bahasa. Bahasa Inggris, Indonesia dan tentunya bahasa Tagalog yang merupakan bahasa asalnya. Memang William berasal dari Filipina dan sekarang bergereja di Jemaat Kemang Pratama. Dengan bahasa campuran antara Inggris dan Indonesia, saudara William membawakan renugan yang sangat baik.

William membuka renungannya dengan mengingatkan posisi umat Advent di dunia ini. Dengan populasi dunia yang mencapai 6 milyar orang, anggota Advent yang ada 17 juta, dan hanya 15 ribu orang saja yang melayani sebagai pendeta. Dengan perbandingan rasio tersebut, apa yang harus kita lakukan? Bila kita mempelajari Firman Tuhan, maka Tuhan menghendaki kita melakukan segala perintahNya (Mat 7:21 dan Pengkotbah 12:13). PerintahNya ada pada Sepuluh Hukum. Empat Hukum yang mengatur hubungan kita dengan Tuhan dan Enam Hukum yang mengatur hubungan kita dengan sesama manusia. Kesemuanya ini adalah satu kesatuan, dan tidak bisa terpisahkan. Namun, banyak orang tidak mau menuruti semua hukum tersebut. Ada beberapa hukum tersebut yang mulai dilupakan. Hukum yang paling sering diabaikan adalah hukum ke-3 dan ke-4. “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan“ dan “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat”.

Seringkali perkataan “Oh my God!” (“Ya, Tuhan!”) atau kata-kata sejenis digunakan tidak pada tempatnya. Hanya karena melihat sesuatu yang bagus, maka seringkali orang berkata: “O my God, it’s beautiful !” atau “Ya, Tuhan. Indah sekali !”. Padahal kata-kata ini seharusnya hanya diucapkan untuk memuji Tuhan. Banyak orang juga menganggap semua hari dapat menjadi hari sabat. Sehingga mereka mencampur adukan antara hari-hari biasa dengan hari yang diasingkan oleh Tuhan. Yakobus 2:10 mengatakan ”Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya”. Jadi Sepuluh Hukum itu adalah satu kesatuan. Bilamana satu saja tidak dituruti, maka sembilan yang tersisa tidak berarti apa-apa lagi. Namun, banyak juga orang yang berkata, bahwa tidak mungkin menuruti seluruh hukum itu karena itu akan menjadi sangat berat. Banyak yang berpendapat bahwa penurutan kepada seluruh hukum akan menjadi problem buat mereka. Mereka yang menganggap berat, hanya berfokus pada problem dan bukan solusi. Kalau mereka berfokus pada solusi, maka akan didapati bahwa penurutan terhadap hukum itu tidaklah seberat apa yang mereka bayangkan.

Inilah yang harus kita beritakan sebagai seorang kristen, seorang murid Yesus, dan pengikut Dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah. Dengan berfokus pada solusi dan penurutan, kita akan mampu untuk menuruti seluruh Hukum itu. Mengakhiri renungan malam ini, William mengutip 1 Yohanes 5 : 3-4 : "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita." Kebaktian Vesper ini ditutup dengan menyanyikan lagu sion nomor 169, “Masyurkanlah Yesus”. Setelah doa tutup dilayangkan oleh saudara William Banu, jemaat berkumpul di halaman Gereja untuk membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu "God Is So Good”. Setelah itu mengucapkan “Selamat sabat! Selamat sabat! Selamat sabat! Tuhan memberkati! Halleluyah! Amin!”.

Sunday, July 05, 2009

Tuhan Peduli

Yakobus 5:13 “Kalau ada seorang diantara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!”





Siang itu matahari bersinar terik menyengat kepala. Kalau bukan karena sesuatu yang sangat penting, rasanya enggan sekali untuk keluar rumah. Setelah menempuh perjalanan akhirnya saya tiba di salah satu kantor instansi pemerintah, suasana di dalam hiruk pikuk sekali. Bergegas saya masuk ke dalam untuk mengambil nomor antrian. Betapa terkejutnya saya mendapat nomor antrian sekitar lima ratusan ! Segera saya dekati salah seorang petugas, ingin tahu kira-kira jam berapa saya mendapat giliran ”Kelihatannya dokumen ibu sudah lengkap, jadi ibu tidak perlu mengantri di sini. Serahkan saja ini ke kantor kami yang lain tidak jauh dari sini. Sebaiknya ibu naik mobil angkutan umum saja, jadi tidak report harus balik arah.”, katanya menyarankan. Saya pikir itu ide yang bagus, urusan bisa saya selesaikan lebih cepat .”Terimakasih ya pak untuk sarannya.”, kata saya. Segera saya naiki sebuah angkot yang lewat. Di dalamnya ada seorang ibu beserta anaknya yang masih kecil, kami sama-sama tersenyum. Tidak lama kemudian naiklah dua orang pengamen dengan tato yang memenuhi tangan dan wajah yang tidak bersahabat. Terus terang saya merasa takut. Di dalam hati saya berdoa “Tuhan tolong jaga saya!” Pengamen itu menyanyi asal-asalan saja dan selesai menyanyi dia berkata dengan nada mengamcam,“Bagi uangnya dong!”. Uang Rp 1.000,- yang sudah saya siapkan untuk membayar angkot langsung saya berikan kepadanya. Tetapi ibu di depan saya tidak punya uang kecil, saya lihat dia memegang uang 10 ribu sehingga dia hanya diam saja. “Bagi uangnya dong !”,katanya lagi memaksa kepada ibu itu. ”Maaf, saya tidak ada uang.”, kata ibu itu. “Kenapa enggak ada ? Siapin dong dari tadi!”, jawabnya dengan kasar. Untunglah mobil ini berhenti di sebuah lampu merah dan kebetulan sekali ada polisi yang berdiri tepat di sebelah mobil dan memperhatikan ke dalam mobil. Karena salah tingkah, akhirnya pengamen itu keluar turun.

Leganya hati ini bukan kepalang. “Terimakasih Tuhan karena perlindungan mu pada kami!”, doa saya. “Cari uang kok begitu ya, saya sebenarnya lagi pusing sekali sekarang…”, kata ibu tadi mencairkan ketegangan yang baru lewat. “Kenapa ibu bicara seperti itu”, tanya saya. “Ibu saya sedang sakit parah terkena kanker. Saya hanya bisa membantu dengan tenaga saya. Untunglah masih ada kakak yang bisa membantu pengobatan ibu, biaya pengobatannya sangat besar!”, katanya dengan wajah sedih. “Ibu harus rajin berdoa dan serahkan kepada Tuhan, karena hanya Dialah yang bisa membantu kita.”, jawab saya “Terimakasih ya sudah mengingatkan saya. Memang sudah lama saya tidak sembahyang…, habis bingung apa yang mau diminta dari Tuhan. Sepertinya semua sudah menemui jalan buntu!”, jawabnya polos. “Ibu berdoa saja sesuai isi hati ibu, nanti ibu akan mendapat ketenangan dan kekuatan. Tuhan itu Maha Kuasa, dia tahu apa yang baik buat kita.”, kata saya lagi yang disambut dengan anggukan pasti dari ibu tadi. “ Ngomong-ngomong mohon maaf ya bu, saya sudah sampai dan harus turun sekarang. Semoga Tuhan memberkati ibu”, jawab saya sambil pamit.

Ayat renungan kita hari ini mengatakan agar kita selalu berdoa, bila kita menghadapi kesulitan dan penderitaan. Ada banyak jenis penderitaan dan kesusahan yang kita hadapi setiap hari. Jenis kesusahan yang kita hadapi masing-masing sangat beragam dari hari ke hari. Mulai dari penyakit yang tidak kunjung sembuh, kesulitan keuangan, masalah rumah tangga, kehilangan pekerjaan, mendidik anak, dan masih banyak lagi. Tingkat kesulitannya pun beraneka, mulai dari yang kita dapat atasi sendiri, kita perlu bantuan sahabat untuk menolong kita, hingga pada penderitaan yang kelihatannya sudah menemui jalan buntu dan kelihatannya tidak dapat ditolong lagi. Dengan berdoa berarti kita menyerahkan semua situasi yang kita hadapi, problema yang kita tanggung, kekhawatiran kita, pergumulan kita, keraguan kita, semua kita serahkan kepada Tuhan. Kita memiliki Allah yang peduli kepada semua kesusahan dan penderitaan kita. Tuhan rindu untuk menolong kita, mengangkat beban kita, dan memberikan kita kesanggupan menghadapi semua penderitaan. Mari kita datang kepada Tuhan setiap hari dan menerima kedamaian dalam hidup kita.

Have a great break !

Pemberkatan Nikah Dolvi Dan Yudith

Hari Minggu 21 Juni 2009, jam hampir menunjukkan pukul 14:00. Anak-anak, remaja, pemuda-pemudi dan orang tua dengan wajah berbahagia telah datang di Gereja Kemang Pratama. Hari ini mereka menghadiri upacara pemberkatan nikah dari Dolvi Tambunan dan Yudith Puspita Sari. Karen, Alice dan beberapa anak putri yang akan menjadi penabur bunga tersenyum manis. Sementara Dave yang akan membunyikan lonceng duduk menantikan acara dimulai. Tiga pasang pengiring pengantin, sepasang candle lighter, pendamping mempelai pria dan pendamping mempelai wanita tengah bersia-siap. Tamu-tamu mulai berdatangan, saling bersalaman dan mulai duduk di gereja. Pukul 14:30, Bapak Richard Pelaupessy sebagai Master of Ceremony mengundang hadirin untuk bersiap memasuki jalannya upacara pemberkatan nikah. Doa buka dilayangkan dan lagu istimewa pembuka dinyanyikan oleh keluarga besar pengantin pria.

Bapak dan Ibu R.S. Tambunan diiringi oleh Reynaldo Simbolon melangkah duduk di bangku depan. Dave membunyikan lonceng sebagai tanda acara dimulai. Perlahan Malvin dan Felicia maju berjalan dan menyalakan setiap lilin yang ada di depan altar. Pendeta R.Y. Hutauruk, dan mempelai pria Dolvi dan Reynaldo memasuki altar. Semua berjalan dengan baik dan tiba saatnya hadirin menyambut mempelai wanita Yudith bersama Ibu Etty Sukaryati dan Bapak Sukardjito yang mendampinginya. Di depan Dolvi menyambut Yudith dengan bunga tangan mawar yang indah berwarna merah. Ibu Debby Napitupulu menyanyikan “Walk Hand In Hand” mengiringi kedua mempelai yang maju perlahan ke altar. Pendeta Hutauruk menyampaikan firman pemberkatan. Kepada Dolvi dan Yudith dipesankan agar mereka menjadikan Yesus sebagai pemimpin dan yang terutama di dalam rumah tangga mereka, maka kebahagiaan dan berkat sukacita akan selalu mengisi perjalanan rumah tangga mereka. Doa pemberkatan dilayangkan oleh Pendeta Hutauruk.

“The Lord’s Prayer” yang dinyanyikan dengan merdu oleh Jacob Sinaga menandakan akhir dari doa Pendeta Hutauruk bagi kedua mempelai. Ibu Etty dan Ibu S. Tambunan perlahan berjalan ke altar untuk menyalakan lilin di depan. Natalia Tampubolon dan Juan berduet menyanyikan lagu “The Prayer” yang menyatakan harapan agar rumah tangga Dolvi dan Yudith dipenuhi dengan berkat sukacita dari Tuhan. Dengan wajah penuh kebahagiaan, Dolvi dan Yudith menyalakan lilin utama. Pendeta Hutauruk mengundang Dolvi untuk memberikan ciuman kepada Yudith yang telah resmi menjadi istri. Dan pasangan keluarga yang baru diperkenalkan kepada semua hadirin yang membalas dengan ucapan “Amin..!”.

Sertifikat pemberkatan nikah dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh ditanda-tangani oleh kedua mempelai, Pendeta Hutauruk dengan saksi dari kedua mempelai. Trio Threes Tampubolon menyanyikan lagu “Terima Kasih Ayah dan Ibu” saat Dolvi dan Yudith menghampiri orang tua mereka secara bergantian untuk mengucap terima kasih dan memohon doa bagi rumah tangga yang baru. Titik air mata sukacita tidak dapat tertahankan menetes dari mata mempelai, orang tua, penyanyi, dan yang hadir. Sebuah lagu dari Jemaat Taman Mini dinyanyikan sebagai doa dan harapan bagi rumah tangga yang baru. Kedua mempelai diiringi oleh Pendeta Hutauruk, dan semua partisipan satu per satu melangkah meninggalkan altar.

Resepsi Pernikahan Dolvi dan Yudith

Usai pemberkatan di gereja Kemang Pratama pada hari Minggu 21 Juni 2009, kedua mempelai dan keluarga yang berbahagia mengundang tamu-tamu untuk hadir di resepsi pernikahan yang dilangsungkan pada malam hari di gedung Sinema Wedding Hall, Jakarta. Pukul 18:30, ruangan di Sinema Wedding Hall sudah mulai di penuhi oleh para tamu. Satu dengan yang lain saling menyapa dengan wajah bahagia sementara menantikan mempelai masuk dalam ruangan. Pukul 19:00 Master of Ceremony mengundang tamu-tamu untuk menyambut kedatangan Dolvi dan Yudith disertai oleh para pengiring. Senyum bahagia terpancar di wajah Dolvi dan Yudith. Sesekali mereka membalas sapaan para tamu yang berdiri mengapit jalannya kedua mempelai ke atas pelaminan.

Dari pihak mempelai pria, mereka memberikan sebuah ulos tanda kasih dan berkat bagi kedua mempelai. Ulos diberikan bersama keluarga besar melingkari kedua mempelai yang begitu bersukacita menerima simbol tanda kasih ini. Satu per satu mereka memberikan selamat kepada Dolvi dan Yudith. Acara pemotongan kue pun tiba. Kedua mempelai beserta orang tua diundang untuk turun dari pelaminan. Dolvi dan Yudith dengan penuh sukacita memegang pemotong kue dan mulai memotong kue yang cukup tinggi dari atas ke bawah, sebagai tanda mereka siap bekerja sama dalam menjalani biduk rumah tangga yang baru.

Suapan kepada kedua orang tua sebagai tanda kasih diberikan kepada orang tua dan mertua. Yang pertama orang tua Yudith menerima suapan kue dari mempelai. Dilanjutkan dengan suapan kue kepada kedua orang tua Dolvi. Hadirin bertepuk tangan dengan meriah. Tiba saatnya Dolvi dan Yudith saling memberi suapan. Yudith memberikan suapan pertama kepada Dolvi sebagai tanda kasih seorang istri yang melayani suami. Bergantian, Dolvi menunjukkan tanda kasih suami yang melayani istri dengan memberikan suapan kue kepada Yudith. Dan akhirnya, MC meminta sebuah kue kecil untuk dimakan oleh mereka berdua. Semua yang hadir bertepuk tangan turut berbahagia dengan kedua mempelai. Penuangan champagne oleh kedua mempelai menandakan kerjasama mereka berdua dilakukan dengan baik.

Acara dilanjutkan dengan melemparkan tiga buah boneka yang diperebutkan oleh semua yang belum menikah. Harapannya, yang mendapat boneka akan dapat mengikuti jejak kedua mempelai untuk berumah tangga. Tiga orang mendapatkan boneka ini dan diundang maju ke depan. Gomgom Tampubolon termasuk yang mendapatkan boneka ini. Setelah itu kedua mempelai memilih satu orang yang berhak untuk mendapatkan hadiah sebuah handphone set yang baru. Doa untuk makan malam dilayangkan, dan hadirin pun mulai memberikan selamat kepada kedua mempelai. Hidangan yang tersedia mulai dinikmati oleh hadirin pada malam itu. Usai makan, kedua mempelai mengajak jemaat Kemang Pratama untuk berfoto bersama di pelaminan dan...click ! click ! Selamat ya Dolvi dan Yudith ! Tuhan memberkati rumah tangga kalian selalu !

Saturday, July 04, 2009

Berpegang Pada Tuhan

Mazmur 119 : 9 “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih ? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”






Di luar masih gelap sekali, walaupun hari sudah menyongsong pagi, orang-orang masih lelap tertidur. Kami terbangun karena suara keras yang terdengar dari sebelah rumah kami. “Papa, bangun ! Tadi saya dengar suara ribut-ribut dari tetangga sebelah kita!”, kata saya membangunkan suami yang masih lelap tidur. “Mama mungkin salah dengar. Masak pagi-pagi begini ada keributan?”, jawab suami saya masih mengantuk. “Benar kok pa, itu kan suara bapak tetangga kita!”, jawab saya yakin. “Oke, coba kita dengar lagi lebih jelas.”, katanya sambil bangun dan duduk berdiam diri. “Kamu sudah memalukan nama baik keluarga! Dasar anak tidak tahu diri, nama baik keluarga jadi tercemar gara-gara kamu!”, suara bapak tetangga terdengar jelas dan menggelegar. Mereka baru saja pindah dari Sumatera, sehingga dialek dan intonasinya masih terdengar sangat keras. “Kenapa kamu pacaran dengan anak itu? Memangnya tidak ada orang lain yang lebih pantas buat kamu!”, kini giliran suara ibunya yang terdengar. “Aku sayang dan cinta dia ma..”, jawab anaknya perlahan tapi pasti. “Apa katamu? Anak nakal seperti itu dan tidak jelas apa yang dia kerjakan, kamu katakan kamu mencintai dia ?!!”, suara papanya terdengar berang.

”Kalau begini sikap kamu, mama menyesal sekali kita pindah ke Jakarta… Dulu waktu kita masih tinggal di daerah, kamu sangat penurut dan baik anakku…”, suara mamanya sudah mulai bercampur tangisan. Tidak lama kemudian yang terdengar hanyalah suara pintu yang dibanting. “Wah anak itu kelihatannya sudah tidak perduli dengan perkataan ibu dan bapaknya…”, suara kami bersamaan karena setelah itu suasana menjadi hening. Pada pagi hari ketika saya sedang berbelanja sayur, saya bertemu dengan ibu tetangga tersebut. Kelihatan sekali wajahnya terlihat sedih dan gelisah. “Saya bingung sekali menghadapi anak saya bu, sekarang dia sudah tidak mau lagi mendengar nasehat saya”, jelasnya tanpa ditanya. “Ibu banyaklah berdoa. Tuhan akan melembutkan hati anak ibu, sehingga dia mau mendengar kembali apa yang dikatakan oleh bapak dan ibu”, jawab saya menenangkannya. “Kelihatannya sudah sulit bu, sekarang hampir tiap hari dia pulang dini hari, saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan padanya.”, katanya lagi, “Saya doakan agar ibu bisa melalui semua kesulitan ini”, kata saya yang disambut senyum olehnya.

Ayat renungan pagi ini mengatakan agar kita memegang teguh firman Allah yang menyanggupkan kita untuk menjaga perbuatan kita. Setiap manusia memiliki pergumulan untuk menjalani kehidupan. Tantangan, godaan, cobaan, semua datang silih berganti setiap hari. Sebagai manusia yang lemah, kita memerlukan penopang dan pegangan agar tidak jatuh tersandung. Bila kita tersandung, kita perlu penopang untuk segera bangkit dan berjalan lagi. Firman Allah adalah penopang kehidupan. Di dalam rumah tangga kita, jadikanlah firman Allah sebagai yang pertama untuk mengawali hari-hari kita. Firman Tuhan akan memberikan arahan dan kekuatan bagi seorang ayah, ibu dan anak-anak dalam menghadapi masalah, tantangan dan godaan setiap hari. Berjalan bersama Tuhan setiap hari akan menyanggupkan kita memelihara perbuatan kita setuju dengan Allah.

May His wonderful blessings be ours every day !

Kita Doakan Yang Sakit

Setelah mengalami sakit beberapa hari dan menjalani rawat jalan, Ibu Lience Sunaryo belum juga mendapatkan kesembuhan. Pada hari Kamis 2 Juli 2009, Ibu Sunaryo dibawa ke rumah sakit Global Awal Bros Kalimalang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pendeta R.Y. Hutauruk dan Ibu Dahlia Hutauruk membawa Ibu Sunaryo ke rumah sakit. Di bagian UGD, Ibu Sunaryo diperiksa lebih teliti melalui USG. Dokter menemukan infeksi pada bagian usus dan menganjurkan agar Ibu Sunaryo dirawat lebih lanjut di rumah sakit. Setelah menunggu beberapa saat, perawat mengantar Ibu Sunaryo ke ruang 302. Pada Kamis malam anggota jemaat datang menjenguk Ibu Sunaryo yang terbaring lemah dengan lengan menerima cairan infus. Anggota jemaat memberikan kekuatan, penghiburan dan melayangkan doa bagi kesembuhannya. Kita doakan agar Tuhan memberikan Ibu Sunaryo kepulihan kesehatan yang cepat.

Hari Jumat 3 Juli, diperoleh kabar dari Bapak Rizal Maringka, bahwa beberapa anggota Pathfinder Kemang Pratama jatuh sakit saat mengikuti Kampore Pathfinder Uni Indonesia Kawasan Barat 2009 yang tengah berlangsung di Coban Rondo, Malang, Jawa Timur. Mereka adalah Raissa Maringka, Rodney Maringka, Sandy Silalahi, Daniel Simanjuntak dan Friska Hutauruk. Raissa, Rodney dan Sandy menderita demam tinggi sejak beberapa hari lalu. Sandy dirawat di RS Hermina Malang, kondisinya saat ini semakin membaik. Raissa dan Rodney dirawat di rumah keluarga mereka di Malang. Hingga hari Jumat kemarin Rodney masih demam tinggi. Sementara Friska dan Daniel pada hari Jumat pagi kemarin mendapatkan perawatan di tenda kesehatan panitia kampore, juga karena demam yang tinggi. Direncanakan mereka akan mendapat perawatan lanjutan di kota Malang. Kita doakan anggota Pathfinder yang sakit agar mendapatkan kesembuhan yang sempurna. Kita doakan juga anggota Pathfinder yang lain dan para Pembina agar tetap sehat dalam mengikuti kampore yang akan usai hari Minggu 5 Juli 2009 besok.

Friday, July 03, 2009

Kuasa Lidah

Yakobus 3 : 5 “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.”




Saya menghabiskan masa Sekolah Menengah Pertama di Medan. Saat itu saya sering mengikuti kegiatan perkemahan ke Sibolangit, suatu tempat yang dingin dengan area yang nyaman, tetapi cukup menantang untuk memperoleh pengalaman baru. Selama di perkemahan saya mendapat pelajaran untuk hidup mandiri. Ketika waktu berkemah sudah selesai, teman-teman bicara kepada saya. “Semua teman-teman satu regu ingin menginap di rumah kamu, boleh enggak?”, tanya seorang teman saya. ”Iya nih, kita ingin tidur enak dulu menggantikan letih selama di perkemahan ini. Pegal-pegal di badan sudah tak tertahankan nih..!”, kata teman yang lain. “Oke, tidak apa-apa. Yang penting kalian mau tidur beramai-ramai ya..!”, jawab saya, “Tidak apa, yang penting tidurnya di atas kasur kan? Kita sudah capek nih seminggu tidur di atas tikar!”, kata mereka sambil tertawa.

Setibanya di rumah, karena sangat letih kami pun langsung tertidur. Pukul 1:00 pagi kami semua terkejut ! “Ayo bangun…! Bangun semua…! Di kamar kalian ada asap!”, teriak nenek saya terdengar panik. Saat itu nenek mau pergi ke kamar mandi ketika dia melihat asap dari kamar saya. “Oh selimut saya sudah terbakar!”, teriak teman saya yang baru menyadari penyebab datangnya asap di kamar. “Tadi kami memang memasang obat nyamuk. Karena sangat pulas, selimut terjatuh di atas obat nyamuk itu! Maafkan kami ya nek…”, jelas saya kepada nenek sambil meminta maaf. Obat nyamuk sebetulnya hanya sebuah bara api yang kecil sekali. Namun ketika kita salah meletakkannya, bara yang kecil itu sanggup berubah menjadi api yang besar dan mengakibatkan hal yang fatal.

Di pagi ini ayat renungan kita mengatakan bahwa lidah adalah bagian tubuh yang kecil, namun dapat memegahkan perkara yang besar. Lidah memang tidak bertulang sehingga dengan mudah dapat mengikuti gerakan kata-kata dengan lincahnya. Lidah adalah anggota tubuh yang kecil dan tersembunyi, tetapi fungsinya sangat besar. Kata-kata yang keluar dari lidah memiliki kuasa yang besar. Kita dapat menghibur, memberi nasehat, memberi ketenangan dan mengeluarkan kata-kata yang menyenangkan hati orang lain dengan lidah kita. Saat yang sama, lidah juga dapat berubah menjadi sumber petaka, penyebab timbulnya masalah dan menyakitkan bagi orang lain bila tidak dikendalikan. Kita sebagai manusia terkadang gagal mengendalikan lidah kita. Kita perlu datang pada Tuhan setiap hari untuk menolong kita agar dapat menggunakan lidah kita untuk menjadi sukacita bagi orang lain, memegahkan perkara yang besar, dan menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

May God help us to use our little tongue to boast His wonderful love !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda dengan menggunakan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.

Patut Juga Ia Bertambah-tambah

Kebaktian Rabu malam 1 Juli 2009 dimulai pukul 19:30. Sebagian anggota jemaat, khususnya remaja, tengah mengikuti kampore di Malang, sehingga kehadiran berkurang dari biasanya. Pendeta Richard Y. Hutauruk memimpin acara dengan mengundang jemaat menyanyikan Lagu Sion nomor 234, “Dengar Malaikat Nyanyi”, sebagai lagu pembukaan. Doa dilayangkan oleh William Banu. Keluarga Pendeta Hutauruk membawakan lagu istimewa yang berjudul “Pada Jam Ku Berdoa”. Renungan kebaktian Rabu Malam ini dibawakan oleh Bapak Aswin Sugiarto, yang mengambil pembahasan dari buku Kerinduan Segala Zaman pasal 18 yang berjudul “Patut juga Ia Bertambah-tambah”.

Renungan malam ini menceritakan tentang tanggapan Yohanes Pembaptis terhadap Yesus. Yohanes Pembaptis adalah seorang yang sangat terkenal pada waktu itu. Ia mempunyai banyak pengikut. Ia bisa saja menggalang dukungan untuk dirinya sendiri, namun bukan itu yang dia lakukan. Ia mau mengalihkan perhatian orang-orang kepada Yesus – sebagai Juru Selamat. Ketika murid-murid Yohanes merasa gurunya tersaingi oleh popularitas Yesus, mereka berusaha melakukan provokasi kepada Yohanes. Namun Yohanes tidak mengindahkan perkataan murid-muridnya. Ia tidak ingin merintangi kemajuan pekabaran Injil. Dia mengatakan bahwa dia bukan Kristus, melainkan pesuruh yang diutus untuk mendahului Yesus Kristus. Ia menyatakan dirinya sebagai sahabat yang bertindak sebagai pesuruh antara dua sejoli yang bertunangan, menyediakan jalan untuk pernikahan. Katanya: “Demikianpun kesukaanku telah sempurnalah. Patut juga Ia bertambah-tambah, tapi aku akan berkurang-kurang.”

Ketika tiba saatnya, pekerjaannya diambil oleh Yesus, keberhasilan pekerjaan Yesus disambut gembira oleh Yohanes, karena Yohanes sudah berhasil mempersiapkan jalan untukYesus. Lain halnya dengan para murid Yohanes. Mereka tidak mengerti akan pekerjaan Yohanes, sehingga mereka merasa cemburu dan kecewa. Penyakit pada murid-murid Yohanes masih ada sampai sekarang. Allah memanggil seseorang untuk melakukan pekerjaan tertentu. Setelah pekerjaan itu dilakukannya, sejauh yang sanggup dilakukannya, Tuhan membawa orang-orang lain untuk melakukannya lebih jauh lagi. Pekerjaan Allah hendaknya jangan memakai peta dan ukuran manusia. Kadang-kadang Tuhan akan menggunakan alat-alat yang lain yang dapat melaksanakan maksud-Nya dengan sebaik-baiknya. Berbahagialah mereka yang sudi bila dirinya direndahkan, dengan berkata seperti Yohanes Pembaptis, “Patut juga Ia bertambah-tambah, tetapi aku ini akan berkurang-kurang”.

Usai renungan pada malam ini, Pendeta Hutauruk memberikan kesaksian tentang seorang bapak yang tengah bergumul mendidik anaknya. Beberapa permintaan doa disampaikan dan jemaat membentuk beberapa kelompok doa. Nama-nama yang tengah belajar alkitab, beberapa anggota jemaat yang tengah sakit dan dalam perawatan, mereka yang sedang mengikuti kampore di Malang, Family of the Month, dan masing-masing keluarga, semua didoakan dalam kelompok doa malam ini. Acara ditutup dengan menyanyi bersama. Bapak Aswin melayangkan doa tutup pada malam kebaktian yang penuh berkat ini.

Thursday, July 02, 2009

Bertumbuh Dalam Iman

Matius 17 : 20 b “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada kepada gunung ini ‘Pindah dari tempat ini ke sana, - maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.’ ”



Memiliki tiga orang anak yang masih kecil-kecil, tentunya tidaklah mudah. Di samping memerlukan perhatian yang cukup besar, juga memerlukan tempat yang cukup agar mereka bisa bergerak bebas di dalam rumah. Ketika itu anak kami yang ketiga baru berusia 3 tahun. “Supaya tidak memakan tempat, kita gunakan saja tempat tidur tingkat ya ma…”, kata suami saya meminta persetujuan, “Tempat tidur tingkat dua ya pa?”, tanya saya. “Iya, ditambah satu yang bisa didorong di bawah, jadi ada tiga tempat tidur. Mereka bisa berkumpul dalam satu kamar yang sama, bisa saling memperhatikan dan itu lebih aman buat mereka.”, jelas suami saya. “Yang paling penting tidak membuat sempit ruangan ya pa..”, kata saya lagi. “Oh tentu, karena tempat tidur yang paling bawah bisa di dorong ke dalam jika sudah selesai digunakan, jadi lebih praktis!”, katanya meyakinkan saya. Akhirnya kami sepakat untuk menggunakan tempat tidur tingkat untuk ketiga orang anak kami.

Anak kami yang ketiga senang tidur di tingkat yang paling atas. Pagi itu dia menangis ketika baru bangun tidur, entah apa sebabnya. Mendengar suara tangisan adiknya si abang langsung berteriak “Ayo dek, loncat saja! Ada abang yang jaga di bawah sini!”, kata abangnya memberi arahan. Tanpa pikir panjang si kecil menuruti perintah abangnya. “Aduh…sakit abang!”, suara si kecil terdengar merintih sakit. “Coba abang lihat apa yang membuat adikmu sakit!”, teriak saya dari kamar. “Ma..kelihatannya kaki si adek terkilir !”, jawabnya mulai terdengar panik. “Adek, coba kakinya diluruskan ke sini’, kata saya membujuk. “Tidak bisa ma, rasanya sakit sekali… !”, jawabnya sambil menahan sakit. “Tadi kenapa adek menurut saja ketika disuruh abang melompat ? Tempat tidurnya kan tinggi sayang…”, kata saya khawatir. “Kan ada abang di bawah ma!”, jawabnya sederhana. Tidak menunggu lama, kami segera membawanya ke rumah sakit untuk diberikan pertolongan. Si kecil percaya penuh terhadap abangnya. Dia percaya ada abangnya yang siap membantu dirinya di bawah, sehingga ketika diminta untuk melompat dengan yakin dia menurutinya.

Ayat renungan kita pada hari ini mengatakan jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja maka kita akan mampu memindahkan gunung sekalipun. Dunia saat ini dirundung oleh banyak kesulitan dan ketidakpastian. Manusia memiliki keterbatasan untuk mengetahui apa yang terjadi di masa depan. Semua tidak ada yang pasti. Ada banyak yang kita sudah lakukan pada hari yang lalu dan hari ini, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Kita perlu iman, percaya penuh kepada Tuhan. Percaya bahwa Tuhan akan memelihara kita di hari esok, seperti Ia telah memelihara kita kemarin dan hari ini. Iman kita perlu bertumbuh. Kita patut bersyukur bila Tuhan mengijinkan kita menghadapi kesulitan dan kesukaran. Semua kesulitan adalah saat yang baik untuk kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, melihat pimpinan-Nya dan bertumbuh di dalam iman kepada Tuhan. Dengan iman kepada Tuhan, kita akan takjub melihat kuasa-Nya yang menyanggupkan kita menghadapi semua perkara dalam kehidupan ini.

Have faith in Jesus !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda dengan menggunakan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.

Wednesday, July 01, 2009

Menjaga Nama Baik

Amsal 22 : 1 “Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas.”





Saya baru saja ikut pulang ke kampung dimana mertua saya tinggal di sana. Ini adalah kunjungan pertama saya untuk mengetahui letak dimana suami saya lahir dan dibesarkan. Orang-orang yang tinggal di sana semua baik dan ramah. Dalam beberapa hari saja saya sudah memiliki banyak kenalan, mereka menunjukkan kebaikan dan perhatiannya kepada saya. Suatu hari saya ingin pergi berjalan-jalan seorang diri untuk menikmati alam serta budaya di daerah ini. “Perkenalkan, saya adalah teman almarhum ayah mertuamu. Kamu sangat beruntung memiliki mertua seperti beliau!”, kata seorang bapak yang saya temui. “Memangnya kenapa pak?”, tanya saya, “Ohh…, beliau itu terkenal karena kebaikannya. Dia suka memberikan nasehat dan berbagi kepandaian. Beliau adalah seorang yang tidak terlalu banyak bicara, tetapi sangat suka bekerja!”, suaranya terdengar begitu lantang. “Pengetahuan apa yang sering dia bagi-bagikan kepada orang lain pak?”, tanya saya ingin tahu. “Beliau paling suka mengajarkan cara bertani yang baik dan bagaimana mengelola hasil panen dengan benar.”, katanya menjelaskan lagi.”

Wah…, terimakasih sekali pak sudah berbagi cerita tentang mertua saya.”, kata saya mengakhiri pembicaraan, “Kapanpun kamu atau anak-anak ingin mendengar langsung pengalaman saya bersama alamarhum, datanglah ke rumah saya!”, katanya dengan ramah dan hangat. ”Baik pak, sekali lagi terimakasih atas perhatian bapak!”, kata saya dengan tersenyum. Setibanya saya di rumah mertua, saya ceritakan pengalaman tadi kepada suami saya. “Saya bangga loh pa! Setiap kali bertemu dengan orang yang mengenal bapak, mereka pasti memuji-muji bapak sebagai sosok yang sangat peduli dan bijaksana!”, kata saya memulai cerita. ”Apa maksud mama?”, tanya suami saya sambil memandang ingin tahu. “Itu tadi ada beberapa orang yang bertemu dan mengenali saya sebagai menantu bapak. Lalu mereka cerita tentang sosok bapak di kampung ini.”, kata saya menjelaskan. “Kita beryukur ya ma karena kita bisa memiliki orang tua yang menjadi panutan di kampung ini. Tetapi kita jangan lupa bahwa itu semua berasal dari Tuhan. Sepatutnyalah kita menjaga nama baiknya agar jangan sampai cacat karena sikap-sikap kita”, suaranya terdengar tenang meyakinkan saya. Pepatah mengatakan “Apalah artinya sebuah nama?”. Tetapi jika sudah berbicara tentang perbuatan, maka nama menjadi sangat penting artinya bagi kehidupan seseorang.

Ayat renungan kita hari ini mengatakan nama baik lebih berharga dari kekayaan besar, dan dikasihi orang lebih baik daripada emas dan perak. Di dalam hidup ini setiap orang tentunya memiliki nama. Nama yang diberikan oleh orang tua memiliki arti dan harapan baik mereka yang menyertai pemberian nama itu. Seseorang bisa dikenal dan diingat oleh orang banyak bukan hanya karena namanya, tetapi oleh karena apa yang telah dia lakukan dan buat. Kita perlu menunjukkan kasih, perhatian, tidak mementingkan diri dan suka memberi pertolongan kepada sesama kita. Semua perbuatan kasih akan melekat di ingatan setiap orang yang menerimanya. Kita patut menghindari perbuatan yang dapat mencemarkan nama baik. Perbuatan yang tidak baik, sekecil apapun, dapat merusak nama baik seseorang. Kita tidak dapat melakukan ini sendirian. Kita akan diberi kesanggupan untuk melakukan yang baik, bila kita selalu memulai hari bersama Tuhan. Tuhan akan menolong agar kita dapat melakukan kebajikan kepada semua orang. Mari kita menjaga nama baik kita, karena itu lebih berharga dari emas dan perak.

Have a nice day !

Tuhan Tahu Yang Terbaik

Sinar matahari bersinar dengan hangat di luar gereja pada hari Sabat 27 Juni 2009 dan seluruh anggota merasakan sukacita memasuki jam kebaktian khotbah. Paduan Suara Anak-anak mempersembahkan pujian bagi Tuhan melalui lagu berjudul “Look At The World”. Sebuah lagu pujian yang membawa kita untuk melihat kemuliaan Tuhan di alam ciptaan-Nya. Setelah itu anak-anak mendengarkan cerita dari Ibu Gladys Maringka dengan judul “Kenakalan Dibalas dengan Kebaikan”. Ibu Gladys mengambil 1 Tesalonika 5:15 sebagai ayat yang perlu diingat oleh anak-anak semua. Lagu kedua dibawakan oleh Paduan Suara Pemuda-Pemudi dengan judul “ I Need Thee”. Lagu yang merdu yang mempersiapkan jemaat untuk mendengar firman Tuhan yang dibawakan Ibu Yunita Wuisan berjudul “Tuhan Tahu Yang Terbaik”.

Berpijak dari kitab Kejadian fasal 37, Ibu Yunita menyampaikan beberapa hal yang dilakukan Yakub, sang ayah, kepada Yusuf : Yakub menggunakan Yusuf untuk memata-matai saudara-saudaranya (ayat 2); Yakub menunjukkan kasihnya kepada Yusuf melalui jubah indah (ayat 3). Apa yang dibuat Yakub menimbulkan persaingan tidak sehat di antara sesama saudara dan kemarahan mereka tujukan kepada Yusuf. Saat itu Yusuf masih belum dewasa. Ia tidak menyadari bahwa ada masalah yang berkembang di dalam keluarganya. Ia belum mengerti bahwa menceritakan mimpi-nya membuat saudara-saudaranya jadi cemburu. Yusuf yang diperlakukan seperti anak emas oleh Yakub membuat saudara-saudaranya iri hati dan cemburu. Mereka memiliki rencana jahat untuk Yusuf. Yusuf dijual. Yusuf mulai mengalami penderitaan yang panjang. Ia dijual sebagai budak ke tangan seorang yang bernama Potifar.

Tapi Yusuf tetap tekun dan setia kepada Tuhan, walaupun ia sebagai seorang budak. Ia mendapat kepercayaan dari Potifar. Saat istri Potifar menggoda dia, Yusuf tetap setia kepada Tuhan, ia tidak tergoda. Dulu saudara-saudara Yusuf menggunakan jubah Yusuf dilumuri oleh darah untuk membohongi ayahnya. Sekarang jubah yang koyak digunakan istri Potifar untuk memfitnah dia. Akhirnya ia difitnah dan masuk ke dalam penjara. Di penjara, Yusuf tetap memutuskan untuk setia kepada Tuhan. Ia percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi dia, pada waktunya nanti. Di penjara ia memiliki sahabat-sahabat dan menolong mereka. Saat salah satu sahabatnya keluar dari penjara, dan melupakan dia, Yusuf tidak kecewa. Hingga satu saat, sahabatnya mengingat akan Yusuf yang dapat mengartikan mimpi. Yusuf menolong raja dan ia diberi kepercayaan oleh raja untuk posisi yang penting. Kesabaran dan kesetiaan Yusuf kepada Tuhan membuahkan hasil yang baik bagi kehidupannya.

Tuhan tahu yang terbaik bagi Yusuf pada waktu yang tepat. Tuhan menggunakan Yusuf di saat yang tepat untuk menjadi penolong bagi ayah dan saudara-saudaranya saat masa kelaparan yang panjang menerpa. Ibu Yunita mengatakan bahwa bila kita sungguh-sungguh percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, maka salah satu tantangan terbesar bagi kita adalah untuk mengijinkan kesukaran, penderitaan dan air mata menjadi guru dalam kehidupan kita. Pengalaman perjalanan Yusuf memberikan pelajaran yang sangat bagaimana mengatasi berbagai persoalan hidup dan menjadi pemenang yang sejati darinya. Kita boleh percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Persoalan hidup yang kita hadapi mungkin tidak sama persis seperti apa yang dialami oleh Yusuf, namun kita mempunyai Tuhan yang sama yang disembah oleh Yusuf, dan kita harus percaya bahwa semuanya ada dalam pengendalian-Nya, teristimewa ketika kita merasa hidup sudah di luar kendali kita. Jemaat merasa diberkati dengan firman yang baik pada Sabat ini.