Sunday, December 06, 2009

Akhir Pekan Doa dan Sayonara Vila Erika...!!

Hari Sabat 28 November 2009, jam menunjukkan lewat dari pukul 10:30. Matahari di halaman Vila Erika, Puncak, bersinar cerah. Jemaat Kemang Pratama memasuki jam kebaktian khotbah. Keluarga Willy Wuisan menyanyikan sebuah lagu istimewa yang mengantar hati untuk mendengar firman Tuhan berjudul “Misi Pengharapan Diselesaikan” oleh Pendeta R.Y. Hutauruk. Khotbah ini sekaligus menutup dan menyimpulkan Pekan Doa yang telah berlangsung selama satu minggu. “Tiga hari terakhir ini kita mengikuti retreat di tempat yang sejuk ini. Kita meninggalkan segala urusan dan kesibukan kita sehari-hari. Kita berhenti sejenak untuk beristirahat agar mendapatkan tenaga, semangat dan inspirasi baru. Walau kelihatannya hanya singkat kita berada di tempat ini, kita bersyukur karena Tuhan selalu menyertai kita.”, ucap Pendeta Hutauruk mengawali khotbahnya. “Ellen White menyampaikan bahwa kita harus memberitakan injil, walaupun dalam keadaan terdesak, karena banyak yang belum mendengarkan pekabaran Allah. Dalam Matius 28 : 19 dan 20 Yesus memerintahkan kita untuk memberitakan kabar keselamatan dan Ia berjanji menyertai kita senantiasa.”, lanjut Pendeta Hutauruk.

“Allah memberikan jaminan kepada kita, bahwa Ia akan beserta kita. Ia tidak akan meninggalkan kita atau melupakan kita. Sama seperti saat Dia memberikan pelangi sebagai janji kepada umat manusia, Ia tidak akan pernah melupakan umat-Nya dalam pergumulan mereka setiap hari. Kita dapat menyampaikan perintah Tuhan kepada sesama kita dengan suara dan pena. Selain itu, kita perlu menumbuhkan iman dan percaya kita kepada Yesus yang akan menguatkan hati kita.”, tutur Pendeta Hutauruk tentang janji Tuhan. “Di dalam kehidupan ini banyak pencobaan yang kita hadapi. Kita ditempatkan di bawah peraturan Allah. Melalui semua itu, kita dapat melatih karakter dan kebiasaan untuk satu kehidupan yang lebih tinggi. Godaan akan datang kepada kita, ada banyak ketidakadilan di sekeliling kita, tetapi kita tidak boleh gagal atau putus asa karena kita tahu bahwa Allah setia dengan janji-Nya.”, jelas Pendeta Hutauruk tentang pelbagai godaan di sekitar kita.

“Kita akan menjadi sasaran pencobaan, pertentangan, kehilangan dan penderitaan berat. Namun kita mengetahui bahwa Yesus sudah mengalami dan melalui semua pencobaan ini. Dengan kesabaran, iman dan pengharapan dalam semua peristiwa yang menghadang di depan, maka kita dapat membentuk karakter kehidupan kekal. Segala sesuatu akan menyatu untuk kebaikan mereka yang mengasihi Allah. Semua yang kita alami dalam kehidupan ini adalah bagian dari pendidikan kita. Kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus tinggal di dalam kita, maka kita akan memiliki kedamaian yang melampaui semua pengertian. Kita perlu merenungkan Kristus dan mengarahkan pikiran kita kepada-Nya. Setiap perkataan hendaknya selalu mengenai hal–hal Ilahi.”, tandas Pendeta Hutauruk menerangkan pentingnya iman, kesabaran dan pengharapan dalam menghadapi semua tantangan kehidupan.

“Kita mengetahui bahwa injil adalah satu sistem yang sempurna dan utuh. Injil meyatakan hukum dan kekekalan Allah. Keselamatan yang disediakan Kristus bagi kita itu sangat berharga, karena menyelamatkan kita dari penderitaan dan kesengsaraan dunia akibat dosa. Biarlah kesusahan yang telah menyakitkan kita dapat menjadi pelajaran dan petunjuk untuk tetap maju menyambut panggilan Kristus. Mari kita terdorong oleh pemikiran bahwa Tuhan akan segera datang, sehingga pengharapan ini akan menggembirakan hati kita.”, ucap Pendeta Hutauruk. Di akhir khotbahnya, Pendeta Hutauruk mengutip Ibrani 10 : 37 yang menyebutkan bahwa Tuhan sebentar lagi akan datang. “Biarlah iman yang kita miliki ini menuntun di sepanjang jalan sempit yang menuntun ke pintu gerbang Allah, ke dalam keagungan kemuliaan masa depan bagi orang tebusan.”, ajak Pendeta Hutauruk kepada semua dan mengakhiri pelajaran “Misi Pengharapan” sepanjang Pekan Doa.

Usai kebaktian, beberapa kelompok doa dibentuk dan mendoakan beberapa hal, yaitu firman yang telah didengarkan selama Pekan Doa, keluarga masing-masing, anggota jemaat, terlebih agar semua ikut dalam pelayanan penginjilan dan setia hingga Yesus datang kedua kali yang tidak akan lama lagi. Makan siang telah disiapkan oleh ibu-ibu. Semua menikmati makanan yang lezat dan hangat di tengah udara yang dingin. Di luar halaman mendung mulai mewarnai langit-langit. Usai makan, semua berkemas-kemas untuk pulang. Lewat dari pukul 14:00, semua telah siap untuk pulang kembali ke Jakarta. Retreat selama tiga hari telah memberikan kesegaran dan semangat yang baru, baik fisik, mental dan rohani dari anggota jemaat Kemang Pratama. Bapak Wilson Tobing memimpin doa yang menutup seluruh rangkaian acara retreat dan mendoakan perjalanan pulang agar tiba kembali di rumah dengan selamat. Sayonara Vila Erika…!

Saturday, December 05, 2009

Pulsa Gratis ! Mau ?

Yesaya 65:24 “Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya.”




“Hallo sayang…! Nanti kalau sudah selesai makan, kamu nonton tivi di kamar mama saja ya… Kasihan kakak mau belajar, nanti terganggu karena suara-suara di tivi”, ucap seorang perempuan paruh baya di sebelah saya. Dia sedang menelepon. Sepertinya dia sedang membujuk anaknya. Kami memang sama-sama sedang duduk di lobby kantor menunggu jemputan. Ini waktunya jam pulang kantor, banyak orang berlalu lalang. Rata-rata semua memegang telepon genggam dan berbicara. Di luar memang sudah gelap sekali pertanda sebentar lagi akan turun hujan. “Angkat dong…! Angkat dong…!”, suara nada panggil telepon yang khas membuyarkan perhatian saya. Wanita yang ada di sebelah tersenyum penuh arti mendengar suara panggilan telepon saya yang keras. “Mama, tolonglah angkat telepon ini ya!”, itulah nada panggil ciptaan si abang dengan suara yang mantap. Buru-buru saya angkat telepon. “Hallo…!”, jawab saya cepat. “Mama pulang jam berapa…?”, suara si kecil merengek manja, “Wah masih lama dek…! Kelihatannya jalanan macet…”, saya mencoba menjelaskan. “Iya, tapi jam berapa dong?”, suaranya mulai terdengar memaksa. “Mungkin jam 9 malam dek !”, jawab saya meyakinkan dia. “Oke, benar ya…! Dag mama !”, jawabnya menyudahi pembicaraan kami.

Saya lirik ke kiri saya. Ternyata kini sudah berganti dengan wanita yang berbeda. Yang sama hanyalah dia juga sedang sibuk menelepon. “Si mas buka saja laci lemari depan yang nomor dua ! Nah, di situ ada gunting yang kamu cari. Tapi hati-hati ya ! Guntingnya tajam sekali. Kalau tidak hati-hati bisa kepotong loh tangan kamu!”, katanya sambil terdiam sesaat mendengar jawaban di ujung sana. “Bukan mama tidak percaya sama kamu, tetapi kamu memang sering lalai. Lebih baik minta tolong sama mbak saja ya…! Sudah dulu ya…”, katanya sambil buru-buru menutup telepon. Pandangan saya pindahkan keluar, mencari tahu apa penyebab dia tergesa-gesa ke luar gedung. Ooh … rupanya mobil yang menjemputnya sudah datang. Banyak orang yang merasa perlu untuk mengeluarkan biaya dan menghabiskan waktu agar bisa berkomunikasi. Apalagi untuk ibu-ibu, mereka harus pandai mengambil waktu agar tetap dapat memberi perhatian kepada keluarga, terutama anak-anak. Otomatis telepon menjadi alat yang paling didambakan. Kini di sebelah kiri saya terdengar suaranya begitu jelas tetapi lembut. “Ini mama bawain roti kesukaanmu ya. Ada coklat, strawberry dan pisang keju buat bekal di sekolah besok. Adek senang nggak?”, katanya dengan mimik senang. Dia terdiam sesaat kemudian dia berkata lagi, “Adek harus menurut ya sama suster… Sekarang sikat gigi dan cuci kaki dulu. Nanti kalau mami pulang, mami bisa langsung bacain cerita buat kamu. Gimana, oke kan?”. Mendengar jawaban di ujung sana wajahnya terlihat tersenyum puas. “Oke kalau gitu,udahan dulu yaa... Love you nak…!”, katanya menutup telepon.

Ayat renungan kita di hari yang indah ini mengatakan bahwa Tuhan sudah menjawab sebelum kita memanggil. Bahkan Tuhan sudah mendengar saat kita masih berbicara. Setiap orang yang hidup perlu berkomunikasi satu dengan yang lain. Hidup di tengah hiruk pikuk kesibukan kota, membuat kita sering terpisah dari orang-orang yang kita kasihi. Di saat yang sama, kita perlu terus menjalin kehangatan kasih agar satu dengan yang lain tetap merasakan kedekatan dan perhatian satu dengan yang lain. Berkomunikasi lewat telepon menjadi cara yang paling didambakan. Namun untuk berkomunikasi, harus ada pengorbanan yang dilakukan dalam bentuk biaya pulsa, membeli handphone, waktu, dan lainnya. Tuhan juga ingin menjalin komunikasi dengan kita setiap hari agar kita dapat merasakan kehangatan kasih dan perhatian-Nya pada kita. Menjalin hubungan dengan Allah di surga tidak perlu mengeluarkan biaya, apalagi sampai harus berkorban. Yang diperlukan adalah kemauan kita untuk datang, berbicara, dan menceritakan suka dan keluh kita kepada-Nya. Tuhan sudah tahu apa yang kita akan bicarakan, sebelum kita sampaikan kepada-Nya. Bahkan jawaban sudah diberikan sebelum kita sampaikan kepada-Nya. Tetapi Tuhan suka mendengar kita bicara kepada-Nya setiap hari. Anda ingin merasakan kehangatan kasih Tuhan? Berbicaralah kepada-Nya setiap hari !

Have a blessed day !

Kuis Follow The Bible : Seru Hingga Akhir !

Hari Jumat 27 November 2009, peserta retreat Kemang Pratama baru selesai mengikuti kebaktian Vesper yang dilanjutkan dengan menikmati makan malam yang hangat di tengah udara yang semakin dingin di sekitar Vila Erika, Puncak. Jam menunjukkan hampir pukul 20:00 malam. Sementara yang lain sedang mengobrol santai, Bapak Ramlan Sormin, Ibu Yunita Wuisan dan Ibu Dahlia Hutauruk tengah bersiap-siap untuk menjalankan acara malam ini yaitu Kuis “Follow The Bible” yang mengambil bahan dari kitab Matius-Yohanes. Ibu Dahlia telah mempersiapkan dan menyusun dengan baik pertanyaan-pertanyaan kuis, mulai dari yang mudah hingga yang agak sulit, di dalam empat buah amplop coklat. Di dalam setiap amplop ada pertanyaan yang bersifat memilih jawaban, memilih benar atau salah, dan memberikan keterangan atas pertanyaan yang diajukan. Setiap kelompok Kuning, Biru, Hijau dan Merah akan mendapatkan satu amplop yang terdiri dari 25 pertanyaan yang memiliki bobot pertanyaan yang sama. Setiap kelompok memiliki kesempatan meraih poin tertinggi yaitu 2.500. Ibu Yunita menyiapkan papan untuk mencatat skor, sementara Bapak Ramlan meminta semua peserta retreat, mulai dari anak-anak hingga orang tua untuk duduk bersama dengan kelompok masing-masing.

Acara kuis dimulai, kelompok Kuning terpilih sebagai regu pertama yang akan menjawab. Sebuah amplop telah dipilih, mereka menunjuk Bapak Joy Silaban sebagai juru bicara regu Kuning. Satu per satu pertanyaan dijawab dengan baik, karena masih termasuk yang mudah. Memasuki pertanyaan tahap kedua, sesekali jawaban dinilai tidak tepat oleh Ibu Dahlia sehingga gagal meraih nilai.
Nah, memasuki sesi memberikan jawaban dan keterangan untuk pertanyaan, suasana semakin seru ! Kepada mereka diminta untuk memberi jawaban yang selengkap mungkin. Bapak Joy berusaha memberikan jawaban yang kelihatannya sudah cukup panjang, namun Pendeta Hutauruk menilai belum cukup lengkap. Sehingga tidak bisa mendapat nilai sempurna. Tapi mereka tidak pantang menyerah. Pertanyaan berikut dicoba lagi untuk dijawab dengan lebih lengkap dan akhirnya mendapat nilai yang sempurna. Ayo…semangat terus …! Kelompok Kuning mendapat nilai 1.850 ! Regu Kuning menunjuk kelompok hijau untuk menghibur dengan lagu istimewa. Bapak Willy Wuisan, Bapak Munas Tambunan, dan anggotanya segera bersiap-siap. Wah…kok mereka pergi ke belakang panggung ? Ada apa ya ? Tidak lama kemudian mereka tampil di panggung dengan pakaian hitam, bertopi dan cara berjalan layaknya tentara. Semua tegap berdiri dan menyanyikan lagu “Maju Tentra Yesus”. Wah...wah…! Hebat sekali persiapan kelompok Hijau ini ! Puji Tuhan lagu yang dinyanyikan dengan semangat memberikan sukacita buat semua yang hadir. Kelompok Hijau mendapat giliran kedua untuk menjawab kuis. Memasuki bagian penjelasan atas pertanyaan, Bapak Munas Tambunan berusaha sebaik mungkin mengatur jawaban agar mendapat nilai sempurna dari Pendeta Hutauruk. Hasilnya, kelompok Hijau mendapat nilai 1.930 ! Terpaut sedikit di atas kelompok Kuning. Semua anggota kelompok bertepuk tangan untuk pencapaian yang baik ini. Mereka menunjuk kelompok Merah untuk memberikan lagu istimewa berikutnya.

Bapak Wilson Tobing, Yoan Hutauruk dan yang lainnya melangkah ke depan. “Soon and Very Soon” dinyanyikan dengan kompak, diiringi oleh Bapak Ramlan pada gitar dan Doddy Manurung dengan bass gitar. Lagu ini memberi semangat untuk kelompok Merah memilih amplop berikutnya. Kali ini Bapak Wilson langsung memimpin sebagai juru bicara. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan lancar. Semua berdecak kagum. Kelihatannya regu Merah dapat melampaui peroleh nilai kelompok-kelompok yang lain. Memasuki tahap yang sulit yaitu memberi jawaban yang bersifat menjelaskan, di awal pertanyaan Bapak Wilson berusaha memberi jawaban dengan lengkap. Namun Pendeta Hutauruk menilai belum sempurna. Semua yang menyaksikan menghitung-hitung apakah regu Merah akan sanggup melampaui nilai kelompok Kuning. Dalam pertanyaan selanjutnya Bapak Wilson sudah lebih memahami jawaban yang diinginkan oleh juri, dan nilai sempurna diperoleh untuk beberapa pertanyaan yang sisa. Hasilnya...? “Kelompok Merah meraih nilai 2.070 !”, ujar Ibu Yunita yang mencatat dengan teliti semua skor di papan tulis. Semua bertepuk tangan dengan hasil yang diperoleh mereka. Sangat tipis perbedaan satu dengan yang lain. Hingga tahap ini belum dapat diketahui siapa yang akan menjadi pemenang ! Satu regu berhasil melampaui nilai kelompok sebelumnya. Kelompok Merah menunjuk regu Kuning membawa lagu istimewa untuk menghibur mereka yang telah menjawab dengan baik.

Bapak Sontani Purnama dan Bapak Joy mengajak anggota kelompok Kuning menyanyikan dengan semangat “Go, Tell It On The Mountain !” diiringi petikan gitar dan bas gitar oleh Bapak Ramlan dan Doddy. Lagu yang semangat ini memberikan semangat buat semua, khususnya kepada regu Biru yang akan menjadi peserta terakhir malam ini. Isi pertanyaan dalam amplop yang tersisa pun dibacakan oleh Bapak Ramlan. Satu per satu pertanyaan dijawab dengan lancar oleh Ibu Shally Tambunan yang menjadi juru bicara kelompok ini. Lima pertanyaan yang tersisa adalah memberi jawaban yang bersifat menjelaskan. Kelihatannya kalau mereka bisa menjawab semua dengan sempurna, maka nilai 2.300 akan dapat diraih. Namun, tiga pertanyaan awal tidak dapat dijawab dengan lengkap ! Sebelum menjawab pertanyaan terakhir skor mereka adalah 2.050. Kalau pertanyaan terakhir dijawab sempurna maka mereka lah pemenang, sebaliknya kalau tidak, kelompok Merah yang akan meraih nilai tertinggi. Ibu Shally berusaha keras memberikan jawaban yang panjang dan lengkap. Dan Pendeta Hutauruk memberikan nilai…70 untuk jawaban terakhir itu ! Serentak semua anggota kelompok bertepuk tangan. Mereka mendapat nilai tertinggi 2.120 sekaligus menjadi juara pertama di kuis “Follow The Bible” ini.

Bapak Christian Siboro mengajak kelompoknya menyanyikan lagu istimewa “When The Saints Go Marching In”, diiringi oleh Keyboard oleh Felisya Tambunan dan gitar oleh Bapak Rizal Maringka. Ibu Yunita Wuisan membagikan hadiah kepada semua kelompok yang telah mengikuti acara kuis dengan penuh semangat. Pendeta Hutauruk memberikan pujian kepada semua kelompok. Dari hasil perolehan nilai yang hanya terpaut tipis satu dengan yang lain, itu menggambarkan bahwa semua kelompok rajin dalam mengikuti bacaan “Follow The Bible”. Pendeta Hutauruk menghimbau semua untuk terus bersemangat setiap hari membaca Alkitab. Di akhir acara, Bapak Ramlan menyampaikan terima kasih kepada semua kelompok Biru, Kuning, Hijau, dan Merah yang telah aktif membuat acara-acara dan berpartisipasi menyemarakkan semua mata acara di retreat jemaat kali ini, mulai dari hari Kamis hingga Jumat malam. Semua bertepuk tangan untuk kontribusi dan acara-acara yang mereka semua telah persiapkan dan jalankan bersama-sama. “Bersama ini maka semua kelompok-kelompok Biru, Kuning, Hijau dan Merah resmi dibubarkan pada malam ini !”, kata Bapak Ramlan yang disambut dengan tepuk tangan oleh yang hadir. Jam sudah menunjukkan lewat sedikit dari pukul 21:30 malam. Semua mulai bersiap-siap untuk istirahat agar dapat mengikuti kebaktian Sabat esok harinya. Selamat tidur…!

Friday, December 04, 2009

Pembahasan Sekolah Sabat Pelajaran 10

Kuis "Follow The Bible" - 16

Acara Gong Show : Gelak Tawa dan Canda

Hari Jumat 27 November 2009, jemaat Kemang Pratama yang mengikuti retreat di Vila Erika sudah selesai makan siang. Acara selanjutnya adalah Gong Show yang diisi oleh ke-empat kelompok yaitu Kuning, Hijau, Merah dan Biru. Tepat pukul 14:15 acara dimulai dengan MC Bapak Sulasta. Kelompok pertama yang tampil adalah dari kelompok Hijau yang membawa cerita dengan judul “Ada Apa Dengan Agnes?”. Narator kisah ini adalah Ibu Annie Simanjuntak dengan gaya yang kocak. Ceritanya berawal dari keresahan Bapak Purnomo Sastro (diperankan oleh Dave Purnama) dan istri (Ibu Naomi Tobing) yang kaya raya dan terkenal di seluruh jagad raya karena putri mereka yang bernama Agnes belum juga mendapat jodoh. Akhirnya mereka memakai perusahaan jasa rekruitmen perjodohan “Mayangsari” yang diperankan oleh Ibu Meiske, Tikno dan Chloudya. Perusahaan ini mengusulkan beberapa calon untuk menjadi pendamping putri Agnes. Yang pertama adalah seorang pengusaha kaya raya (Timothy Purnama) yang datang bersama ajudannya (Bapak Darlan Zakaria). Pengusaha ini ditolak mentah-mentah oleh Bapak dan Ibu Purnomo. Yang kedua adalah seorang polisi dari India (Herris). Dia mengeluarkan jurus rayuan sambil menari, tetapi tidak diterima. Berturut-turut datang seorang penyanyi terkenal (Munas Tambunan), dua orang kakek-kakek yang sudah berjalan terbungkuk-bungkuk tapi masih mencari jodoh (Bapak Richard Pelaupessy dan Daniel Simanjuntak), seorang kaya yang ternyata sudah punya istri (Bapak Zepelin Sijabat), dan seorang preman dengan tato di tangannya (Bapak Agustinus Silalahi). Semua tidak berhasil meyakinkan pasangan suami istri ini. Terakhir, datang seorang calon Mr. Maradona Bencong, yaitu pria yang sangat gemulai seperti wanita (diperankan dengan sangat pas oleh Bapak Willy Wuisan). Pilihan jatuh pada Mr. Maradona. Dari tangga lantai dua turunlah seorang wanita cantik berambut pirang (Ibu Fanny Sinaga). Mr. Maradona sudah berbunga hatinya melihat kecantikan wanita berambut pirang yang dia sangka adalah putri Agnes. Tetapi ternyata itu bukanlah putri Agnes yang sesungguhnya ! Tidak lama kemudian turun dari tangga seorang wanita berambut panjang dengan memakai cadar. Dialah putri Agnes yang akan dijodohkan dengan pria Mr. Maradona. Tidak sabar untuk melihat wajah calon istrinya, Mr. Maradona segera membuka cadar putri Agnes. Loh..! Ternyata putri Agnes berkumis dan membuat Mr. Maradona lari ketakutan. Putri Agnes (Bapak Ricky Tambunan dengan dandanan bak putri asli hehe...!) terus mengejarnya hingga berdua mereka jatuh di lantai. Hahahaa….!! Banyak kejadian lucu dalam fragmen ini. Semua pemain berhasil memainkan perannya dengan baik. Di akhir cerita mereka menyanyikan yel-yel kelompoknya. Kelompok Hijau mendapatkan nilai tertinggi dari juri maupun penonton.

Fragmen yang kedua dimainkan oleh kelompok Biru dengan judul “Kisah Cinta Shally Mercedes Dengan Roberto Suzuki”. Narator diperankan oleh Ibu Yunita Wuisan. Ceritanya berawal dari Roberto Suzuki (Robert Rihihina) mau memutuskan hubungan yang telah dibina dalam masa pacaran selama puluhan tahun dengan Shally Mercedes (Ibu Shally Tambunan) karena Roberto telah menemukan wanita lain yang bernama Demi Moore yang kaya raya. Selanjutnya setting berpindah pada upacara pernikahan Roberto Suzuki dengan Demi Moore. Suasana dibuat seperti upacara pernikahan sebenarnya. Ada bell boy (Bapak Viertin), orang tua mempelai pria (Malvin dan Kimberly), Pendeta (Bapak Dharlen), bible boy (Bapak Christian), pembawa lilin (Bapak David), pembawa bunga pengantin (Vivi) dan penabur bunga (Ibu Yulia dan Ibu Lies) yang turun dari tangga sambil berebutan ingin cepat-cepat turun. Terakhir adalah pengantin wanita beserta dengan dayang-dayangnya. Akhirnya Roberto berkenan untuk membuka slayer pengantin dan ternyata mempelai wanita diperankan oleh opung kita ! Hahaha…! Penonton pun bersorak agar Roberto mencium Demi Moore, tapi sepertinya Roberto masih malu-malu untuk memenuhi permintaan penonton. Shally Mercedes pun datang ke pesta itu walaupun tak diundang dan akhirnya merelakan Roberto menikahi Demi Moore, sambil menyanyikan lagu “Tenda Biru” yang sendu. Pada pementasan ini kelompok Biru tidak menggunakan musik pendukung, tetapi pemainnya menyanyikan langsung lagu-lagu pendukung cerita. Tidak lupa, yel-yel kelompok dinyanyikan di akhir cerita ini. Dengan segala usaha yang sudah dilakukan kelompok Biru, mereka mendapatkan peringkat ke-tiga dalam pengumpulan nilai.

Untuk kesempatan ketiga yang tampil adalah kelompok Kuning dengan judul “Si Oneng”. Narator adalah Bapak Sulasta. Sebuah kisah percintaan yang dimulai ketika seorang anak kecil, si Boy (Christ) menemukan sebuah benda yang setelah digosok keluar mahluk lucu yang diperankan oleh Bapak Aswin . Mahluk lucu ini berterima kasih kepada Boy, dan akan mengabulkan tiga permintaan si Boy. Permintaan pertama si Boy minta sebuah sepeda yang segera dikabulkan. Setelah bermain sendiri dan merasa bosan, si Boy mengajukan permintaan kedua yaitu seorang teman wanita yang akan selalu mencintainya. Mahluk itu mengabulkannya dengan memberikan Oneng kecil (Ivana). Cerita berlanjut saat Boy sudah menginjak remaja (Raissa) dan Oneng yang sudah SMU (Friska). Tetapi hubungan mereka ditentang oleh ibunya Oneng (Ibu Debby Simanjuntak). Karena si Boy berkeras untuk tetap berpacaran dengan Oneng, maka ibunya Oneng pun mau mengijinkannya asalkan Boy dapat membuat apartemen dengan 1000 kamar dalam 1 hari. Boy pun menyetujuinya karena dia masih punya 1 permintaan lagi kepada mahluk lucu. Tetapi sewaktu mahluk lucu sedang membangun apartemen dia digoda oleh Dayang Sumbing yang diperankan (Ibu Grace Karamoy) yang mengajak dia untuk berjoget terus, sehingga saat ayam berkokok apartemen 1000 kamar belum selesai. Gagal memenuhi permintaan ibunya Koneng, tidak membuat Boy dan Oneng surut membina hubungan. Setelah Boy (Bapak Sulasta) dan Oneng (Sari Silalahi) sudah dewasa, Oneng minta putus. Boy menjadi sedih, kebingungan dan selalu termenung. Boy mencari-cari Oneng tapi tidak ketemu sampai akhirnya dia mendapat informasi bahwa Oneng ada di Amerika. Boy pun menyusul Oneng ke Amerika, dan betul saja Boy menemukan Oneng di sana yang sedang berjalan-jalan dengan temannya, yaitu Manohara (Ibu Imelda Perangin-angin). Boy pun berkenalan dengan Manoraha. Oleh karena Manohara punya kisah sedih dalam hidupnya membuat Boy tertarik untuk lebih banyak mendengarkan ceritanya, daripada memperhatikan Oneng. Hal ini membuat Oneng jadi cemburu. Tetapi pada akhirnya Boy dapat meyakinkan Oneng kalau dia selalu mencintai Oneng. Kisah yang ditampilkan cukup panjang, hingga kisah ini berakhir dengan manis. Sebuah yel-yel yang penuh semangat dinyanyikan oleh mereka. Kelompok Kuning mendapatkan peringkat ke-empat dalam pengumpulan nilai.

Tampil terakhir dalam acara Gong Show ini adalah kelompok Merah dengan judul “Iteung Kembang Desa”. Berbeda dengan tiga kelompok pertama, kelompok merah menyanyikan yel-yel sebelum pertunjukkan dimulai. Narator kisah ini adalah Yoan Hutauruk. Saat Yoan memanggil Iteung, maka Iteung datang dari kamar yang ada di belakang penonton. Beberapa penonton sempat bertanya-tanya siapa yang memerankan Iteung yang tampil dalam balutan kebaya berwarna kuning, berambut panjang dan membawa cermin serta sisir di tangannya. Dengan gemulai Iteung berjalan melenggak-lenggok melintasi penonton. Ternyata Iteung diperankan oleh Bapak Wilson Tobing (Wah…wah...! Mirip sekali dengan Iteung yang asli nih…hahaha…!!). Si Abah (Ibu Odoria) dan Mimi (Ibu Gladys Maringka) merasa resah karena anak gadis mereka belum mendapatkan jodoh. Akhirnya si Abah dengan logat sundanya dan Mimi dengan logat Menado-nya memutuskan untuk membuat sayembara mencari jodoh untuk Iteung. Syaratnya adalah kedua adik Iteung (Elsa dan Junior) yang menilai dan memberi persetujuan calon mana yang dipilih. Calon pertama yang datang mirip Michael Jackson(Bapak Dixon Simanjuntak) yang tampil dengan wajah dilumuri bedak putih tebal, lengkap dengan topi dan kaca mata hitamnya. Michael datang bersama kedua orangtuanya (Joshua dan Michelle). Setelah menunjukkan kebolehannya dalam bernyanyi dan menari, kedua adik Iteung tidak setuju. Calon menantu kedua adalah Poltak Sinaga yang berasal dari Medan dan memiliki banyak angkot. Tetapi adik Iteung pun tidak menyetujuinya. Pelamar yang ketiga adalah Martin (Bapak Karamoy), seorang pengusaha kaya raya bergaya metropolitan. Kali ini adik-adik Iteung dan orangtuanya setuju dengan Martin, tetapi Iteung menolak untuk dijodohkan dengan Martin. Kendati teman-teman Iteung (Hana dan Ibu Elin) sudah berusaha membujuk, Iteung tetap menolak. Dengan perasaan kecewa Martin pun pulang. Dalam perjalanan pulang Martin bertemu dengan seorang wanita cantik bernama Jubaidah (Stella) dan akhirnya mereka pun jatuh cinta. Satu hari Parmin seorang pemuda desa yang sederhana (Chandra Perangin-angin) lewat di depan rumah Iteung dan mereka saling tertarik. Parmin pun mengirimkan surat untuk Iteung dan mengajaknya untuk bertemu nanti sore di sawah. Saat mereka bertemu, mereka sangat senang sekali dan mereka pun menari-nari seperti dalam film India. Abah dan mimi beserta ibu Kokom (Ibu Sari Tobing) yang mengetahui pertemuan itu segera menyusul ke sawah. Saat melihat kebahagiaan anak-anak mereka akhirnya merekapun menyetujui untuk menikahkan Iteung dengan Parmin. Kelompok merah mendapatkan peringkat ke-dua dalam pengumpulan nilai. Wah…wah…! Sangat kreatif sekali ke-empat kelompok ini. Semuanya berhasil mengundang gelak tawa dan menghibur semua peserta retreat dengan penampilan yang lucu, dialog yang kocak serta gaya yang membuat tertawa geli. Acara Gong Show berakhir pada pukul 16.30 sore. Ibu Yunita Wuisan memimpin pembagian door prize dan hadiah bagi pemenang dalam perlombaan futsal dan lomba yang diikuti oleh anak-anak. Selanjutnya semua bersiap-siap untuk memasuki hari Sabat.

Memasuki Sabat di Kesejukan Alam Puncak


Hari Jumat 27 November, saat matahari terbenam di Vila Erika, Puncak, peserta retreat jemaat Kemang Pratama telah berkumpul di ruang depan untuk mengikuti kebaktian buka Sabat yang dipimpin oleh Bapak David Tampubolon. Lagu buka dari lagu sion no 244 “Hari Kudus Huw Allah” dan Bapak Willy Wuisan melayangkan doa buka. Saat Bapak David bertanya adakah yang tergerak hatinya untuk menyampaikan lagu pujian, secara sponta Bapak Ramlan Sormin maju ke depan, dan mengajak semua bapak-bapak maju ke depan untuk menyanyi. Mereka menyanyikan lagu istimewa “Muka Dengan Muka Nanti”. Masih dalam acara Pekan Doa yang bertema “Misi Pengharapan”, Bapak Sontani Purnama yang membawakan renungan Vesper meneruskan materi minggu sembahyang. Pekabaran yang disampaikan diambil dari kitab Wahyu 14:9-12 tentang pekabaran malaikat ke-3.

Ada tiga hal penting yang disampaikan oleh Bapak Sontani. Yang pertama, penyembahan yang benar kepada Allah bukanlah berpatokan pada kesukaan manusia, tetapi peribadatan yang sejati adalah dengan meletakkan diri kita pada kesukaan Allah, yang salah satunya adalah beribadah pada hari Sabat. Hal kedua adalah, keselamatan kita bukanlah hasil dari usaha kita sendiri. Saat manusia jatuh, Yesus berinisiatif untuk menyelamatkan manusia. Yang harus kita lakukan adalah untuk menerima keselamatan yang Allah sudah berikan melalui penyaliban Yesus dan tugas kita adalah menyambut uluran tangan kasih Allah yang mau menyelamatkan kita dengan cara menuruti semua perintah-Nya. “Hal terakhir, saat kita mengikut Yesus, kita harus melakukan dengan kesadaran yang penuh dan tidak ada alasan apapun untuk menyangkal Yesus, walau dalam keadaan yang begitu sulit sekali pun. Marilah kita melakukan segala sesuatu yang akan menuntun langkah kita menuju surga.”, ucap Bapak Sontani mengakhiri kebaktian Vesper ini.

Sebelum menutup kebaktian ini, Pendeta R.Y. Hutauruk dan Pdtm. Yehezkiel Sababalat melayangkan doa secara bergantian. Hal yang didoakan adalah retreat yang tengah berjalan, kesehatan seluruh peserta retreat, KPA, pelayanan masyarakat, Pekan Doa yang sementara berjalan agar semua disanggupkan untuk membawa Misi Pengharapan kepada sesama manusia dan beberapa hal lainnya. Menutup kebaktian buka sabat, seluruh peserta menyanyi dari Lagu Sion no 206 “Karna Surga Sudahlah Hampir”. Doa tutup dilayangkan oleh Bapak Sontani Purnama. Tepat jam 19:00 malam, ibu-ibu dari seksi konsumsi telah menghidangkan makanan yang siap untuk disantap dan sebelumnya didoakan dahulu oleh Bapak Viertin Tobing. Semua menikmati makan malam di udara yang semakin dingin di sekitar Vila Erika. Setelah makan, semua bersiap untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu Kuis Follow The Bible dan persembahan lagu-lagu istimewa. Semua akan dibawakan oleh kelompok Biru, Kuning, Hijau dan Merah. Kita ikuti acaranya besok !

Thursday, December 03, 2009

Pelajaran Dalam Perjalanan

Amsal 18:15 “Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.”




Sudah 12 tahun saya tidak pulang kampung. Perasaan gembira hingga penasaran bercampur menjadi satu ketika kami sekeluarga memutuskan untuk berlibur ke kampung saya. Terbayang sudah apa saja yang akan saya lakukan nanti. “Eh lihat deh, mama kelihatan senang sekali ya bisa pulang kampung…!”, goda anak-anak. “Oh iya…, nanti mama tunjukkan sekolah mama ketika masih kecil dulu ya…”, jawab saya sambil tersenyum lebar. “Pasti jadul habis deh…!”, kata si kakak ikut menimpali. “Liburan kali ini akan kita lalui dengan menggunakan mobil, kapal laut dan kereta api.”, jelas suami kepada anak-anak tentang rencana perjalanan ke kampung. “Wow…! Asyiik…! Setuju banget pa…!!”, jawab mereka bertiga serentak. “Seru dong pa…! Kita jadi punya cerita baru…!”, kata si kakak dengan semangat. “Yang penting kita bisa melihat kampung halaman mama dan makan pempek sepuasnya…hehehe…!”, ucap si abang membayangkan makanan khas di sana. Perjalanan kami terasa sangat lancar, hingga saat masuk ke dalam kapal yang membawa kita menyeberang ke Pulau Sumatera. Untuk mengisi waktu suami saya membawa anak-anak melihat keadaan di luar. “Papa, itu kok ada anak-anak yang berenang dan berkumpul di dalam air laut?”, tanya si kecil dengan wajah ingin tahu. “Oh…, itu mereka menunjukkan kebolehan mereka mengejar uang yang dilemparkan penumpang kapal ke laut.”, kata suami saya menjelaskan. “Kasihan ya, apa mereka enggak kedinginan? Lagi pula bisa ketabrak kapal loh!”, kata si abang agak khawatir. “Tidak apa-apa, mereka kan sudah biasa. Mereka sedang membantu orangtua-nya mencari nafkah. Lihat ! Mereka tertawa gembira dan tidak kesal walau uang yang mereka terima tidak seberapa…”, jelas suami saya. “Mereka hebat ya pa, sudah bisa membantu orang tua”, jawab si sulung memuji. Dari raut wajah anak-anak saya melihat bahwa mereka tidak hanya kagum tetapi mereka mendapat pengetahuan baru tentang kehidupan.

Sesuai rencana, kami melanjutkan perjalanan ke kampung halaman istri dengan menggunakan kereta api. “Perjalanan dengan kereta ini memakan waktu 9 jam. Jadi kalian sekarang tidur ya.”, kata saya kepada anak-anak sambil merapatkan selimut mereka. Tepat pukul 21:00 malam kereta api berangkat. Tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka tidur lelap. Lewat dari tengah malam masuklah petugas kereta dikawal dua orang polisi lengkap dengan senjata laras panjangnya. Mereka meneliti satu per satu penumpang yang ada. “Wah ada apa ini ? Jangan-jangan ada kejahatan di dalam kereta ini !”, pikir saya dalam hati. “Selamat malam pak!”, tegur suami saya memecah keheningan. “Selamat malam ! Semua baik-baik pak ? Selamat menikmati perjalanan ini!”, jawab komandan polisi tersenyum membuat suasana tegang menjadi cair. “Ooh…, rupanya seperti ini standar keamanan sekarang.”, pikir saya lagi. Lebih dari dua jam berlalu. Saya lihat jam 03:30 dini hari, berarti masih 3 jam lagi kereta tiba di tujuan. Saya mulai tidak kuat menahan kantuk, tetapi justru kini kereta berhenti. Saya tertidur beberapa menit. “Pop mie…! Pop mie…!”, terdengar suara keras mengagetkan dari ujung pintu kereta. “Kopi…! Kopi…! Air teh hangat…!”, suara yang lain menyusul secara bergantian. Saya terbangun. Saya lirik si kecil yang duduk disebelah saya kemudian si kakak dan si abang, ternyata mereka semua sudah terbangun dan terlihat sedang bingung melihat cara pedagang itu menjajakan dagangannya di pagi buta. Anak-anak berbisik bertanya kepada saya dan suami tentang hal ini. Kami menjelaskan bahwa demikianlah cara mereka mencari nafkah. Tidak mengenal waktu dan bergelut dengan bahaya karena mereka harus cepat melompat keluar jika kereta sudah berjalan. Saya melihat anak-anak mendapat pengetahuan berharga dari semua yang mereka lihat dan dengar selama perjalanan ini.

Ayat renungan kita pagi ini mengatakan hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan. Untuk menjadi bijak, kita perlu banyak mendapat pengetahuan dan belajar tentang yang ada di sekeliling kita. Melalui mata kita bisa melihat bagaimana orang-orang berusaha untuk menafkahi hidup dengan cara mereka masing-masing. Melihat pergumulan dan kesulitan mereka membuat kita lebih memahami tentang kehidupan. Lewat telinga yang kita miliki, kita dapat mendengar semangat pelbagai orang dalam menghadapi tantangan, mengagumi keuletan mereka, dan lebih mengerti tentang orang-orang yang ada di sekeliling kita. Tuhan memberikan kita mata dan telinga untuk menangkap pelajaran kehidupan yang ada di hadapan kita. Mari kita gunakan mata, telinga dan pikiran kita lebih tajam untuk menyerap pengetahuan, pelajaran dan pengertian dari kehidupan di sekeliling kita. Kita minta Tuhan menolong kita untuk bertambah bijak setiap hari dan menggunakan kebijaksanaan untuk menambah satu sukacita di dalam setiap hari baru yang kita hadapi.

Have a wonderful day !

Bagikan Roti Pagi ini kepada teman-teman anda hari ini.

Renungan Pagi di Tengah Alam Yang Dingin

Hari Jumat, 27 Nopember 2009. Hembusan angin yang dingin dan nyanyian dari bapak-bapak dari ruang tengah mengusik semua peserta retreat yang sedang terlelap tidur untuk segera bangun menyambut hari baru yang pastinya menjanjikan banyak sukacita. Ini hari ke-dua kami berada di lokasi retreat jemaat Kemang Pratama di Vila Erika yang berada di sekitar kebun teh Puncak. Mengawali segala kegiatan hari Jumat ini, Bapak Wilson Tobing memimpin renungan pagi. Lagu Sion 251 “Waktu Pagi Ya Tuhanku” dinyanyikan oleh sekitar 60-an orang peserta retrteat sebagai lagu pembuka. Setelah doa buka dilayangkan oleh Bapak Ricky Tambunan, anak-anak Pathfinder menyanyikan sebuah lagu special dari Lagu Sion no 302 “Dalam Hatiku Ada Lagu”. Sebelum renungan disampaikan oleh Pdtm. Yehezkiel Sababalat, semua berdiri untuk menyanyikan lagu tema “Ku Mau Sedia Bila Yesus Datang”.

“Misi Pengharapan Sebagai Wahyu Dari Karakter Allah”. Adalah renungan pagi yang diambil dari bacaan minggu sembahyang. “Pada saat terjadi gempa bumi orang-orang akan merasa takut, dalam ketakutannya manusia akan berteriak memanggil Allah. Tetapi pada kenyataan sehari-hari manusia merasa sulit untuk memanggil Yesus dan berusaha mencitrakan tabiat Kristus dalam hidupnya. Di dalam dunia kerja, seorang pemimpin selalu ingin agar semua anak buahnya dalam pekerjaannya dapat mencitrakan misi dari perusahaan. Demikian juga dengan Kristus, Dia ingin agar kita sebagai ciptaan-Nya dapat mencitrakan tabiat-Nya. Tetapi pada kenyataannya, banyak tabiat Kristus yang kita hindari.”, ucap Pdtm. Yehezkiel menguraikan beberapa hal penting. “Bagaimana kita dapat memiliki tabiat Kristus? Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus adalah satu dalam tujuan, pikiran dan tabiat. Pada waktu Roh Kudus dicurahkan, maka pada saat itulah tabiat Kristus dicurahkan kepada kita. Undanglah selalu Roh Kudus untuk mengisi pikiran kita. Kabar baik bagi kita pada hari ini adalah kita akan mengenal siapa Allah kita melalui segala ciptaannya yang akan kita nikmati disepanjang hari ini.”, jelas Pdtm. Yehezkiel merangkumkan isi renungan pagi yang indah ini.

Sebelum mengakhiri kebaktian, peserta retreat membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 3-4 orang untuk berdoa secara berkelompok. Ada pun hal-hal yang didoakan diantaranya adalah Firman Tuhan yang baru didengar, seluruh anggota jemaat agar memiliki kerinduan untuk menjadi juru kabar Allah, anak-anak yang akan mengikuti ujian semester ganjil, Ibu Rini Pelaupessy yang sedang sakit, KPA-KPA, anggota jemaat yang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat retreat, Bapak Daniel yang sedang dalam pergumulan untuk menerima kebenaran serta seluruh acara yang akan berlangsung selama retreat. Lagu sion no 250 “Ya Roh Suci Yang Benar” menjadi lagu penutup dan Pdtm. Yehezkiel Sababalat menutup rangkaian acara renungan pagi dalam doa. Usai renungan pagi, Ibu Janeth Siboro memimpin ibu-ibu yang bertugas di dapur meneruskan persiapan masakan pagi yang hangat untuk dinikmati bersama.

Pertandingan Seru di Retreat Kemang Pratama

Hari Jumat 27 November sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi. Setelah tadi malam bapak-bapak menghabiskan waktu sambil menunggu mengantuk dengan bernyanyi, pagi ini pun mereka mengisi waktu sementara sarapan pagi disiapkan dengan mengumandangkan lagu-lagu yang segar. Di antaranya ada Bapak Willy Wuisan, Bapak Aswin dan Bapak David Tampubolon, sambil diiringi permainan keyboard Bapak Agustinus Silalahi, bass gitar oleh Bapak Rizal Maringka dan gitar oleh Bapak Sontani Purnama. Menu sarapan pagi yang sudah dipersiapkan oleh tim konsumsi adalah nasi goreng dengan sayur, ketimun dan tomat serta bubur kacang hijau hangat yang disantap dengan begitu lahapnya oleh seluruh peserta retreat jemaat Kemang Pratama. Pagi ini panitia telah mempersiapkan pertandingan futsal dan volley yang akan diikuti oleh kelompok Merah, Kuning, Hijau dan Biru. Tentu saja makanan ini akan menjadi enerji buat menghadapi pertandingan ini. Cuaca cerah menghiasi langit di sekitar Vila Erika hari ini.

Masing-masing kelompok telihat sangat bersemangat dalam mengikuti semua kegiatan. Ini terlihat dari wawancara yang dilakukan spontan oleh Bapak Willy kepada Bapak Christian Siboro dari kelompok biru dengan Bapak Dixon Simanjuntak dari kelompok Merah. Mereka masing-masing mengaku sebagai tim yang paling hebat dan kompak. Pertandingan futsal putra pertama adalah antara regu Biru yang terdiri dari Robert, Melvin, Bryan, Bapak David dan Bapak Christian Siboro melawan regu Kuning yang terdiri dari Timoti Tambunan, Reinhard, Bapak Asto, Bapak Joy Silaban dan Bapak Aswin. Pertandingan yang dipimpin oleh wasit bapak Dixon dan bapak Gilbert berjalan dengan ketat. Gol pertama dicetak oleh Timoti. Sorak sorai pendukung tim Kuning terdengar penuh semangat. Tapi keunggulan ini tidak bertahan lama. Berturut-turut tim Biru menyarangkan bola ke gawang Kuning yang dikawal oleh Reinhard. Di paruh kedua Bapak Ramlan Sormin masuk menggantikan Bapak Aswin. Pertandingan berjalan dengan tempo cepat. Tim Biru kembali menyarangkan gol. Di akhir laga, regu Kuning mengakui keunggulan kelompok Biru dengan skor 2-4.

Selanjutnya pertandingan futsal putri pertama adalah antara regu Kuning yang terdiri dari Sari, Raisa, Friska, ibu Yunita dan ibu Debby melawan regu biru yang terdiri dari Vivi, Nana, ibu Sally, ibu Dahlia, dan ibu Solihin dimenangkan oleh regu kuning dengan skor 1-0 yang diciptakan melalui tendangan pinalti oleh Sari Silalahi. Wasit yang memimpin pertandingan ini adalah Bapak Ramlan Sormin. Pertandingan futsal putra kedua adalah antara regu Merah yang terdiri dari Joshua, Junior, Bapak Gilbert Sinaga, Bapak Dixon dan Bapak Karamoy melawan regu hijau yang terdiri dari Daniel, Timmy Purnama, Veber Sormin, Bapak Richard Pelaupessy dan Bapak Ricky Tambunan yang dipimpin oleh wasit Bapak Ramlan. Pertandingan berjalan ketat dan cepat selama 2 x 15 menit. Priiiiitttttt…..!! Wasit meniupkan pluit panjang tanda pertandingan berakhir. Pertandingan dimenangkan oleh regu Merah dengan skor 3-2. Pertandingan futsal putri kedua adalah antara regu merah yang terdiri dari Hana, Elsa, ibu Odoria, ibu Gladys dan ibu Elin melawan regu hijau yang terdiri dari Della, ibu Fany, ibu Annie, ibu Naomi dan ibu Meiske dipimpin oleh wasit bapak Ramlan Sormin, dimenangkan oleh regu merah dengan skor 1-0.

Sementara pertandingan futsal berlangsung, anak-anak juga melakukan beberapa perlombaan. Perlombaan yang dilakukan adalah memindahkan bola dari sisi kolam yang satu ke sisi kolam yang lain berjalan dengan seru. Dengan semangat tapi tetap berhati-hati agar tidak jatuh di kolam yang licin, anak-anak putra dan putri mencoba untuk menjadi yang tercepat memindahkan bola dari satu sisi kolam ke sisi yang lain. Selain itu ada lomba membawa kelereng disendok yang digigit. Lomba ini juga dilakukan anak-anak di dalam kolam renang. Anak-anak yang terlibat dalam perlombaan ini adalah Ivana, Michelle, Marcel, Dave, Glory, Rivaldo, Alice, Kimmy, Ody, dan Junior. Yang tidak kalah menarik adalah pertandingan meniup bola yang diletakkan di dalam gelas dan memindahkannya ke deretan gelas-gelas lain dengan cara ditiup. Serunya lagi, gelas ini sudah diisi dengan tepung terigu. Sehingga setiap kali mereka mencoba meniup bola, maka tepung putih berhamburan menutupi sebagian wajah anak-anak ini. Hahaha….!!! Mereka tertawa senang bila melihat wajah temannya menjadi putih. Sementara yang meniup juga merasa geli membayangkan wajah mereka menjadi putih. Tapi mereka terus bersemangat meniupkan bola-bola itu hingga pindah ke gelas terakhir. Pertandingan seru berhadiah sepatu ini dimenangkan oleh Chloudya Siboro dan Marcellino Karamoy.

Di lapangan rumput, pertandingan final futsal putra berlangsung antara regu Merah dan Biru. Pertandingan puncak ini berakhir dengan kemenangan mutlak oleh regu Biru dengan skor 5-0. Wah..wah..! Ternyata regu Merah kewalahan menghadapi si Biru. Di final futsal putri antara regu Merah dan Kuning . Pertandingan berlangsung dengan sangat seru. Masing-masing berusaha membobolkan gawang lawannya. Wow…ternyata para wanita hebat juga dalam soal bermain futsal ini! Empat buah gol diborong oleh regu Merah yang semuanya diciptakan oleh Ibu Odoria. Satu-satunya gol untuk tim Kuning diciptakan oleh Ibu Debby. Tim Merah menang mutlak atas tim Kuning dan mendapat predikat juara pertama Futsal putri.

Pertandingan selanjutnya adalah volley, kali ini pertandingan dilakukan tidak antar kelompok tetapi dilakukan oleh peserta retreat yang ingin berolah raga volley. Sementara pertandingan-pertandingan berlangsung di lapangan, di ruang tengah villa terjadi kegiatan yang tak kalah menarik. Grup band Kemang Pratama yang terdiri dari bapak Ramlan pada bass gitar, Bapak Joy dengan gitar, dan Bapak Agustinus pada keyboard mengiringi beberapa vokalis terkenal yaitu Bapak Zepelin Sijabat, Bapak David dan opung Sormin. Begitu merdunya suara mereka hingga membuat Bapak Munas dan Bapak Aswin yang semula ikut menyanyi, kini terlelap tidur di sofa. Ternyata peminat untuk menjadi vokalis bertambah lagi. Duet bapak Wilson dan ibu Naomi pun urun suara. Anak-anak yang sudah selesai mandi sehabis berlombapun tak terlihat kelelahan. Mereka juga ikut berkumpul diruang tengah untuk bernyanyi, mereka adalah Ody, Michelle, Kimmy, Shandy, Elsa, Hana dan Sari.

Yang tak kalah pentingnya adalah ibu-ibu yang dengan setia melakukan pekerjaannya di dapur untuk menyiapkan makanan bagi seluruh peserta retreat. Mereka adalah Ibu Meiske, Ibu Adeline, Ibu Solihin, Ibu Dahlia, Ibu Janet, Ibu Gladys, Ibu Yunita dan Ibu Debby, dengan menu-menu sehat yang mereka siapkan semua peserta retreat dapat tetap sehat selama menjalani semua kegiatan di Vila Erika ini. Pertandingan-pertandingan yang cukup melelahkan membuat semua peserta retreat menjadi lapar. Tepat pukul 12.30 makanan telah siap dihidangkan, doa makan dilayangkan oleh Bapak Munas Tambunan. Menu siang ini adalah soto ayam, tumis buncis, tempe goreng, dan sambal ikan teri. Wah…lezat sekali ! Semua sangat lahap makan siang. Selesai makan, setiap kelompok diberikan waktu untuk mempersiapkan kelompoknya untuk acara yang ditunggu-tunggu yaitu Gong Show. Penampilan dari ke-empat kelompok yang dijamin mengocok perut dan kocak akan ditampilkan pukul 14:00 siang ini. Usai makan kelompok Hijau, Merah, Biru dan Kuning segera bersiap-siap dengan acara spektakuler mereka masing-masing. Waduh…jadi penasaran nih ingin cepat menonton acaranya…! Kita lihat deh besok pagi acara yang mereka buat…!

Wednesday, December 02, 2009

Jangan Serong Hati !

Amsal 11 : 20 “Orang yang serong hatinya adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi orang yang tak bercela, jalannya dikenan-Nya.”




“Halo…! Bapak sudah sampai dimana?”, tanya seorang teman kantor di telepon genggam. “Oh…, saya masih ketinggalan di belakang ! Saya sedang asyik mencari kaos yang khas di sini. Kalian sudah sampai dimana?” , ujar saya balik bertanya. “Kami semua sudah kumpul di Alun-alun Kidul pak ! Istri bapak juga sudah ada di sini. Kalau bapak ke sini, nanti bilang ke supir supaya bis-nya diparkir di sini saja pak. Halamannya cukup luas di sini.”, pinta teman saya. “Oke, nanti saya beritahu. Sebentar lagi saya ke sana ya…”, jawab saya sambil menyudahi pembicaraan. Saya memilih beberapa kaos khas kota Yogyakarta, lalu berjalan ke tempat parkir kendaraan yang membawa rombongan kami. “Pak, kita ke Alun-alun Kidul ya !”, kata saya kepada supir bis. Mobil menuju ke lokasi tempat teman-teman berkumpul. Di alun-alun sudah banyak orang yang berkumpul. Ada yang sedang bertanding sepak bola dengan penonton yang lumayan banyak. Ada juga yang berwisata dan berjalan-jalan di sana. “Dimana mereka ya ?”, tanya saya dalam hati sambil mencari dimana teman-teman berkumpul.

“Papa ! Kita semua di sini !”, suara istri saya memanggil. Saya melihat mereka sedang tertawa-tawa di tengah alun-alun itu. “Apa yang mereka lagi lakukan ya…?”, tanya saya dalam hati sambil berjalan mendekat. “Oke, jalan terus ya…saya rekam di video loh…!”, ujar istri saya yang sibuk merekam gambar seorang istri teman yang berjalan perlahan dengan tangan meraba-raba seperti orang buta. “Kalian lagi bikin permainan apa sih ?”, tanya saya ingin tahu. “Ooh…, istri saya sedang mencoba melewati pohon Beringin di depan sana. Tapi katanya harus dengan mata tertutup pak ! Di sini mereka sebut Ngalah Berkah pak ! ”, sahut teman saya menjelaskan dengan semangat. Saya perhatikan di tengah alun-alun memang ada sepasang pohon beringin yang telah dikelilingi pagar. “Menurut kepercayaan orang di sini, siapa yang bisa berjalan masuk di antara dua pohon itu dengan mata tertutup, dia akan dapat berkah. Kata mereka lagi, hanya orang yang bersih hatinya yang bisa melakukan itu. Kalau orang itu tidak lurus hatinya atau pikirannya menyimpan niat yang tidak baik, maka orang itu tidak bisa berjalan lurus melewati tengah pohon itu.”, lanjutnya lagi menjelaskan. Kami tidak percaya dengan ritual itu. Namun filosofi mereka yang mengatakan orang yang bersih hatinya akan mendapat berkat adalah benar.

Di pagi hari ini ayat renungan kita mengingatkan bahwa orang yang seorang hatinya adalah kekejian bagi Tuhan, sebaliknya Tuhan berkenan kepada orang yang tidak bercela. Kepada kita dihadapkan dua pilihan, apakah kita mau memiliki hati yang bersih atau membiarkan pikiran kita bercabang, serong dan bercela. Setiap hari kita harus memilih dan menetapkan apa yang mau kita lakukan. Setiap pilihan ada konsekwensi yang jelas. Bila kita berusaha setiap hari untuk mengikis kelemahan kita dan dengan kesungguhan hati memilih untuk tidak bercela, maka Tuhan akan berkenan dengan jalan kita, kita akan memperoleh berkat. Sebagai manusia berdosa kita memiliki banyak kelemahan yang cenderung membuat kita gagal untuk memilih yang benar. Kita tidak sanggup mengatasi semua kelemahan dengan kekuatan kita sendiri. Kita datang pada Tuhan dan pertolongan surga untuk menyanggupkan kita mengatasi kelemahan diri, memberikan kebijaksanaan dalam melakukan pilihan dan menetapkan hati untuk menjalankan pilihan yang benar. Tuhan berkenan kepada orang menurut kepada-Nya.

Let us walk with Him every day and be blessed !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda dengan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.

Malam Budaya Yang Seru dan Kocak !

Hari Kamis 26 November 2009, kebaktian Pekan Doa baru saja selesai. Jam menunjukkan lewat dari pukul 19:00. Kemeriahaan di Vila Erika semakin terasa. Semua peserta retreat jemaat Kemang Pratama yang dibagi ke dalam kelompok Biru, Kuning, Merah dan Hijau tengah bersiap-siap untuk acara yang mereka akan tampilkan di Malam Budaya ini. Acara ini akan diisi oleh pelbagai bentuk seni dan budaya. Setiap kelompok rata-rata berjumlah 26-28 orang yang terdiri dari anak-anak, remaja dan orang tua. Jauh-jauh hari, masing-masing kelompok telah mempersiapkan acara yang akan mereka tampilkan. Masing-masing berlatih secara terpisah agar tidak terlihat kelompok yang lain. Mereka ingin membuat kejutan dalam acara-acara yang akan mereka sajikan. Masing-masing anggota kelompok saling menjaga rahasia masing-masing, bahkan kepada anggota keluarga yang mungkin berada di kelompok lain. Wah...seru sekali sih !!

Ibu Yunita Wuisan sebagai koordinator acara, memulai acara malam budaya ini dengan mengundi peserta yang akan tampil. Kelompok Kuning yang dipimpin oleh Bapak Sontani Purnama mendapat kesempatan pertama untuk membawakan acaranya. Bapak Sulasta dan kawan-kawan membawakan tarian perang dengan diiringi lagu ”Yamko Rambe Yamko”, dengan iringan gitar. Dengan rumbai-rumbai khas dayak, mereka menari, berputar-putar, dan melompat-lompat. Bapak Sulasta memimpin di depan dan diikuti oleh teman-temannya. Kelihatannya gerakan-gerakan yang tercipta adalah hasil olahan kreasi sendiri ! Gerak kiri, gerak kanan, begitu dinamis dan tidak dapat diduga. Sampai-sampai teman-teman di belakang bingung untuk mengikuti gerakan. Hahaha...! Penonton tergelak tawa dengan gerakan spontan ini. Serunya acara yang dibawakan oleh kelompok Kuning !

Penampilan kedua dibawakan oleh Stella Simanjuntak dan kawan-kawan dari kelompok Merah yang dipimpin oleh Bapak Wilson Tobing. Di awal Stella membawakan tari Bali dengan diikuti oleh kelompoknya. Gerakan luwes Stella yang ahli dalam membawakan tarian Bali diikuti juga oleh teman-teman yang lain. Tangan yang luwes mengikuti alunan musik dan tiba-tiba terhentak membuat semua kagum melihatnya. Namun, di tengah-tengah tarian, lagu berubah menjadi lagu dangdut dan campur sari ! Keruan saja, Stella dan kawan-kawan harus menyesuaikan gerakan gemulainya menjadi goyang dangdut dan campur sari ! Hehehe....!! Penonton tertawa terbahak-bahak melihat perubahan gaya yang mendadak dan tidak terduga ini. Yang menari pun ikut-ikut tertawa terpingkal-pingkal. Luar biasa kelompok Merah ini !

Giliran ketiga adalah kelompok Hijau yang langsung dipimpin oleh Bapak Willy Wuisan. Mereka membawakan tarian “erotis” yang dilakukan oleh para “perempuan”. Waduh...! Kok berani sekali ya ?? Penonton memusatkan perhatian ke panggung di depan. Muncullah “perempuan” yang berbalut kaos warna hijau ketat. Wehehehe....!! Ternyata mereka semua adalah pria-pria yang memakai busana layaknya wanita ! Penonton serasa dikocok perutnya melihat Tikno, Bapak Willy, Daniel Simanjuntak dan pria yang lain dengan gerakan yang gemulai dan menggoda melakukan tarian yang sangat menghibur ini. Sesekali tangan mereka saling mencolek dan menggoda satu dengan yang lain. Bravo..!! Bravo... untuk kelompok Hijau !

Dan yang terakhir muncul malam ini adalah Kelompok Biru yang dipimpin oleh Bapak Christian Siboro. Mereka tampil dengan pelbagai aksesoris warna biru yang telah disiapkan dengan mantap. Mereka membawakan lagu sambil berbalas pantun yang mengundang tawa dari semua yang hadir. Hahaha...!! Ada-ada saja ide yang mereka bawakan yang membuat semua terhibur. Semua merasa puas dengan penampilan setiap kelompok yang sangat lucu, kreatif, menghibur dan memancing tawa di malam yang semakin larut. Mengakhiri acara malam ini, semua bapak-bapak membawakan lagu nostalgia “Gereja Tua”. Tak terasa malam semakin pekat. Semua peserta yang puas dengan malam ini bersiap-siap untuk beristirahat agar besok pagi dapat bangun dalam keadaan segar, sehat dan dapat siap mengikuti acara spektakuler dan lebih mengejutkan lagi. Wah...makin seru saja nih...! Sekarang selamat tidur dulu …!

Tuesday, December 01, 2009

Bangunan Kokoh Itu Rubuh

Markus 13 : 8 b "Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan. Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru."









“Pagi ini kita mau pergi ke mana pak?”, tanya salah seorang teman kantor saat kami berada di Yogyakarta untuk menghadiri rapat kantor. Kebetulan ini hari libur, jadi kita bisa manfaatkan untuk berwisata di kota ini. “Oh…, kita mau ke Candi Prambanan.”, kata saya sambil tersenyum. “Letak candi Prambanan itu apakah jauh dari hotel kita ini pak?”, tanya dia lagi ingin tahu, sepertinya ini pertama kali dia berada di kota ini. “Tidak terlalu jauh. Sebenarnya kita sudah melewati lokasi itu kemarin waktu kita dari Nganjuk masuk ke Yogya.”, jawab saya menjelaskan, sementara dia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Bis yang akan membawa rombongan kami telah siap. Satu per satu masuk memilih tempat duduk di dalam setelah menikmati sarapan pagi bersama. Udara di kota Yogyakarta hari itu tidak terlalu panas dan cenderung berawan. Tidak sampai satu jam, kami pun tiba di kompleks wisata Candi Prambanan.

“Candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX.”, jelas seorang pemandu wisata saat kami mulai melangkah masuk gerbang candi. “Namun karena terjadinya gempa bumi serta beberapa kali letusan Gunung Merapi, maka Candi Prambanan runtuh menjadi puing-puing yang berserakan.”, tandasnya lagi sambil menunjukkan tumpukan batu-batu di sekeliling tempat ini yang belum berbentuk candi. Itulah sisa-sisa yang belum dapat dibentuk lagi. “Wah…, luar biasa sekali candi ini ya. Bisa dibayangkan waktu itu dengan keterbatasan peralatan, nenek moyang kita dulu mampu membuat sebuah bangunan yang sangat kokoh dan luar biasa seperti ini.”, ucap saya sambil berdecak kagum. Teman-teman mengangguk dan turut mengagumi karya hebat ini. “Tapi saat ini kita tidak dapat memasuki semua bangunan candi-candi ini. Gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta beberapa tahun lalu telah membuat sebagian bangunan candi runtuh. Saat ini tengah dalam perbaikan. Jadi maaf ya, kita tidak bisa masuk ke dalam candi yang tengah direnovasi saat ini.”, ungkap sang pemandu wisata memberi penjelasan kepada kami.

Pagi ini ayat renungan kita mengingatkan bahwa akan ada gempa bumi di berbagai tempat dan kelaparan yang mendahului akhir jaman. Manusia diberikan akal budi oleh Tuhan untuk dapat mewujudkan angan-angan dan impiannya. Kreatifitas, kepintaran dan kekuatan yang dikaruniakan Tuhan diwujudkan dalam pelbagai bentuk karya, termasuk bangunan-bangunan megah seperti candi dan gedung-gedung lain yang mengundang kekaguman. Namun karya manusia ini tidak sanggup untuk menahan bencana gempa bumi yang melanda dunia. Bangunan yang kokoh dan dulunya tegak berdiri, akan rubuh oleh karena malapetaka yang melanda. Di satu sisi kita menyayangkan hal ini karena banyak kerugian dan penderitaan yang terjadi. Namun di sisi lain, gempa bumi adalah kejadian yang telah dinubuatkan dalam Alkitab sebagai pertanda kita memasuki akhir jaman. Kita perlu terus mempersiapkan diri, berusaha meninggalkan kelemahan kita, membuang tabiat lama dan berupaya untuk berjalan bersama Tuhan. Kita tidak mau iman kita rubuh. Kita ingin agar iman kita semakin diteguhkan melalui peristiwa dahsyat yang sedang terjadi dari waktu ke waktu. Mari kita pusatkan perhatian kita kepada Tuhan dan mendekatkan diri kepadaNya setiap hari.

Have a great day !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda.

Vila Erika...Kami Datang !!

Hari Kamis 26 November 2009, awan mendung dan hujan gerimis mengisi langit-langit di atas kota Bekasi dan sekitarnya. Namun itu tidak mengurangi semangat anggota jemaat Kemang Pratama yang sejak pagi hari telah berkumpul dan mengadakan persiapan di halaman gereja. Hari ini semua tengah bersiap-siap untuk berangkat ke lokasi retreat yang terletak di Villa Erika, Puncak. Perjalanan ke lokasi sedikit tersendat oleh karena adanya kemacetan yang terjadi di ruas jalan tol lingkar luar. Maklumlah, hari Jumat besok adalah hari libur nasional. Sepertinya banyak yang mengambil kesempatan untuk pergi berlibur panjang ke Puncak dan sekitarnya. Setelah melewati simpang JORR – Jagorawi, perjalanan relatif lancar. Hambatan baru terasa kembali saat memasuki pasar Cisarua. Deretan panjang kendaraan panjang sepertinya sulit untuk bergerak. Lokasi retreat ini cukup jauh dari jalan raya. Setelah melalui jalan yang mendaki dan melewati ruas jalan yang sedikit sempit, akhirnya kami semua tiba di tempat tujuan dengan selamat. Kepenatan selama perjalanan hilang seketika ketika kami turun dan menikmati segarnya udara pegunungan.

Dari pagi hari sampai sore nanti masing-masing bebas melakukan aktifitasnya, karena acara retreat secara resmi baru akan dimulai pada sore hari. Beberapa anggota tampak sedang mempersiapkan perlengkapan untuk acara selama retreat. Pada retreat kali ini, anggota jemaat dibagi-bagi menjadi 4 kelompok. Kelompok Merah dipimpin oleh Bapak Wilson Tobing, kelompok Biru oleh Bapak Christian Siboro, kelompok Kuning oleh Bapak Sontani Purnama dan kelompok Hijau oleh Bapak Willy Wuisan. Masing-masing kelompok akan mengisi acara selama retreat, baik untuk membawa beberapa acara hiburan, mengikuti pertandingan olah raga, hingga berlomba dalam kuis alkitab. Ibu Dahlia Hutauruk, Ibu Yunita Wuisan, Ibu Lies Purnama dan Robert Rihihina yang tergabung dalam kelompok Biru sibuk menyiapkan topi dan atribut-atribut yang serba berwarna biru. Wah..., suasana jadi membiru nih...!! Kelompok Kuning juga tidak ketinggalan menyiapkan rumbai-rumbai dari tali rafia membentuk rok-rok. Acara apa ya yang dibuat kelompok Kuning ini ....?? Kelompok Merah sibuk juga mengatur persiapan-persiapan....tapi sepertinya masih rahasia nih apa yang mereka mau buat nanti... Dijamin pasti seru deh acara mereka...!! Kelompok Hijau terlihat juga berkoordinasi satu dengan yang lain. Kelihatannya sudah mantap persiapan si Hijau nih....!! Kelihatannya akan ada kejutan yang dahsyat deh dari si Hijau...!! Semua sudah siap-siap mau bikin acara yang spektakuler...!! Jadi penasaran ingin lihat acara mereka semua. Kita tunggu saja penampilan mereka nanti ! Sementara pimpinan kelompok menyiapkan perlengkapan acara mereka masing-masing, beberapa anak-anak dan remaja menggunakan waktu mereka untuk berenang di air yang cukup dingin.

Sebagian ibu-ibu yang bertugas untuk mengurus konsumsi telah sibuk di dapur. Mereka dengan gesit tengah menyiapkan makanan yang hangat untuk semua peserta. Di luar cuaca lumayan bersahabat. Kesempatan ini digunakan oleh sebagian peserta untuk keluar menikmati pemandangan indah di sekeliling kebun the yang berada tidak jauh dari lokasi retreat. Kabut tipis dan dingin menutupi sebagian pemandangan yang indah. Semua wajah tampak ceria sambil sesekali merapatkan tangan menahan dingin. Hari sudah semakin gelap, saatnya untuk makan malam. Semua dengan lahap menyantap makanan lezat yang telah terhidang. Usai makan malam, jemaat berkumpul di ruang depan yang cukup luas untuk mengikuti kebaktian malam. Karena minggu ini adalah Pekan Doa, maka Pendeta R.Y. Hutauruk melanjutkan materi pelajaran “Misi Pengharapan” di malam ini.

Lanjutan Pekan Doa di Retreat Jemaat


Hari Kamis 26 November jam sudah menunjukkan pukul 19:00. Semua telah merasakan hangat kembali setelah makan malam. Di luar Vila Erika, cuaca sudah semakin dingin. Bapak Sontani Purnama membuka perbaktian Pekan Doa dengan mengundang semua yang hadir untuk menyanyikan Lagu Sion nomor 183, ”Inilah Jam-ku Berdoa”. Doa buka dilayangkan Bapak Sontani. Sebuah lagu istimewa dibawakan oleh semua Pathfinder dan Adventurer yang berjudul ”Yesus, Sahabat Terindah”. Pendeta Richard Y. Hutauruk, membawakan lanjutan pelajaran di Pekan Doa yaitu pekabaran malaikat kedua. Wahyu 14:8 menyebutkan, “Dan seorang malaikat lain, malaikat kedua, menyusul dia dan berkata: "Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.". Inti dari Babel adalah roh kepuasan diri, yang tidak ingin meninggikan Allah, tetapi justru mengangkat diri sendiri. (Kisah menara Babel – Kejadian 11:1- 9). Banyak orang mengkhayalkan diri sebagai Allah. Dan inilah yang menjadi pusat pertikaian antara kebaikan dan kejahatan – itu adalah roh pemberontakan yang berusaha menjadi Allah. Roh yang telah menyebabkan Adam dan Hawa diusir dari taman Eden. Itulah sikap yang membuat setan diusir dari surga. Untuk itu, janganlah mengandalkan kekuatan diri kita sendiri. Bergantunglah sepenuhnya kepada Allah. Allah adalah sumber dari segala hikmat.

“Banyaknya masalah yang dihadapi umat manusia saat ini, menyebabkan banyak diantaranya menjadi putus asa. Kita dihimbau untuk menjadi penolong bagi mereka yang putus asa dan membantu mereka keluar dari Babilon, agar mereka mengetahui jalan mana yang harus mereka tempuh agar dapat melewati masalah-masalah yang mereka hadapi. Kita dipanggil untuk berani memberitahukan kabar keselamatan, menjadi saksi-Nya dan menjadi terang dunia.”, ucap Pendeta Hutauruk menyimpulkan pelajaran malam ini. Usai mendengarkan firman Tuhan, Bapak Sontani mengundang jemaat untuk menyampaikan pokok-pokok yang perlu didoakan. Hal yang didoakan antara lain : masing-masing anggota jemaat agar diberikan kemampuan untuk menjadi saksi dalam memberitakan Misi Pengharapan, Retreat jemaat yang sedang berlangsung, KPA-KPA, orang-orang yang belajar alkitab, Ibu Rini Pelaupessy yang sakit, anak-anak yang akan menghadapi ulangan umum, dan Family Of the Month: Keluarga Munas Tambunan. Doa syafaat dilayangkan oleh Ibu Debby Simanjuntak dan Bapak Zepelin Sijabat. Acara Pekan Doa malam ini diakhiri dengan menyanyi dari Lagu Sion nomor 172, “Pada Jam Ku Berdoa”. Doa tutup dilayangkan oleh bapak Pendeta Hutauruk. Usai kebaktian, semua bersiap-siap untuk mengisi acara malam kebudayaan yang dibawakan oleh tiap-tiap kelompok Biru, Kuning, Hijau dan Merah. Apa saja acara yang mereka bawakan ? Kita tunggu besok ya...