Tuesday, September 21, 2010

MENGENAL GAMBAR DIRI

Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Mazmur 51 : 4–6


Manusia pada dasarnya telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan ALLAH, serta terlahir dalam keadaan yang tidak berpotensi sama sekali untuk memiliki dan mengenal gambar diri yang benar. Ini bagian dari dosa warisan yang diterima setiap anak-anak Adam (Mzm. 51:7). Jadi adalah keliru kalau orang berpendirian bahwa manusia dapat mengenal gambar dirinya tanpa perlu mengenal kebenaran Injil. Adam sendiri telah kehilangan kesempatan untuk menemukan gambar dirinya dengan benar dan bertumbuh menuju keserupaan dengan ALLAH lebih baik. Manusia jatuh ke dalam dosa karena terkecoh tipuan dan bujuk rayu Iblisuntuk menjadi seperti ALLAH (Kej. 3:5) dengan cara yang instan (cukup memakan buah) & melanggar perintah ALLAH. Ini membuktikan bahwa saat itu Adam dan Hawapun belum mengenal gambar dirinya dengan benar. Kalau manusia memahami gambar dirinya dengan benar, maka ia tidak akan makan buah terlarang, karena itu dilarang ALLAH. Siapakah sebenarnya manusia itu? Manusia adalah mahkota ciptaan ALLAH; ciptaan ALLAH dengan kualitas tertinggi; raja di bumi oleh kuasa yang TUHAN berikan. Manusia diberi kemampuan untuk menaklukkan bumi dan menaklukkan semua rintangan yang merintangi penyelenggaraan pemerintahannya. Potensi terbesar yang dapat mengganggu pemerintahan manusia di bumi adalah malaikat-malaikat pemberontak yang dibuang ke bumi (Why. 12:4).

Dengan mandat menaklukkan bumi, berarti manusia juga diberi kesanggupan untuk mengalahkan iblis. Mana bisa manusia menaklukkan iblis? Mengapa tidak? Itulah rencana awal BAPA, sebab tak mungkin IA sengaja merancang kejatuhan manusia ke dalam dosa. Seharusnya manusialah yang menjadi alat ALLAH untuk mengalahkan iblis dengan segala tipu muslihatnya. Kita harus menolak pandangan yang menganggap bahwa ALLAH merancang skenario kejatuhan manusia ke dalam dosa dengan alasan inkarnasi ALLAH ANAKmenjadi manusia merupakan skenario yang pasti harus dilakukan, sebab pandangan ini sama dengan menuduh ALLAH sebagai sumber dosa dan bencana. Sesungguhnya manusia dirancang untuk bersekutu dengan ALLAH dalam kurun waktu yang tidak terbatas. IA menciptakan manusia hanya untuk hidup dalam persekutuan dengan DIA dan pengabdian kepada-NYA selamanya. Betapa dahsyat makhluk ini. Sayang Adam belum menemukan gambar diri ini dengan sempurna. Sekiranya gambar diri ini telah dipahami Adam dengan utuh dan benar, manusia tidak akan jatuh dalam dosa. Manusia dirancang menurut gambar dan rupa ALLAH; menjadi seperti BAPAnya, yaitu ALLAH sendiri. Manusia adalah makhluk yang dahsyat, yang dirancang untuk bersekutu dan mengabdi kepada ALLAH selamanya.

Thursday, September 16, 2010

PEMULIHAN GAMBAR DIRI

Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Galatia 5 : 19–21


Dewasa ini banyak orang sedang berbicara mengenai pemulihan gambar diri, baik di dalam maupun di luar lingkungan gereja. Karena dianggap penting, dalam pelatihan-pelatihan para pemimpin dan pejabat gereja pun tema ini juga diangkat ke permukaan sebagai materi pengajaran wajib. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan gambar diri itu? Gambar diri adalah pemahaman seseorang mengenai siapa dirinya dan harus menjadi apa atau bagaimana dirinya tersebut. Bagaimana seseorang memandang dirinya saat ini merupakan aspek kekinian (present) dari gambar diri. Setiap orang memiliki penilaian atau harga terhadap dirinya sendiri. Ada orang yang menilai dirinya terlalu tinggi, tetapi ada pula yang menghargai dirinya terlalu rendah. Contohnya, tak jarang orang yang secara ekonomi pas-pasan merasa minder apabila berkumpul dalam kelompok orang berada; sebaliknya, ada orang yang merasa dirinya terhormat, sehingga punya kepercayaan diri yang tinggi dan merasa pasti diterima siapa pun dan di mana pun. Kebanyakan orang menganggap kepercayaan diri yang tinggi seperti ini positif, padahal belum tentu, sebab bisa jadi ada kesombongan terselubung dalam dirinya. Sebaliknya orang yang minder tadi juga sesungguhnya orang yang sombong. Karena ia tidak bisa mencapai standar yang ditetapkannya, ia tidak menerima diri sebagaimana adanya. Ia tidak menerima keadaan dirinya. Itulah letak kesombongannya.
Dalam ceramah dan pelatihan penemuan gambar diri, biasanya kepercayaan diri dianggap sebagai salah satu ukuran dan tanda bahwa seseorang telah menemukan gambar dirinya. Dengan mengutip ayat seperti Mzm. 139:13–14, orang didorong untuk merasa dirinya berharga dan memiliki kepercayaan diri. Padahal sesungguhnya itu hanya merupakan pengembangan kepribadian, yang tidak ada bedanya dengan pelatihan pengembangan diri oleh para motivator di luar gereja. Pengembangan kepribadian seperti ini bila diajarkan tanpa landasan kebenaran Injil, sekali lagi jika diajarkan tanpa landasan kebenaran Injil, dapat membangun sikap humanisme (menganggap manusia lebih penting daripada segalanya) dan antroposentrisme (berpusat kepada diri sendiri). Padahal Alkitab mengajarkan bahwa semestinya kita bersikap bahwa kita yang lama telah mati, dan hidup kita sekarang bukan kita lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Memang saat manusia jatuh ke dalam dosa, gambar diri yang ditempatkan ALLAH telah rusak. Namun IA ingin agar kita memiliki kembali gambar diri dari ALLAH tersebut. TUHAN Yesuslah teladan kita, IA harus hidup di dalam diri kita. Itulah sebabnya kita harus selalu mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Gambar diri yang benar ada dalam diri Kristus yang hidup dalam diri kita.

Wednesday, September 15, 2010

DETIK DEMI DETIK

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. 2 Korintus 4 : 16–18


Masa hidup manusia hanya tujuh puluh tahun; jika kuat, delapan puluh tahun (Mzm. 90:10). Tujuh puluh tahun tersebut menentukan nasib kekal atau keberadaan abadi seseorang. Paulus menulis bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini (selama 70 tahun), mengerjakan bagi orang percaya kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan itu. Kalau penderitaan selama tujuh puluh tahun akan menghasilkan kemuliaan tujuh juta tahun, setiap detiknya sangat berarti. Kalau tujuh puluh tahun menghasilkan kemuliaan tujuh milyar tahun, setiap detiknya berarti sangat besar. Kalau tujuh puluh tahun menghasilkan kemuliaan di kekekalan, maka setiap detiknya mengerjakan kemuliaan yang tiada tara. Mata perhatian kita tidak boleh hanya memandang seolah-olah hanya detik terakhirlah yang menentukan nasib kekal. Yang menentukan nasib kekal manusia bukan hanya akhir perjalanan hidupnya, melainkan sepanjang perjalanan hidupnya. Kalau awalnya sudah salah, maka sulit untuk menjadi benar kemudian. Awalnya benar saja belum tentu akhirnya benar; apalagi kalau awalnya sudah salah, maka kesalahan akan terjadi terus sampai akhir.


Harus diingat bahwa tak seorang pun tahu kapan detik terakhirnya. Setiap detik adalah momentum (kairós) yang memuat pelajaran rohani yang berharga, sesuai dengan jadwal pembentukan yang TUHAN susun seperti kurikulum (khrónos). Itulah sebabnya Firman TUHAN menyatakan bahwa kita harus memanfaatkan setiap waktu yang ada, sebab hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:16). Satu detik kita memiliki arti yang sangat berharga, karena itu bagian dari durasi (hóra), urut-urutan (khrónos) dan kesempatan (kairós) yang TUHAN berikan. Bila waktu digunakan dengan baik, maka waktu itu membawa kita kepada kemuliaan. Ingatlah bahwa hóra kita makin berkurang, kairós dapat berlalu tanpa hasil, dan khrónos pembentukan TUHAN atas kita dapat menjadi sia-sia. Detik demi detik berlalu, TUHAN menunggu anak-anak-NYA untuk menggunakan kesempatan hidup ini untuk meraih berkat kesulungan yang dimiliki orang percaya, yaitu menjadi sempurna agar bisa dipermuliakan bersama-sama dengan Yesus. Jangan seperti Esau yang mengkhianati TUHAN, dengan menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan. Jadi bukan hanya detik terakhir yang menentukan, tetapi juga semua detik hidup yang diberikan TUHAN kepada kita. Detik demi detik hidup kita harus digunakan sebaik-baiknya untuk menuju kesempurnaan.

Tuesday, September 14, 2010

BERJUANG

Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Lukas 13 : 24


Mengapa banyak orang Kristen menganggap bahwa yang terpenting adalah akhir perjalanan hidup kita? Harus diakui ini diakibatkan pengertian yang salah mengenai keselamatan dalam pikiran banyak orang Kristen. Keselamatan dianggap begitu murahan dan gampangan. Inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen memiliki hidup kerohanian yang tidak bermutu. Padahal TUHAN Yesus sendiri berkata, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (Luk. 13:24) Berjuang, atau ἀγωνίζεσθε (agōnizesthe) mengandung arti “berusaha keras”, atau “bekerja dengan semangat menyala-nyala.” Pemahaman keselamatan yang salah disebabkan juga karena interpretasi yang salah terhadap fragmen penyaliban, yaitu keselamatan yang diterima oleh salah satu penjahat yang disalib di samping TUHAN Yesus. Hanya dengan mengucapkan, “Ingatlah aku kalau ENGKAU datang sebagai Raja”, ia sudah selamat. Sesederhana itukah? Banyak orang tidak memahami bahwa penjahat tersebut memiliki sikap hati yang luar biasa, yang karenanya ia layak menerima keselamatan. Ini tampak dalam beberapa pernyataan yang diucapkannya di kayu salib tersebut: ia mengakui bahwa TUHAN Yesus adalah Mesias; ia mengakui Yesus berkuasa menyelamatkan dirinya di kekekalan; ia percaya bahwa Yesuslah Raja. Saat orang-orang—termasuk murid-murid Yesus—meninggalkan TUHAN Yesus, justru si penjahat inilah satu-satunya orang yang masih percaya pada waktu itu.


Keselamatan seseorang ditentukan oleh kesetiaannya sampai akhir, tetapi ini tidak hanya ditentukan oleh menit-menit terakhir. Seperti kemenangan petinju bukan hanya ditentukan oleh menit-menit terakhir di atas ring tinju, tetapi oleh hari-hari panjang saat ia mempersiapkan diri berlatih sebelum pertandingan. Penjahat ini menerima dengan rela hukuman salib terhadap dirinya, sebab ia merasa bahwa pantas menerimanya (Luk. 23:41). Ini menunjuk pengakuan dosanya yang tulus dan jujur. Inilah pertobatan yang sesungguhnya, bukan pertobatan semu. Tidak mungkin sikap hati seperti ini dapat dimilikinya secara mendadak. Tentu ia telah membangunnya melalui detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun-tahun yang panjang. Apa yang dilakukan penjahat ini adalah peta perjalanan yang telah dilaluinya. Bukan detik terakhirnyalah yang merupakan penentu satu-satunya untuk keselamatannya. Keselamatan tidak murahan, tetapi membutuhkan perjuangan hidup.

Monday, September 13, 2010

MENGENAL ISI HATI TUHAN

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. 1 Korintus 13 : 13


Satu hal yang harus dimengerti dan dipahami adalah bahwa kebaikan yang dimiliki orang percaya haruslah kebaikan yang menurut standar ALLAH. Itu bukan diukur dari apa dan bagaimana kebaikan itu, tetapi apakah tujuan perbuatan itu, berangkat dari isi hati TUHAN atau kehendak manusia? Sebab selama ini yang menjadi ukuran berbuat baik adalah jika perbuatan kita membuat orang senang: orang lapar diberi makanan sehingga kenyang, orang telanjang diberi baju sehingga berpakaian. Sesederhana itu, padahal membuat orang lain senang belum tentu baik. Baik di sini menurut ukuran TUHAN tentunya. Kalau kebaikan berangkat dari isi hati dan pertimbangan manusia, misalnya menyenangkan orang lain, itu belum tentu berarti dia orang baik. Tetapi bila perbuatan baik yang kita lakukan berangkat dari isi hati TUHAN, maka orang itu pasti adalah orang baik. Kepada jemaat di Korintus, RasulPaulus menjelaskan mengenai kasih. Apa itu kasih?… sekalipun membagi-bagikan segala sesuatu… sekalipun menyerahkan tubuh untuk dibakar, tanpa kasih sia-sia.” Tidakkah ini membingungkan?

Kasih itu bukan sekadar perbuatan baik. Belum tentu perbuatan baik itu adalah tindakan kasih. Kasih adalah semua tindakan yang berangkat dari hati TUHAN. Ingat ketika pemimpin yang kaya datang kepada TUHAN Yesusdan berkata, “Guru yang baik,” (Luk. 18:18) lalu Yesus menyahut, “Tidak ada yang baik selain ALLAH.” Ini bukan berarti Yesus tidak baik; tetapi Yesus ingin meluruskan pandangan orang itu, bahwa hanya tindakan yang berangkat dari hati ALLAH lah yang baik; kebaikan itu tidak seperti apa yang dianggap orang itu. Jadikalau ada tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran ALLAH, itu tidak baik, itu pasti kejahatan di mata TUHAN, apa pun perbuatan itu. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1Yoh. 4:8) Berarti semua tindakan di luar pikiran dan kehendak ALLAH, pasti bukan kasih, pasti tidak baik, pasti kejahatan. Jadi jangan heran kalau ada orang yang misalnya bisa bernubuat, memberikan seluruh hartanya, atau mengorbankan dirinya untuk dibakar. Bila tidak sesuai dengan kehendak dan isi hati TUHAN, berarti itu tanpa kasih, sia-sia belaka, tidak baik. Jadi untuk memiliki perbuatan baik, marilah kita bukan sekadar belajar moral dan budi pekerti, tetapi lebih dari itu, mari belajar semakin mengenal isi hati TUHAN.

Thursday, September 09, 2010

BUKAN MENCARI KEHORMATAN

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Matius 5 : 14–16



Kebaikan yang sesungguhnya adalah kebaikan yang dilakukan seseorang tanpa mencari penghormatan; kebaikan yang dilakukan tanpa maksud untuk menunjukkannya kepada orang lain supaya mendapat pujian. Ini bukan hal yang mudah, sebab umumnya setiap orang memiliki kecenderungan mencari penghargaan dari apa yang dilakukannya. Kebaikan yang tulus lahir dari sikap batiniah seseorang; sesungguhnya adalah kebaikan yang diraih melalui pergumulan berat disertai pertolongan Roh Kudus. Dalam Mat. 5:45 diajarkan kepada umat pilihan, bahwa mereka harus seperti BAPA yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Ini bukan sesuatu yang mudah. Ini bagi manusia rasanya mustahil; tetapi apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi ALLAH. Hanya oleh pimpinan Roh TUHAN setiap harilah kita didewasakan sehingga mencapai satu tingkat kesempurnaan, meraih tingkat kebaikan yang TUHAN kehendaki. Jika kita benar-benar menyadari bahwa semuanya tercapai oleh karena pimpinan TUHAN, maka kita pun tidak akan sanggup menyombongkan diri bahwa apa yang kita capai adalah karena jasa atau kehebatan kita. Kita tahu bahwa jika bukan TUHAN yang menuntun kita, kita tidak bisa mencapai kebaikan seperti BAPA.


Jadi jika kita bisa berbuat baik, kita tidak merasa berjasa; kita juga tidak merasa hebat, karena hanya oleh pertolongan Roh Kudus lah kita dapat berbuat baik. Kebaikan yang dihayati seperti ini akan membuat kita benar-benar memuliakan BAPA di Surga. Seperti diungkapkan oleh TUHAN Yesus, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga.” (ay. 16) Artinya, bukan diri kita yang dimuliakan atau dipuji, melainkan BAPA di Surga. Dalam dunia ini banyak perbuatan baik yang dilakukan seseorang yang membuat orang tertarik kepada seorang individu, tertarik kepada manusianya, sehingga fokusnya adalah ke orang yang melakukan perbuatan baik itu. Tetapi TUHAN mengajarkan kepada kita perbuatan baik yang dikehendaki oleh TUHAN adalah perbuatan baik yang membuat orang terfokus kepada TUHAN. Jika perbuatan baik yang dilakukan oleh orang percaya adalah perbuatan baik hasil pimpinan Roh Kudus dan memiliki kualitas yang tinggi, yaitu seperti BAPA, maka perbuatan baik yang dilakukan itu adalah perbuatan baik yang memuliakan BAPA di Surga.

Wednesday, September 08, 2010

KEBAIKAN

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." Lukas 6 : 43–45



Sebagai umat pilihan yang diproses oleh TUHAN untuk menjadi serupa dengan gambar-NYA dan memiliki standar kebaikan seperti yang dikehendaki-NYA, sesungguhnya tidak ada alasan sama sekali bagi kita untuk menjadi sombong atau angkuh. Mengapa? Karena kebaikan yang ada pada kita itu bukan kebaikan secara lahiriah, bukan kebaikan yang artifisial. Meskipun kebaikan kita terbaca, terekspresi, terkristal secara konkret dalam bentuk yang dapat dilihat dan dirasa, kebaikan kita itu berangkat dari batin kita. Menyadari bahwa kebaikan itu berangkat dari dalam hati atau batin akan mengajarkan kita memahami apa artinya rendah hati. TUHAN Yesus memperingatkan orang-orang Yahudibahwa pohon dikenal dari buahnya. Jadi orang yang baik mengeluarkan kebaikan dari hatinya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan kejahatan dari hatinya yang jahat. Jadi, jika seseorang sengaja menunjukkan kebaikannya di mata orang, atau sengaja membanggakan kelakuan baiknya didepan orang, maka ia belum memiliki kebaikan itu dan ia tidak tahu apa sebenarnya kebaikan itu. Ini bedanya kebenaran Kristiani dengan keberagamaan. Keangkuhan lahiriah itu terekspresikan dari hatinya yang sombong, sehingga di mata TUHAN itu bukan kebaikan, melainkan kejahatan.


Kita sering melihat ada orang Kristen secara langsung atau tidak langsung, secara terselubung atau terang-terangan, ingin menunjukan kebaikannya di mata orang lain. Tak jarang ia berusaha membandingkan dirinya dengan orang lain dan seolah-olah ia ingin membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Orang-orang seperti ini belum mengerti apa itukebaikan, sebab kebaikan-kebaikan lahiriah yang tidak berasal dari batin adalah munafik. Kebaikan dari dalam akan terekspresi secara konkret, maka sikap batiniahnya memahami benar apa artinya rendah hati. Kerendahan hati akan mencegah seseorang menjadi sombong. Dalam hal ini kerendahan hati sifatnya sangat pribadi: jika seseorang melakukan suatu kebaikan karena mengharapkan pujian atau karena gerakan hatinya yang mencintai TUHAN, hanya TUHAN lah yang dapat menilainya dengan sempurna. Tetapi sebagaimana buah yang tidak baik merupakan hasil dari pohon yang tidak baik, orang yang sombong pastilah tidak baik. Sebagai anak-anak TUHAN yang diajar untuk memiliki sikap batiniah yang baik, kita harus belajar memahami kebenaran yang sejati, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan adalah dorongan pikiran dan perasaan yang telah diimpartasikan oleh TUHAN di dalam diri kita. Batin yang baik niscaya membuahkan perbuatan yang baik.

Monday, September 06, 2010

SEKALIPUN HIDUP SERATUS TAHUN

Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya. Mazmur 116:1-2


Apakah anugerah itu? Anugerah adalah pemberian tanpa melihat kelayakan si penerima pemberian itu. Sebagai orang-orang yang telah menerima anugerah ALLAH, sesungguhnya kita tidak layak menerimanya. Karena itu kita berutang budi, berutang nyawa, berutang kehidupan kepada ALLAH. Sungguh, apa yang telah diberikan-NYA kepada kita sangat indah, yaitu keselamatan abadi. Tidak ada seorang pun bisa memberikan itu kepada kita. Dan tidak ada seorang pun bisa melakukannya bagi kita, kecuali TUHAN Semesta Alam yang menciptakan langit dan bumi, yang mengutus Putra-NYA, Yesus Kristusbagi kita. Menyikapi kebaikan TUHAN itu, kita harus mengobarkan niat yang kuat untuk membalas kebaikan TUHAN itu, sekalipun kebaikan TUHAN itu tidak akan dapat kita balas. Seandainya kita memiliki waktu hidup seratus tahun, dengan perbuatan sebaik apapun, tidak cukup mengimbangi kebaikan yang TUHAN berikan. Seandainya kita hidup seribu tahun, itu pun tak akan cukup untuk membalas kebaikan TUHAN. Bahkan seandainya umur hidup kita sejuta tahun pun tidak akan cukup membalas kebaikan TUHAN.


Jadi manakala kita meresponi keselamatan yang TUHAN berikan, baik dalam bentuk pujian dan penyembahan, membaca dan menaati Firman, melakukan perbuatan baik, jangan dinilai sebagai jasa. Perbuatan baik kita sangat tidak sebanding dengan apa yang telah TUHAN lakukan bagi kita. Oleh sebab itu sisa umur hidup ini seharusnya hanya untuk membalas kebaikan TUHAN. Marilah kita selalu mengingat kebaikan-NYA (ay. 2). Hidup kita singkat. Kita tidak punya waktu banyak. Kalau kita harus menunda apa yang seharusnya kita lakukan sekarang yaitu membalas kebaikan TUHAN, kita mungkin tidak akan punya kesempatan lagi untuk waktu-waktu yang akan datang. Selama TUHAN masih memberikan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik, mari kita lakukan itu dengan sikap hati yang benar, bahwa kita telah berutang kebaikan kepada TUHAN. Sekalipun sampai mati kita tidak akan pernah bisa mengimbangi apa yang telah TUHAN lakukan bagi kita, tetapi kita akan berbuat semaksimal mungkin. TUHAN memang tidak memaksa kita membalas kebaikan-NYA, tetapi dengan rela kita akan melakukan dan menyukakan hati-NYA. Suatu hari nanti, setiap anak TUHAN yang berusaha membalas kebaikan TUHAN di bumi ini, akan diberi kesempatan melayani DIA selama-lamanya.

Friday, September 03, 2010

SEPERTI RUSA

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Mazmur 42 : 2-3


Banyak orang berurusan dengan TUHAN hanya saat mereka dalam masalah kehidupan yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau ada pujian yang dinaikkan kepada TUHAN, pada dasarnya bukan karena kagum terhadap pribadi-NYA, tetapi pada kekuatan-NYA yang dapat dimanfaatkan. Seperti orang yang menyanjung kemampuan dan kekuatan sahabatnya dengan tujuan mencari keuntungan pribadi. Ternyata, terdapat para rohaniwan yang mendukung hal ini juga. Ironisnya, diajarkan bahwa TUHAN menjadi senang kalau manusia datang minta pertolongan kepada-NYA, seolah-olah TUHAN dapat berbangga diri karena memenangkan perlombaan melawan dukun atau kuasa lain. Bila rohaniwan mempromosikan TUHAN sebagai jalan keluar dari masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, tidak jarang pula pesan atau nasihat itu juga mengandung kepentingan-kepentingan pribadi; bukan hanya uang tetapi juga penghargaan terhadap dirinya, pengultusan terhadap dirinya, dan keuntungan lain yang tersembunyi. Inilah orang-orang yang menjual TUHAN. Pelayananan gereja dijadikan sarana jual jasa atau semacam broker yang menghubungkan manusia yang membutuhkan pertolongan TUHAN. Ia menjadi makelar yang mendapat persenan dari pelayanan gereja.


TUHAN mengajar kita untuk mempunyai hati seperti rusa yang merindukan sungai yang berair. Kitaharus mempunyai kerinduan yang dalam untuk bertemu dengan-NYA. Kehausan akan TUHAN ini membuat kita menjadi kekasih-NYA. Ada ketergantungan jiwa kita terhadap TUHAN. Inilah ketergantungan yang benar. Orang seperti ini akan bergantung secara permanen kepada TUHAN dalam segala keadaan. Jadi kalau selama ini kita mencari TUHAN hanya kalau hidup jasmani kita bermasalah, semestinyalah kita bertobat, karena orang-orang yang seperti ini sebenarnya menyatakan dirinya tidak membutuhkan TUHAN. Untuk apa TUHAN menyertai orang-orang yang hanya memperalat diri-NYA dan tidak menjadikan DIA sebagai kekasihnya? TUHAN juga kadang-kadang mengizinkan masalah terjadi dalam hidup orang-orang yang tidak merasa membutuhkan TUHAN pada saat hidupnya tidak bermasalah, apabila dalam hatinya masih ada kerinduan terhadap TUHAN. Ini salah satucara bagi TUHAN untuk mengembalikan orang-orang tersebut menjadi kekasih-NYA. Bagi orang yang sama sekali tidak merasa membutuhkan TUHAN walau sudah mendapat peringatan-NYA, TUHAN juga tidak perlu berurusan dengan DIA.Kehausan akan TUHAN akan membawa kita untuk terus bergantung kepada TUHAN kapan pun dan di mana pun

Thursday, September 02, 2010

HIDUP DALAM PERLINDUNGAN TUHAN - Lanjutan

Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Roma 8 : 5–8


Keselamatan dalam TUHAN Yesus Kristus membuka pintu agar manusia dikembalikan kepada posisinya, yaitu menjadi sekutu TUHAN. Untuk ini manusia harus terlebih dahulu diperbaharui untuk menjadi anak-anak ALLAH, mengerti kehendak TUHAN: apa yang baik, berkenan dan yang sempurna. Sebenarnya sejak manusia diciptakan, manusia adalah anak-anak ALLAH, sebab manusia memiliki roh dari ALLAH. Tetapi manusia jatuh ke dalam dosa, sehingga tidak hidup di dalam roh lagi, tetapi di dalam daging. Orang yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada ALLAH. Maka orang yang berurusan dengan TUHAN hanya karena membutuhkan pertolongan bagi persoalan-persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani keberhasilan karir, bisnis, keluarga bahagia, tubuh sehat dan lain sebagainya—tidak memperlakukan TUHAN secara pantas. Apalagi yang bertujuan memuaskan ambisi pribadinya. Itu semua dipikirkan oleh mereka yang hidup menurut daging. Sikapseperti ini ada pada orang-orang beragama pada umumnya. Inilah permainan iblis yang sangat cerdas. Mereka seolah-olah bersekutu dengan TUHAN karena berurusan dengan TUHAN, tetapi sebenarnya tidak. Bukan persekutuan semacam itu yang dikehendaki oleh TUHAN. IA melihat bahwa hati mereka masih kepada kerajaan dunia ini, bukan kepada Kerajaan Surga.

Pada dasarnya sikap berurusan dengan TUHAN untuk pemenuhan kebutuhan jasmani adalah sikap orang yang belum memahami bagaimana seharusnya hidup sebagai umat ciptaan dan menempatkan TUHAN sebagai pribadi yang terhormat secara benar. Banyak orang Kristen yang tidak bertumbuh dalam kebenaran memperlakukan TUHAN seperti ini, tidak ada bedanya dengan umat agama lain memperlakukan allahnya. Kalau hal ini terjadi dalam mekanisme hubungan antara umat dan allah yang disembah, maka pastilah itu bukan agama yang benar yang membawa manusia kepada ALLAH Yang Benar. Hari inibanyak komunitas Kristen yang diasuh oleh kuasa kegelapan tanpa mereka sadari, sebab mereka tidak menuju kepada arah yang benar bagaimana menjadi sekutu TUHAN. Dalam TUHAN kita menerima anugerah Roh Kudus yang menuntun kita untuk mengerti kehendak TUHAN. Seharusnya bila kita berurusan dengan TUHAN, inilah yang kita persoalkan terus-menerus; inilah yang kita prioritaskan. Sebab bila kita menjadi sekutu TUHAN, maka segala sesuatu diluar kesanggupan kita untuk menyelesaikan pasti dibereskan oleh ALLAH sebagai BAPA. Umat ALLAH yang benar adalah umat yang memindahkan hatinya kepada Kerajaan Surga. Marilah memindahkan hati kita kepada Kerajaan Surga.

Tuesday, August 31, 2010

PERLINDUNGAN BAGI YANG PANTAS

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Matius 18 : 23–25



Setelah menyadari keringkihan manusia, bagaimana agar kita memperoleh perlindungan TUHAN? TUHAN memberikan perlindungan-NYA kepada orang-orang yang pantas dilindungi-NYA. IA melindungi orang-orang yang mau hidup dalam rencana dan kehendak-NYA, yaitu orang-orang yang memberi diri untuk dimuridkan dan diproses untuk menuju kesempurnaan yang BAPA inginkan. TUHAN Yesus mengisahkan tentang hamba yang dihapuskan utangnya sebesar 10.000 talenta oleh raja, namun kemudian ia tidak memaafkan temannya yang berutang kepadanya sebesar 100 dinar. Adapun 1 dinar adalah upah rata-rata pekerja dalam sehari pada saat itu, sementara 1 talenta adalah 6000 dinar. Jadi utangnya kepada raja adalah senilai upah pekerja selama 60.000.000 hari, atau lebih dari 164.383 tahun! Namun si hamba yang telah diampuni ini bertindak sewenang-wenang terhadap sesamanya. Ia sombong, menekan sesamanya, dan tidak mau mengampuni sesamanya. Akibatnya, perlindungan dari raja yang sebelumnya telah diperoleh karena kemurahan hati raja dicabut. Si hamba jahat ini akhirnya dijebloskan ke penjara sepanjang hidupnya.


Orang seperti hamba yang jahat ini sudah pasti anak setan yang akan menjadi warga neraka bersama dengan iblis. Tetapi kalau harus jujur, kita dapat melihat bahwa gambaran tentang hamba yang jahat ini masih nyata di dalam diri banyak orang Kristen hari ini. Tidak sedikit orang Kristen yang sudah menerima pengampunan dari TUHAN ternyata tidak hidup sesuai rencana dan kehendak TUHAN. Mereka hanya menyibukkan diri untuk rencananya sendiri. Mereka rela menekan orang lain dan bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Yang penting adalah kehendaknya dipuaskan. Sebagaimana si hamba yang jahat, orang-orang seperti ini juga adalah orang-orang bodoh yang akhirnya tidak akan memperoleh perlindungan abadi TUHAN, sebab mereka memang tidak pantas dilindungi. Mereka telah menolak perlindungan TUHAN. Patut kita perhatikan, bahwa janji TUHAN untuk menyertai orang percaya adalah hanya untuk orang percaya yang menjadi saksi atau melakukan kehendak-NYA (Mat. 28:19–20), bukan orang yang sibuk dengan urusan dan kepentingannya sendiri. Karena itu marilah kita selalu belajar untuk mengenal rencana dan kehendak TUHAN dalam hidup kita. Dengan hidup dalam rencana dan kehendak-NYA, tanpa meminta kepada TUHAN pun otomatis kita mendapat perlindungan dari-NYA; bukan hanya selama hidup di bumi ini, tetapi perlindungan abadi. TUHAN melindungi orang-orang yang pantas dilindungi-NYA, yaitu yang mau hidup dalam rencana dan kehendak-NYA.

Monday, August 30, 2010

HIDUP DALAM PERLINDUNGAN TUHAN

Jadisekarang, hai kamu yang berkata: "Hari iniatau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akanterjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." Yakobus 4 : 13–15



TUHAN lah Perlindunganku”, demikian kita nyanyikan lagu di gereja. Tetapi tanpa disadari, banyak orang tidak mengerti apa artinya berlindung kepada TUHAN itu. Buktinya, mereka merasa sudah atau sedang berlindung kepada Tuhan, padahal mereka menolak perlindungan TUHAN. Bagaimana hal ini terjadi? Manakala seseorang dalam keadaan tanpa masalah dalam segala segi kehidupannya, ia tidak sungguh-sungguh berlindung kepada TUHAN. Setelah masalah timbul, barulah ia berurusan dengan TUHAN. Kalau begitu TUHAN dipandang laksana ban serep: kalau ban tidak pecah, tak akan dicari; TUHAN disamakan dengan rumah sakit, kalau orang tidak sakit parah, tidak perlu berurusan dengannya. Padahal kita sangat membutuhkan perlindungan TUHAN setiap saat, tanpa mengurangi bahwa tetap ada bagian tanggung jawab kita yang memang harus kita lakukan. Ada pengertian penting yang harus dipahami untuk hidup dalam perlindungan TUHAN. Seseorang tidak dapat membutuhkan dan berlindung kepada TUHAN, kalau tidak mengakui bahwa dirinya adalah mahkluk yang sangat lemah dan ringkih. Bukankah Alkitab berkata hidup manusia seperti uap? Karena itu kita harus memahami kenyataan mengenai keringkihan manusia.


Pertama, manusia memiliki tubuh fana yang kemampuannya sangat terbatas. Tubuh manusia yang telah jatuh dalam dosa sangat rapuh, bukan bertulang besi, berotot kawat dan berkulit baja. Kunjungi rumah sakit dan akan kita sadari betapa rapuhnya tubuh manusia. Kedua, manusia hidup di dunia yang penuh bahaya melampaui kekuatan dirinya. Di masa depan, manusia lebih diperhadapkan dengan keadaan dunia yang penuh ancaman seperti bencana alam, bencana buatan manusia, epidemi penyakit dan sebagainya. Ketiga, adanya kuasa gelap yang jahat, yang berusaha menyeret kepada kegelapan abadi. Ingat, bahaya iblis bukan pada sepak terjangnya yang membuat hidup manusia sengsara di dunia ini, melainkan pada usahanya mempersiapkan manusia menjadi warga api kekal. Kalau iblis hanya membuat manusia sengsara di bumi, itu bukan masalah sama sekali, justru bisa menguntungkan, karena sengsara di bumi bisa menggiring manusia ke dalam Kerajaan ALLAH. Berwaspadalah, karena iblis hanya dapat dilawan dan diatasi jika kita bersama TUHAN. Kita harus selalu menghayati keringkihan diri kita ini, supaya kita tidak sombong. Jangan berpuas diri apabila keadaan kita hari ini tanpa masalah, sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kembangkan sikap rendah hati, dan dengan tulus kita belajar berlindung kepada TUHAN sembari tetap melakukan bagian tanggung jawab kita yang memang harus kita lakukan.Dengan menghayati keringkihan diri kita sebagai manusia, kita belajar hidup dalam perlindungan TUHAN.

Friday, August 27, 2010

MEMBUTUHKAN RESPON

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat. Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.Sebab AnakManusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Lukas 19 : 8-10



Seseorang yang menerima karya penebusan Yesus di kayu salib dan masuk proyek kemustahilan menuju kesempurnaan seperti BAPA di Surga harus memberikan respons yang baik. Seperti apakah respons yang baik itu? Orang muda kaya dalam Mat. 19:16–26 tidak memberikan respons yang baik ketika TUHAN memintanya menjual segala hartanya dan membagikannya kepada orang miskin. Ia tidak melakukannya, sebaliknya pergilah ia dengan sedih. Ia tidak sanggup melakukannya, sebab banyak hartanya; ia masih menyayangi hartanya. Respons orang muda kaya tersebut berbeda dengan Zakheus. Zakheus juga seorang kaya. Ia mempunyai jabatan sebagai kepala pemungut cukai, dan hartanya banyak (ay. 2). Tetapi ketika ia bertemu dengan TUHAN Yesus, ia menyambutnya dengan respons yang baik. Tanpaperlu diperintah dan dikomando oleh TUHAN Yesus, ia dengan serta-merta menyatakan rela membagikan separuh hartanya kepada orang miskin, dan iapun mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah diperasnya (ay. 8). Apa yang dilakukan oleh Zakheus ini adalah buah dari responsnya yang baik terhadap panggilan TUHAN. TUHAN Yesus membawa anugerah keselamatan, dan Zakheus menerimanya. Hendaknya respons ini tidak dianggap sebagai jasa. Keselamatan adalah sepenuhnya karya ALLAH, bukan jasa manusia. Manusia hanya meresponinya. Jikalau Zakheus mengikuti TUHAN Yesus dengan sungguh-sungguh sejak itu, pastilah Zakheus menjadi orang yang memiliki standar hidup yang luar biasa, yaitu standar hidup kekal yang berkualitas.


Oleh karena itu kebaikan sempurna bisa dicapai oleh seseorang melalui kemampuan untuk mengerti kehendak TUHAN serta melakukannya. Hal ini tidak bisa dicapai tanpa barter dan tanpa perjuangan, bahkan juga tidak bisa dicapai tanpa pengorbanan. Seperti Zakheus yang menunjukkan responsnya yang baik dengan merendahkan dirinya dan memperlihatkan perubahan perilakunya melalui tindakannya, sudahkah kita yang mengaku beriman kepada TUHAN Yesus menunjukkan respons kita melalui tindakan kita? Dengan respons yang baik, kita akan masuk ke dalam proses pertumbuhan terus-menerus, sampai kita bisa mencapai standar kebaikan yang ALLAH inginkan: standar moral ilahi, standar kesempurnaan-NYA. Sehingga benarlah bahwa tidak ada yang mustahil bagi ALLAH.

Thursday, August 26, 2010

MENJADI SEMPURNA

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Mat. 5:48)


Orang yang menerima karya keselamatan ALLAH dalam Yesus Kristus, atau yang menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus adalah orang-orang yang dikehendaki oleh TUHAN untuk menjadi sempurna seperti DIA. Mustahil? Bagi manusia memang mustahil. Tetapi sebagaimana TUHAN Yesus menembus kemustahilan dengan menjelma menjadi manusia, itu tidak mustahil. TUHAN Yesussendiri mengungkapkan hal ini dengan mengatakan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Mat. 5:48) Berarti apabila kita telah menjadi orang percaya, kita harus mau masuk ke dalam proyek kemustahilan itu. Bagaimana ini dapat kita lakukan? Dalam Flp. 2:5, Paulus berpesan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”. DIAlah standar kita. DIA telah merendahkan diri-NYA untuk meninggalkan kesetaraan-NYA dengan ALLAH, mengosongkan diri-NYA, menjadi manusia—seorang hamba—dan taat sampai mati di kayu salib. DIA telah melakukan yang mustahil bagi manusia, sekarang giliran kita.


Anak ALLAH Yang Mahatinggi menunjukkan keteladanan-NYA untuk rendah hati, rela kehilangan segala hak-NYA, bahkan hak atas nyawa-NYA, untuk menaati BAPA-NYA dan demi kasih-NYA kepada manusia. Ini bukan sifat bawaan manusia pada umumnya, karena manusia pada umumnya tidak rela dirinya diabaikan. Manusia tidak rela haknya dirampas. Manusia tidak rela hatinya disakiti. Tetapi itulah pikiran dan perasaan Kristus. Itulah yang harus kita miliki dalam hidup kita. Jadiuntuk belajar menjadi sempurna, hal pertama yang harus kita pelajari adalah menjadi hamba. Belajar untuk rela kehilangan hak, tidak terikat kepada apa pun, taat kepada TUHAN, melayani TUHAN dan sesama karena kasih kita kepada-NYA, bukan karena ketakutan atau keinginan kita atas berkat jasmani dari-NYA. Sambil terus kita mempelajari Firman-NYA dan belajar untuk melakukannya dalam kehidupan kita, kita akan dapat menaruh pikiran dan perasaan Kristus itu dalam diri kita. Akhirnya, sebagaimana Kristus dimuliakan (ay. 9–11), kita juga akan dimuliakan bersama dengan DIA (Rm. 8:30). Ini anugerah yang luar biasa bagi kita yang menerima penebusan dari-NYA. Mustahil? Sekali lagi ditegaskan, bahwa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi ALLAH. Ini kabar baik bagi kita, bahwa kita yang menerima penebusannya akan dimampukan untuk sempurna.

Wednesday, August 25, 2010

ALLAH MENJADI MANUSIA

Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Lukas 1 : 31–33

Proyek keselamatan adalah proyek kemustahilan. Banyak orang tidak tahu, bahkan tidak menyadari hal ini. Proyek keselamatan itu hanya bisa dikerjakan oleh ALLAH sendiri. Bukankah mustahil, ketika TUHAN Semesta Alam menjelma menjadi manusia? Tetapi seperti yang dikatakan Malaikat Gabriel dalam Luk.1:37, “Tidak ada yg mustahil bagi ALLAH”. Jadi sekalipun Maria masih seorang perawan yang belum bersuami, ia bisa hamil, kalau ALLAH menghendakinya. Itu dahsyat.Tetapi hal yang lebih luar biasa adalah ketika ALLAH menjelma menjadi manusia. Tentu bagi manusia itu kemustahilan. Namun ALLAH menembus kemustahilan itu dengan kesediaan-NYA menjadi manusia. Di sini yang mengagumkan bukanlah kemampuan TUHAN mengubah diri-NYA menjadi manusia, melainkan kesediaan ALLAH menjadi manusia. Ini merupakan pergumulan yang hebat bagi TUHAN sendiri, bagaimana Yang Mahakuasa, Sang Pencipta langit dan bumi mau merendahkan diri-NYA menjadi sama dengan ciptaan-NYA.
ALLAH menembus kemustahilan dan membuatnya menjadi tidak mustahil untuk memberikan anugerah keselamatan melalui Putra-NYA yang tunggal. Ini pengorbanan yang luar biasa bagi-NYA. Tetapi tidak bisa tidak, IA harus melakukannya karena itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan umat manusia. Jangan sia-siakan anugerah ini. Kita harus menyambutnya dengan meresponinya secara serius, sebab jika TUHAN menganggapnya penting sampai IA harus menembus kemustahilan, itu harus menjadi hal yang sangat penting pula bagi kita.