Monday, June 22, 2009

Perbedaan Itu Indah

1 Korintus 12 : 20 “Memang ada banyak anggota, tetapi satu tubuh.”







Berjalan-jalan di malam Minggu merupakan kegiatan sederhana yang kami nikmati sekeluarga di malam hari. Keliling-keliling di kota, itulah istilah yang kami berikan untuk aktifitas ini. Melihat lampu yang bercahaya disertai terpaan angin malam yang sejuk menciptakan kenikmatan tersendiri, yang penting bisa menghabiskan waktu bersama-sama. Ketika kami tanyakan kepada ketiga anak kami apa sebetulnya hal yang paling membuat mereka senang jalan-jalan di malam hari, jawaban mereka berbeda-beda, walaupun hanya sederhana. “Enak ma…, aku bisa lihat pemandangan malam sampai akhirnya aku bisa ketiduran…”, kata si kecil. “Itu loh ma, kalau malam kita bisa melihat aktifitas yang berbeda-beda. Ada pengamen, waria dan pengemis, kasihan ya ma… Tapi ada juga diantara mereka yang hanya berpura-pura.”, kata anak kami yang kedua. “Oh ya…kok abang bisa tau…?”, tanya saya heran. “Waktu itu di televisi dibahas mam.., katanya mereka itu sebenarnya ada juga yang punya rumah, sementara yang kelihatannya sakit ternyata enggak sakit kok…!”, jawabnya polos. ”Wah kok begitu ya…, tapi sebetulnya memang ada kok bang yang betul-betul sakit.”, jawab saya kepadanya. “Kalau aku sih paling suka jalan-jalan seperti ini karena bisa menikmati jajanan malam sambil dengar lagu di mobil, apalagi ada angin sepoi-sepoi.”, jawab si sulung. Kami hanya tersenyum saja mendengar pendapat mereka yang beragam.

Pembicaraan pun berpindah kepada cita-cita mereka bila sudah besar nanti. “Kakak nanti mau jadi dokter ya kalau sudah besar ?”, tanya saya pada si sulung. “Aku enggak mau mama, aku mau jadi psikolog saja…!.”, jawabnya spontan. “Tapi mama kan ingin kalau sudah tua nanti anaknya saja yang periksa kesehatan mama.”, kata saya lagi. “Tapi aku enggak mau ma, si abang saja ma…”, jawabnya lagi. “Tapi aku kan ingin jadi pemain sepak bola ma…bisa jadi terkenal nanti, pokoknya seru deh hahaha...”, jawabnya disertai tawa berderai membayangkan dirinya menjadi seperti pemain bola yang terkenal. ”Jadi siapa dong yang mau jadi dokter”, tanya saya lagi. “Ya sudah deh…, adek saja yang jadi dokter. Tapi masih lama, enggak apa-apa ya mam…”, jawab si bungsu berusaha menyenangkan saya. “Oh…, akhirnya ada juga anak papa yang mau jadi dokter !”, suara papanya memecah tawa kami malam itu.

Pagi ini ayat renungan kita mengatakan ada banyak anggota tetapi satu tubuh. Manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Tidak ada satu manusia yang sama di dunia ini. Bahkan orang yang dilahirkan kembar pun memiliki perbedaan. Setiap manusia punya perbedaan dalam cara berpikir, pandangan dan keinginan. Pendapat satu dengan yang lain bisa jadi berbeda. Perbedaan diciptakan oleh Tuhan untuk menjadikan dunia lebih indah, penuh dengan warna-warni. Walaupun berbeda, kita adalah satu di dalam Yesus. Kita adalah anggota tubuh Yesus dan Yesus sebagai pemimpin kita. Yesus dapat menggunakan perbedaan yang kita miliki untuk mencapai satu tujuan, yaitu untuk memuliakan namaNya. Mari kita memandang perbedaan sebagai satu keindahan yang Tuhan ciptakan dan kita satukan semuanya untuk melayani Dia.

Have a nice day !

Gunakan tombol "Tell A Friend" untuk membagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda.

Selamat Datang Jof !

Keluarga Gilbert dan Stefany Sinaga mendapat berkat sukacita dari Tuhan dengan lahirnya anak mereka yang ketiga, putra pertama, pada hari Kamis 18 Juni, 2009, pada pukul 11:55 pagi. Operasi caesar berjalan dengan baik di Rumah Sakit Advent Bandung, dan seorang bayi yang gagah lahir dengan berat 3,9 kg dan panjang 51 cm. "Kita memberi nama putra kami ini Geofrey Jonathan Haholongan Sinaga, dengan nama panggilan Jof", kata Bapak Gilbert dengan gembira.

Jemaat Kemang Pratama turut bergembira dengan kehadiran Jof di tengah-tengah keluarga Gilbert Sinaga. Kita doakan agar Jof dapat terus bertumbuh dengan sehat dan menjadi berkat sukacita bagi keluarga. Untuk Ibu Stefany, semoga cepat pulih dan dapat pulang kembali ke rumah dengan sehat bersama Jof. Selamat kepada Gilbert dan Stefany untuk kehadiran putra pertama ini. Untuk Vicky dan Kaila, selamat ya untuk kehadiran adik Jof di tengah-tengah kalian. Selamat datang Jof di jemaat Kemang Pratama !

Hari Perhentian

Hari Jumat 19 Juni 2009, jam menunjukkan pukul 19:30 ketika Ibu Tina Wira membuka perbaktian Vesper dengan mengundang jemaat untuk menyanyikan lagu sion nomor 238 “Oh Hari Perhentian”. Setelah itu, disambut dengan doa pembukaan yang dilayangkan oleh Bapak Joko Prasetyo. Lagu pujian pada kebaktian ini dibawakan oleh keluarga Jamesson Silitonga. Pembicara pada kebaktian ini adalah Bapak Munas Tambunan yang mengambil judul “Hari Perhentian”. Bapak Munas memulai renungannya dengan menanyakan “Apa yang kita lakukan pada hari Sabat dan apakah perbedaannya pada waktu dulu dengan sekarang”. Pembicara menyoroti bagaimana kebanyakan orang kristen pada saat ini kehilangan makna dari menyucikan hari Sabat, Anak mudapun telah kehilangan komunikasi dengan Tuhan. Saat ini, TV, radio, tape, Game, bahkan HP telah membuat banyak anak muda tergoda untuk mengalihkan perhatian mereka dari Tuhan.

Pada waktu Yesus dan murid-muridnya melewati ladang gandung, dan murid-muridnya memetik bulir gandum dan memakannya, maka orang Farisi menegur mereka. Menurut peraturan hari Sabat, orang Jahudi dilarang melakukan kegiatan tersebut. Orang Farisi itu terpaku pada peraturan mengenai Hari Sabat, sehingga apabila ada yang melanggar, mereka tinggal mengutip peraturan tersebut. Disini, Yesus tidak berdebat dengan orang Farisi itu, namun mengajukan bukti-bukti dan pertanyaan yang dapat mematahkan argumentasi orang Farisi tentang peraturan hari Sabat. Yesus ingin mengembalikan fungsi hari Sabat. Hari Sabat bukanlah suatu beban, itu adalah hari kenikmatan. Enam hari lamanya Tuhan menciptakan dunia dan isinya, dan pada hari yang ketujuh, Tuhan beristirahat.

Jadi hari Sabat itu merupakan hari yang istimewa. Hari perhentian, dimana kita boleh berhenti untuk beristirahat dari segala kegiatan keduniawian dan dapat memusatkan pikiran dan kegiatan kita kepada hal-hal rohaniah. Dalam kenyataannya, ada kalanya, kita terpaksa melakukan sesuatu kegiatan yang tidak berhubungan dengan kerohanian. Misalnya, pada hari Sabat, kita dengan terpaksa harus mengisi bahan bakar, ataupun membeli makanan. Sekali lagi, ini adalah hal-hal yang mendesak. Sebenarnya, kita dapat mempersiapkan hal tersebut sebelum tiba pada hari Sabat. Jadi, bilamana hal itu sudah menjadi kebiasaan, dan tidak ada rasa bersalah, maka itulah yang semestinya kita perbaiki dalam kehidupan kita. Kalau kita mempelajari Alkitab, ada hal-hal yang masih dapat ditolelir mengenai hari Sabat ini. Salah satunya, cerita di atas mengenai murid-murid Yesus yang memetik bulir gandum pada hari Sabat. Yesus tidak kaku dalam menerapkan hari Sabat. Namun, hal-hal ini boleh terjadi hanya dalam keadaan mendesak dan bukan menjadi kebiasaan.

Namun, ada juga beberapa orang yang menganggap hari Sabat adalah hari yang melelahkan. Hari yang padat dengan kegiatan-kegiatan gereja yang dapat membuat stres. Sebagian lagi menganggap hari kenikmatan, sehingga dapat santai dan bangun lebih siang Semua anggapan-anggapan ini dapat menghalangi kita untuk menyembah Tuhan. Kita harus membuat keputusan untuk berkomitmen kepada Yesus, memelihara hati dan pikiran kita. Di setiap komunitas dimana kita berada, biarlah kita dapat memancarkan kasih kasih karunia kepada sekitar kita. Biarlah kita tetap setia untuk memelihara hari Sabat dan menyucikannya.

Kebaktian Vesper ini diakhiri dengan menyanyikan lagu “Sabat, Hari Perhentian” dari Lagu Sion nomor 241. Dan seperti biasanya, setelah doa tutup dilayangkan oleh Bapak Munas Tambunan, jemaat berkumpul di halaman Gereja untuk membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu :God is so Good”. Setelah itu mengucapkan “Selamat sabat! Selamat sabat! Selamat sabat! Tuhan memberkati! Halleluyah! Amin!”.

Sunday, June 21, 2009

Peganglah Aku !

Mazmur 73 : 23 “Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.”





Setiap orang tentunya ingin sekali mengalami bagaimana rasanya jatuh cinta. Walaupun cinta terkadang tidak tahu kapan datangnya tetapi seringkali cinta itu bertumbuh karena pandangan pertama dimana seseorang terpikat karena penampilan fisiknya dan biasanya sulit sekali untuk dipadamkan. Seorang teman kuliah saya dulu memiliki seorang anak wanita. Secara fisik anak gadisnya terlihat sempurna, karena selain cantik dia juga berpenampilan menarik dan mempunyai kepribadian yang sederhana. Entah kenapa tiba-tiba saja anak gadisnya ini berubah dalam tingkah lakunya. “Kenapa ya belakangan ini anakku menjadi seorang yang tidak suka menurut, padahal selama ini dia tidak pernah memiliki sikap seperti itu”, katanya mencurahkan isi hatinya pada saya.”Pasti ada penyebab yang membuat dia bersikap seperti itu”, jawab saya padanya. “Dia sedang jatuh cinta dengan seorang pemuda yang saya sudah ketahui adalah seorang pecandu narkoba!”, suaranya meninggi.

“Lalu apa nasehat yang sudah kau katakan padanya?”, tanya saya lagi, “Aku sudah mengatakan apa akibatnya nanti dan aku juga sudah melarang dia untuk tidak meneruskan hubungan mereka, tetapi dia tetap saja pada pendiriannya..!”, jawabnya putus asa. Banyak usaha yang teman saya lakukan setelah itu, antara lain dengan memindahkan anaknya ke kota lain sampai dengan mengawal kemanapun dia pergi. Tetapi cinta ternyata mengalahkan segalanya mereka tetap saja dapat berhubungan malahan hubungan mereka menjadi semakin erat. Sampai akhirnya mereka tidak bisa lagi dihalangi untuk menikah. Setelah menikah, di usia anaknya yang baru 3 bulan suaminya meninggal dunia. Dokter mengatakan bahwa mereka semua terinveksi HIV! Penyesalan sering datang terlambat dan tidak berguna lagi. Anak perempuannya menyadari kesalahan yang sudah dia lakukan dan memohon ampun kepada Tuhan juga kepada kedua orangtua yang sudah dia kecewakan. Dia tidak menyerah begitu saja dengan apa yang ia alami. Ia percaya bahwa Tuhan akan menolong dia untuk bangkit lagi dan menjalani hidup dengan penuh semangat. Dalam sisa hidupnya dia berserah sepenuhnya kepada Tuhan dan berjanji untuk mengatur langkah hidupnya agar setia di dalam kebenaran Tuhan yang ia kenal sejak kecil.

Ayat renungan kita pada hari ini mengatakan bahwa Tuhan ada di sisi kita dan memegang tangan kita. Di dalam hidup ini boleh jadi ada keputusan yang salah yang sudah kita lakukan. Karena semua telah terjadi, akibat dari keputusan yang salah tidak dapat dihindarkan dan menyesali semua itu tidaklah berguna. Kesalahan mengajarkan kita bahwa kita adalah manusia yang lemah, yang bisa salah dalam bertindak. Kita bersyukur karena Yesus selalu setia di samping kita dan senantiasa memegang tangan kita dengan kasih. Kasih Yesus memudahkan kita untuk mengerti bahwa hidup ini akan kembali berjalan baik jika kita mau menyadari kelemahan kita dan mengakui kelalaian kita kepadaNya. Mari kita berpegang erat tangan Tuhan setiap hari. Kita hadapi kehidupan di masa depan dengan penuh sukacita bersama Tuhan.

Have a nice holiday !

Pernikahan Dolvi dan Yudith


Hari Minggu 21 Juni 2009 ini adalah hari yang berbahagia bagi Yudith Puspita Sari dan Dolvi Ramses Tambunan. Mereka berdua akan diberkati dalam upacara pernikahan kudus di GMAHK Kemang Pratama pada pukul 14:00. Pendeta R.Y. Hutauruk akan memberkati kedua mempelai. Yudith adalah anak dari Bapak Rustanto A. Widodo dan Ibu Etty Sukaryati. Dan Dolvi adalah putra dari Keluarga Rollo S. Tambunan.

Gereja Kemang Pratama mengucapkan "Selamat Menempuh Hidup Baru" kepada Dolvi dan Yudith. Semoga berbahagia selalu ! Tuhan memberkati.


Saturday, June 20, 2009

Seperti Sebatang Pohon

Mazmur 1 : 3a “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya”





Tahun lalu kami bersama rombongan ibu-ibu melakukan rekreasi ke Taman Bunga Nusantara. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan, apalagi udaranya yang sejuk membuat kami semua betul-betul menikmati perjalanan ke tempat ini. “Alangkah indahnya bunga-bunga ini ya !”, kata salah seorang peserta dengan wajah terpesona, “Kepenatan yang kita rasakan selama melakukan aktifitas sebagai ibu sejenak terasa hilang melihat bunga yang beraneka warna ini, betul kan teman-teman?”, kata teman saya yang satu lagi. Semua mengangguk setuju sambil tersenyum. “Kira-kira berapa usia pohon-pohon ini ya…? Kelihatannya usianya sudah tua, daun-daun yang rindang membuat udara semakin terasa sejuk loh…”, giliran saya yang berkomentar.

Kita sering melihat sebuah pohon tiba-tiba sudah besar tanpa kita melihat pertumbuhannya dari hari kehari. Padahal jika kita perhatikan pertumbuhannya begitu menakjubkan. Mulai dari biji yang ditebar, kemudian tumbuh tunas kecil. Dan tanpa kita sadari pohon tersebut bertumbuh besar dan terus membesar. “Ibu-ibu…, jika kita perhatikan pertumbuhan sebuah pohon mirip dengan pertumbuhan kerohanian kita. ”, saya berkata kepada ibu-ibu sambil beristirahat di bawah pohon yang rindang. “Betul, saya setuju sekali. Jika dipikir-pikir mulai dari penyemaian benih sampai menjadi pohon yang tinggi, kehidupan suatu pohon adalah satu proses tak berkesudahan dimana tunas itu menerima dan memberi, menyerap dan mengeluarkan” , jawab seorang ibu muda menyetujui dan memberikan pendapatnya.

Ayat renungan kita hari ini mengatakan seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air, akan menghasilkan buah pada musimnya. Pohon menerima menyerap makanan dan air setiap hari melalui akar-akarnya. Setelah itu, ia menghasilkan daun-daun dan buah yang banyak. Semua berjalan teratur dan seimbang, ada saat menerima, ada juga saat memberi hasil. Kehidupan kita seperti sebuah pohon. Firman Tuhan yang kita dapat setiap hari akan membuat kita bertumbuh dengan kuat. Firman itu akan menolong kita menghasilkan buah-buah kerohanian setiap hari. Buah-buah ini berupa kasih, perhatian dan menjadi saluran berkat kepada orang lain. Adalah suatu kesempatan yang ajaib bila kita dapat mengeluarkan daun yang rindang dan mengeluarkan buah-buah yang limpah pada musimnya. Mari kita mempelajari Firman Tuhan setiap hari dan meminta pertolongan Tuhan agar kita dapat bertumbuh, berbuah dan menjadi berkat bagi semua orang.

May we receive His wonderful blessings today !

Friday, June 19, 2009

Permata-Permata Tuhan

Mazmur 144 : 12 “Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya, dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru yang dipahat untuk bagunan istana.”







Dulu saat kami baru menikah, kami memiliki rencana dan impian yang baik untuk diwujudkan dalam kehidupan kami. “Marilah kita doakan agar harapan kita untuk segera memiliki keturunan bisa terwujud.”, kata saya kepada istri. “Jika Tuhan kehendaki semoga kita bisa memiliki 3 orang anak ya pa...”, jawab istri saya saat itu. “Ya…, semoga saja kita bisa mendapat seorang putra dan dua orang putri.”, kata saya lagi. Waktu pun berjalan dan doa kami didengar Tuhan, kami dapat memiliki 3 orang anak seperti yang kami harapkan. Kehidupan pun berjalan sebagaimana mestinya. Ketika itu usia putra kami baru 6 tahun, tetapi kesehatannya tidak begitu baik. Dia mengalami gangguan pernafasan. Ketika diperiksa secara lengkap, dokter menyarankan agar dilakukan tindakan terapi secara rutin selama dua tahun. Kami berdua sebetulnya sangat terpukul mendengar keterangan dokter. Kami sangat sedih melihat anak kami yang masih kecil tetapi harus menjalani rangkaian pengobatan yang lumayan panjang.

Karena letak klinik terapi cukup jauh, kami menemui kesulitan untuk membagi waktu, apalagi kami berdua sama-sama bekerja. “Bagaimana kalau saya berhenti bekerja saja pa…”, kata istri saya memohon persetujuan “Dengan mama bekerja saja keadaan keuangan kita masih pas-pasan, bagaimana nanti kalau mama berhenti bekerja…?”, jawab saya bingung. “Tapi kita tidak mungkin terus-terusan minta ijin dari kantor pa. Lagipula anak kita memerlukan perhatian khusus…, saya tidak tega membiarkan dia dirawat orang lain…”, suara istri saya terdengar menahan tangis. Akhirnya kami sepakat untuk mengambil keputusan walau terasa berat kami jalankan, Satu tahun pertama terapi dilakukan 2 kali seminggu, kami terus berdoa memohon kemurahan Tuhan. Doa kami di dengar-Nya. Ketika dievaluasi oleh dokter kondisi kesehatan anak kami membaik dengan cukup pesat. Dokter pun menganjurkan agar terapi dilakukan menjadi 1 kali seminggu. Melihat kemajuan kesehatan yang diperoleh anak kami saat itu, kami merasa apa yang kami telah putuskan adalah yang baik dan tidak perlu disesalkan. “Untunglah mama cepat mengambil keputusan waktu lalu, walau mama harus kehilangan karir dan penghasilan mama.”, kata saya memuji istri saya yang tersenyum tulus. ”Kalau papa tidak mendukungnya tentu saja keputusan itu tidak akan terjadi. Tuhan membuat papa menjadi percaya bahwa itu yang terbaik. Tidak ada yang mustahil yang bisa kita lalui dalam hidup ini pa…”, jawabnya dengan bijak. Kini 25 tahun telah berlalu, anak-anak kami dalam keadaan sehat dan istri saya sudah kembali bekerja. Tuhan juga memberi berkat yang lain sehingga anak-anak boleh belajar dengan baik dan tetap setia di dalam Tuhan.

Ayat renungan kita pada pagi ini menyebutkan harapan tulus dari setiap orang tua agar anak-anaknya boleh tumbuh besar menjadi anak yang baik sesuai harapan orang tua. Adalah sukacita yang besar bagi setiap orang tua untuk menerima kehadiran anak dalam keluarga. Bersamaan dengan itu, maka setiap orang tua memiliki tanggung jawab untuk merawat dan membesarkan anak-anaknya dengan baik. Terkadang ada saat dimana kita menghadapi tantangan yang berat dalam membesarkan anak. Kita tidak dapat menghadapi beban itu sendirian, karena kita memiliki keterbatasan. Kita perlu memohon kekuatan dari Tuhan dengan doa yang tekun. Sebagaimana Tuhan telah mempercayakan anak-anak kepada orang tua, Tuhan akan menolong dan memberi kebijaksanaan kepada setiap orang tua untuk dapat mendidik dan membesarkan anaknya dengan baik. Marilah kita bersekutu dengan Tuhan setiap hari, agar anak-anak yang kita miliki dapat tumbuh menjadi permata-permata bagi Tuhan.

May we receive the wisdom from our Lord every day !

Pathfinder dan Adventurer - In Action !

“Permisi…!! Selamat pagi …!!!”. Suara anak-anak remaja putra dan putri memecah kesunyian di pagi hari Minggu 14 Juni 2009 yang cerah ini. Wow..., ada apa yaa… ?? Ketika pintu dibuka, terlihat belasan anggota Pathfinder dan Adventurer dengan wajah berseri-seri telah menanti. Mereka didampingi oleh para Pembina yaitu Bapak Rizal Maringka, Bapak David Tampubolon, Ibu Meiske Tampubolon, Fidella Tambunan dan Bapak Lianto Napitupulu. Di hari libur seperti ini biasanya semua sedang ayik menikmati hari libur, kok malahan Pathfinder dan Adventurer sudah melakukan aktifitas pagi ? “Kami datang untuk membantu membersihkan di rumah ini…”, kata mereka memberitahukan maksud kedatangan mereka. Oh ternyata mereka datang untuk membantu membersihkan rumah, mobil, pekarangan dan lain-lain. Sesuai dengan keputusan POPA (Persatuan Orang-tua Pahtfinder dan Adventurer) Kemang Pratama, aktifitas ini dilakukan untuk melibatkan para Pathfinder dalam membiayai perkemahan yang akan mereka ikuti di Malang akhir bulan Juni nanti.

Keluarga pertama yang mereka kunjungi adalah Keluarga Yusak Barnabas. Bang Robert Papudi dan Joel yang menyambut kedatangan prajurit Adventurer dan pathfinder pagi itu. Sesuai dengan rencana, bergegas mereka mengeluarkan mobil untuk dicuci, mengambil ember, sikat, sabun, kain lap, selang air. Dan syuuurrr…..!! Air meluncur deras membasahi mobil. Dengan sigap mereka mengambil sabun, kain, sikat dan mulai membersihkan mobil. Mereka dengan semangat dan ceria melakukan aktifitas ini. Beberapa motor pun mulai dicuci. Sementara Pathfinder putri sibuk membersihkan halaman. Tidak ketinggalan para Pembina turut dalam menyikat ban mobil dan motor, dan memberi semangat semua anggota Pathfinder. “Ayo …! Ban mobilnya disikat yang bersih ya…!!”, seru Bapak Lianto memberi petunjuk sambil ikut membersihkan. Sesekali Bapak David memberi contoh kepada mereka. Tidak terasa pekerjaan yang dilakukan bersama selesai. Robert Papudi tampak senyum puas dengan hasil yang didapat. Saat yang dinantikan tiba…!! Robert mewakili tuan rumah memberikan rasa terima kasih untuk aktifitas pagi ini dengan memberikan sejumlah uang untuk mendukung rencana Pathfinder. Dengan antusias mereka menghitung jumlah yang diperoleh dan hooreee….!!! Mereka bertepuk tangan gembira menyambut pemberian dari keluarga Yusak Barnabas. Sebagai tanda terima kasih mereka menyanyikan sebuah lagu yang disambut dengan meriah.

Setelah berhasil mendapatkan dana dari rumah pertama, pasukan Pathfinder dan Adventurer menjadi semakin semangat. Berikutnya mereka mendatangi kediaman keluarga Ramlan Sormin yang kebetulan letaknya bersebelahan dengan rumah keluarga Yusak Barnabas , sehingga memudahkan anak-anak untuk melanjutkan kegiatan. Bapak Ramlan dan Ibu Evelyn menyambut kedatangan mereka dengan gembira. “Apa nih yang kita bisa bantu di sini om dan tante …?”, tanya mereka dengan cerita. “Wah…banyak yang bisa kalian bantu nih…”, sambut Bapak Ramlan sambil tersenyum. Beberapa tugas diberikan kepada mereka. Dengan sigap remaja putra mengambil ember, sikat, sabun dan kain lap untuk segera membersihkan mobil yang telah diparkir di luar. Pathfinder putri dipimpin oleh Ibu Meiske segera masuk ke dalam rumah. Mereka mengambil sapu membersihkan ruang tamu dan ruang makan. Sari Silalahi dan Fidella Tambunan membersihkan kolam ikan di halaman luar dibantu oleh Ibu Meiske. Sementara Yoan Hutauruk dan Hana Silalahi menyapu di ruang tamu, maka Elsa Tambunan, Kimberly Simanjuntak, Velan Sormin dan Sandy Silalahi menyapu pekarangan rumah. Mereka begitu bersemangat dan penuh keriangan. Di luar, Pathfinder pria sibuk juga mencuci sepeda-sepeda dengan sesekali bercanda riang. Semua yang dikerjakan bisa diselesaikan dengan baik, rumah menjadi bersih, kendaraan yang dicucipun terlihat kinclong sekali. Waktu yang dilalui terasa cepat sekali. Di akhir kegiatan tuan rumah meminta untuk dihibur dengan sebuah lagu, maka semua anak-anak yang datang dengan spontan menyanyikan lagu “Come Go With Me” dengan penuh keceriaan dan semangat.

Sementara itu kelompok Pathfinder yang lain dipimpin oleh Bapak Rizal dan Ibu Gladys Maringka datang ke rumah keluarga Willy Wuisan. Mereka disambut oleh Bapak Willy dan Ibu Yunita yang dengan senyum di pagi hari Minggu ini. “Tante kira-kira apa yang bisa kami kerjakan di rumah ini..?”, demikian anak-anak bertanya dengan wajah semangat. “Waduh kira-kira apa ya?”, tanya Pak Willy. “Bagaimana kalau kami mencuci mobil om dan tante?”, tanya mereka hampir bersamaan. “Oke deh boleh juga nih…”, kata tuan rumah dengan senang. Maka 2 mobil yang terparkir di garasi segera dikeluarkan dan mulailah semua melakukan pekerjaan dengan hati yang gembira. Para Pembina memperhatikan dengan tekun sambil sesekali membantu agar pekerjaan bisa dilakukan dengan hasil yang memuaskan. ‘Bekerja dengan hati yang gembira’ demikianlah yang terlihat dari wajah mereka. Saat kerja mereka usai, keluarga Willy memberikan sejumlah uang sebagai tanda terima kasih. Mereka langsung menghitung hasil yang diperoleh dan …. horeee..!!! Semua bergembira dan bertepuk tangan dengan hasil yang diperoleh. Mereka mengucapkan terima kasih kepada keluarga Willy Wuisan.
Setelah itu mereka segera bergabung dengan kelompok yang ada di rumah keluarga Ramlan Sormin.

Setibanya mereka di rumah keluarga Ramlan, mereka bergabung bersama menyanyikan lagu “Come Go With Me” dengan semangat dan diikuti oleh gerakan yang teratur. Bapak Ramlan dan Ibu Evelyn ikut bergembira menyaksikan semangat para remaja yang walaupun sudah melakukan kerja tetapi tetap bersemangat menyanyi dengan gembira. Turut datang bergabung juga Ibu Corry Pelaupessy, Bapak Agustinus Silalahi dan Ibu Rini Napitupulu. Setelah selesai bernyanyi, Ibu Evelyn mengucapkan terima kasih kepada mereka semua. Dan sejumlah uang untuk membantu mereka pergi berkemah diberikan Ibu Evelyn kepada Daniel Simanjuntak sebagai pimpinan regu kerja kali ini. Daniel menghitung jumlah pemberian dengan semangat…dan…hooreeee…!!! Kembali semua Pathfinder dan Adventurer bertepuk tangan dengan gembira menyambut hasil yang didapat dari hasil kerja mereka. Daniel mengucapkan terima kasih kepada keluarga Ramlan Sormin. Bapak Ramlan menyampaikan agar semua anggota Pathfinder terus bersemangat dan berharap agar perjalanan ke Malang nanti bisa berjalan dengan lancar. Semua anggota Pathfinder, Adventurer dan Pembina telah menyelesaikan tugas mereka pada Minggu pagi yang cerah ini. Doa tutup dilayangkan untuk mengakhiri rangkaian aktifitas pada pagi ini. Wajah berseri dan gembira terpancar di masing-masing anggota Pathfinder dan Adventurer. Mereka senang dengan hasil kerja mereka pagi ini. Sukses buat Pathfinder dan Adventurer Kemang Pratama !

Yoan Hutauruk - Juara 'Newspaper Reading'

Hari Minggu sore 14 Juni 2009 keluarga Pendeta R.Y. Hutauruk tengah bersiap-siap menuju Giant Supermall, Bekasi. Jam menunjukkan pukul pukul 14:15. Yoan Hutauruk sore itu akan mengikuti lomba “Newspaper Reading” di Bekasi yang diselenggarakan oleh tempat dimana ia mengambil kursus bahasa Inggris, yaitu Fasih Berbahasa Inggris. Terlihat Yoan merasa gugup. Lomba yang akan diadakan ini dihadiri oleh mamanya, yaitu Ibu Dahlia Hutauruk . Yoan sering merasa gugup gugup kalau ada orang terdekat yang melihat dia tampil. Sebelumnya Yoan telah mengadakan persiapan membaca artikel yang cukup. Dia berlatih membaca di depan kaca, di depan keluarga, namun tetap saja Yoan merasa ada yang kurang dan masih ada yang salah. Namun, untung saja bacaan tersebut menjadi bahan ulangan TOEFL Yoan waktu yang lalu, jadi sangat membantu Yoan dalam berlatih membaca artikel tersebut. Pada awalnya Yoan tidak terlalu khawatir, karena ini hanyalah lomba membaca, dan bukan lomba pidato. Mereka berangkat dari rumah pukul 15:00. Oma Tina Wira, Bapak Willy dan Ibu Yunita Wuisan turut serta dengan mereka.

Sampai di Giant Supermall Bekasi, Yoan mengambil nomor urut peserta dan mendapat urutan ketiga. Kegugupannya bertambah lagi, karena mendapat nomor yang termasuk nomor urut awal. Namun Yoan bersyukur tidak mendapat nomor urut pertama. Yoan masih menunggu sekitar 45 menit, dan menyaksikan penampilan anak- anak yang berada di tingkat bawahnya. Mereka tampak rileks, ceria, dan tenang. Setelah itu tiba giliran kelompok Yoan, yaitu Representative class dari tingkat remaja Advanced. Orang pertama yang tampil cukup baik, tenang dan spellingnya cukup baik. Begitu juga nomor urut kedua. Saatnya giliran Yoan, ia tampil agak gugup. Yoan terdiam sesaat, mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Hal itu dia lakukan dua kali. Lalu Yoan mulai membaca artikel yang berbicara tentang komputer, yaitu kerugian dan keuntungan dari komputer. Yoan mencoba untuk melihat ke penonton, dan matanya beradu pandang dengan mamanya, Yoan semakin gugup!! Semakin Yoan merasa gugup, semakin cepat dia membaca, hingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Yoan terdiam sebentar, lalu mencoba membaca dan ternyata dia melewatkan satu paragraf yang harus dibaca! Yoan menatap kepada kedua juri di sisi kanan yang adalah gurunya. Dan gurunya juga tengah menatap Yoan, dan tersenyum , ternyata dia menyadari bahwa Yoan telah melewatkan satu paragraf. Setelah selesai, Yoan turun dari panggung dan kembali duduk bersama orangtuanya.

Tiba di tempat duduknya, Yoan berbisik kepada papanya, Pendeta Hutauruk. “Daddy, kita pulang saja…, acara sudah selesai.” Lalu papanya mencoba meyakinkan Yoan, bahwa apapun hasilnya, Yoan harus mengetahuinya. Yang penting dia sudah berusaha dengan maksimal. Dalam hati Yoan merasa dia belum tampil dengan maksimal. Tidak lama setelah itu, para pemenang lomba pun diumumkan. Pemenang lomba hanya ditentukan untuk dua orang dan masing-masing mendapatkan sebuah piala. Pemenang kedua adalah peserta pertama yang menurut Yoan tampil dengan bagus. Mendengar itu, hati Yoan agak kecewa. Akhirnya, pemenang pertama diumumkan…dan ternyata pemenangnya adalah….Yoan Hutauruk !! Yoan setengah tidak percaya dan perlu beberapa detik untuk meyakinkan dirinya bahwa dia adalah pemenang pertama lomba ini ! Dengan tenang Yoan naik ke panggung dan menerima sebuah piala kemenangan. Yoan merasa bersyukur kepada Tuhan atas berkatNya sehingga ia boleh mendapatkan juara pertama di lomba ini. Congratulation Yoan !!

Thursday, June 18, 2009

Merdekakan Dirimu !

Galatia 5:1 “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”



Anak laki-laki saya yang tertua memiliki kegemaran mengoleksi mobil-mobilan. Dia lakukan ini sejak dia masih kecil. Sekarang walaupun sudah duduk di bangku kuliah, dia masih terus mengoleksi dan merawat mobilannya yang dipajang di lemari. Kebetulan saya juga memiliki kegemaran yang sama, hanya saja yang saya koleksi adalah perangko dan post card. Secara rutin saya menyisihkan waktu untuk membersihkan dan merawat barang-barang koleksi kami berdua tersebut. Saya merasa perlu untuk memastikan bahwa tidak ada debu atau serangga yang menggangu. Kegemaran ini memang memerlukan perhatian dan ketekunan yang rutin. Walau terkadang terpikir juga bahwa kegemaran ini cukup merepotkan saya, sehingga kebebasan saya terganggu. Secara tidak langsung benda-benda tersebut mengatur waktu saya.

Saya teringat ketika saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Bangkok yang dikenal dengan atraksi gajahnya. Saya sangat terkesan ketika dalam suatu pertunjukan diperlihatkan kepintaran yang menakjubkan dari gajah-gajah yang tampil. Di sana dipertontonkan bagaimana seekor gajah memiliki penurutan yang luar biasa. Pergelangan kakinya diikat hanya dengan rantai kecil, tetapi mereka sama sekali tidak memberontak. “Gajah sebesar itu kalau mengamuk pasti saja rantai yang ada di kakinya akan terlepas dan bisa bebas melarikan diri !”, kata saya kepada teman yang ada di samping ”Betul juga katamu ya…, tetapi kenapa gajah itu tetap saja patuh dan menuruti perintah pelatihnya ya?”, teman saya balik bertanya. Karena penasaran saya sempatkan untuk bertemu pelatih gajah “Pak, bagaimana cara melatihnya sehingga gajah ini sangat menurut kepada bapak?”, tanya saya kepada pelatih gajah yang tengah beristirahat. ”Oh, gajah ini kami pelihara dari bayi. Setiap hari kami mengikatnya dengan rantai besar yang dipaku di tanah dengan kuat. Ketika kami perlakukan seperti itu, gajah-gajah ini marah dan berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi usaha mereka sia-sia, hingga akhirnya mereka bosan dan tidak mencoba-coba lagi”, jawab pelatih menjelaskan pada saya. “Berarti gajah-gajah itu menyangka jika sudah diikat maka mereka tidak akan pernah berhasil lepas ya pak…”, kata saya menyimpulkan. ”Betul sekali bu…!”, jawab pak pelatih dengan tersenyum ramah.

Ayat renungan kita hari ini mengatakan bahwa Kristus sudah memerdekakan kita sehingga kita tidak perlu lagi dikenakan kuk perhambaan. Di dalam kehidupan ini ada hal-hal yang mungkin terlihat sederhana tetapi dapat membuat kita menjadi terikat, baik dari segi waktu, perhatian dan tenaga kita. Padahal mungkin hal-hal itu tidak membawa sukacita bagi kita dan bagi orang lain. Kita merasa tidak bisa lepas dari belenggu hal-hal seperti itu, padahal sesungguhnya semua itu tidak lagi memiliki kuasa untuk mengendalikan hidup kita. Yesus telah membebaskan kita dari belenggu dosa. Dosa tidak lagi memiliki kuasa untuk mengikat kita. Bila kita membiarkan Yesus mengendalikan hidup kita setiap hari, maka hidup kita akan penuh dengan sukacita. Mari kita mengisi hari-hari dengan penuh sukacita bersama Yesus.

Have a good day !

Di Dalam Kaabah-Nya

Hari Rabu 17 Juni 2009, jam menunjukkan pukul 19:30 malam. Ibu Tina Wira sebagai pemimpin acara, mengundang anggota jemaat Kemang Pratama untuk menyanyikan Lagu Sion nomor 318 “Dalam Hati” sebagai lagu pembukaan pada perbaktian Rabu malam ini. Setelah Ibu Lince Sunaryo melayangkan doa pembukaan, keluarga Munas Tambunan membawakan lagu pujian. Bapak Sulasta membawakan renungan kebaktian malam ini yang bersumber dari Buku Kerinduan Segala Zaman atau Alfa dan Omega Jilid V Pasal 16, yang berjudul “Di Dalam KaabahNya”. Pelajaran ini berlatar belakang tentang acara Paskah yang tengah dirayakan oleh bangsa Israel di Kaabah saat itu.

Pada perayaan Paskah ini, setiap orang Jahudi dituntut untuk membayar setengah syikal per tahun sebagai “uang tebusan jiwanya”. Mata uang yang berlaku di Kaabah adalah mata uang yang disebut Syikal Kaabah. Oleh sebab itu, setiap orang harus menukarkan uangnya dengan mata uang syikal kaabah ini di tempat-tempat penukaran uang. Di sana juga terdapat para pedagang binatang untuk korban, sehingga suasana di kaabah sangatlah hiruk pikuk dengan orang-orang yang bertransaksi jual beli. Saat melihat keadaan kaabah sedemikian rupa, Yesus menghardik orang-orang di sana "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (Yohanes 2:16). Semua orang terdiam dan takut, karena Yesus memandang mereka sampai kekedalaman hati mereka. Mereka takut, sebab mereka tahu, Yesus telah mengetahui motif-motif mereka yang tersembunyi. Dengan membersihkan kaabah itu, Yesus mengumumkan tugasNya sebagai Messias, serta memulai pekerjaanNya. Dan ketika para imam di kaabah menanyakan otoritas-Nya, Yesus menjawab: “"Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." (Yohanes 2:18). Pada saat Ia mengatakan Bait Allah (Kaabah) ini, para imam di kaabah tidak mengetahui maksud dari perkataanNya, bahkan murid-muridNya pun tidak mengerti. Yang dimaksudkan adalah tubuhNya sendiri. Ia akan mati dan kemudian bangkit pada hari yang ketiga. Di dalam 1 Korintus 3:16-17 dikatakan, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu."

Bait Allah adalah diri kita sendiri. Kita bertanggung jawab terhadap tubuh kita. Kita harus memelihara tubuh kita. Bilamana ada yang mau merusak tubuhnya sendiri, maka Allah akan membinasakan mereka. Itulah pentingnya kita memelihara tubuh kita. Yesus ingin tinggal di dalam kita. Yesus mau membersihkan segala kekotoran kita, sama seperti Dia membersihkan kaabah di Yerusalem. Yesus menginginkan kita menjadi suci, dan berfungsi sebagaimana yang Allah kehendaki. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk selalu mengundang Yesus diam dalam hati kita dan membiarkan Yesus melakukan pembersihkan atas kita, agar kita boleh dibentuk sesuai dengan kehendak-Nya. Bapak Sulasta mengutip Ibrani 4:14-16 “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Pada bagian kesaksian, Ibu Tina bersaksi bagaimana Tuhan telah menahan hujan yang terjadi di rumahnya. Saat atap rumahnya belum selesai diperbaiki, turun hujan di kawasan Kemang Pratama 2, namun karena doanya, hujan itu tidak mencapai rumahnya di kawasan Kemang Pratama 1. Stephanus pun bersaksi dan mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah lulus dari sekolahnya. Begitu juga Yoan, yang mengucapkan syukur pada Tuhan karena telah menjadi pemenang dalam sebuah kontes yang diselenggarakan di wilayah Bekasi. Tak ketinggalan, Pendeta Richard Hutauruk juga menyaksikan akan pelayanan pengobatan gratis yang dilakukan oleh Jemaat Kemang Pratama, karena semakin banyak orang yang merasa terberkati atas pelayanan kesehatan ini.

Dalam doa syafaat yang dilakukan perkelompok yang terdiri dari 4-6 orang, didoakan pokok pokok doa: KPA-KPA yang sedang berjalan, orang-orang yang belajar Alkitab, orang-orang yang sakit, Family of The Month – Kel. Erry Soedarmadi, orang-orang tua kita, keluarga kita dan acara perjamuan suci yang akan dilakukan pada hari Sabat. Lagu penutup “Ada Tempat Diam Teduh” dari lagu sion nomor 35 menjadi lagu penutup acara perbaktian malam ini, dan dilanjutkan dengan doa tutup oleh Bapak Sulasta. Tuhan Memberkati.

Wednesday, June 17, 2009

Agar Doa Tidak Terhalang

1 Petrus 3:7 “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah ! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karuia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."





Kami baru saja tinggal di pedalaman Pontianak, perasaan asing di tempat ini masih sangat terasa karena kami belum begitu banyak mengenal tetangga dan lingkungannya. “Anda mendapat tugas untuk pergi ke kantor pusat. Termasuk perjalanan, kurang lebih waktunya selama satu bulan”, kata pimpinan memberitahu saya pagi ini. “Cukup lama juga ya pak, saya sedikit khawatir dengan istri saya karena sekarang sedang hamil”, jawab saya menyampaikan isi hati. “Kita serahkan saja segalanya ke dalam tangan Tuhan agar semua bisa dilalui dengan baik”, jawabnya menguatkan hati saya. Setibanya di rumah, saya sampaikan kepada istri apa yang saya alami. “Mama harus hati-hati selama papa tidak ada, kalau perlu minta tolong tetangga kita di sebelah. Kelihatannya mereka baik, jadi bisa menemani mama selama papa tidak ada di rumah”, kata saya kepada istri. “Papa jangan memikirkan saya. Yang penting papa dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.”, istri saya menjawab dengan tenang.

Selama jauh dari istri saya menyempatkan untuk mengetahui keadaannya dengan berbicara di telepon tetangga dekat rumah. Saya bersyukur karena perlindungan Tuhan, dia boleh sehat dan baik-baik saja. Tugas saya di kantor pusat akhirnya selesai. Dengan menumpang sebuah kapal kecil, saya pulang kembali ke rumah. Waktu itu masih pagi ketika saya tiba di rumah. Istri saya menyambut dengan gembira, sayapun lega melihat keadaannya yang baik-baik saja. “Pengalaman yang papa dapati kali ini luar biasa, baik di perjalanan maupun di pekerjaan …”, kata saya dengan semangat bercerita kepadanya. Tetapi saya melihat tidak ada respons di wajahnya. “Mama kenapa diam saja?”,tanya saya. “Coba papa perhatikan ada yang berubah tidak dengan rumah kita..?”, tanya istri saya dengan wajah berharap saya bisa menemukan sesuatu yang baru. Saya kemudian perhatikan dengan seksama ternyata suasana di dalam rumah berbeda dari sebelumnya. Ada bunga-bunga yang begitu indah mengisi rumah kami, beberapa pajangan rumah berpindah letaknya, membuat suasana terasa lebih segar. “Mama lakukan ini semua untuk menyambut kedatangan saya ya..? Maaf ya mam, karena papa tidak memperhatikan apa yang mama sudah lakukan.” kata saya dengan tulus sambil memeluk istri saya dan mengucapkan terima kasih untuk yang telah dia buat. Saya melihat ketulusan yang mendalam dari anggukan yang diberikan kepada saya.

Ayat renungan hari ini mengatakan bahwa hendaklah para suami hidup bijaksana dengan istrinya, agar doa dan permohonan kita tidak terhalang. Rutinitas di dalam hidup terkadang membuat kita gagal untuk melihat sesuatu perubahan yang dibuat oleh pasangan kita, padahal perubahan itu sangat berarti bagi pasangan kita. Mungkin kita lalai untuk saling memperhatikan ataupun memberi pujian kepada pasangan kita, padahal walaupun sederhana, itu merupakan hal yang sangat berarti dalam membina hubungan rumah tangga. Semua istri membutuhkan penghargaan yang tulus dari seorang suami. Pujian yang tulus akan menjadi kekuatan dan energi yang baru bagi istri dalam menjalankan tugas rutin setiap hari dalam rumah tangga. Bila suami dan istri hidup harmonis, istri menghormati suami dan suami mengasihi istrinya, maka doa mereka tidak akan terhalang. Tuhan akan mendengar doa mereka, berkat dari Tuhan akan mengalir, keluarga akan penuh dengan sukacita, dan nama Tuhan akan dimuliakan di dalam keluarga kita. Mari kita memperhatikan pasangan kita dan mengasihi mereka dengan tulus.

Have a wonderful day !

Rapat POPA

Pada hari Sabat siang 13 Juni 2009 usai potluck, Persatuan Orang-tua Pathfinder dan Adventurer (POPA) mengadakan pertemuan. Ada beberapa agenda yang dibahas yang terkait dengan rencana mengirim anggota-anggota Pathfinder untuk menghadiri kampore Pathfinder Uni Indonesia Kawasan Barat di Malang. Bapak Ramlan Sormin sebagai Ketua POPA 2009 memimpin jalannya pertemuan di dalam gereja yang dihadiri oleh para orang tua Pahtfinder dan Adventurer. Bapak Ramlan mengundang Ibu Dahlia Hutauruk untuk memimpin doa pembuka. Di awal pertemuan Bapak Rizal Maringka sebagai Direktur Klub Pathfinder menyampaikan beberapa poin yang telah dibahas dan diputuskan di dalam majelis jemaat Sabat lalu sehubungan dengan rencana menghadiri kampore ini. Diantaranya, ada 14 orang Pathfinder yang akan turut dalam kampore ini. Para Pathfinder akan didampingi oleh sejumlah Pembina yang telah rela mengambil waktu cuti untuk menemani mereka.

Bapak Ramlan menyampaikan total yang akan berangkat adalah 25 orang yang terdiri dari Pathfinder dan Pembina. Sesuai rencana, mereka akan berangkat dengan menggunakan beberapa kendaraan pribadi. Semua anggota POPA menyetujui jumlah yang akan berangkat beserta dengan sarana transportasi yang akan digunakan. Total budget yang diperlukan untuk menghadiri kampore disampaikan kepada POPA. Setengah dari budget telah diputuskan oleh majelis untuk ditanggung oleh gereja. Untuk biaya yang akan dibebankan kepada setiap peserta, Bapak Ramlan menyampaikan sebuah usulan seraya mengundang usulan alternatif dari anggota POPA. Ada beberapa usulan dari anggota POPA. Setelah dibahas, maka semua anggota POPA menyepakati bahwa setiap peserta kampore akan dikenakan uang pendaftaran sebesar Rp 125.000, sesuai dengan yang disampaikan oleh Panitia Kampore Uni Indonesia Kawasan Barat. Namun masih ada sejumlah kekurangan biaya yang perlu ditutupi. Bapak Ramlan mengundang anggota POPA untuk memberi usulan untuk menutupi kekurangan ini.

Sebuah usulan disampaikan oleh Ibu Annie Simanjuntak agar anggota Pathfinder mengadakan aktifitas kegiatan dari rumah ke rumah anggota jemaat untuk menutupi kekurangan. Hal ini menjadi sarana untuk mendidik Pathfinder untuk turut berperan aktif dalam membiayai kegiatan kampore ini. Contoh kegiatan antara lain membantu membersihkan rumah, mobil, pekarangan dan lain-lain. Usulan dikuatkan dan didukung oleh semua anggota POPA. Rencananya aktifitas akan diadakan pada hari Minggu yang sisa sebelum tiba hari keberangkatan tanggal 29 Juni mendatang. Pertemuan POPA Sabat itu berakhir dengan menghasilkan beberapa keputusan. Bapak Ramlan mengundang Ibu Gladys Maringka untuk membacakan hasil keputusan rapat. Ibu Gladys membacakan hasil keputusan rapat POPA Sabat ini kepada semua yang hadir. Mengakhiri rapat POPA Sabat ini, Bapak Ramlan menyampaikan terima kasih kepada semua anggota POPA yang telah hadir. Bapak Sontani Purnama, ketua jemaat, melayangkan doa tutup sekaligus mendoakan semua rencana agar berjalan dengan baik.

Penampilan Menarik

Acara Pemuda Advent pada Sabat sore 13 Juni 2009 dimulai dengan menyanyikan beberapa lagu dari Advent Youth Sing dipimpin Hanna Silalahi, dilanjutkan dengan pembacaan ayat inti dan doa oleh Veber Sormin. Usai doa buka, lagu spesial pertama dibawakan oleh klub Pathfinder dan Adventurer. Acara inti yang dibawakan oleh Ibu Yunita Wuisan yang berbicara seputar penampilan. Penampilan merupakan hal pertama yang dapat dinilai dari seseorang. Namun dengan penampilan yang baik, tanpa "inner beauty" seseorang dapat terlihat biasa saja. Kecantikan dari dalam adalah faktor yang penting, namun jangan mengabaikan penampilan fisik. Badan yang bugar, rajin berolahraga, menjaga pola makan yang baik dan memelihara hubungan dengan Tuhan adalah beberapa hal yang dapat membuat penampilan menarik.

Dalam bukunya, Ellen G. White mengatakan bahwa penampilan atau cara berpakaian umat Tuhan jangan ketinggalan dan jangan terlalu maju. Mode yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan dapat dipakai oleh umat-umat Tuhan. Perlu diperhatikan juga, bahwa pakaian bukan sekedar memperindah penampilan seseorang, namun fungsi utamanya adalah menjaga tubuh dari panas matahari, cuaca yang dingin, dan lain-lain. Pakaian yang baik juga harus mendukung keadaan fisik orang yang memakai pakaian tersebut. Pakaian yang terlalu ketat, misalnya dapat menghambat pernapasan, dan pakaian yang terlalu longgar juga, kurang terlihat baik. Banyak orang yang mengabaikan kesehatan dengan memakai pakaian seperti korset, untuk menjaga bentuk tubuhnya. Juga pemakaian baju yang terlalu minim bahannya, tipis dan pendek yang dapat meminimalisasikan fungsi utama pakaian itu sendiri. Penampilan fisik yang berkaitan dengan anggota tubuh misalnya, banyak wanita yang ingin membuat dirinya menarik dengan menjalani beberapa operasi. Operasi untuk memancungkan hidung, mengurangi lemak dalam tubuh, dan operasi yang berkaitan dengan mengubah bentuk organ-organ tubuh. Di akhir pembahasan, Ibu Yunita mengajak kita untuk memuliakan Tuhan dengan menjaga tubuh kita, karena tubuh kita adalah kaabah Tuhan. Cara- cara kita dalam berpenampilan dapat menunjukkan seberapa besar kasih kita kepada Tuhan.

Sebuah lagu spesial dibawakan oleh Timothy Purnama yang berjudul “Pass It On”. Setelah itu renungan tutup sabat dibawakan oleh Bapak Aswin yang berjudul "Pentingnya Sebuah Tembok" yang bercerita tentang pembangunan tembok Cina. Tembok Cina yang dikenal dengan tembok raksasa Cina dengan panjang kurang lebih 6.400 km dibangun pada masa pemerintahan kaisar Qin Shi Huang, untuk menjaga negara dari serangan bangsa Mongol. Begitu juga dalam hidup, kita memerlukan tembok- tembok pelindung dari berbagai cobaan setan. Hal- hal yang harus kita hindari adalah keinginan daging, mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16). Pak Aswin mengajak agar di sepanjang mingu bekerja yang baru kita membuat doa dan bacaan alkitab sebagai tembok-tembok pelindung kita dari berbagai maksud jahat setan. Acara ditutup dengan doa oleh Bapak Aswin. Setelah itu semua membuat lingkaran besar di dalam gereja seraya mengucapkan “Selamat minggu bekerja ! Selamat belajar ! Selamat bermain ! Tuhan memberkati ! Amin !”.

Tuesday, June 16, 2009

Sahabat Terindah

Ibrani 13:8 “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”



Waktu itu saya mempunyai seorang sahabat yang tidak akan pernah saya lupakan. Dia begitu baik kepada saya mulai dari sikap hingga perkataannya, sungguh membuat saya mengagumi dan menghargainya. Setelah menikah, kami akhirnya harus berpisah karena saya pergi mengikuti tugas suami ke daerah yang lain. Terasa sekali saya kehilangan seorang sahabat. Awalnya hubungan kami masih tetap berjalan dengan baik. Tetapi dengan berjalannya waktu yang panjang, tanpa disadari kami tidak pernah lagi saling berkomunikasi. “Mam, kita mendapat undangan pernikahan. Kelihatanya kita harus pergi ke sana”, kata suami memberitahukan kepada saya. “Memangnya akan dilaksanakan dimana pa?”, tanya saya. “Di kota kelahiranmu”, jawab suami saya. “Wah…, mama senang sekali pa! Mama bisa bertemu lagi dengan teman-teman, khususnya teman dekat mama itu ya pa…!”, jawab saya dengan gembira. “Mama bahkan bisa membuat reuni dengan mereka…”, jawab suami saya memberikan idenya.

Tibalah waktu yang ditentukan kami pun berangkat. Saya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan teman-teman. Kami pun langsung menuju ke tempat resepsi pernikahan dilangsungkan. Saya sangat terkejut ketika masuk ke dalam ruangan pesta. Saya dapati sahabat dekat saya beserta dengan suaminya juga ada di pesta ini. Tanpa membuang waktu segera saya dekati “Kak, ini aku…! Apa kabar kakak sekarang?”, tanya saya sambil memberikan salam. Dia langsung membalas jabatan tangan saya, tetapi tidak merespons pertanyaan saya. Hanya dalam hitungan menit tiba-tiba dia sudah pergi bersama suaminya menghilang dari pandangan saya. “Saya kecewa pa, ternyata dia malu mengakui saya sebagai sahabatnya…”, kata saya berbagi perasaan dengan suami. “Mama berpikir positif saja…, mungkin dia sudah lupa dengan mama”, jawab suami saya menghibur. “Papa mungkin benar, bisa saja dia sudah lupa kepada saya…”, jawab saya sambil berusaha untuk mengerti keadaan tadi.

Pagi ini ayat renungan kita berkata bahwa Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Banyak sahabat yang kita miliki di dunia. Kita memiliki pengalaman yang indah dan baik bersama dengan mereka. Namun saat kita berpisah, terkadang persahabatan tidak lagi seindah saat kita masih dekat dengan mereka. Persahabatan dapat pudar dengan berjalannya waktu. Tidak sama seperti sahabat dunia kita, Yesus adalah sahabat sejati. Dia tetap setia kepada kita. Kita tetap berharga di mata Tuhan kapan pun, dimana pun, berapa lama pun waktu yang sudah kita lalui, Tuhan kita tidak pernah berubah. Setiap kita datang kepada-Nya, melalui doa kita, Tuhan setia untuk menyambut kita, mendengar keluh kesah kita dan memberi penghiburan kepada kita. Kita tidak perlu meragukan kasih-Nya, kecuali kita melupakan kasih dan pimpinan Tuhan di masa yang lalu. Mari kita jadikan Yesus sebagai sahabat kita setiap hari.

Have a great day !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda dengan gunakan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.