Saturday, October 15, 2011

PANIK??? BERDOA!

Mazmur 9:10, “Demikianlah Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan.”


Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB Jumat sore hari, kami sudah harus meninggalkan kantor menuju ke rumah. Sore itu kami harus segera meluncur ke gereja, karena malam nya istri saya mendapat tugas untuk membawakan renungan dalam acara vesper. “Mami, gimana ya? Papi masih harus ketemu klien sebentar di Thamrin City hanya untuk tiga puluh menit lamanya. Kita ke sana sebentar ya?” ujar saya kepada istri sambil mengarahkan stir kendaraan ke lokasi pertemuan. Di luar dugaan, pertemuan saya dengan klien memerlukan waktu lebih dari tiga puluh menit. Tidak heran istri saya sudah beberapa kali menelepon saya mengingatkan waktu. Lima belas menit pun berlalu, namun pembicaraan kami belum kunjung usai juga. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pertemuan tersebut pada hari Senin mendatang. Belum lagi kota Jakarta macetnya luar biasa pada hari Jumat sore sementara waktu kami sangat mepet untuk segera tiba di gereja sebelum pukul 19.30 WIB.

Kemacetan dan antrian panjang telah menanti kami ketika kami keluar dari area Thamrin City. Kendaraan hanya sesekali bergerak dan berhenti lebih dari 10 menit. Istri saya sudah mulai tidak sabar dan marah-marah, karena saya memilih jalan yang salah dan terlalu lama berada di kota. Saya katakan, “Sabar, sebentar lagi jalanan akan lancar” jawab saya untuk menghibur hatinya, sementara saya juga memikirkan bagaimana jika kami tetap terjebak di sana dan tidak bisa tiba di gereja tepat waktu. Saya kemudian berpikir cepat dengan seketika memutar balik arah kendaraan kami dan melewati jalan tikus, gang-gang kecil di belakang hotel Grand Hyatt, tetapi di sana pun padat tidak bergerak, saya putar kembali masuk ke hotel Grand Hyatt dan keluar melewati bundaran HI, kemudian menerobos jalur three in one, di jalan Thamrin yang tidak di jaga polisi.

Karena istri saya terus panik dan waktu menunjukkan pukul 18.45 sementara kami masih di jalan Pramuka, saya katakan kepada istri, “Kamu tenang saja, berdoalah agar kita tidak terjebak macet, atau membaca untuk menghilangkan kepanikan. Maklum dia baru pertama kali akan melayani di acara vesper selama kami bergereja di tempat ini. Saya terus memacu kendaraan dengan cepat, dengan pertolongan Tuhan, DIA masih ijinkan kami untuk dapat terlibat dalam pelayanan kebaktian vesper tersebut dan menolong kami untuk dapat melewati jalan-jalan yang padat itu. Kami pun tiba di gereja dengan selamat pada pukul 19.35. Puji Tuhan, kepanikan dan kepadatan lalu lintas pun sirna ketika kami menyebut nama Tuhan dan meminta pertolongan-Nya. Undanglah selalu Roh Kudus dan selalu berkomunikasi dengan Tuhan, Ia akan selalu beserta dengan kita. Mari kita belajar untuk mempersiapkan segala sesuatu lebih matang teristimewa dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, sehingga membawa berkat dan sukacita bagi kita serta puji dan hormat bagi nama Tuhan. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Friday, October 14, 2011

Gerbang Tol

Matius 25:10, “Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.”

Seperti biasa saya selalu menjemput anak-anak kami untuk pulang bersama-sama. Kami bertiga, saya dan dua anak perempuan selalu bercerita dan tertawa bersama-sama sambil makan makanan kecil atau roti burger, yang sering mereka minta ketika perjalanan pulang sekolah. Suatu kali setelah kami pulang, anak kami meminta untuk dibelikan burger dan kami pun mampir di salah satu gerai makanan siap saji untuk membeli nasi, roti burger dan kentang. Setelah itu kami pulang dan memasuki jalan tol Cikampek. Beberapa kilometer menjelang pintu keluar tol, saya sudah mulai bersiap untuk menyiapkan uang untuk membayar tiket. Tak disangka-sangka uang di dompet saya tidak ada dan kosong, habis setelah kami pakai untuk membeli makanan tadi. Sesaat setelah kami membeli makanan itu saya telah diingatkan mampir di ATM, mengambil uang untuk membayar tiket tol nanti.

Karena sudah melewati pintu keluar tol Jatibening dan terlanjur masuk ke arah jalan tol sambung dari Cikampek menuju ke jalur tol lingkar luar JORR, yang berarti saya harus membayar sekitar Rp.10.500,- Sementara saya sudah berada kurang lebih dua puluh meter di depan gerbang bayar tol, uang saya hanya tinggal beberapa lembar ribuan. Saya kemudian menepi, menyalakan lampu hazard dan parkir sebentar untuk mencari-cari uang receh dan koin-koin yang biasanya ada di dalam mobil dan dashboard. Terbayang dalam benak saya bagaimana jika saya tidak bisa membayar sejumah uang itu tetapi mau tidak mau karena terlanjur masuk harus tetap melewati jalur itu. Apa kata penjaga pintu tol nanti jika uangnya kurang? tanya saya dalam hati. Sementara anak-anak saya tertidur pulas, saya mencoba sendiri mengatasi keadaan yang serba membingungkan, saya terdiam sesaat dan berpikir apa yang harus saya lakukan. Kemudian saya berdoa memohon petunjuk dari Tuhan. Setelah selesai berdoa, saya mencari lagi uang itu barangkali masih ada. Beberapa menit saya parkir di sana, petugas tol sudah terlihat akan menghampiri saya. Sejurus kemudian, saya teringat di dalam tas saya ada sebuah dompet kecil tempat kartu nama, biasanya saya juga sering selipkan uang di situ. Saya pun dengan cepat membongkar tas saya dan mencari dompet itu.

Tuhan telah memberikan saya kebijaksanaan dan akal budi, di saat-saat yang tepat, saya masih bisa berpikir dengan cepat untuk melakukan sesuatu. Saya temukan uang itu dan akhirnya kami bisa melewati gerbang tol JORR sebelum petugas tol sampai di tempat saya parkir yang bertanda “S” dicoret. Kiranya pengalaman ini membuat kita lebih mawas diri dan lebih bersiap sedia ketika saatnya Yesus katakan waktunya sudah habis dan pintu gerbang kemuliaan akan segera ditutup. Kita didapati bisa masuk dalam gerbang itu bersama-sama. Tuhan kiranya menolong kita semua. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Thursday, October 13, 2011

BUKA PINTU DONG

Matius 25:13, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”



Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB malam hari ketika kami tiba di pintu gerbang rumah kami. Istri saya turun terlebih dahulu dari mobil dan segera menuju ke pintu bagian depan rumah kami sementara saya memarkir mobil dan menurunkan barang-barang yang kami ada di dalam mobil. “Yah, kok kuncinya gak bisa diputar Papi? Tanya istriku sambil berusaha membuka pintu rumah. “Masa sih Mami? Siapa yang ngegantungin kunci dari dalam rumah?” tanyaku kembali kepada istri sambil merasa heran karna tidak pernah hal seperti ini terjadi waktu-waktu yang lalu. Entah mengapa kami juga memerintahkan anak kami yang tertua untuk mengunci pintu rumah yang ada disamping kiri rumah kami ketika kami ke luar rumah.

“Kakak! Adik! Buka pintu dong!” saya berusaha berteriak dengan suara yang keras pada malam itu. Berkali-kali saya dan istri meneriakkan teriakan yang sama dari beberapa bagian rumah kami dengan harapan anak kami mendengar teriakan itu, bangun dan membukakan pintu bagi kami. Demikian kerasnya teriakan kami sehingga tiba-tiba kami mendengar suara, “Kenapa Kak, apa anak-anak gak denger juga ya?”. Ternyata adik ipar saya sampai terbangun bersama suaminya dan berusaha meneriakkan hal yang sama agar anak-anak kami bangun. Berbagai upaya kami lakukan sambil menggedor-gedor pintu ternyata usaha kami tidak berhasil juga. “Coba Papi telepon ke rumah, kali aja mereka dengar!” istri saya berkata. Saya pun mencobanya namun tidak berhasil juga.

Atas pertolongan adik ipar saya, saya pun memanjat atap garasi rumah kami yang tepat berada di depan kamar anak-anak kami. Saya melihat kedua anak kami tertidur dengan pulasnya tanpa mendengar teriakan bahkan ketukan yang sekeras apapun bunyinya. Kaca jendela kamar mereka pun saya gedur-gedur dengan keras sambil berteriak “Kakak! Adik! Buka pintu!” Tiba-tiba anak bungsu kami pun mendengar suara saya, ia pun segera terbangun dan beranjak dari tempat tidur serta membukakan pintu dan kembali ke kamar untuk tidur kembali. Saya dan istri pun akhirnya berhasil masuk ke rumah pada malam itu. Terbayang oleh saya ayat roti pagi hari ini. Bagaimana jadinya keadaan kita kelak, ketika Anak Manusia itu datang dan mata rohani kita tertidur lelap, maka kita sudah pasti akan tertinggal dan tidak dapat menyambut kedatangan-Nya untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Bukalah mata rohani kita sejak saat ini, bersiaplah untuk kedatangan-Nya, sebab kita tidak tahu akan hari maupun saatnya. Semoga kita dapat mengikuti reuni besar di surga kelak.Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini:

Wednesday, October 12, 2011

BELI NGGAK YA?


Titus 2:2,3,6 & 7, “Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik. Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.”

Kegiatan saya setiap harinya menjemput anak-anak kami dari sekolah, mengantarkan mereka ke tempat les dan keperluan lain yang anak-anak kami perlukan. Hari-hari berlalu, saya banyak habiskan waktu bersama dengan anak-anak, karena tugas utama saya saat ini sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaan kantor telah saya tinggalkan sejak dua belas tahun yang lalu ketika Allah mengijinkan saya melahirkan anak untuk kami rawat di dalam rumah tangga kami. Ada banyak hal-hal menarik dan lucu sering saya dapatkan ketika berjalan bersama anak-anak dan mendengarkan kedua anak kami saling mengobrol dan membicarakan beberapa topik yang mereka anggap menarik untuk dibicarakan.

Sore itu saya harus mengantarkan kedua anak kami mengikuti kegiatan ekstra kurikuler di lembaga pendidikan lain di luar sekolah. Kami berada di ruang tamu sambil menonton televisi sementara jam kursus belum tiba. Tiba-tiba muncul iklan promosi Blackberry Dakota, jenis telepon genggam generasi yang lebih unggul dari sebelumnya. Saya dan anak-anak serius memperhatikan iklan tersebut dengan kemasan promosi yang begitu menarik perhatian setiap penonton. “Wah, tumben ya Papi belum beli Blackberry Dakota. Biasanya setiap ada jenis BB atau handphone lain yang baru, pasti Papi udah langsung beli”, komentar anak tertua kami. “Kakak, jangan sampai Papi ngeliat iklan ini, ntar dia pasti gak bisa nahan selera untuk gak beli”, celetuk anak kami yang bungsu menyambung komentar kakaknya. Mereka saling ngobrol membicarakan suami saya, Papi mereka setelah iklan berlalu.

Lucu dan merasa geli saya mendengar komentar kedua anak kami. Ingin rasanya tertawa terbahak mengingat komentar mereka. Tanpa kita sadari ternyata anak-anak kita memperhatikan tingkah laku kita sebagai orang tua, entah itu perkataan maupun gaya hidup yang muncul ke permukaan dan terlihat oleh anak-anak kita. Syukur kepada Allah, atas nasihatnya bagi saudara dan saya pada pagi ini melalui ayat roti pagi hari ini. Baik kita sebagai ayah atau suami, ibu atau istri bahkan sebagai anak-anak, Allah meminta kita untuk menjadi teladan dalam hal-hal kebaikan gantinya bahan cemoohan orang lain karna kelakuan kita yang tidak terpuji. Banyak hal yang harus kita perhatikan tentang bagaimana kita harus, berbicara dan bertindak lewat ayat pagi ini. Kiranya Roh Kudus menolong kita memantulkan gaya hidup yang baik dalam segala hal menjadi teladan yang hidup bagi orang lain dan membawa puji dan hormat bagi nama Tuhan.. Amin

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Tuesday, October 11, 2011

BUKA PINTU DONG

Matius 25:13, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”


Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB malam hari ketika kami tiba di pintu gerbang rumah kami. Istri saya turun terlebih dahulu dari mobil dan segera menuju ke pintu bagian depan rumah kami sementara saya memarkir mobil dan menurunkan barang-barang yang kami ada di dalam mobil. “Yah, kok kuncinya gak bisa diputar Papi? Tanya istriku sambil berusaha membuka pintu rumah. “Masa sih Mami? Siapa yang ngegantungin kunci dari dalam rumah?” tanyaku kembali kepada istri sambil merasa heran karna tidak pernah hal seperti ini terjadi waktu-waktu yang lalu. Entah mengapa kami juga memerintahkan anak kami yang tertua untuk mengunci pintu rumah yang ada disamping kiri rumah kami ketika kami ke luar rumah.

“Kakak! Adik! Buka pintu dong!” saya berusaha berteriak dengan suara yang keras pada malam itu. Berkali-kali saya dan istri meneriakkan teriakan yang sama dari beberapa bagian rumah kami dengan harapan anak kami mendengar teriakan itu, bangun dan membukakan pintu bagi kami. Demikian kerasnya teriakan kami sehingga tiba-tiba kami mendengar suara, “Kenapa Kak, apa anak-anak gak denger juga ya?”. Ternyata adik ipar saya sampai terbangun bersama suaminya dan berusaha meneriakkan hal yang sama agar anak-anak kami bangun. Berbagai upaya kami lakukan sambil menggedor-gedor pintu ternyata usaha kami tidak berhasil juga. “Coba Papi telepon ke rumah, kali aja mereka dengar!” istri saya berkata. Saya pun mencobanya namun tidak berhasil juga.

Atas pertolongan adik ipar saya, saya pun memanjat atap garasi rumah kami yang tepat berada di depan kamar anak-anak kami. Saya melihat kedua anak kami tertidur dengan pulasnya tanpa mendengar teriakan bahkan ketukan yang sekeras apapun bunyinya. Kaca jendela kamar mereka pun saya gedur-gedur dengan keras sambil berteriak “Kakak! Adik! Buka pintu!” Tiba-tiba anak bungsu kami pun mendengar suara saya, ia pun segera terbangun dan beranjak dari tempat tidur serta membukakan pintu dan kembali ke kamar untuk tidur kembali. Saya dan istri pun akhirnya berhasil masuk ke rumah pada malam itu. Terbayang oleh saya ayat roti pagi hari ini. Bagaimana jadinya keadaan kita kelak, ketika Anak Manusia itu datang dan mata rohani kita tertidur lelap, maka kita sudah pasti akan tertinggal dan tidak dapat menyambut kedatangan-Nya untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Bukalah mata rohani kita sejak saat ini, bersiaplah untuk kedatangan-Nya, sebab kita tidak tahu akan hari maupun saatnya. Semoga kita dapat mengikuti reuni besar di surga kelak. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol :”Tell A Friend” dibawah ini:

Monday, October 10, 2011

YANG TERBAIK

Bilangan 18:29, “Dari segala yang diserahkan kepadamu, yakni dari segala yang terbaik di antaranya, haruslah kamu mempersempahkan seluruh persembahan khusus kepada Tuhan, sebagai bagian kudus daripadanya.”


Roda mobil yang kami tumpangi mulai menggelinding secara perlahan. Kami telah memasuki daerah wisata pantai. “Kita mulai mensurvey cottage dari sejak awal ini aja ya, kali aja kita ketemu dengan villa atau cottage yang bagus dan harganya masih masuk akal. Kalo bisa lebih deket ngapain kita terlalu jauh”, tanyaku kepada teman-teman seperjalanan. “Oh iya, gitu aja. Mulai aja dari awal-awal sini, asalkan pantainya bisa dipake untuk berenang, jangan karang semua”, jawab tim survey lainnya. Kami pun mulai berhenti dari satu cottage ke cottage yang lain hingga siang hari sekitar pukul 1 WIB.

“Kami lagi survey untuk acara kebersamaan dari gereja. Apa kami bisa melihat ke dalam cottage yang lagi kosong? Kami bertanya kepada petugas. “Oh tentu bisa Pak, sebentar petugas kami akan mendampingi bapak-bapak dan ibu-ibu supaya bisa melihat ke dalam cottage seperti apa keadaannya”, jawab sang receptionist villa atau pun cottage yang kami kunjungi. Pertanyaan yang sama selalu kami tanyakan ketika berkunjung dari satu cottage ke cottage yang lain. Sudah tentu kami berusaha untuk mencari cottage atau villa yang terbaik untuk digunakan sebagai tempat berekreasi bersama-sama sahabat-sahabat seiman dari gereja, tentunya dengan harga yang masuk akal pula. Mulai dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur, luas tiap-tiap cottage, daya tampung dan banyak fasilitas lainnya yang kami tanyakan secara mendetail termasuk ruang konferensi yang dapat digunakan sebagai tempat perbaktian. Apapun yang kami kerjakan pada pagi hingga siang hari itu, adalah mencari tempat yang terbaik bagi kami dan sahabat-sahabat kami kelak. Jangan sampai apa yang kami sediakan tidak menyenangkan seluruh peserta gathering, sudah tentu kami tidak mau mereka kecewa.

Kita berusaha memilih yang terbaik untuk sahabat-sahabat kita, ketika kita bertugas untuk melayani mereka. Kita tidak mau sahabat-sahabat kita kecewa atas pelayanan kita, itu sebabnya kita mengerahkan segala upaya untuk mencari dan memberikan yang terbaik. Bangsa Israel diajarkan Allah untuk memberikan korban bakaran yang terbaik dari setiap yang kita miliki, maka Allah berkenan untuk persembahan korban itu. Sudahkah kita memberikan yang terbaik kepada Allah seperti kita berusaha memberikan yang terbaik kepada sesama manusia? Allah sudah memberikan yang terbaik bagi kita setiap hari. Tidak terbilang dan teruraikan segala perbuatan baik-Nya kepada kita. Adakah kita telah mempersiapkan persembahan terbaik kita kepada Allah atau kita memberikan persembahan ala kadarnya dan dengan perasaan terpaksa oleh karena kita tidak mendapat pujian langsung dari Allah seperti kita mendapatkan pujian langsung dari manusia pada saat kita melayani mereka? Ingatlah kebaikan Tuhan bagiku dan bagi dirimu setiap waktu, bersyukurlah kepada-Nya melalui persembahan terbaik yang anda telah siapkan. Selamat berkarya hari ini, Allah menjadi sahabat setiamu. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Rabu Malam, 5 Oktober 2011

Malam Permintaan Doa

Acara malam permintaan doa dimulai jam 7.30. Protokol oleh bapak Dikson Simanjuntak. Perbaktian malam ini dimulai dengan mengundang Roh suci hadir melalui berdoa dalam hati masing-masing. Jemaat menyanyikan lagu sion nomor 17 “ Tuhan Slalu Pimpin Aku “ sebagai lagu pembukaan dan dilanjutkan dengan doa oleh bapak Padan Simanjuntak . Malam permintaan doa adalah malam untuk kesaksian. Kesaksian pada malam ini dibawakan oleh bapak Dikson Simanjuntak, Pendeta Sonny Kapitan, bapak Darlen Simanjuntak dan ibu Adeline serta beberapa pokok doa yang akan dibawakan didalam doa yaitu, family of the month untuk bulan Oktober yaitu keluarga bapak Munas Tambunan dan permohonan lainnya yang dapat ditambahkan dikelompok doa masing-masing. Selanjutnya lagu pujian dengan judul “ Iman Orang Saleh kekal “ dinyanyikan oleh anak-anak dan remaja.

Renungan Firman Tuhan dibawakan oleh bapak Sontani Purnama yang diambil dari buku Alfa dan Omega Jilid 7 pasal 46 dengan judul “ Bebas“ dimana yang mengisahkan tentang pengalaman penginjilan Rasul Paulus di kota Roma. Banyak tantangan yang dihadapi oleh Paulus yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, juga banyak kejadian mengerikan yang dilakukan oleh kaisar Nero kepada orang-orang Kristen di kota Roma. Pencobaan dan kecemasan yang telah diderita oleh Paulus telah menyiksa kekuatan jasmaninya. Kelemahan karena usia yang lanjut, tetapi usahanya menjadi lebih giat, dan tidak ada batas dalam usahanya. Paulus kuat dalam imannya, cepat dalam tindakannya dalam menguatkan tangan-tangan orang percaya untuk dapat memenangkan jiwa-jiwa kepada Yesus. Dan himbauan pada malam ini yaitu, marilah kita tetap memelihara iman kita dan tetap teguh untuk menjadi saksi yang setia kepada Kristus.

Untuk meng-aminkan Firman Tuhan, jemaat menutup ibadah dengan nyanyian penutup nomor 59 “ Tuhan Pliharakan “ dan ditutup dengan doa oleh bapak Sontani Purnama. Kiranya Menjadi Berkat bagi Kita semua. Amin.

-Mei-

MELAYANI ALLAH DAN SESAMA


Laporan PP, Sabat 1 Oktober 2011


Dorongan Pelayanan Perorangan (PP) pada hari Sabat, 1 Oktober 2011 dibawakan oleh sdri. Deffie Prasetyo, anggota kelas SS Corner Stone.

Acara Sekolah Sabat kali ini begitu istimewa, karena diisi oleh anak-anak sehubungan dengan Sabat ke-13 dengan persembahan misi ke benua Afrika.

Deffie, mengawali dorongan PP dengan mengangkat kisah David Livingstone, misionaris berkebangsaan Inggris yang mengabdikan diri, melayani Tuhan dan sesama manusia di benua Afrika. David Livingstone menggunakan segenap hidupnya untuk menyampaikan injil, melayani sesama dan berjuang untuk menghapus perbudakan.

“Pada suatu kali, Dr. Livingstone baru tiba di suatu tempat di Afrika dan dikabarkan bahwa ada orang yang sakit, sebenarnya dia masih lelah, tapi tidak lama kemudian dia pergi untuk melihat orang sakit tersebut walaupun tidak tertolong”, kata Deffie. Hidupnya penuh dengan pelayanan.

Pada akhir dari dorongan PP, Deffie menyatakan bahwa melayani sesama manusia juga merupakan melayani Tuhan. Para hadirin, yakni anak-anak dan semua yang hadir diajak untuk menggunakan talenta, waktu dan kemampuan yang dimiliki untuk melayani Tuhan dan sesama manusia.

Tuhan kiranya memberkati Kita semua. Amin.

- JS -

Sunday, October 09, 2011

SALAH PILIH

Bilangan 22:32, “Berfirmanlah Malaikat Tuhan kepadanya: “Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandanganKu menuju kepada kebinasaan.”

Kami telah menghabiskan waktu selama satu setengah jam perjalanan dari Bekasi menuju ke lokasi wisata pantai yang terletak di Propinsi Banten. “Kami waktu itu keluar satu pintu tol sebelum pintu tol Cilegon Timur. Jalanannya lebih bagus dan langsung memotong perjalanan ke pantai lebih singkat dibanding jalur yang biasa”, cerita sang navigator mengenai pengalaman perjalanan mereka ke pantai yang sama beberapa bulan yang lalu. “Jadi gimana, kita coba lewat jalur itu aja pagi ini?” tanyaku kepada sang teman-teman seperjalanan. “Iya boleh-boleh aja kalo kita mau coba. Anyway masih pagi ini, mungkin gak macet. Kali aja memang lebih cepat”, tegas yang lain menanggapi pertanyaanku.

Stir mobil yang kami tumpangi pun berbelok satu pintu tol sebelum gerbang tol yang biasanya. Jalanan lurus dengan aspal yang bagus dan terlihat rapi ada dihadapan kami. Roda kendaraan mulai melaju memasuki jalan aspal yang terlihat bagus itu. Suasana pagi itu terlihat lebih hening, kendaraan yang melintas tidak sebanyak waktu siang hari. Kami masih menikmati perjalanan menyenangkan beberapa kilometer setelah keluar dari pintu tol. Namun tiba-tiba saya dan beberapa teman berkomentar, “Wow, jalanan di depan kok kayaknya banyakan jalan berlobangnya dari jalan ratanya. Kami terus melaju dan huuh bener-bener gila deh nih! Jalan atau jalan kok semuanya bergelombang, lobang di kanan kiri jalan, debu dimana-mana”, seruku mengomentari jalanan yang sangat buruk. Yang lain pun saling mengeluarkan komentarnya masing-masing menandakan kekesalan hati mereka atas kondisi jalan yang rusak parah.

Berharap lebih cepat tiba di lokasi, eeh ternyata menghabiskan waktu lebih lama dengan jarak tempuh kilometer yang lebih pendek dari jalur biasa. Kepalang tanggung untuk kembali ke tol dan keluar melalui jalur biasa, akhirnya kami meneruskan perjalanan lewat jalan yang rusak parah dan tiba di lokasi survey dengan waktu lebih lama. Semua pilihan memiliki resiko, berharap lebih baik ternyata lebih buruk dan sebaliknya berharap sesuatu lebih buruk sehingga tidak dikerjakan ternyata ada banyak keberuntungan dan hal-hal baik didalamnya. Berapa sering kita bertindak seperti Bileam, dikuasai oleh roh ketamakan, berharap mendapatkan materi yang banyak sehingga siap mengutuki bangsanya gantinya memberkati bangsa itu. Betapa sering kita tidak melihat Allah berdiri dihadapan kita menghadang rencana perbuatan yang hendak kita lakukan bahkan berbisik untuk menjauhkan tindakan itu, namun kita tidak peka dan mata kita dibutakan materi duniawi yang menanti kita. Pagi ini Allah mau kita selalu berunding dan bertanya kepada Allah untuk memastikan perjalanan, bahkan tindakan yang hendak kita lakukan tidak menuju kepada kebinasaan namun menuju kepada keberuntungan dan sukacita. Mari datang kepada-Nya melalui doa dan penyerahan hidup kita. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Saturday, October 08, 2011

SANG NAVIGATOR

1 Tawarikh 10:13-14, “Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap Tuhan, oleh karena ia tidak berpegang pada firman Tuhan, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk Tuhan. Sebab itu Tuhan membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai.”

Waktu menunjukkan kira-kira pukul tujuh kurang dua puluh menit di pagi hari. Rombongan berjumlah enam orang yang terdiri atas tiga orang pria dan tiga orang wanita telah berada di dalam mobil. Mobil pun mulai meluncur keluar dari salah satu kompleks perumahan elit di kawasan Bekasi dengan terlebih dahulu menyerahkan perjalanan kami dalam doa memohon perlindungan dari Tuhan. Situasi perjalanan di sekitar kompleks perumahan cukup dipadati dengan orang-orang yang naik sepeda, berjalan kaki dan bahkan para pedagang yang menggunakan kereta dorong karena hari itu hari libur, biasanya banyak orang berkesempatan berolah raga di sekitar wilayah tersebut.

“Mata kita harus awas terus nih untuk perhatiin speedometer mobil Pak. Kalo gak gitu ntar kita gak sadar aja kalo mobil udah meluncur dengan kecepatan 160km/jam. Bapak duduk di depan untuk ngeliat jalanan di sebelah kiri, aku dari belakang bapak yang ngeliatin speedometer”, demikian komentar salah seorang bapak yang duduk di kursi tengah bagian kiri. Ia berkomentar demikian hanya untuk memastikan sang supir konsentrasi dan awas terhadap kecepatan kendaraan yang ia kendarai. “Oh iya betul Pak, jangan sampe ntar kebablasan karna kita gak perhatiin, supir bawa mobil udah lari berapa ntar”, jawab sang navigator yang duduk di sebelah kiri supir. “Makanya kita gak boleh tidur nih sepanjang jalan”, balas sang bapak yang memiliki tiga anak tersebut.

Perjalanan kami lalui cukup menyenangkan, walaupun jumlah kendaraan yang meluncur di jalan tol pagi itu cukup ramai di luar dugaan kami mengingat hari libur dan masih pagi hari. Kendaraan meluncur sesekali dengan kecepatan 140km/jam dan saat beberapa kali supir hendak menyalib kendaraan lainnya baik dari sebelah kanan maupun dari sebelah kiri jalan, tiba-tiba aba-aba mengatakan, “Ups, jangan … jangan … ada truk.” Navigator juga sering mengatakan, “Iya sebelah kiri bebas, kita bisa masuk”, demikian dan seterusnya sang navigator yang duduk di sebelah kiri supir ikut mengawasi situasi perjalanan kami demi memastikan perjalanan kami selamat tiba di tujuan. Yesuslah, sang Navigator itu! Sesungguhnya IA selalu berada disamping kita untuk memberikan petunjuk arah dan bimbingan ke mana kita seharusnya melangkah, apa yang seharusnya kita lakukan. Ironisnya, kita sering mengabaikan petunjuk yang diberikan sang Navigator yang Baik Hati itu dan kita mendapat celaka. Dengarlah suara sang Navigator Ajaib kita itu, ijinkan DIA memberi arahan kepada tujuan hidup kita dan kita akan selamat hingga di tujuan, yakni Yerusalem Baru yang penuh kedamaian dan sukacita itu. Allah memeliharakan kita semua. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Friday, October 07, 2011

KETAKUTAN

Yohanes 12:15, “Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk diatas seekor anak keledai.”


Setiap minggu pagi di akhir bulan, saat kami bangun agak siang, sekitar pukul delapan pagi, dari kejauhan terdengar suara sirine yang semakin kuat dan kencang hingga kami mendengarnya dengan jelas. Sirine ini menandakan pengumuman untuk mengundang seluruh warga RW di lingkungan di mana kami tinggal. Diantaranya setiap dua atau tiga bulan sekali selalu ada panggilan untuk mambawa anak-anak mengikuti posyandu, yaitu pemberian suntikan vaksin dan vitamin bagi anak-anak balita. Anak ke-dua kami yang berusia 6 tahun selalu berlarian sambil menangis kemudian memeluk saya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya, ketika dia mendengar suara sirine tersebut.

“Ada apa Nak?” Tanya saya, ketika pertama kali kami mengetahuinya. Sambil menangis, perlahan dia menjawab: “Takut.” Takut kenapa? kami mencoba untuk menyelidikinya. Dia tetap menggelengkan kepalanya tanda tidak ingin menjelaskan selanjutnya. Sejak saat itu kami beranggapan bahwa dia takut karena mendengar suara sirine yang keras. Setiap kali di hari minggu pagi, meskipun dia dalam keadaan riang gembira bermain dengan kakak dan adiknya, ketika terdengar suara itu, dia pun langsung berlari ke arah saya dan memeluk saya dengan erat. Kami selalu tertawa bahkan mencoba manakut-nakutinya lagi ketika dia mulai tidak mendengar dan tidak menurut, dengan harapan dia akan berlari memeluk kami dengan erat kemudian selanjutnya mau menurut.

Setelah beberapa waktu berselang dan kejadian itu terus berulang, muncul rasa penasaran saya untuk mencari tahu apa penyebab yang sebenarnya. Dia tetap diam dan tidak mau menjelaskan kenapa seperti itu. Suatu kali saat terdengar lagi sirine itu, saya sudah bersiap untuk menerima dan memeluknya ketika ia berlari sambil menangis. Saya mencoba menenangkannya dan perlahan saya bicara dan bertanya padanya. Dia mulai mau menjelaskan dan mengatakan bahwa, dia takut bukan karena suara sirine yang keras dan kencang, akan tetapi panggilan sirine itu yang menandakan panggilan anak-anak untuk disuntik yang membuatnya takut. Jadi dia takut karena disuntik. Saya kemudian katakan, “Jangan takut karena ada Tuhan dan kami sebagai orang tua akan selalu menjagamu.” Saudara, semua kita tahu akan sesuatu yang “sakit”, dan apabila kita mengetahui sakit seperti apa yang akan kita alami kita bahkan akan merasa takut. Takut untuk mengahadapinya bahkan takut untuk merasakannya. Pagi ini kita diingatkan untuk tetap berpaut dan berpegang teguh kepada Tuhan, meskipun kita tahu akan sakit dan ketakutan yang sangat akan menghadang kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Wednesday, October 05, 2011

Karang Gigi

Yesaya 44:22, “Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!”


“S
elamat malam Pak, silahkan duduk”, sapaan sang dokter dengan ramah dan penuh senyum. “Selamat malam dan terima kasih Dokter”, jawabku dengan lembut sambil duduk. “Ada keluhan apa Pak, mungkin saya bisa bantu?” sang dokter bertanya. “Begini Dokter, selama ini saya terhitung tidak pernah mengalami karang gigi sampai seperti sekarang ini. Satu kali dalam setahun saya baru memeriksakan gigi ke Dokter untuk dibersihkan karang gigi, itu pun belum tentu ada. Tapi sekarang, saya heran kenapa sampai muncul karang gigi seperti sekarang ini. Saya menduga hal ini disebabkan karna saya sampai sekitar tiga bulan lalu selalu menggunakan obat kumur Listerine tiap pagi dan malam. Setelah saya membaca komposisi bahan obat kumur tumbuh karang gigi”, jelasku secara detail kepada Dokter.

“Silahkan duduk ke kursi itu ya Pak, nanti kita lihat seperti apa kondisi karang giginya bapak”, jawab sang Dokter dengan tenang. Dokter pun mulai memeriksa kondisi kesehatan gigi saya. Ia pun memulai tindakan membersihkan karang gigi. Sesekali saya teriak, “Aduh” sambil saya mengernyitkan dahi karena terasa sangat ngilu. Sang dokter pun dengan semangat membersihkan gigi saya dibantu oleh seorang perawat yang terlatih. Bahkan sang Dokter berkata, “Ini agak ngilu sedikit ya Pak, karena karangnya ada di daerah yang rawan ngilu”, sehingga saya dapat mempersiapkan diri lebih awal sambil menahan nafas panjang agak perasaan ngilu tidak terlalu menusuk saya rasakan. Cukup lama ia membersihkan gigi saya, karena memang sulit untuk dibersihkan model flek gigi yang menempel di gigi saya. Ia pun berusaha memberikan keterangan lebih lanjut dengan sangat jelas dan menganjurkan saya untuk kembali memeriksakan gigi saya kepadanya dua bulan yang akan datang, jelas sang Dokter gigi yang bergelar Profesor.

Betapa jahatnya dosa yang menempel dan bermukim di dalam diri kita. Tidak saja sulit untuk dibersihkan namun sulit bagi kita menghilangkan kebiasaan diri kita yang ada sekarang ini karena sudah terasa enak dan nyaman walaupun menimbulkan dosa bagi kita. Kalau sang Dokter cukup dibantu dengan beberapa peralatan dan tenaga serta pengalaman yang ia miliki untuk membersihkan karang gigi saya, Yesus harus mempersembahkan tubuh-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya untuk membersihkan karang dosa dalam tubuh kita. Bukankah hal itu sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa? Marilah kita kembali kepada Allah, sang Khalik dan Penebus kita, sebab Ia telah menghapus dosa dan pemberontakan kita seperti kabut diterbangkan angin bahkan seperti awan yang tertiup. Jaminan Allah melalui ayat roti pagi hari ini kiranya menguatkan saudara dan saya untuk tetap berdiri bersama dengan Kristus. Allah yang memberkati kita semua. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Tuesday, October 04, 2011

Perbuatan Baik Berbicara

1 Timotius 5:25, “Demikianpun perbuatan baik itu segera nyata dan kalau tidak demikian, ia tidak dapat terus tinggal tersembunyi.”


Gereja di mana kami tercatat sebagai anggota jemaat mengadakan Family Gathering. “Pak, bapak ikutan aja yuk sama kami. Kebetulan gereja kami akan mengadakan family gathering beberapa hari lagi. Enak kok acaranya Pak, pasti bapak akan banyak tertawa ceria karna acara yang disajikan menarik dan lucu!” ajak saya dan suami kepada Papa mertua saya yang datang dan tinggal bersama-sama dengan kami untuk beberapa waktu lamanya. Papa mertua saya pun mengangguk-anggukkan kepalanya menandakan setuju. Beberapa waktu sebelumnya, beliau pun sudah pernah ikut kami ke gereja, gereja di mana hari kebaktian diadakan berbeda dengan hari kebaktian gereja Papa mertua saya ikuti.

“Ada beberapa acara kebaktian yang saya tidak pernah dapatkan di tempat saya berbakti saat ini. Saya cukup merasa tertarik dan bermanfaat atas acara yang disajikan”, cetus Papa mertua saya kepada kami seusai mengikuti kebaktian dan family gathering yang baru saja dilaksanakan. Ia bercerita lebih banyak tentang kesan-kesan selama mengikuti acara bahkan acara seminar Rumah Tangga yang sangat bermanfaat. Waktu berlalu tanpa terasa, kami berlibur ke kampung halaman suami di salah satu wilayah yang terletak di daerah danau terbesar di dunia. Eeh, entah mengapa Papa mertua saya selalu mengingatkan kami agar tidak terlambat ke gereja bahkan ia pun turut bersama kami ke gereja pada kesempatan itu. Lambat laun Papa mertua saya terlihat berbeda sikapnya terhadap keluarga kami. Ia begitu sangat ramah dan selalu bersikap lemah lembut. Lebih mengherankan kami lagi bahwa ia ingin belajar Alkitab bersama kami lebih jauh. Namun sangat disayangkan, Papa mertua saya menghembuskan nafas yang terakhir beberapa hari sebelum waktu belajar Alkitab bersama dimulai.

“Action speaks louder than words”, pepatah kuno mengatakan. Biarlah Allah ditinggikan oleh banyak orang oleh karena mereka melihat hidup kita sebagai Alkitab yang hidup setiap hari. Layanilah sesama manusia dengan setulus hati dan tanpa pamrih sebagai bukti Firman Allah hidup dalam diri kita. Biarlah orang banyak tertarik untuk mengikut saudara dan saya dalam berbakti dan beriman hanya melalui perkataan kita yang memiliki buah yang selaras lewat perbuatan kita. Kiranya Allah memberkati saudara dan saya. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini:

Monday, October 03, 2011

Perhatian kepada Sang Nenek

Roma 12:21, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

Kalau ada orang yang paling menentang akan pernikahan kami, dialah Ibu mertua saya. Ia menganggap saya adalah penghalang bagi anaknya untuk kembali kepada imannya yang semula. Pada saat anak pertama kami berusia 4 tahun, Ibu mertua saya datang mengunjungi kami dan tinggal beberapa lama bersama kami. Suatu hari, karena kami berdua berkerja, Ibu mertua saya tinggal di rumah bersama anak kami, baby sitter dan seorang pembantu. Anak kami rupanya melihat wajah neneknya yang murung dan dia pun bertanya kepada neneknya, “Nenek sakit ya?” Tanpa menungggu jawaban anak kami mengambil tikar dan bantal lalu dibentangkan di depan TV. Ia pun meminta neneknya tidur di tikar yang sudah dia sediakan lalu TV dinyalakan. Ia kemudian bertanya lagi kepada neneknya, “Nenek pusing ya”, lalu dia tempelkan salonpas pada kedua pelipis neneknya. Ia pun kembali berkata kepada Neneknya: “Nek, saya urut ya kakinya.” Anak kami kemudian mengurut kaki Neneknya.

Sepulang dari kerja, mertua saya bercerita kepada suami saya. Suami saya senyum-senyum sambil memeluk anak kami. Pembantu dan baby sitter pun menceritakan hal yang sama kepada saya. Saya senang dan bangga melihat anak yang masih kecil bisa melayani Neneknya dengan baik. Beberapa waktu kemudian, Ibu mertua saya mengundang anak-anaknya datang ke rumah kami untuk tutup dan buka tahun. Dalam acara keluarga itu, Ibu mertua saya membuat satu pernyataan yang sama sekali tidak kami duga. Dia memberikan kesaksian kepada anak-anaknya, bagaimana anak kami yang pertama ini, yakni cucunya yang telah memperlakukan dia dengan sangat baik walaupun keluarga kami memiliki iman yang berbeda dengan Ibu mertua saya. “Saya belum pernah mendapatkan perhatian yang sedemikian baik dari cucu-cucunya yang lain yang sebenarnya saya sangat harapkan”, komentar Ibu mertua saya pada kesempatan itu. Bahkan yang lebih mengejutkan kami, Ibu mertua saya mengatakan: “Kalian semua tidak boleh marah atau cemburu jika dia memberikan warisan yang lebih baik dan lebih banyak kepada anak tertua kami.”

Saudara yang kekasih, kami sangat bahagia malam itu bukan karena harta yang dijanjikan bagi anak kami, tapi kami bangga memiliki seorang anak yang sudah bisa melayani orang lain dengan memberikan kebaikan hatinya dengan tulus, tanpa kita sadari dia sudah mengabarkan kasih Allah melalui perilakunya. Suatu bukti, jika kita menanam kebaikan maka kita akan menuai kebaikan. Doa kami bagi anak-anak kami agar mereka menjadi pelayan-pelayan Tuhan di dalam kehidupannya dengan memberikan materi, waktu dan talenta yang mereka telah terima dari Tuhan Allah kepada orang-orang yang membutuhkan. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Saturday, October 01, 2011

Ketika Kesabaran Kita Dituntut

Galatia 5:22-23, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Saya dan suami datang dari latar belakang yang sangat berbeda, khususnya perihal iman kepercayaan. Saya lahir dan dibesarkan di kota, sedangkan suami saya dilahirkan dan dibesarkan di kampung. Namun, kami menikah dan membentuk bahtera rumah tangga dalam satu iman dan kepercayaan yakni sesuai dengan iman kepercayaan yang saya miliki sejak semula. “Kamu yang meminta suami kamu untuk mengikuti kepercayaan kamu, ya?” Banyak teman-teman saya mengira bahwa sayalah yang memaksa suami saya untuk mengikuti kepercayaan saya. “Oh, bukan begitu. Enam tahun sebelum suami saya mengenal saya, dia telah mengenal kepercayaan yang saya anut ini bahkan ketika ia masih di bangku kuliah, jadi bukan karena mau menikah dengan saya”, jawabku kepada teman-temanku setiap kali pertanyaan yang sama muncul dalam kejadian yang berbeda.

Satu hal yang membahagiakan saya adalah suami saya turut aktif dalam pelayanan gereja dan organisasi gereja yang saya anut. Setelah sekian lamanya menekuni pelayanan di organisasi gereja yang kami yakini, satu hal yang kami hadapi, sangatlah diluar dugaan, kelihatannya ada orang-orang yang tidak senang akan keberadaan kami, lebih jauh lagi mereka menuduh pelayanan kami hanya semata-mata untuk menebar pesona dan supaya terpilih menjadi pengurus. Bahkan orang yang seharusnya menjadi teladan dalam Jemaat, melakukan pelecehan dengan kata-kata penghinaan tanpa jelas apa penyebabnya kepada kami. Dia juga mengatakan bahwa suami saya bodoh. Hati saya begitu marah melihat suami saya diperlakukan seperti itu, namun saya mencoba untuk menahan agar emosi saya tidak terpancing.

Namun saya melihat suami saya tenang-tenang saja bahkan sedikit tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Pulang dari gereja saya bertanya kepada suami kenapa ia tenang saja dan tidak menanggapi orang itu. Lalu dia menjawab saya: “Jika saya lawan dia, berarti saya sama dengan dia.” Saya berpikir betul juga. Kata-kata itu saya renungkan dalam hati saya dan muncul pertanyaan: Mengapa saya yang lahir dan mengenal kebenaran yang lebih dahulu saya yakini dibanding suami saya, begitu sulit mencegah emosi? Apakah memang iman orang yang mengenal kebenaran karena mereka yang mencari sendiri kebenaran itu lebih kuat? Apapun jawabannya, sesungguhnya siapa pun yang sudah mengenal kebenaran, haruslah memiliki buah Roh itu. Tuhan kiranya Memberkati Kita semua. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :