Saturday, November 21, 2009

Belajar Untuk Percaya

Yesaya 59 : 1 “Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.”





Setelah berjuang keras melawan penyakit kankernya selama beberapa bulan, akhirnya suami saya pergi meninggalkan kami. Bersama si kecil yang baru berusia 6 tahun, saya berusaha untuk bangkit dari runtuhan dan himpitan yang terasa begitu menyakitkan hati. Sudah dua minggu semua ini terjadi. Saya pandangi si kecil, harta saya yang tak ternilai, sambil menitikkan air mata. “Mama…, jangan sedih lagi dong…! Nanti adek jadi nangis juga loh!”, ucapnya pada saya. Perkataan itu seringkali saya dengar jika dia melihat saya menangis. "Ah..., enggak kok. Mama enggak nangis sayang...", jawab saya cepat mengusap pelupuk mata. Entahlah, saya seakan ditegur agar berhenti meratapi dan mengasihani diri. Semua yang terjadi memang terasa begitu cepat. Kami semua tidak ada yang menyangka jika suami mengidap penyakit mematikan itu. Dia tidak pernah merasakan keluhan sakit apa pun. Semua berjalan dengan baik, rumah tangga kami terasa begitu berbahagia. Tetapi ketika kematian memisahkan kami, saya betul-betul terpukul karena harus melakukan tiga kewajiban sekaligus. Sebagai ayah, ibu, dan pencari nafkah. Jika tidak melihat si kecil, mungkin saya tidak akan pernah bisa bangkit dari kesedihan ini.

“Mama, hari ini kita buka toko lagi ya ma…?”, tanya si kecil di satu pagi. “Iya sayang…, nanti kita buka toko ya…”, jawab saya sambil menahan tangis. Kemarin saya memang sudah mulai untuk berjualan di toko kami. Tetapi apa hendak dikata, tidak satu pun pembeli yang datang ke toko kami. Saya betul-betul menjadi tawar hati. “Mama, kalau begitu sekarang kita berdoa dulu ya ma…, supaya nanti jualan kita bisa laku…!”, ucap si kecil dengan polos dan tulus. “Oh iya, sekarang adek berdoa ya…”, jawab saya pelan sambil mengajak dia menutup matanya. Airmata saya jatuh tak tertahankan. Pelan-pelan suaranya yang halus mulai berdoa, “Tuhan Yesus…, kami sudah tidak punya papa. Kami akan bekerja hari ini. Tuhan Yesus…, berkati kami. Kasih kami uang yang banyak ya… Aku mohon Tuhan, supaya mama bisa punya uang... Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!”, ucap si kecil mengakhiri doanya sambil membuka matanya. Saya peluk dia dengan erat. Dalam hati saya berdoa, “Tolong Tuhan…, biarlah si kecil boleh melatih kepercayaannya pada-Mu. Tunjukkanlah kuasa-Mu Tuhan...”. Karena letak toko hanyalah di depan rumah, maka setelah sarapan saya segera membuka toko. Memasuki toko, dada ini terasa sesak. Karena di setiap sudut toko bayangan wajah suamiku tercinta amat jelas. Kertas-kertas yang ada di meja bertuliskan tangannya membuat tenggorokan terasa kering tercekat, dan pandangan menjadi kabur karena air mata yang mulai membayang. “Tuhan Yesus…, berkati kami…kasih kami uang yang banyak ya...”, suara si kecil tadi terngiang di telinga saya dan membuat saya membuang jauh perasaan yang mengganggu dan kembali bekerja. Seorang pengunjung datang. "Saya tertarik mengambil satu set furniture ini bu !", ucapnya setelah melihat beberapa saat. Tak lama kemudian, dua orang pengunjung lain datang ke toko kami. Mereka tidak hanya melihat-lihat, tetapi semua membeli peralatan yang mereka butuhkan. Saya betul-betul mendapatkan uang, seperti yang dipinta oleh si kecil dalam doanya ! Di malam hari sebelum tidur, si kecil bertanya kepada saya. “Mama hari ini kita dapat uang banyak enggak?”, tanyanya sambil berbaring. ”Iya sayang, Tuhan Yesus mendengar doa adek. Tadi adek lihat kan ada yang datang dan mau beli barang-barang yang kita jual.”, jawab saya sambil tersenyum kepadanya. “Terima kasih Tuhan Yesus ! Selamat tidur ya mama…!”, ucapnya gembira dan setelah itu dia sudah tertidur pulas.

Ayat renungan di pagi yang indah ini mengatakan bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang dan pendengaranNya tidak kurang tajam. Berpisah dengan orang yang dikasihi adalah hal yang menyakitkan. Terlebih bila ia adalah tumpuan dalam keluarga. Berupaya bangkit dari kesedihan dan saat yang sama menggantikan peran orang yang telah meninggalkan kita, bukanlah hal yang mudah. Terasa begitu berat dan tidak sanggup kita hadapi sendiri. Tetapi kita memiliki Tuhan yang selalu mendengar. Ia mendengar keluhan kita, mendengar seruan kita, mendengar permohonan kita. Terkadang kita begitu larut dalam menghadapi beban, memegang erat beban itu dan merasa tawar hati untuk menyampaikan kerisauan hati kepada Yesus. Di saat seperti itu pun, Tuhan akan menggunakan siapa saja, termasuk kepolosan seorang anak yang kecil, untuk mengingatkan kita agar berseru dan percaya kepada-Nya. Kita memiliki Tuhan yang tangan-Nya dapat terulur menjangkau kita, tangan yang sanggup memberi pertolongan di saat yang kita rasa paling sulit sekalipun, dan menunjukkan pada kita bahwa kasih-Nya tidak pernah berlalu dari kita. Saat beban berat menghimpit, marilah kita datang kepada Tuhan dengan ketulusan hati. Kita belajar untuk meletakkan beban kita kepada-Nya, kita belajar untuk percaya yang penuh kepada-Nya. Tuhan akan memelihara kita.

May we receive His shower of blessings today !

Diam ! Tenanglah !


Hari Rabu 18 November, tepat jam 19:30 jemaat Kemang Pratama memulai kebaktian Permintaan Doa. Pendeta Richard Y. Hutauruk yang memimpin kebaktian mengundang semua untuk menyanyikan Lagu Sion nomor 113, “Tuhan Batu Karang Kita”. Timotius Tambunan melayangkan doa pembukaan. Lagu pujian malam ini dibawakan oleh keluarga Willy Wuisan yang berjudul “I know The Lord Has Made The Way For Me”. Bapak Jamesson Silitonga, yang membawakan renungan malam ini mengambil pembahasan dari buku “Kerinduan Segala Zaman” atau “Alfa dan Omega Jilid V” Pasal 35, yang berjudul “Diam! Tenanglah!”.

Setelah mengajar banyak orang dan menyembuhkan orang-orang sakit, Yesus merasa lelah dan ingin beristirahat. Ia mencari tempat yang sunyi, yaitu di daerah Timur Genesaret, yaitu Gerasa. Walaupun agak sulit untuk membubarkan orang banyak, namun akhirnya Yesus dan murid-muridNya dapat masuk ke dalam perahu dan berangkat. Mereka tidak bertolak sendirian. Banyak perahu nelayan lainnya, dan orang banyak segera memenuhi perahu itu karena kerinduan mereka untuk tetap dekat dengan Yesus. Saat itu hari sudah mulai petang dan cuaca sangat baik untuk berlayar. Karena Yesus merasa lelah, maka Ia tertidur. Tiba-tiba, awan gelap muncul menutupi langit dan cuaca yang tadinya begitu baik, berubah menjadi tidak bersahabat. Badai mulai mengamuk. Angin menderu dan ombak yang bergelora memukul perahu sehingga menyebabkan perahu terombang-ambing dan mengancam untuk menelannya. Para murid telah biasa menghadapi badai di laut, namun kali ini mereka ketakutan. Mereka tidak dapat mengendalikan perahu mereka. Mereka tidak berdaya dan harapan mereka hancur ketika melihat perahu mulai dipenuhi air. Di tengah keputusasaan dan hilangnya harapan, mereka mengingat Yesus. Mereka berteriak memanggil Yesus, namun suara mereka tertelan oleh deru angin dan ombak yang dasyat. Berulang-ulang mereka berseru, dan ketika kilat menembus kegelapan, barulah mereka melihat Yesus sedang tertidur dengan wajah yang penuh damai sorga. Akhirnya mereka membangunkan Yesus, "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?". Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu, "Diam! Tenanglah!". Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Yesus lalu menegur murid-muridNya atas ketidak percayaan mereka (Markus 4:40). Dan orang banyak yang ada di perahu-perahu lain menjadi heran dan berkata, "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

Ketika mereka tiba di Gerasa, mereka disambut oleh dua orang yang kerasukan setan. Kedua orang ini berteriak-teriak sehingga para murid ketakutan. Wajah orang yang dirasuk setan itu sangat buas dan menyeramkan. Para murid lebih takut pada kejadian ini dibandingkan dengan kejadian badai yang baru saja dialami. Namun, Yesus mengusir

roh jahat tersebut, namun kedua orang itu berkata, "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Maha Tinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!". Roh jahat itu bernama Legion karena mereka banyak. Dan roh jahat itu meminta agar mereka jangan diusir namun diperbolehkan pindah kepada babi-babi. Setelah Yesus mengabulkan permohonan mereka, maka roh jahat masuk kepada babi-babi itu dan babi-babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau. Ada kira-kira dua ribu babi yang akhirnya mati lemas di dalam danau. Orang yang tadinya dirasuk setan itupun akhirnya memuji-muji nama Tuhan dengan wajah yang berseri-seri. Melihat hal tersebut, para penjaga babi menceritakan hal tersebut kepada orang di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Ketika Yesus akan bertolak kembali, dua orang yang telah sembuh itu memohon agar mereka dapat diperkenankan ikut. Namun, Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu, "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!". Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”, kata Bapak Jamesson mengutip ayat dalam kitab Yohanes 5:30. “Kita dapat mendapat pelajaran bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa sendiri. Kita perlu bersandar pada Tuhan, seperti Yesus yang selalu bersandar kepada Allah Bapa.”, ucap Bapak Jamesson di akhir renungan malam ini. Pada bagian kesaksian, Bapak Jamesson bersyukur atas dikaruniai seorang bayi laki-laki dan memohon agar jemaat tetap mendoakan kesehatan ibu dan anaknya. Usulan doa juga datang dari bapak Agustinus Silalahi yang memohon agar kita mendoakan abang dari Bapak Siregar (guru sekolah Darma Putra Advent) yang menderita kanker lever. Pokok doa yang lain adalah untuk Opa dan Oma Wira, Ferry yang sedang memohon ijin agar diperbolehkan libur pada hari Sabat, keluarga Anjuan Sibuea yang berduka, KPA yang berjalan, rencana retreat gereja pada tanggal 26-28 November, keluarga Munas Tambunan yang menjadi fokus doa bulan ini (Family of the Month), keluarga masing-masing, dan orang-orang yang sedang belajar Firman Tuhan. Setelah doa syafaat yang dilakukan perkelompok 2-3 orang, acara kebaktian Rabu Malam ini diakhiri dengan menyanyi dari Lagu Sion nomor 24, “Iman Orang Saleh Kekal”. Doa tutup dilayangkan oleh Bapak Jamesson Silitonga. Puji Tuhan untuk malam kebaktian yang penuh berkat.

Friday, November 20, 2009

Belajar Untuk Sabar

Amsal 19:11 “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.”










“Eh, tadi anakmu nangis loh…!”, kata teman saya ketika berpapasan di tangga sekolah, dia sudah lebih dahulu tiba menjemput anaknya pulang sekolah. “Ah yang benar…? Memangnya kenapa?”, tanya saya tenang. “Enggak tahu tuh ! Tadi anakku yang cerita. ”, jawabnya sambil berlari kecil menuju parkiran. Kali ini saya memang terlambat menjemput si kecil. Saya percepat langkah karena khawatir mendengar informasi tadi. Saya bertemu dengan dua orang gadis kecil teman sekelasnya. “Belum di jemput juga ya?”, tanya saya sambil tersenyum. “Hari ini kita pulang terlambat tante, karena kita mau les Mandarin dulu. Eh iya…, tadi anaknya tante nangis loh di kelas. Kasihan deh…”, sahut salah satu dengan wajahnya yang begitu menggemaskan, rambutnya yang berekor kuda ikut bergoyang-goyang karena terlalu bersemangat bercerita pada saya. “Oh yaa…! Kenapa kok sampai menangis?”, tanya saya kaget. “Enggak tahu tuh tante ! Tadi sewaktu di jam istirahat tiba-tiba saja teman laki-laki yang lain mendatangi dan memukul perut anaknya tante. Dia jadi nangis deh…!”, jelas yang seorang lebih berani menerangkan. “Wah kok gitu ya…! Anak tante mungkin yang nakal yah?”, tanya saya ingin tahu. “Enggak kok tante, dia enggak salah. Lagian dia itu paling baik di kelas. Tapi tadi sama ibu guru yang nakal itu sudah disuruh minta maaf. Tapi…, enggak tahu deh kalau besok-besok digangguin lagi…hihihi…”, katanya sambil tertawa memamerkan deretan giginya yang kecil-kecil. “He..he..he.. kamu lucu deh ! Terima kasih ya sudah cerita sama tante. Nanti kalau ada teman yang gangguin anak tante lagi, kasih tahu ya supaya jangan berbuat seperti itu. Kan kasihan dong kalau ada teman yang disakiti.”, ujar saya sambil mengusap lembut pipinya lalu segera masuk ke dalam aula sekolah.

“Sebentar saya panggil dulu si kecil ya bu…”, kata resepsionis pada saya. “Ok, thanks.”, jawab saya cepat. Dalam beberapa menit suara si kecil sudah terdengar dari kejauhan. “Mama…! Kok terlambat…?”, rengeknya manja. “Maaf sayang…, tadi ada yang mama harus kerjakan jadi terlambat deh jemput kamu. Tapi janji deh, besok enggak lagi kok!”, ucap saya sambil memeluk dia seperti biasanya. “Eh, tadi katanya adek nangis ya ? Ada apa sih ? Ceritain ke mama dong…”, bujuk saya. “Itu ma, teman adek tiba-tiba datang memukul. Enggak tahu karena apa. Adek nangis karena pukulannya sakit banget ma. Tapi tadi dia sudah minta maaf kok mam…”, katanya tanpa rasa kesal. “Ya sudahlah, tapi lain kali jangan dekat-dekat sama dia lagi ya. Main sama yang lain aja deh…”, ujar saya mengingatkan. “Iya mama…”, jawabnya dengan tulus. Semua itu saya lakukan untuk mencegah agar jangan terjadi lagi yang lebih buruk. Hampir setiap hari saya mengingatkan si kecil untuk menjauhi temannya, dan dia selalu menjawab dengan perkataan yang sama. Entahlah, mungkin dia tahu jika saya begitu khawatir. Tapi suatu hari tidak seperti biasanya, kali ini dia menjawab, “Mama…, itu teman adek sekarang sudah baik. Enggak apa-apa kok main sama dia. Adek kasihan ma sama dia…, dia kan mau main sama adek. Giliran dia yang membujuk saya. “Tapi mama takut nanti dia nakal lagi, terus adek dipukul gimana?”, tanya saya. “Enggak kok ma… Please mam…, percaya deh !”, pintanya dengan tulus. “Oke deh mama setuju, adek harus lebih hati-hati ya…”, pinta saya yang disambut dengan anggukan kepalanya.

Ayat renungan pagi ini mengajak kita untuk memiliki akal budi agar kita bisa panjang sabar dan memaafkan pelanggaran. Menerima perbuatan yang menyakitkan secara fisik atau perasaan bukanlah hal yang mudah. Setiap orang ingin dikasihi. Bila orang disakiti, ia tergoda untuk marah, membalas atau lebih lanjut lagi, tidak mau memaafkan kesalahan yang menyakitinya. Bersikap seperti itu lebih banyak membawa kerugian. Emosi kita terganggu, pikiran kita tidak tenteram, kita akan menjauhi dan dijauhi seorang yang menjadi teman, dan akhirnya kehilangan sahabat kita. Kita diajak untuk berpikir dengan tenang dan bijaksana saat menghadapi situasi yang menyakitkan. Dengan bersabar dan membiasakan untuk memaafkan, maka kita akan menemukan kedamaian. Perselisihan akan dapat diselesaikan, orang yang menyakiti akan menyesali perbuatannya, persahabatan akan dapat terjalin dengan baik, kita pun akan berbahagia. Mari kita minta Tuhan memberikan akal budi, kesabaran dan roh memaafkan dalam diri kita setiap hari.

Let us forgive, forget and be happy !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda dengan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.

Pembahasan Sekolah Sabat Pelajaran 8 - "Para Imam dan Orang Lewi"

Kuis "Follow The Bible" - 14

Coba Menu Dapur Selera Minggu Besok !


Setiap hari Minggu, resep-resep masakan yang sehat dan enak dari Dapur Selera disajikan di halaman website ini. Hari Minggu besok kita akan menyajikan resep baru yang bisa anda coba di dapur anda.

Ikuti menu Dapur Selera Minggu besok !

Thursday, November 19, 2009

Belajar Untuk Menikmati

Pengkhotbah 3 : 4 “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari.”







Matahari lumayan bersahabat siang itu. Saya tengok jam tangan, sudah pukul sebelas lebih sedikit. Sebetulnya hari Minggu adalah hari libur, saatnya bercengkerama dengan keluarga. Tetapi tidak untuk hari Minggu ini, karena si sulung harus melakukan tugas tambahan melakukan pelayanan masyarakat selama 25 jam. Tugas ini bisa dilakukan dalam beberapa kali pertemuan di hari Minggu. “Ayo turun ! Kita sudah sampai di rumah jompo yang kalian maksud.”, kata saya kepada si sulung dan empat temannya. Kami segera mencari jalan untuk masuk. Pintu dibuka dan tidak jauh dari tempat berdiri mata saya langsung melihat seorang ibu yang sedang duduk di kursi roda. “Selamat pagi ibu!”, ucap saya saat menghampirinya. “Selamat siang ! Kok selamat pagi ? Ini kan sudah siang!”, jawabnya bernada protes. “Eh maaf oma, selamat siang maksud saya. Hehehe… Apa kabar oma hari ini?”, anak-anak segera meralat perkataan tadi. “Baik, terima kasih… Kalau kalian mau ketemu ibu pengelola ambil kiri, lalu lurus saja. Nah, di situ kantornya.”, jelasnya dengan tegas. Saya biarkan anak-anak untuk melakukan tugas mereka, sementara saya berjalan pelan menemani ibu ini sambil mengobrol. “Itu teman saya, usianya 99 tahun tapi masih sehat dan pandai menyanyi. Kamu dengar kan suaranya yang merdu?”, katanya sambil menunjuk ke arah yang dimaksud, “Hebat sekali ya! Sudah 99 tahun masih tetap sehat dan lancar menyanyi”, jawab saya mengagumi kesehatan oma itu sambil memperhatikan di sekeliling.

Tidak lama datanglah seorang bapak menghampiri ibu ini. “What are they doing here?”, tanya bapak itu dengan bahasa Inggris yang lancar kepada ibu ini. “Mereka anak-anak SMP yang sedang melakukan survei di sini. Mereka mau mengadakan pelayanan di sini.”, jawab ibu itu dengan bahasa Inggris yang tidak kalah lancarnya dengan aksen yang khas. Saya terpana memperhatikan mereka lancar berbicara. “Anda berdua berbicara Inggris dengan baik. Very good !”, puji saya kepada keduanya yang tersenyum ramah. “Ngomong-ngomong waktu muda kerja dimana om?”, tanya saya mengakrabkan diri kepada bapak yang sekitar usia 65-an, masih berbadan tegap. “Saya bersekolah di Bandung. Ketika itu PANAM Airlines sedang merekrut pegawai. Beruntung sekali saya terpilih di antara teman-teman lainnya. Saya sudah berkeliling Eropa dan Amerika !”, jawabnya tetap dalam bahasa Inggris. Tersirat senyum kebanggaan di wajahnya, mungkin mengenang masa lalunya. “Waduh hebat sekali om ! Sudah keliling beberapa benua ya…! Oh iya, bagaimana dengan tante ? Tante lancar sekali berbicara bahasa Inggris.”, tanya saya ingin tahu. “I was an English teacher in a private school. Saya ambil pendidikan bahasa Inggris dan Management di Australia”, jawabnya mantap. “Luar biasa ! Om dan tante punya pengalaman yang sangat berharga sekali pada waktu muda dulu.”, ucap saya mengagumi mereka berdua. Belum selesai saya bicara, ibu pengelola datang bersama anak-anak. “Tante ini hampir setiap hari masih suka menangis loh…”, katanya dengan lembut memegang bahu tante itu. “Loh memangnya kenapa tante?”, tanya saya terkejut mendengarnya. “Tante sedih…, karena setelah terkena stroke saya harus duduk di kursi roda. Tante terbatas dalam melakukan kegiatan. Padahal dulu tante tidak terhalang untuk beraktifitas apapun…”, wajahnya sedih mengenang masa lalu. “Tante jangan sedih… Dulu kan tante sudah banyak diberi kesempatan untuk menikmati pendidikan di luar negeri, aktif mengajar dan pintar bahasa Inggris. Sekarang saatnya tante untuk beristirahat. Semua ada waktunya tante... Sekarang kesempatan tante untuk menikmati masa istirahat. Ada Tuhan Yesus yang menemani. Coba lihat itu teman tante rajin menyanyi, dia jadi gembira menghitung berkat Tuhan.”, kata saya menghiburnya. “Iya…, tante akan berusaha untuk bersyukur dan menikmati saat ini. Tolong doakan tante ya..”, katanya sambil mencoba untuk tersenyum.

Ayat renungan pagi ini mengingatkan kita bahwa ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari. Tuhan memberikan kita waktu mulai dari kita lahir, merangkak, berjalan, bersekolah, bekerja, dan tiba di hari tua. Di masing-masing waktu itu, kita memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Menikmati saat ditimang seorang ibu, menikmati belajar naik sepeda pertama kali, menikmati bermain bersama teman-teman, merasakan sakit saat tersandung batu, menikmati keberhasilan saat bekerja, hingga akhirnya tiba di hari tua. Waktu dengan cepat berlalu. Kita sering merindukan kembali masa yang sudah lalu dan merasa sedih karena tidak bisa kembali lagi. Untuk semua ada masanya. Kita lakukan yang terbaik di waktu yang kita miliki saat ini. Satu saat waktu ini akan berlalu dari kita dan di saat nanti kita akan mengenang sebagai sesuatu yang indah yang kita pernah miliki. Mari kita belajar untuk menikmati waktu yang kita miliki saat ini.

Enjoy your day !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda.

Saatnya Untuk Memilih

Hari Sabat 14 November 2009, jam kebaktian Sekolah Sabat baru saja usai. Memasuki jam pengumuman Pendeta R.Y. Hutauruk menyampaikan bahwa saatnya tiba untuk gereja Kemang Pratama memilih pegawai-pegawai jemaat yang akan melayani di tahun 2010 mendatang. Untuk itu, Panitia Istimewa pun dibentuk. Nama-nama yang akan duduk di Panitia Istimewa diusulkan oleh anggota jemaat secara langsung. Tercatat ada 9 nama yang diusulkan duduk di Panitia Istimewa. Semua anggota jemaat dengan sepakat menyetujui semua nama-nama ini, masing-masing adalah Bapak Christian Siboro, Bapak Munas Tambunan, Bapak Ricky Tambunan, Bapak Lianto Napitupulu, Bapak Ramlan Sormin, Bapak Viertin Tobing, Ibu Yunita Wuisan, Ibu Naomi Tobing dan Robert Rihihina.

Usai potluck Sabat siang itu, Pendeta Hutauruk mengajak semua Panitia Istimewa untuk mengadakan rapat. Halaman belakang gereja yang teduh, di bawah kerindangan pohon cherry, adalah tempat yang dipilih untuk mengadakan rapat. Pendeta Hutauruk memberikan renungan di awal dan memimpin doa. Agenda utama adalah memilih nama-nama yang akan duduk dalam Panitia Pemilih. Jumlah anggota yang akan dipilih diusulkan, didiskusikan, dan disepakati. Ada 9 anggota yang akan duduk di dalam Panitia Pemilih dengan komposisi lima orang perwakilan bapak-bapak, tiga orang perwakilan dari ibu-ibu, dan satu orang dari pemuda.

Ibu Yunita Wuisan ditunjuk sebagai sekretaris Panitia Istimewa. Pemilihan dilakukan dengan mengusulkan 9 nama dalam kertas-kertas yang telah dibagikan oleh Ibu Yunita. Semua menuliskan usulan 9 nama, dan kertas-kertas tertutup dikumpulkan. Pendeta Hutauruk memimpin penghitungan nama-nama yang terbanyak dari usulan yang dibuat. Ibu Yunita dibantu oleh Robert menghitung dengan cepat nama-nama yang terbanyak diusulkan. Dalam waktu singkat, terpilihlah 9 nama yang akan duduk di Panitia Pemilih. Pendeta Hutauruk menyampaikan terima kasih kepada Panitia Istimewa yang telah bekerjasama dengan baik dan efisien hari Sabat ini. Nama-nama Panitia Pemilih akan dihubungi oleh Pendeta Hutauruk dan diharapkan mereka bisa segera bertugas memilih pelayan-pelayan jemaat di Kemang Pratama untuk tahun 2010. Selamat bertugas !

Wednesday, November 18, 2009

Belajar Menerima Kelemahan

Roma 15:1 “Kita yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.”




Hidup di kota metropolitan tentu memiliki kelebihan tersendiri, yang tidak bisa dibandingkan dengan di daerah. Kegiatan pekerjaan tidak melulu dilakukan di kantor tetapi bisa dilakukan di berbagai tempat mulai dari café, hotel, sampai pusat perbelanjaan yang menyediakan ruang meeting, semua tertata sedemikian eksklusif. Sementara menunggu pesanan makanan kecil di satu café, saya melihat dua orang lelaki berdandan rapih layaknya pria metropolis duduk di kursi bersebelahan dengan saya. Profesional muda di dua bank yang berbeda, terlihat dari kartu pegawai yang tergantung di leher mereka. “Are you finally able to handle your staff there?”, pertanyaan terlontar dari salah seorang dengan aksen Inggris-British yang kental. “Kalau yang satu kelihatan sudah oke, tetapi yang satu lagi sepertinya agak sulit deh…”, jawab temannya yang rambutnya dicat sedikit pirang dengan nada malas. “Kenapa harus sulit ? Kan you ditunjuk karena dipercaya bisa membuat perubahan bukan ?”, cecar temannya mengingatkan. “I know what I should do !”, jawabnya bernada sedikit kesal. “Kalau kamu tahu apa yang musti dibuat, kenapa kamu merasa sulit? Lakukan pendekatan secara pribadi dong…! Siapa tahu lebih mengena…”, ujar temannya lagi seakan menasihati. “Sudah pernah saya lakukan itu, tetapi malah gagal…! Staff-ku yang satu itu merasa tidak ada yang harus dirubah dengan dirinya...”, jawab si pirang. “Hiiikkk…! Nekat yaa…?”, jawab temannya terkejut hingga tersedak karena salah menelan. Saya yang disebelah jadi ikutan senyum karena tidak kuat menahan rasa lucu.

“Makanya, kamu pikir ini masalah sepele? Dia kan orang paling lama di kantorku. Dia itu seperti ibu RT gitu lah…! Aku harus punya cara yang lebih jitu lagi untuk bisa membuat dia mengerti, bahwa sebagai seorang customer service dia memiliki banyak kelemahan.”, jelas si rambut pirang sudah lebih bersemangat. “Memangnya ada customer yang complain?”, tanya temannya ingin tahu. “Ya ialah… Aku tahu kalau sepanjang hari harus senyum dan ramah adalah sesuatu hal yang melelahkan. Tetapi jika dia membiasakan diri, dia tidak akan merasakan perbedaan itu. Lagipula ini memang tuntutan pekerjaan, itu yang kelihatannya dia abaikan!”, ujar si pirang dengan bijak. “Mungkin dia sudah di area yang nyaman, dan nothing to lose...!”, temannya mulai mengira-ngira. “Aku tidak ingin berandai-andai, tetapi aku dipercaya perusahaan ini untuk bisa melakukan perubahan. Walau menjengkelkan, aku tidak ingin terpancing dengan sikapnya. Aku tetap bersikap baik padanya hingga saatnya nanti dia akan mengerti dan merubah kelemahannya. Iya nggak bro…?”, katanya seraya menyatap makanan yang telah terhidang dengan lahap.

Ayat renungan pagi ini mengingatkan bahwa kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Bersikap baik dan ramah kepada semua orang tidaklah mudah untuk dilakukan, apalagi jika kita harus bersikap seperti itu kepada orang yang tidak memperdulikan kita, atau bahkan menyakiti hati kita. Namun Yesus memberikan teladan kepada kita. Yesus tetap bersikap baik dan rendah hati kepada semua orang yang membenci dan menganiaya Dia. Yesus ingin perubahan terjadi dalam kehidupan orang-orang yang menolak Dia saat itu. Yesus mengetahui kelemahan mereka, dan Ia terus menonjolkan kasihNya agar mereka yang lemah dapat dikuatkan. Kita perlu belajar menghidupkan kasih Yesus setiap hari, agar kita sanggup menerima kelemahan orang lain dan berupaya dengan sabar membantu orang lain memperbaiki kelemahannya. Marilah kita meminta Tuhan menolong kita dan memberikan kesanggupan setiap hari.

Have a nice day !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda dengan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.

Kedudukan Yang Terbalik


Hari Sabat 11 November 2009, cuaca di luar gereja Kemang Pratama agak teduh. Di dalam gereja, jemaat memasuki kebaktian khotbah. Ivana Tobing membawakan cerita untuk sahabat-sahabatnya dengan alat peraga berupa gambar warna-warni yang menarik minat semua anak-anak yang mendengarkannya. Usai cerita, Bapak Larry dan Ibu Donna Manurung menyanyikan lagu spesial yang merdu. Diiringi oleh petikan gitar Bapak Larry, lagu berupa medley yang berjudul “Amazing Grace” dan “Yesus Terindah”, dinyanyikan dengan lembut oleh Ibu Donna. Sungguh ajaib kasih Yesus dan terindah di seluruh alam semesta, syair yang indah ini membawa hati jemaat siap untuk mendengarkan khotbah berjudul “Kedudukan Yang Terbalik” yang disampaikan oleh Bapak Viertin Tobing.

“Miskin berarti keadaan tanpa harta, rumah yang kumuh , pakaian compang-camping dan kekurangan dalam makan. Tapi ada sebutan masyarakat miskin perkotaan. Mereka ini memiliki rumah, tapi tidak terlalu bagus, memiliki televisi, DVD player, dan berpenghasilan di bawah Rp 4 juta per bulan.”, ucap Bapak Viertin menjelaskan beberapa definisi miskin di awal khotbahnya. Bapak Viertin menceritakan tentang seorang wanita bernama Henrietta Howland Robinson atau dikenal dengan Henry Green, yang melimpah dengan harta kekayaan tetapi hidup dengan sangat hemat, seolah-olah dia orang miskin. Dia berusaha menimbun harta di bumi semata-mata. “Harta yang dimilikinya tidak dapat membuat Henry panjang umurnya. Ia mati tanpa membawa selembar saham yang ia miliki.”, ungkap Bapak Viertin tentang kesia-siaan menimbun harta di bumi. “Ada seorang kaya yang bersuka ria dalam kemewahan. Sementara di depan rumahnya ada seorang pengemis bernama Lazarus. Orang kaya ini tidak memperhatikan Lazarus ketika hidup di dunia. Kedudukan terbalik terjadi, ketika mereka berdua meninggal dunia. Lazarus menikmati kebahagiaan surga, sementara orang kaya ini menderita di neraka.”, urai Bapak Viertin tentang sebuah perumpamaan di dalam kitab Lukas 16 : 19-31.

“Orang yang miskin dalam perkara-perkara dunia, namun yang percaya pada Allah dan sabar dalam derita, sekali kelak akan ditinggikan di atas orang yang sekarang memegang kedudukan yang tertinggi yang dapat diberikan dunia, tetapi yang belum menyerahkan hidupnya kepada Allah.”, ucap Bapak Viertin mengutip Christ’s Object Lesson halaman 196 yang menggambarkan tentang lebih pentingnya berhubungan dengan Tuhan dibandingkan memiliki harta di dunia. Lebih lanjut Bapak Viertin mengajak kita untuk memiliki motif yang didorong oleh kasih yang sejati pada saat kita memperhatikan dan menolong orang-orang yang berkekurangan, karena inilah yang berkenan kepada Allah. “Allah tidak pernah peduli dengan seberapa kaya engkau dan seberapa miskin juga engkau. Allah hanya akan peduli baik kita kaya maupun miskin, hanya jika kita disertai dengan iman, kerendahan hati, ucapan syukur dan ringan tangan untuk memberikan pertolongan bagi sesama yang sungguh-sungguh memerlukan pertolongan. Marilah kita memperhatikan dan mengasihi setiap orang dengan hati yang tulus, karena itu berarti kita sudah melakukannya untuk Tuhan.”, ujar Bapak Viertin mengakhiri khotbah di Sabat siang ini.

Tuesday, November 17, 2009

Memperkenalkan Kasih Yesus

Hari Sabat 14 November pagi, cuaca agak mendung di luar halaman gereja. Jam menunjukkan sedikit lewat dari pukul 9:00 pagi ketika jemaat bersiap mendengarkan dorongan Pelayanan Perorangan (PP) yang dibawakan oleh Ibu Dahlia Hutauruk. “Ada sepasang suami istri yang baru menikah. Mereka hidup dengan bahagia. Tetapi suatu ketika, kulit sang istri menjadi rusak karena penyakit, sehingga dia tidak terlihat cantik lagi.”, kata Ibu Dahlia di awal dorongan PP. “Sang suami terganggu dengan keadaan istrinya ini. Dia tidak mencintai istrinya lagi. Dia selalu memperlakukan istrinya dengan tidak baik, agar sang istri tidak mencintainya lagi. Tetapi sang istri tidak menghiraukan sikap suaminya. Ia tetap sabar dan semakin bertambah baik kepada suaminya. Hingga suatu saat, sang suami mengalami kebutaan dan sang istri berusaha mendapatkan kornea mata buat suaminya. Di saat yang tidak diduga, sang istri mendapat kecelakaan dan dia memutuskan mendonorkan kedua matanya buat suami tercinta. Sang suami menjalani operasi untuk menanam kornea yang baru. Beberapa hari kemudian, sang suami bisa melihat kembali. Dia ingin sekali mengucapkan terimakasih kepada pendonor kornea mata tersebut. Setelah dia tahu bahwa kedua mata tersebut berasal dari istrinya hatinya sangat terpukul dan hancur karena begitu besar cinta sang istri kepadanya, walaupun dia selalu memperlakukan dengan tidak baik.”, urai Ibu Dahlia tentang kisah yang mengharukan ini.

“Pengorbanan yang Yesus telah lakukan bagi kita semua lebih besar dari pengorbanan ibu dalam cerita tadi. Yesus mengorbankan segenap diri-Nya bagi kita agar kita menerima keselamatan. Yesus mengasihi setiap jiwa di bumi ini. Kasih Yesus ditunjukkan kepada setiap orang, Ia rindu agar setiap jiwa menerima keselamatan. Tidak ada kebutuhan yang terbesar di dunia ini, kecuali kebutuhan akan Yesus Kristus.”, terang Ibu Dahlia tentang kasih Yesus yang memberikan diri-Nya untuk keselamatan kita. “Pelayanan Perorangan bertujuan agar kita dapat turut serta dalam memenangkan jiwa orang lain. Kita harus menunjukkan kasih Yesus kepada orang lain, menolong mereka melihat kasih Allah, menolong orang agar membukakan hatinya kepada Allah. Kita diajak untuk menjadi pelayan bagi Tuhan kita. Bila Yesus dengan pengorbanan yang besar telah membuat kita layak untuk menerima mahkota kemenangan, maka sepatutnya kita juga memiliki kerinduan untuk membagikan berita sukacita ini kepada orang lain. Marilah kita menunjukkan kasih kita kepada sesama kita. Biarlah kita dikenal karena perbuatan kasih kita.”, ucap Ibu Dahlia mengakhiri dorongan PP Sabat ini.

Monday, November 16, 2009

Dua Jalan

Hari Jumat 13 November 2009, hujan membasahi perumahan Kemang Pratama, Bekasi, sejak sore hari. Jam sudah menunjukkan pukul 19:30, di luar gereja angin bertiup memberikan kesejukan bagi setiap orang yang datang di kebaktian Vesper malam ini. Pendeta R.Y. Hutauruk membawakan renungan Vesper yang berjudul “Dua Jalan”. Mengutip ayat dalam kitab Matius 7 : 13 dan 14, Pendeta Hutauruk menyebutkan bahwa ada dua jalan yang dapat dipilih oleh manusia. Jalan yang lebar menuju kebinasaan, tetapi banyak orang memilih jalan ini. Sementara jalan yang satu terasa sesak dan sempit, hanya sedikit orang yang menempuh jalan ini, tetapi inilah yang menuju kepada kehidupan. “Di antara dua jalan ini, manakah yang menjadi pilihan kita ?”, tanya Pendeta Hutauruk di awal renungan.

“Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. Kita harus menjaga kewaspadaan dalam perjalanan di dunia ini. Bila kita mengantuk dan lengah dalam perjalanan, maka iblis akan menggoda kita.”, lanjut Pendeta Hutauruk. Ada beberapa ciri-ciri orang yang memilih jalan yang lebar. Diantaranya adalah tidak ada kehadiran Allah di jalan itu, orang yang berjalan di sana berseteru dengan Allah, mereka tidak mau meninggalkan kegelapan, tidak ada penyangkalan diri dan menuruti hawa nafsu. “Mereka lebih menjaga perasaan hati sendiri daripada menjaga perasaan hati Tuhan. Akhir jalan ini adalah kebinasaan.”, ungkap Pendeta Hutauruk tentang ciri-ciri orang yang memilih jalan lebar beserta upahnya. “Sebaliknya orang yang berjalan di jalan yang sempit selalu memandang ke depan bersama Allah. Walau mereka berbeban berat, mereka serahkan semua beban kepada Allah. Mereka rajin belajar firman Allah, berdoa, bersyukur, tidak mau mendengarkan nasehat orang fasik. Mereka menghasilkan buah-buah roh. Berapa banyak orang yang berjalan di jalan ini ? Sedikit sekali, kata Yesus.”, jelas Pendeta Hutauruk tentang sikap yang ditunjukkan orang yang menuju kepada keselamatan.

“Kemenangan tidak dapat diperoleh tanpa doa yang sungguh-sungguh. Kita harus serahkan dengan sukarela kemauan kita agar dapat bekerja sama dengan roh kudus. Harus ada penyangkalan diri yang sungguh-sungguh setiap hari dan perbuatan kita mesti menyaksikan Yesus kepada banyak orang.”, tutur Pendeta Hutauruk akan rahasia untuk bisa berjalan di jalan yang sempit dan menjadi pemenang kerajaan surga. “Marilah kita memohon kepada Tuhan agar kita diberi kesanggupan untuk terus berjalan menuju surga dan memperoleh upah kita saat Yesus datang menjemput nanti.”, ajak Pendeta Hutauruk di akhir renungan Vesper ini. Lagu “Karna Surga T’lah Hampir”, dinyanyikan sebagai lagu penutup. Pendeta Hutauruk melayangkan doa untuk menutup rangkaian kebaktian. Di luar gereja hujan gerimis kembali turun, memberikan kedamaian di setiap hati yang hadir di kebaktian malam ini. Jemaat membuat lingkaran dalam gereja dengan berjabat tangan, seraya menyanyikan lagu “God Is So Good”, dilanjutkan dengan mengucap, “Selamat sabat ! Tuhan memberkati ! Amin!”.

Friday, November 13, 2009

Tidak Akan Kekurangan

Mazmur 34:10 “Takutlah akan Tuhan, hai orang-orangNya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!”





“Papi berangkat kerja dulu ya mam…”, kata papi seraya mengecup lembut kening mami dengan mesra. Setelah itu kecupan papi mendarat di pipi kami satu persatu. “Ayo cepat ! Jangan sampai terlambat berangkat ke sekolah!”, kata papi mengingatkan kami yang sedang bersiap berangkat ke sekolah. Papi bekerja sebagai tenaga maintenance di salah satu kontraktor minyak asing. Karena letaknya yang sangat jauh dari kota, maka kompleks perumahan pekerja dibuat sangat nyaman dan rapih. Papi seorang yang tekun dan mencintai pekerjaannya. Memiliki delapan orang anak tidaklah mudah di kala itu, dengan gaji yang tidak berlebihan beliau menghidupi kami. Sepulang sekolah saya dapati mami sedang duduk melamun. “Mami, kenapa kok kelihatannya murung?’, tanya saya sambil menaruh tas sekolah di meja. “Ah…, tidak apa-apa kok...”, jawabnya pelan berusaha menutupi. “Pasti ada yang mami sembunyikan ya…”, kata saya tidak percaya. “Tidak ada yang mami sembunyikan…, tapi hati mami lagi risau. Bulan ini keadaan keuangan kita sangat ketat. Banyak keperluan yang tidak terduga yang kita keluarkan. Padahal papi baru terima gaji satu minggu lagi…”, kata mami dengan wajah sedih. Belumlah selesai kami bicara tiba-tiba ada seorang penjual pisang keliling berteriak memanggil. “Permisi...! Permisi...!”, teriakannya terdengar keras. “Iya, ada apa pak?”, jawab saya heran. “Maaf neng..., saya diberikan alamat rumah ini dan diminta bertemu dengan ibu. Tadi saya bertemu dengan bapak yang punya rumah ini dan semua pisang dagangan saya diborong habis oleh bapak itu, uangnya disuruh diminta ke rumah ini!”, sahutnya sambil mengusap keringat yang bercucuran di wajahnya. “Wah, tidak bisa pak! Nanti sore bapak kembali lagi saat suami saya pulang ya…”, jawab mami dengan wajah tidak percaya karena kondisi keuangan yang pas-pasan saat ini. Bapak penjual pisang terkejut tidak mampu bicara.

Tiba-tiba dering telepon berbunyi. Papi ada di ujung telepon sana. “Papi ini bagaimana sih...? Kan papi tahu uang kita sudah sangat terbatas, kenapa harus borong pisang segala sih…? Pokoknya mami tidak setuju!”, suara mami terdengar keras kemudian menyerahkan gagang telepon kepada saya. “Kamu tolong bujuk mami untuk membayar saja bapak penjual pisang itu. Kasihan dia, anaknya sedang sakit keras. Kasih tahu mami bahwa Tuhan akan mencukupkan kita nanti...”, suara papi terdengar penuh percaya. Saya mencoba membujuk mami, walaupun saya tidak yakin akan apa yang akan terjadi nanti. Menjelang malam pintu rumah diketuk. Saya mengira pastilah papi yang datang. Ketika saya membuka pintu, muncul wajah seorang lelaki yang tidak saya kenal. “Papi sudah pulang?”, tanyanya dengan ramah. “Belum om..., mungkin sebentar lagi. Mari masuk om…!”, jawab saya sambil terus berpikir kira-kira siapa orang ini. “Terimakasih, tetapi om sudah kemalaman dan harus segera kembali ke Jakarta. Ini ada titipan surat om, tolong sampaikan kepada papi ya…”, katanya sambil menyerahkan sebuah amplop warna putih dan pergi tanpa mendengar lagi perkataan saya. Ketika papi pulang, langsung saya ceritakan kejadian tadi. “Coba papi lihat, ini ada surat dari om itu buat papi!”, kata saya penasaran ingin segera tahu. Perlahan amplop itu dibuka dan alangkah terkejutnya kami ketika terlihat isi amplop tersebut bukan hanya surat saja isinya, tetapi ada sejumlah uang yang sangat besar! Akhirnya papi menceritakan kepada kami semua, bahwa orang tadi adalah orang yang dibantu papi ketika masih muda dulu dan kini dia sudah berhasil menjadi seorang pengusaha. Kelihatannya dia ingin membalas budi papi. “Sekarang mami percaya kan bahwa Tuhan akan mencukupi segala keperluan kita?”, kata papi lembut disambut anggukan kepala dan air mata yang menetes di pipinya.

Ayat renungan pagi ini mengingatkan kita untuk percaya kepada Tuhan, karena umat-Nya tidak akan pernah kekurangan. Kita menghadapi pelbagai situasi saat hidup di dunia ini. Mungkin kita dihadapkan pada situasi sulit dan kesusahan datang silih berganti. Kita sudah melakukan upaya yang kita rasa maksimal, tapi kita belum menemukan jalan keluar untuk kita. Kita merasa terpojok dan tidak berdaya. Kita tidak yakin apakah kita memiliki kekuatan untuk menghadapi semua yang terjadi. Tuhan mengundang kita untuk menceritakan semua kesusahan hati kita kepada-Nya. Tuhan mendengar semua keluh kesah kita, merasakan pergumulan kita, dan ikut menanggung beban yang kita pikul. Tuhan menjanjikan kelepasan untuk setiap masalah yang kita hadapi. Umat-Nya tidak akan pernah berkekurangan. Kita tidak akan kekurangan kekuatan untuk menghadapi situasi sulit. Kita tidak akan kekurangan akal budi untuk mencari jalan keluar. Kita tidak akan kekurangan kesabaran bila kita gagal dan mau untuk mencoba lagi. Kita tidak akan kekurangan percaya dan selalu bergantung kepada Tuhan. Pada waktu-Nya, Tuhan akan menunjukkan bahwa Ia senantiasa baik kepada kita. Marilah kita menjadi orang yang percaya penuh kepada Tuhan.

Let us put our trust fully to our Lord !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda yang memerlukan kekuatan hari ini.

Kuis "Follow The Bible" - 13

Pembahasan Pelajaran Sekolah Sabat - 7 "Perebutan Kekuasaan"