Thursday, September 15, 2011

Seperti Anak-Anak

Lukas 18:16,17, “Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: ”Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Aku teringat ketika aku masih kecil. Aku sering mendengar cerita untuk anak setiap hari Sabat di gereja. Biasanya yang bercerita adalah istri dari pengkhotbah. Aku masih membayangkan ketika anak-anak mendengar lagu “Yesus cinta anak-anak” mereka akan segera menuju ke bagian depan gereja untuk mendengarkan cerita. Aku adalah salah satu dari anak-anak tersebut.

Sekarang meskipun aku ingin menjadi bagian mereka, aku tahu bahwa aku sudah terlalu tua untuk itu. Aku hanya memandang keceriaan anak-anak tersebut dari kursiku dan membayangkan berada bersama-sama dengan mereka. Kepada teman yang duduk di sampingku di gereja kukatakan: “Coba perhatikan anak-anak itu. Pikiran anak-anak itu begitu polos. Mereka belum tahu apa itu dosa. Mereka tidak menyimpan kemarahan dan dendam. Ketika mereka berkelahi, sesaat kemudian mereka sudah bergandengan tangan.” “Benar sekali”, temanku menimpali, “Mereka tidak memikirkan apa yang akan ku pakai dan apa yang akan ku makan. Mereka dengan spontan bereaksi terhadap apa yang terjadi disekeliling mereka. Pikiran mereka penuh dengan keingintahuan. Mereka begitu tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Tuhan dan mereka belajar mengenai Tuhan melalui cerita-cerita Alkitab yang disampaikan kepada mereka. ”Secara bergantian aku dan temanku mengomentari tentang anak-anak yang sedang asyik mendengarkan cerita. “Siapa yang mau berdoa?” pembawa cerita bertanya, anak-anak segera mengangkat tangan dan melayangkan doa dengan bahasa mereka yang sederhana yang kutahu pasti sangat indah bagi Bapa kita di Sorga.

Sebagai anak-anak Tuhan kita juga harus menerima dan mempraktekkan apa yang kita pelajari. Hanya karakter yang akan kita bawa ke dalam Surga. Kita perlu memiliki tabiat surgawi untuk dapat tinggal di dalam alam surgawi. Bila kita tidak bisa berprilaku seperti anak-anak, maka kita tidak akan masuk ke dalam kerajaan Allah. Oleh sebab itu kita perlu mempunyai kesucian hati dan pikiran seperti seorang anak agar kita bisa masuk ke dalam kerajaan Sorga.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Wednesday, September 14, 2011

Berdoa atau Tidur?

Markus 1:35, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”

Ada kuasa yang besar di dalam doa. Doa bekerja dalam berbagai aspek kehidupan kita. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk memberikan kepadaku hikmat dan kebijaksanaan ketika aku belajar. Aku juga berdoa agar Tuhan melindungi keluargaku, memberikan kepada mereka kesehatan, juga kepadaku. Aku juga berdoa agar Tuhan boleh menggunakan aku menjadi berkat bagi orang lain meskipun aku masih muda. Banyak masalah yang tidak bisa kuatasi kuserahkan kepada Tuhan dalam doa.

Aku sering masih mengantuk kalau mau bangun pagi untuk pergi mandi. Sehingga ketika aku bangun dan berdoa aku masih menutup mataku walaupun aku sudah selesai berdoa. Sepertinya aku sedang tidur sambil duduk ketika aku berdoa. Hehehe. Teman sekamarku di asrama sering bertanya: “Apakah engkau berdoa atau tidur?” Aku menjawab: “Kedua-duanya!” Aku yakin ketika ku awali hariku dengan menyampaikan permohonanku dalam doa, Tuhan pasti mendengar dan menjawab doaku dan selalu memberikan yang terbaik bagiku menurut pandangan mataNya.

Seperti apa yang Yesus lakukan, Ia mengajarkan kita bagaimana caranya untuk berdoa. Sangatlah penting untuk memulai dan mengakhiri hari-hari yang kita jalani dengan berdoa. Doa menghubungkan kita dengan Sorga. Dia mempunyai kemampuan yang lebih besar dari alat komunikasi yang tercanggih pada masa kini seperti telephone genggam, email dan lain sebagainya. Doa menghubungkan kita secara langsung dengan Bapa kita di Sorga. Yesus juga berdoa di taman Getsemani sebelum Dia disalibkan. Kita juga harus berdoa kepada Tuhan setiap saat. Aku berdoa: “Tuhan, terima kasih untuk doa. Terima kasih mengajarkanku cara berdoa yang menyatakan betapa ajaibNya Engkau. Tolonglah aku menjadi suci di hadiratMu. Ingatkan aku selalu bahwa doaMu bekerja di dalam aku, Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Tuesday, September 13, 2011

Makanan Jasmani dan Rohani

Matius 4:4, “Tetapi Yesus menjawab: Ada tertulis; Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”


Sejak aku tinggal di sekolah berasrama, berat badanku naik dengan cepat, aku bisa menikmati menu makanan vegetarian yang sederhana namun sehat yang disediakan oleh kantin sekolah. “Ma, baju yang mama kirim sudah tidak muat lagi.” Kataku kepada ibuku. “Wah, koq cepat sekali naiknya?” kata ibuku. “Enggak tahu juga, kalau lagi banyak tugas dan ujian, bawaannya lapar, jadi makannya lebih banyak lagi.” Ketika liburan sekolah tiba dan aku pulang ke rumah, komentar semua orang yang berjumpa denganku bahwa aku sudah semakin besar alias “gemuk”.

Sebagai makhluk hidup, aku tahu bahwa setiap orang bertumbuh dalam hidupnya. Mereka menjadi lebih tua, lebih tinggi, lebih pintar dan lain sebagainya. Aku menyadari bahwa aku sekarang lebih besar dari sebelumnya. Bila dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu, postur tubuhku pasti sudah jauh berbeda, tentu saja karena kita semua bertumbuh baik secara fisik, mental maupun rohani. Dengan mengamati, kita bisa melihat perbedaan yang nyata dari pertumbuhan fisik orang-orang, juga pertumbuhan mentalnya, namun mengetahui apakah seseorang sudah bertumbuh secara rohani adalah hal yang perlu kita pikirkan. Setiap saat ketika ayah atau ibuku menelepon mereka selalu bertanya: “Apakah sudah makan? Jangan lupa jaga kesehatan ya nak” dan biasanya sebelum menutup telepon mereka juga mengingatkanku untuk jangan lupa membaca firman Tuhan dan setia pergi ke gereja. Aku sangat berterima kasih dengan nasihat itu, sebab biasanya aku tidak pernah lupa untuk makan bagi pertumbuhan jasmani dan mental kita, namun belum tentu aku selalu ingat untuk menyantap firman Tuhan untuk memberikan pertumbuhan rohani bagi jiwaku.

Agar kehidupan rohani kita bisa bertumbuh, kita juga harus memberinya makan dengan firman Tuhan. Aku menyadari bahwa ketika aku mempelajari firman Tuhan, itu membantuku untuk mempelajari pelajaran-pelajaran lainnya. Aku berusaha selalu membaca firman Tuhan terlebih dahulu sebelum aku belajar pelajaran lainnya dan mengakhirinya dengan doa juga. Firman Tuhan itu bagaikan manna bagi jiwaku. Aku ingin membangun hidupku hari ini, esok dan selamanya untuk menjadi serupa dengan Tuhan. Sebagaimana yang dituliskan dalam ayat kita pagi ini bahwa kita hidup bukan hanya oleh roti, tetapi oleh setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Monday, September 12, 2011

Ketika Aku Tak Sanggup Lagi

Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”


Ketika aku memasuki kelas 1 SMA, aku mengalami perubahan yang besar dalam hidupku. Saat itu aku dan beberapa teman memutuskan untuk pergi bersekolah di tempat yang jauh dari orang tua, sebuah sekolah ber-asrama. Ada dorongan yang begitu besar untuk merasakan bagaimana belajar hidup mandiri, jauh dari orang tua, walaupun sebenarnya orang tuaku sangat berat melepaskanku, mengingat usiaku yang masih relatif muda. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku diijinkan untuk pergi. Sebelum berangkat mereka berpesan: “Anakku, kapanpun engkau merasa tidak betah dan ingin pulang ke rumah, kami akan menyambutmu dengan sukacita, tidak perlu takut dan merasa bersalah. Mari kita jalani bersama-sama apa yang sudah diputuskan.” Pesanan ayah dan ibu begitu berarti bagiku. Awalnya memang aku merasa sangat tidak betah dan ingin pulang, namun aku berusaha untuk menyesuaikan diri dan belajar bertanggung jawab terhadap apa yang telah menjadi pilihanku.

Pada waktu kelas di mulai, banyak tugas, projek kelas serta ujian yang ku hadapi. Aku harus menyelesaikannya sendiri. Aku tidak bisa lagi bergantung kepada bantuan ayah atau ibu, yang biasanya selalu siap menolong ketika aku menghadapi kesulitan dalam belajar maupun mengerjakan tugas-tugas sekolah, seperti ketika aku masih tinggal bersama mereka. Sepertinya tidak masuk akal bila mengingat apa yang kulakukan pada suatu hari. Besok aku akan menghadapi ujian. Malamnya aku merasa begitu lelah dan mengantuk karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan, aku tidak sanggup untuk belajar lagi. Berkali-kali kepalaku terkulai di atas buku pelajaran. “Hey, my friend, kalau ngantuk tidur aja, dari tadi aku lihat kamu udah enggak konsentrasi lagi belajar!” Sesaat teguran temanku menyadarkanku. “Ya, aku ngantuk banget, mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi nich!” kataku. Malam itu sebelum benar-benar tidur aku berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, tolonglah aku ketika menjawab pertanyaan di ujian besok. Engkau mengetahui kesanggupanku malam ini Tuhan. Aku tidak bisa belajar lagi. Aku merasa sangat lelah. Bantulah aku menjawab soal-soal ujian sesuai dengan apa yang aku ketahui, aku serahkan semuanya kepadaMu ya Tuhan, Amin.” Sesudah berdoa, aku membaca beberapa ayat dalam Alkitab kemudian pergi tidur.

Keesokan harinya, di saat kuterima kertas ujian, aku kembali berdoa memohon Tuhan menuntunku. Puji Tuhan, aku mendapatkan nilai yang baik untuk ujian itu, sebuah nilai yang cukup baik untuk seorang yang tidak selesai mempelajari materi ujian. Aku melakukan bagianku sesuai dengan kesanggupanku dan Tuhan menjawab doaku, Tuhan memberikan kepadaku lebih dari yang ku minta. Ayat kita pagi ini mengingatkan kepada kita semua, bila kita datang dekat kepada-Nya dan mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih dahulu, yang lainnya akan diberikan kepada kita.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Sunday, September 11, 2011

Kuatir

Matius 6:32-34, “Akan tetapi Bapaku yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Waktu aku duduk di bangku SMP, aku adalah orang yang selalu mengerjakan segala sesuatunya pada detik-detik terakhir. Bila aku mempunyai tugas yang diberikan sebulan yang lalu, biasanya aku kerjakan seminggu sebelum waktunya dan aku akan sangat panik ketika aku tidak bisa menyelesaikan pada waktunya. Sekarang keadaanku berbeda, aku bukanlah orang yang menunda-nunda lagi dalam mengerjakan tugas, akan tetapi aku selalu kuatir akan hal yang belum terjadi.

Dua minggu lagi ujian, sebelumnya aku sudah merasakan bahwa aku harus segera belajar dan aku harus cepat-cepat pulang ke rumah seusai jam kuliah untuk belajar lagi. “Ayo kita mampir ke mal dulu.” Ajak beberapa kawanku seusai pulang kuliah. “Maaf, ada banyak tugas dan tak lama lagi ujian, lain kali aja ya aku ikut.” jawabku. “Ah, ujiannya toh masih lama, 2 minggu lagi, ayo kita jalan-jalan dulu, cuci mata, biar tidak jenuh.” Aku berusaha menolak ajakan teman-temanku dengan halus. Ujian merupakan hal yang aku kuatirkan. Seringkali kekuatiranku datang karena aku tidak mau gagal dalam ujian. Kadang-kadang kita terlalu kuatir akan hari esok dan kita lupa akan hari ini. Setiap hari yang kita lalui mempunyai masalahnya sendiri, tantangan, pergumulan dan kesempatan. Kita harus berfokus pada apa yang kita bisa lakukan hari ini daripada menguatirkan tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.

Kita harus melihat waktu sebagai suatu cadangan yang harus digunakan dengan bijaksana. Tuhan memberikan kita waktu untuk memperlakukan keluarga, teman sebagai pemberian Tuhan yang sangat berharga. Tuhan mau kita mempersiapkan diri kita untuk masa yang akan datang, tapi tidak mengabaikan hidup yang berarti untuk saat ini. Gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya, karena itulah yang Tuhan inginkan dari anak-anakNya dan mari kita serahkan segala kekuatiran kita ke dalam tangan Tuhan dan percayalah kepadaNya, maka Ia akan bertindak.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Kasihilah Musuhmu!

Lukas 6:35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang jahat.”


Aku mempunyai teman ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kami sekelas sejak dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 SD. Sebenarnya kami sudah saling mengenal sejak kecil, sebab kami bergereja di gereja yang sama. Memang pertemanan kami tidak terlalu akrab, pada waktu di kelas 3 SD kami bahkan jadi bermusuhan.


“Ma, aku tidak tahu apa yang kulakukan pada si Budi sehingga ia sangat membenciku?” kataku kepada ibuku pada suatu hari. “Sebagai manusia, kalau dia memperlakukanku jahat, aku pasti akan membalas juga, walaupun diajarkan untuk tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Aku kan anak perempuan, mengapa dia memperlakukan aku seperti anak laki-laki!” Di sekolah, kami sering berkelahi ma, banyak kekerasan yang dia lakukan padaku. Guru juga tahu, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.” Aku mengadu lebih lanjut kepada ibuku. Ibu dan ayahku berulang-ulang memintaku untuk bersabar dan tetap mendoakan anak tersebut. Belakangan, aku dapati rupanya dia pikir aku yang meletakkan sepatunya dalam bak sampah, padahal aku sama sekali tidak pernah melakukannya. Ketika aku sudah berada di kelas 6 SD, aku sudah belajar untuk menjadi lebih sabar. Aku belajar memperlakukan dia dengan baik, walaupun dia masih berlaku buruk kepadaku. Kadang-kadang kami masih berkelahi meskipun tidak menggunakan kekerasan lagi, melainkan menggunakan kata-kata sebagai senjata. “Hal itu sebenarnya sungguh buruk” Pada suatu hari, guru menempatkan kami untuk duduk berdampingan di kelas. Hari-hari berikutnya dia mulai berubah menjadi lebih baik. Aku tidak tahu apakah dia berpura-pura baik atau benar-benar berubah menjadi anak yang baik.


Ayat pagi ini mengingatkanku akan masa laluku. Aku harus mencintai musuhku. Dia bukanlah musuhku lagi. Kami berpisah ketika kami memilih sekolah menengah yang berbeda. Kami saling memaafkan. Aku yang lebih dahulu meminta maaf kepadanya, walupun sebenarnya dia yang terlebih dahulu memulai masalah. Aku tidak menyimpan kemarahan padanya lagi, aku juga tidak mengharapkan dia akan memaafkanku, tapi yang penting aku memaafkannya. Aku mencintainya sebagai sahabat, dan aku merasa tidak mempunyai musuh lagi sekarang. Selama hidup-Nya di dunia ini, tidak sedikit orang yang memusuhi Yesus Kristus. Bahkan pada hari kematian-Nya, orang-orang itu tetap mengeraskan hati dan tidak menunjukkan rasa ingin meminta pengampunan. Meskipun demikian, Yesus Kristus tetap mengampuni mereka semua. Ia mengampuni kita semua dan menjadi contoh yang hidup. Bagaimana mungkin kita, sesama orang-orang berdosa, tidak mampu mengampuni satu sama lain? Memaafkan itu bukanlah hal yang mudah, tetapi di dalam Yesus, semua hal itu mungkin.


Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Saturday, September 10, 2011

BISIKAN DOA SANG ANAK

Yakobus 5:15-16, “Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”


Pada suatu pagi, setelah beristirahat sepanjang malam saya bangun dan turun dari pelaminan menuju ke kamar mandi. Namun ketika berjalan, ada rasa sakit pada kaki bagian jempol, tetapi karena harus bekerja saya hiraukan rasa sakit itu dengan tetap mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor. Setibanya di kantor saya terlibat dengan pekerjaan yang mengasyikkan sambil merasakan kaki yang sedikit sakit itu. Ketika hari bertambah siang, jempol kiri semakin terasa sakit untuk berjalan tetapi saya tetap meneruskan pekerjaan sampai waktu kerja berakhir. Malam hari sesampainya di rumah, saya memeriksa jempol kaki yang semakin sakit dan terlihat memar kemerahan, rasa sakit pun semakin tidak tertahan.


Ketika istri melihat kaki saya yang membengkak segera dia mengangkat telepon berbicara dengan pamannya, seorang dokter yang bertugas di kota Manado dan memberitahukan ciri-ciri kaki saya yang sedang sakit. Paman pun memberikan penjelasan bahwa sakit yang saya derita itu kebanyakan diderita oleh orang-orang yang berasal dari daerah Utara, Sulawesi dan Sumatera yang disebabkan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang tinggi purin mengakibatkan asam urat tinggi. Paman menasihati saya untuk mencari tiga macam obat. Istri dan anak saya pun segera pergi ke apotik di sekitar kawasan perumahan kami, cukup lama menunggu mereka sambil menahan sakit. Saya mendengar gerbang rumah dibuka berarti mereka sudah kembali dengan membawa obat yang diperlukan. Anak perempuan kami yang masih kecil datang menghampiri dengan wajah yang agak cemas dan berkata, “Ayah, kami sudah ke beberapa apotik mencari obat tapi masih ada satu obat lagi yang belum dapat”, kemudian dia mendekat berbisik ke telinga saya, “Ayah, obat tidak ada tapi tadi waktu di mobil, Bunda sedang setir mobil aku dibelakang jok bertelut berdoa kepada Tuhan Yesus supaya sakitnya ayah bisa sembuh.”


Mendengar bisikan anak kami yang masih berusia enam tahun, saya tersenyum mendekati dan menciumnya serta mengucapkan, “Terima kasih Nak.” Kaki yang terasa sakit menjadi tidak terasa sakit lagi. Perhatian dan kasih sayang yang terjalin antara suami-istri dan orang tua-anak akan menghilangkan penderitaan dan kesusahan. Seringkali kita melanggar aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan sehingga berakibat buruk bagi tubuh kita sendiri namun demikian dengan perantaraan orang di sekitar kita, suami, istri, anak, tetangga, saudara seiman di gereja, Tuhan Yesus tetap datang menghampiri yang bersalah dan melalui mereka Dia memberi pertolongan, kekuatan, kesembuhan jasmani dan rohani. Marilah kita bina hubungan yang harmonis di rumah tangga kita supaya satu dengan yang lainnya menunjukkan kasih sayang, pertolongan dan kekuatan. Kita juga perlu membina hubungan baik diantara tetangga, saudara seiman supaya ada kedamaian menjalankan kehidupan yang penuh tantangan. Allah memeliharakan kita. Amin.


Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kapada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Friday, September 09, 2011

KELAHIRANKU DAHSYAT

Ayub 5:8-9, “Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku. Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya.”


Kini istri dan anak telah tinggal bersama saya, setelah sekian bulan lamanya kami tinggal di kota yang berbeda. “Bunda, mari kita cari dokter kandungan terbaik di rumah sakit terbaik di kota ini segera, karna kita harus segera memeriksakan kondisi kandungan Bunda setiap minggu. Apa boleh buat, resiko kita pindah kota saat Bunda sudah hamil tua, kita harus siap menyesuaikan kondisi dengan keadaan di lingkungan yang baru ini”. Senang karna telah bergabung dengan keluarga, namun muncul tantangan hidup lainnya yakni mencari dokter kandungan di wilayah yang baru kami huni.

"Ibu kondisi kandungannya baik-baik saja. Diperkirakan dua hingga tiga minggu mendatang tiba waktu untuk bersalin”, sang dokter menjelaskan dengan tenang dan percaya diri. Kami pun merasa nyaman dengan keterangan dokter tersebut. Karna malam itu ada kebaktian di gereja, kami pun segera meluncur untuk turut berbakti. Setibanya kami di rumah, tiba-tiba istri saya berkata sambil menahan sakit, “Ayah, kok perutku terasa mulas, sakiiittt bangeeett. Gimana nih, aku kenapa ya?” “Bunda harus tenang, kita ke rumah sakit aja”, jawabku sambil mengemas barang-barang perbekalan di rumah sakit. “Aduh, sakit banget. Aku udah gak tahan nahan sakit”, istri saya mengerang-erang kesakitan. Tidak lama kemudian tiba-tiba jok mobil yang diduduki istri saya basah seluruhnya dan terdengar bunyi, “pis … pis … pis”, istri saya seperti mengeluarkan air seni. Ternyata air sejenis air seni itu adalah air ketuban yang telah pecah. Kami tidak mengerti jikalau itu air ketuban.

Kami pun tiba di rumah sakit dan istri saya harus digendong untuk didudukkan di atas kursi roda karena sudah tidak sanggup untuk melangkah berjalan. Sementara pihak rumah sakit memberikan pertolongan kepada istri saya, saya mendengar perawat rumah sakit berkata, “Tahan Bu, kita tunggu dokter tiba sebentar lagi.” Saya beranjak untuk mengambil pakaian ke mobil. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar tangisan seorang bayi, “Uek … uek …. Uek”. “Suster, itu suara bayinya siapa?” tanyaku kepada perawat. “Oh, itu bayinya ibu yang baru masuk tadi”, demikian perawat mengarahkan jari telunjuknya kepada istri saya. Ternyata istri saya telah melahirkan hanya mendapat pertolongan perawat sementara dokter sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Puji Tuhan, istri saya dan putri kami ternyata baik-baik saja walau tanpa pertolongan dokter dan air ketuban sudah pecah. Sungguh luar biasa bagaimana Allah mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita, seperti ayat kita pagi ini. Sungguh tak terduga dan ajaib perbuatan tangan-Nya. Saya percaya saudaraku yang lain juga memiliki pengalaman menarik bersama Yesus. Masihkan kita ragu untuk mencari Allah dalam hidup kita? Renungkanlah semua perbuatan besar dan ajaib Allah bagi hidup kita, jadilah percaya dan berserah hanya kepada-Nya, alamilah kuasa Allah dalam hidupmu. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Thursday, September 08, 2011

WELCOME DI KOTA PAHLAWAN

Kejadian 12:1-3, “Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu mashyur, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

“Aku mau Yesus sertaku, ku takut sendirian. Bila Tuhan dekat aku, lengan-Nya melindungkan. Aku tak akan takut, karna dipimpin Yesus.” Dengungan lagu ini menjadi teman setiaku setiap hari. Telah beberapa hari aku tinggal sebatang kara dan menetap di kota Pahlawan yang ditempuh kurang dari dua jam dari Jakarta melalui pesawat udara. Saat itu adalah awal tahun yakni bulan Januari tahun 1990. Istri yang sedang mengandung anak kedua bagi keluarga kami bersama dengan anak kami yang tertua tinggal di Jakarta untuk sementara waktu hingga saya mendapatkan rumah tinggal yang dibiayai oleh perusahaan baru tempat saya bekerja.

Untuk beberapa saat saya masih harus datang dan pergi ke dan dari Jakarta. Pagi hari itu tepat hari Senin. Baru saja saya menuruni pesawat dan menapakkan kaki di bandara Juanda dengan selamat serta langsung meluncur menuju ke kantor. Tiba-tiba, telepon di ruangan saya berdering dan suara dari pesawat telepon berkata, “Ayah, di bagian perut sebelah kanan tiba-tiba terasa sakit nyeri bercampur panas. Hasil diagnosa dokter, saya radang akut usus buntu dan harus segera diambil tindakan operasi”, demikian istri saya menjelaskan secara detail lewat telepon. “Apa? Bunda harus dioperasi sementara kamu sekarang sedang mengandung? Apa Bunda sudah beritahu dokter kalau Bunda sekarang sedang mengandung?” Kaget dan tersentak bagaikan disambar petir di siang bolong rasanya mendengar berita itu. Namun demikian, saya coba menenangkan hati saya teristimewa istri saya agar tidak panik sehingga tindakan yang akan dilakukan dokter dapat terlaksana dengan baik.

Puji Tuhan, atas penyerahan dan ketergantungan sepenuhnya kepada Allah, Dokter di atas segala dokter itu, maka proses operasi istri saya berjalan dengan baik walau tanpa kehadiran saya disisinya, kondisi kehamilannya pun tidak mengalami gangguan. Sahabat setia yang dikasihi Yesus, berbagai ragam paket kehidupan yang kita harus lewati hari demi hari. Berbagai tantangan yang ada dihadapan kita untuk kita hadapi. Jangan panik dan jangan bimbang. Ingatlah Abraham, Bapa orang percaya itu, tidak memiliki keraguan sedikit pun terhadap janji Allah. Itu sebabnya Abraham tidak pernah mengajukan pertanyaan kepada Allah hendak ke mana ia harus pergi, bersama siapa dan harus membawa apa. Ketergantungannya kepada Allah menghasilkan ketenangan hidup, sebab ia percaya bersama Yesus tidak akan keliru dan pasti akan tiba di tempat tujuan dengan selamat. Tidak heran, jikalau Allah menyebut Abraham sebagai Sahabat Allah. Sudahkah saudara dan saya siap menjadi Sahabat Allah sejak hari ini. Tuhan memberkati kita. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawaqh ini :

Wednesday, September 07, 2011

TELEPON WASIAT

Amsal 22:1, “Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas.”


“Allah itu baik, Allah itu baik. Allah itu baik, sungguh baik bagiku”, terngiang dengan jelas syair lagu ini di telingaku. Bagaimana tidak? Allah tidak saja memberikan pekerjaan yang baru bagiku setelah aku enam bulan lamanya menganggur tanpa penghasilan sama sekali, namun Ia telah meminang seorang gadis cantik dan baik hati untuk kupersunting pada hari pernikahanku di bulan Oktober tahun 1985. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun pun berlalu. Bagaikan gelombang air laut yang pada waktunya akan mengalami pasang dan surut, demikian perjalanan bahtera rumah tanggaku berlayar dari hari ke hari. Aku sudah bekerja beberapa tahun di perusahaan yang kedua dan sangat mencintai pekerjaanku saat ini bahkan berusaha melakukan pelayanan yang terbaik terhadap semua klienku.

Sore itu entah angin apa menghampiriku, tiba-tiba seorang rekan sejawat di kantor sebelumnya menelepon saya. Kisah ini terjadi tepat di akhir tahun setelah empat tahun usia pernikahan saya. “Hello, kawan. Apa kabar? Ke mana saja kamu selama ini, susah banget tau aku mencari kamu”, tegur sapa sahabat kantor saya di perusahaan sebelumnya. “Saya baik-baik saja dan di sini gak ke mana-mana kok. Apa yang bisa saya bantu?” responsku kepadanya dalam pembicaraan kami lewat telepon. “Oh, jelas ada yang perlu donk makanya aku sampe setengah mati cari-cari telepon kamu”, tegas sang sahabat. “Tolong kamu telepon bapak yang dulu menjadi klienmu, ada yang penting dia ingin bicarakan sama kamu. Dia selalu menanyakan kamu ke saya”, lanjutnya menerangkan. Saya pun mencatat nomor telepon bekas klien ini yang tinggalnya di kota yang berlainan dengan tempat tinggal saya.

Betapa terkejutnya hati saya ketika menerima tawaran pekerjaan mengelola perusahaan yang didirikan dan dimiliki oleh sang bapak mantan klien saya dahulu. Paket remunerasi yang jauh dari memuaskan pun ia berikan termasuk rumah dinas dan kendaraan bahkan saya mendapatkan dispensasi khusus untuk bekerja selama lima hari dalam seminggu sementara karyawan lainnya harus bekerja enam hari seminggu lamanya. Saya pun segera mengiyakan tawaran pekerjaan itu dan siap untuk bekerja di perusahan yang baru bulan mendatang. Hubungan baik, tata krama atau sopan santun yang saya tunjukkan kepadanya selama ini ternyata membawa arti yang tak ternilai. Telepon yang saya lakukan pada hari itu ternyata telepon wasiat karna sang bapak telah menaruh kepercayaan kepada saya. “Kamu jujur menjalankan tugasmu selama saya menjadi klienmu”, kata sang bapak menegaskan alasan mengapa ia memilih saya untuk mengelola unit usaha yang ia kembangkan. Saudaraku, mari kita jaga nama baik kita, nama baik sebagai manusia yang terdidik bahkan nama baik kita dalam menyandang predikat sebagai anak-anak Allah harus menjadi panutan dan menarik minat dan kepercayaan orang lain kepada kita, maka nama Kristus akan ditinggikan oleh banyak mahkluk yang bernafas di bumi ini. Semoga kita dapat mempertahankan identitas, integritas, reputasi, moral yang baik atau nama baik kita dan Allah kita dalam perjalanan hidup yang kita lewati setiap hari. Amin.

Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada Sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini :

Tuesday, September 06, 2011

MAKSUD HATI MEMELUK GUNUNG….

Amsal 16:9, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”


Aku terlahir ke bumi ini sebagai anak tertua di keluarga Ayah dan Ibuku. Allah memberkatiku dengan memberikan tiga orang adik yakni satu orang adik perempuan dan dua orang adik lelaki yang memberi warna tersendiri bagi kehidupanku. Aku bertumbuh dan berkembang dari sejak kanak-kanak hingga dewasa di salah satu kota yang ada di ibukota tanah air Indonesia, Jakarta. Hidup di kota besar metropolitan ini pun ternyata punya masalah dan daya tarik tersendiri, jika tidak pintar memilih teman sepergaulan dan mawas diri, bahaya tendensi melakukan kejahatan di ibukota sewaktu-waktu dapat menarik kita untuk terjun bahkan terjerumus ke dalam jeratnya. Tidak sedikit orang-orang yang sebaya dan sepermainan dengan saya yang gagal untuk meraih masa depan yang gemilang akibat korban lingkungan dan pergaulan yang tidak mendukung. Aku sangat bersyukur sebab Allah memberi kesempatan bagiku untuk menyelesaikan pendidikan sarjanaku walau harus mengungsi ke kota lain yang jaraknya kurang lebih sekitar 150 kilometer dari kota tempat saya dibesarkan.


“Ya Allah, ya Tuhan. Terima kasih untuk pekerjaan yang telah aku terima dari tangan-Mu. Aku menyadari bahwa sesungguhnya itu hanyalah kebaikan-Mu semata, bukan karena kepintaran dan pencapaianku. Bantulah aku, ya Allah agar aku dapat menabung uang hasil pekerjaanku hingga dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat Pasca Sarjana”, doaku saat merenungkan berkat dan kebaikan Tuhan sekaligus menyerahkan semua rencana dan kerinduan hatiku kepada-Nya. Aku pun bekerja sungguh-sungguh bahkan sampai empat tahun lamanya membaktikan diri di salah satu perusahaan sambil mengumpulkan dana untuk melanjutkan kuliah. Hari yang kunantikan pun tiba, “Pak, terima kasih untuk semua kesempatan kerja dan kerjasama yang telah terjalin. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, atas satu dan lain pertimbangan saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan ini terhitung sejak bulan depan”, demikianlah bunyi isi surat berhenti bekerja yang ku ajukan pada hari itu.


Bermodalkan dana tabungan hasil kerja selama empat tahun, aku pun telah berhenti bekerja dan sibuk dengan mencari kampus yang tepat untukku dalam melanjutkan pendidikan. Namun apa hendak di kata, dana tabungan yang dikumpulkan sekian tahun lamanya lenyap dalam waktu kurang lebih satu bulan saja diakibatkan penyakit yang menyerang tubuhku hingga dirawat di rumah sakit satu bulan lamanya. Alhasil, aku pun tidak pernah melanjutkan kuliah ke Pasca Sarjana, pekerjaan ku hilang, uang ludes dan jadilah aku sebagai penyandang status Pengacara (Pengangguran banyak acara) hingga beberapa bulan lamanya. Aku memikir-mikirkan yang baik bagiku menurut pengertianku sendiri, namun Allah mengijinkan perjalanan hidupku berbeda dengan yang aku rencanakan. Satu hal yang pasti hingga saat ini aku masih dapat bertahan hidup dan mencapai berbagai keberhasilan atas karunia dan kemurahan Allah yang pernah menguji ku dengan berbagai hal yang dapat mengancam imanku untuk tidak terpaut kepada-Nya. Dalam kesabaran dan penyerahan kita kepada-Nya, Allah mempersiapkan perencanaan yang jauh lebih baik hasilnya di kemudian hari bagi kita. Allah memberkati kita semua untuk tetap meyakini-Nya dalam segala perkara yang kita hadapi. Amin.


Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini:

Monday, September 05, 2011

BICARAKAN YANG INDAH SAJA

Filipi 4:8, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”


Sore itu matahari mulai menyembunyikan wajahnya di balik awan. Waktu menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Saya sekitar empat puluh menit terlebih dahulu tiba di rumah, menyusul istri dan anak-anak saya. Mereka baru saja pulang berlebaran dari rumah kakak wanita tertua saya yang beragama Muslim. “Ayo, kita jalan. Adek, kita duluan ke mobil yuk biar nanti Mami dan kakak menyusul”, ajakku kepada si bungsu. Tidak lama berselang istri saya juga memasuki mobil dan kami berangkat ke pusat kota untuk berbelanja CD – compact disc yang berisikan software-software yang saya perlukan. “Papi, aku sama Adek ke sebelah sana ya, kami mau liat-liat CD lagu-lagu kali aja ada yang bagus”, kata istri saya sambil berjalan menuju ke lokasi yang mereka tunjuk.


Sementara saya telah selesai membeli keperluan, sambil menunggu istri dan anak saya, mata saya tertuju ke salah satu toko langganan saya yang telah lama saya tidak kunjungi. Toko itu dilengkapi dengan seluruh elektronik mulai dari telepon genggam, LCD projector dan berbagai media player elektronik lainnya. “Halo, Ko, apa kabar?” saya menyapa beliau sambil memasuki pintu tokonya. Sang pemilik toko dengan senyumnya yang khas menjawab, “Oh, kami baik-baik saja. Udah lama nih gak maen ke sini, apa ada yang perlu lagi mau di cari?” “Wah, kebetulan gak ada yang di cari sih, hanya kangen mau mampir aja”, jawabku. “Oh, iya gak apa-apa, silahkan duduk. Saya kirain lagi mau liat-liat HP atau Ipad dan sejenis elektronik lainnya, ada beberapa barang baru kebetulan”, lanjutnya berusaha mempromosikan barang-barang dagangannya. “Oh gitu ya. Kebetulan semua jenis yang Koko sebutkan tadi udah punya sih”, jawabku. “Hebat donk kalo udah punya semua”, komentarnya lebih lanjut. “Iya nih kebetulan aja kali lagi untung jadi bisa punya semua, gak tau kalo lagi apes”, lanjutku berkomentar.


Tiba-tiba dia berkata, “Eh Pak, jangan ngomong gitu. Yang jelek-jelek atau apes gak perlu diomongin, omongin yang bagus-bagus aja. Seolah-olah bapak mengaminkan hal yang apes juga, gak baik itu. Omongin yang baik-baik, biar nerima anugrah yang baik dari Allah. Gak ada kamus omongan negatif kalo untuk anak Allah”, katanya berkomentar lebih jauh. Saya jadi teringat dengan tulisan Firman Tuhan sesuai ayat roti pagi hari ini. Sesungguhnya umat Allah tidak pernah memikirkan hal-hal yang buruk, yang baik saja perlu diomongin supaya pikiran kita diisi dengan hal-hal yang baik saja, baik untuk kita bicarakan kepada orang lain, maupun ketika membicarakan orang lain hendaknya yang baik-baik saja yang kita bicarakan. Dengan membiasakan diri membicarakan perkara-perkara terindah, maka jiwa kita akan diisi dengan hal yang damai dan indah pula maka indahlah hidup ini kita lewati bersama dengan jaminan anugerah Tuhan menyertai kita setiap saat. Allah memberkati kita memiliki pikiran yang indah dan sedap untuk didengar. Amin.


Mari Kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat Kita dengan menggunakan tombol “Tell A Friend” dibawah ini: