Jumat, September 30, 2016

Terlambat Dianggap Tidak Masuk


Matius 25:10 “Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.”


“Tok..tok..tok…!!” sayup-sayup aku dengar suara ketukan di pintu kamarku.  “Hmmm…rasanya masih ingin tidur…” gumamku dalam hati sambil menggerakkan sedikit tubuhku di atas kasur.  Semalam aku tidur agak larut, karena banyak sekali tugas-tugas dari dosen yang harus diselesaikan.  “Bang, bangun ! Nanti kamu terlambat ke kampus…” kali ini aku dengar suara papa dari balik pintu.  “Wah, sudah jam setengah enam !” aku terperanjat melihat jam dan segera melompat dari tempat tidur. “Waduh ! Aku lupa pasang alarm untuk bangun pa!  Oke, aku mandi sekarang…” ucapku tergesa sambil membuka pintu dan segera mandi.  “Jam berapa kuliah pagi ini, bang?” tanya papa sambil mengantar aku ke tempat perhentian bis.  “Jam 7:40 pa.  Mudah-mudahan tidak telat ya…Bye pa!” aku cium papa dan bergegas naik bis.

“Sudah sampai dimana kamu bang?” tanya papa di layar telepon genggamku.  “Wah, gawat pa! Ini baru sampai tol di Halim.  Macet banget !  Sudah jam 7:15…Aku pasti telat deh!”  balasku sambil melihat-lihat ke depan jalan.  Mobil-mobil hampir tidak bergerak sama sekali.   “Ya, abang sabar aja ya.  Kita nggak bisa buat apa-apa juga kan?” tulis papa lagi sambil mencoba menghiburku.  “Iya sih pa…tapi aku nggak enak nih sama dosen-nya nanti.  Apalagi dia punya peraturan, kalau datang terlambat di kelas, maka itu akan dihitung sebagai absen.   Dosen akan anggap aku tidak hadir pa…” jelasku lagi.  Pagi itu aku sampai di ruang kelas hampir jam 9 pagi.  Terlambat 1 jam dari jadwal kelas.  Dosen membolehkan aku masuk kelas, tapi aku tetap dianggap absen untuk hari itu.  Itu adalah kebijakan dari salah satu dosenku di kampus.  Tujuannya  jelas, supaya semua mahasiswa datang tepat waktu.  Walau terlambat, mahasiswa diperbolehkan masuk dan mengikuti kelas seperti biasa.  

Hal ini berbeda kalau kita bicara tentang terlambat masuk ke surga.  Di dalam ayat inti Roti Pagi hari ini, ada 5 anak dara yang terlambat masuk ke dalam pesta pernikahan.  Mereka tidak mempersiapkan diri.  Minyak untuk pelita habis.  Dan ketika mereka membeli minyak, pesta telah dimulai.  Ketika mereka tiba, pintu telah ditutup! Mereka terlambat dan tidak bisa masuk ke ruang pesta.  Tidak ada kata terlambat untuk masuk dalam kerajaan surga.  Terlambat berarti tidak masuk ke dalam surga.  Yesus akan datang segera.  Apakah kita sudah bersiap dan bersedia?  Jangan tunda lagi persiapan kita.  Karena untuk Allah, terlambat berarti tidak bisa masuk bersama Yesus ke dalam surga.  Saya tidak mau terlambat masuk ke surga !  Bagaimana dengan anda?


May the Holy Spirit help us to be ready every day!

Minggu, September 25, 2016

Perkataan yang baik akan diingat


Amsal 25 : 11
“Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”

Dalam sebuah kesempatan membawakan firman Tuhan,  dari atas mimbar saya memperhatikan ada seorang ibu dengan wajah yang tidak terlalu asing, sepertinya sangat mengikuti firman yang saya sampaikan. Ibu itu selalu tersenyum, sekali-sekali mengangguk, bahkan sering kali merespon pertanyaan yang saya  lontarkan.
"Mari kita berfoto bersama, setelah itu langsung ke ruang serba guna di belakang gereja.  Kita akan makan bersama.  Makanan sederhana yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu."  Demikian seorang ketua jemaat menghampiri kami sekeluarga,  setelah jam khotbah selesai.

Di ruang serba guna, saya melihat  meja penuh dengan makanan yang lezat-lezat, tidak ketinggalan semua makanan khas daerah setempat  yang  tersaji dengan lengkap.   Dalam setiap kesempatan berkunjung ke kota ini,  selalu banyak kenangan masa lalu yang kadang-kadang muncul tanpa di sangka-sangka.  "Masih kenal saya?"  ibu yang selalu menebar senyum ketika saya berkhotbah, datang menghampiri dan duduk di samping saya.  “Maaf,  wajah ibu tidak asing buat saya,  tapi saya lupa namanya, maaf, maaf….."  Ada perasaan tidak nyaman, karena saya kesulitan mengingat nama ibu ini.  Ibu itu tersenyum lalu berkata "Tidak apa, maklum sudah lebih dari 30 tahun tidak bertemu.  Saya adalah........” si ibu menyebutkan namanya.         “Masih ingat peristiwa waktu saya membawakan pengumuman dalam bahasa Inggris yang berantakan  di jam 'worship.'?" Anak-anak asrama semua mentertawakan saya,   tapi kamu membela saya, dan  memberi semangat kepada saya untuk terus belajar Bahasa Inggris."  "Oh  begitu,  …  Ya.. ya..  saya jadi ingat sekarang ..." Sementara kalimat ini saya ucapkan,  sebenarnya saya masih berusaha keras membuka file kenangan lama waktu di kampus, untuk mengingat kejadian yang disampaikan oleh ibu tadi.  Di kampus memang ada program  ‘English Day’.  Pada waktu ‘English Day’, semua harus menggunakan bahasa Inggris, baik yang sudah fasih, maupun yang baru belajar.   Kejadian serupa yang dialami oleh ibu tadi,  sebenarnya adalah hal yang biasa terjadi pada jam worship di  ‘English Day’.     "Karena kejadian itu,  dan karena saya dibela dan diberi semangat,  saya jadi dipacu untuk belajar bahasa Inggris. Sekarang saya adalah guru bahasa Inggris."  "Wow,  Puji Tuhan!!”

Pena inspirasi menjelaskan, di antara banyak pelajaran yang dapat ditarik dari kehidupan Salomo, tidak ada yang lebih kuat ditekankan daripada kuasa pengaruh, perkara yang baik atau perkara yang buruk.  Betapapun kecilnya lingkungan kita, kita tetap memberikan suatu pengaruh untuk kebahagiaan atau kesengsaraan.  Di luar pengendalian atau sepengetahuan kita, hal itu menyatakan berkat atau kutuk bagi orang lain.  Setiap perbuatan, setiap perkataan, adalah suatu benih yang akan mendatangkan buahnya.  Raja Salomo mengatakan perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”   Dengan pertolongan Tuhan,  kiranya hanya kata-kata berkat yang akan terucap dari bibir kita yang akan membawa pengaruh kebahagiaan bagi orang lain.  Tuhan memberkati.

Jumat, September 23, 2016

Dunia ini bukan rumah kita



Filipi 3 : 20, “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai  Juruselamat.”

Siang itu cuaca sangat cerah.  Kami sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan anak kami ke tempatnya bertugas.  Bahan bakar kendaraan yang kami kendarai sudah menunjukkan tanda-tanda harus segera diisi.  Solar adalah barang yang langka di kota ini.  Antrian panjang untuk mendapatkan solar adalah hal yang biasa terlihat di tempat penjualan bahan bakar.  " Di mana kira-kira beli solar yang tidak antri?" Aku bertanya kepada saudaraku.  "Coba kita ke pom bensin daerah ...."  kata saudara kami yang mengenal dengan baik lokasi-lokasi tempat penjualan bahan bakar.

"Kerupuk-kerupuk ..."  seorang ibu berusia lanjut menawarkan dagangannya kepadaku, sementara aku mengisi bahan bakar di mobil.    "Tisue juga ada, aqua juga ada.."  "Berapa harga kerupuk ini?"  "Lima  ribu rupiah satu bungkus."  Aku mengambil 2 bungkus dan menyerahkan sejumlah uang.  "Ibu, ambil saja kembaliannya." kataku kepada ibu tersebut. " Oh, jangan,  ini  saya tambah lagi kerupuknya. Kalau tidak mau kerupuk,   tissue juga boleh."  si ibu berusaha menawarkan alternatif  pengganti uang kembalian dengan barang dagangan lainnya.  Aku berpikir ibu ini agak berbeda dengan pedagang asongan lainnya, yang pada umumnya akan mengambil kembalian yang diberikan dan mengucapkan terima kasih. "Ehh.. ibu itu anggota gereja kita"  kata saudara kami yang duduk di bagian belakang mobil, ketika mengenali wajah si ibu.   Mendengar itu, kami semua tergerak untuk memberi lebih.   "Ibu,  ini ada berkat tambahan buat ibu.   Kita bersaudara dalam Tuhan,  ibu seiman dengan kami, ambil ya, tidak usah diganti dengan barang dagangan."  Si ibu penjual kaget juga senang.   Mungkin ada kedekatan mendengar kata seiman, diapun  tidak menolak lagi. " Terima kasih,  saya akan pakai uang ini untuk mempercantik diri (sambil tersenyum, memperlihatkan giginya yang sudah tidak lengkap ☺).”  Kami juga tersenyum mendengar canda  si ibu.    “Baik-baik semua ya, tetap setia sampai Tuhan datang. Dunia ini bukan tempat tinggal kita."  Si ibu memberi pesan.  Setelah saling memberikan salam, kami melanjutkan perjalanan.  Menurut keterangan saudara kami, rupanya si ibu adalah pensiunan penjual buku, oleh sebab itu hampir semua anggota gereja yang seiman di kota itu mengenal si ibu yang sekarang sudah beralih profesi menjadi penjual dagangan di pom bensin.

Puji Tuhan, pekerjaan apapun yang dia geluti, ibu itu telah menunjukkan   sebuah sikap  yang baik,  yang patut ditiru.  Ibu itupun setia bersaksi dan mengingatkan bahwa dunia ini bukan tempat tinggal kita yang sebenarnya.  Mari, kita hidupkan kehidupan yang senantiasa setia kepada Tuhan dalam hal apapun yang kita lakukan sambil saling mengingatkan bahwa dunia ini bukanlah rumah kita.

Rabu, September 21, 2016

Pakaian Yang Pantas


Matius 22 : 11,12 “Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.  Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?  Tetapi orang itu diam saja.”

“Yuk,  kita masuk ke kelas sekarang… sebentar lagi dosen nya datang…” ajakku kepada teman-teman usai makan siang.  Kami bergegas menuju ke ruang kelas.  Sudah tiga minggu aku berada di kampus ini dan menikmati suasana baru, menjadi seorang mahasiswa.  “Besok kita akan berkunjung ke kantor KASKUS. Kalian nanti bisa banyak belajar bagaimana bisnis di dunia maya seperti mereka bisa sukses seperti sekarang ini,” ujar dosen mengakhiri kelas hari itu.  “Wah, asik nih… Banyak yang aku mau tanya-tanya nanti sama mereka.  Siapa tahu kita bisa ikutin jejak mereka nanti, iya nggak?”  kataku bersemangat kepada teman di sampingku.  Sudah lama aku mengagumi situs jual-beli online ini yang diciptakan oleh orang-orang muda kreatif.  “Iya, pasti dong! Aku juga penasaran ingin lihat bagaimana mereka mengelola bisnis mereka…” timpal temanku tidak kalah serunya. Teman-teman lain ikut berceloteh riang sambil berjalan keluar kampus untuk pulang.  “Hmmm…papa juga pasti senang nanti kalau aku beritahu kabar ini,” gumamku dalam hati sambil menikmati kemacetan Jakarta di dalam bis menuju pulang ke rumah.

“Wah, asik tuh bang…kamu pasti bisa dapat banyak pengetahuan di sana.  Siapkan pertanyaan dari sekarang.  Kamu termasuk yang suka memakai jasa mereka, kan?” kata papa menggoda aku sambil tersenyum lebar. Aku tersenyum simpul.  “Oke pa…aku siapin semua buat besok ya,” balasku sebelum pergi ke kamarku untuk berberes.   Jam 5 pagi aku sudah rapih siap untuk berangkat dengan mengenakan kaos Polo warna hitam.  “Loh, abang kok pakai kaos Polo?”  tanya papa sedikit heran.  “Kan ini rapih, pa?  Memangnya tidak boleh ya?” tanyaku tidak kalah heran.  “Abang kan mau berkunjung ke kantor.  Biasanya pakaian ke kantor harus formil bang.  Mereka biasa pakai baju yang pantas untuk ke kantor.  Jadi kita sebagai tamu, sebaiknya juga pakai baju yang pantas kalau berkunjung ke kantor mereka,” papa menjelaskan sambil tersenyum.  “Oh oke, kalau gitu aku ganti baju dulu ya pa…” dengan cepat aku masuk lagi ke rumah untuk berganti pakaian yang pantas.

Kita harus memakai pakaian yang pantas ke tempat mana kita pergi. Pakaian resmi dipakai di tempat yang resmi pula.  Ayat Roti Pagi hari ini menggambarkan raja yang terkejut dan marah karena seorang undangan datang tanpa pakaian yang pantas. Orang itu akhirnya dicampakkan ke tempat yang gelap.  Undangan masuk ke surga diberikan kepada semua orang. Setiap yang menerima undangan patut mengenakan pakaian yang pantas. Yesus menawarkan pakaian yang layak kita pakai.  Tabiat yang baru yang sesuai dengan tabiat Kristus dilambangkan oleh pakaian yang layak itu.  Maukah kita menerima tawaran Yesus, mengenakan tabiat yang serupa dengan Dia?  Kita harus menerima tawaranNya sekarang  agar kita disiapkan untuk turut dalam pesta kerajaan Surga saat Yesus menjemput kita. 


Have a wonderful day !

Selasa, September 20, 2016

Berbagi kebahagiaan


Amsal 17:22 - "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat  yang patah mengeringkan tulang."


"Selamat sore tante" seorang anak laki-laki berusia 10 tahun menyapa saya dan teman2 saat kami tiba di rumah itu. "Silahkan masuk dan langsung ke atas saja" lanjut seorang wanita setengah baya mempersilahkan kami masuk dan mengantarkan kami ke ruang atas tempat dimana anak-anak lainnya telah berkumpul. "Selamat datang Om dan Tante...", demikian anak-anak serentak menyambut kami. Wajah mereka tampak riang gembira, ceria, dan segar. Tak terlihat jika mereka adalah penderita penyakit berat. Kami sedang mengunjungi sebuah rumah tempat persinggahan anak-anak prasejahtera penderita sakit berat. Mereka tinggal disana sementara waktu menunggu tersedianya ruang perawatan di RS. Tujuan kunjungan kami adalah menghibur mereka dan memberikan kekuatan agar mereka mampu bertahan dan bersabar dalam menjalani penyakit mereka.

Kami menyanyi bersama, menggambar dan mewarnai, bermain games edukatif menggunakan laptop, dan mendengarkan cerita inspiratif yang mengajak mereka untuk selalu berpikir positif agar kembali sembuh seperti sediakala. Tampak anak-anak begitu antusias mengikuti aktifitas yang kami bawakan. Beberapa kali kami melihat anak-anak itu melompat  kegirangan, bercanda dan tertawa terbahak-bahak seakan mereka lupa jika mereka adalah anak-anak penderita sakit berat seperti kanker, jantung, dll.

Kami sedang menikmati makan malam bersama ketika salah seorang dari anak-anak tersebut melontarkan guruan,"Hari ini kami tidak sakit, kami sangat senang atas kunjungan om dan tante. Tapi besok mungkini kami sakit lagi". Kami semua tertawa. Terdengar seperti gurauan, saya mencoba memahami isi kata-kata dari anak tersebut dan mengartikannya sebagai uji coba ilmiah. Sementara kami bermain, menyanyi bersama-sama bahkan mengobrol sambil bersenda gurau, saya memperhatikan wajah anak-anak itu  terlihat sangat senang, gembira dan bahagia. Tak tampak gambaran kesedihan atau kesusahan terpancar  di wajah mereka, seakan membuktikan kebenaran yang  Alkitab katakan, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur".

Cerita diatas membuka mata hati saya bahwa memberikan waktu kita kepada orang yang tepat membutuhkannya adalah bagian dari membagi kebahagian. Kebahagiaan yang kita berikan akan menjadi obat yang paling mujarab dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Biarlah tangan Tuhan yang akan menuntun hati kita untuk menjadi saluran kebahagiaan bagi orang-orang yang membutuhkan hari ini.

"Bahagia itu berbuat sesuatu dengan ikhlas, dan membuat orang lain tersenyum, bahkan tertawa lepas".

Selamat berbagi kebahagiaan hari ini. Tuhan memberkati.

Jumat, September 16, 2016

Maaf, saya bersalah!


Amsal 15:1, Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

"Saya berangkat ke kantor ya Ma", saya pamit kepada istri saya pagi itu. "Mari kita berangkat" demikian saya mengajak abang saya yang kebetulan bekerja di daerah yang sama dengan saya, di kawasan Sudirman. Pagi itu saya tidak langsung menuju kantor tetapi  saya harus mengikuti pengadilan Pajak mewakili kantor saya di Departemen Keuangan  di daerah Lapangan Banteng. Maka saya berangkat ke gedung dept keuangan lapangan Banteng melalui toll dalam kota Tanjung Priok – Salemba.


"Priiittttt....". Tiba-tiba polisi memberhentikan kendaraan kami. "Selamat pagi", polisi tersebut menyapa kami. "Selamat pagi", saya membalas sapaan polisi tsb. Ternyata kami telah melakukan kesalahan, saya ambil arah belok kiri dan tidak melihat atau tidak awas bahwa saya sudah mengenai diatas garis putih yang tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. Polisi langsung meminta SIM dan STNk
Abang saya langsung turun dari mobil dan saya tetap duduk dimobil, sehingga abang saya dan polisi yang berdiskusi. Saya melihat polisi memberikan form Tilang yang harus diisi. Abang saya menjawab "Iya pak polisi kami salah tapi janganlah langsung ditilang", tetapi polisi menjawab "Mobil anda ditilang". Abang saya agak marah dan berkata, "Bagaimana kami masyarakat bisa respek kepada polisi hanya kesalahan sekecil seperti ini saja dipersoalkan padahal kami sudah minta maaf". Polisi tersebut tampak marah juga dan  memberikan argumentasi yang menekankan bahwa kami memang salah, melanggar aturan lalu lintas, bisa membahayakan pengendara lain dan harus ditilang. Demikianlah abang saya dan polisi berargumentasi cukup lama.
Saya mendengar dari mobil, abang saya dan polisi berrgumentasi dan masing-masing sudah emosional.

Lalu saya turun dari mobil dan langsung mendekati polisi, "Selamat pagi Pak Polisi, kenapa lama sekali pembicaraan kalian?". Begini saja pak Polisi, saya yang membawa mobil, saya yang bertanggung jawab, saya minta maaf sudah melakukan kesalahan, kebetulan pagi ini saya harus mengikuti pengadilan pajak di Kementerian Keuangan, saya buru-buru, tolong apa yang harus saya lakukan, kalau mau ditilang, apa yang harus saya isi dan harus saya lunaskan. Tiba-tiba polisi berubah raut wajahnya dan tampak wajahnya tidak marah lagi dan berkata, "Tidak perlu pak, bapak bisa pergi, saya tidak jadi tilang karna bapak sudah minta maaf dan tidak marah-marah".
Dengan tidak marah dan emosi kita bisa menyelesaikan setiap permasalahan, kiranya ini menolong kita untuk berpikir, berbicara dan bertindak dengan lebih sabar dalam menghadapi setiap permasalahan. Tuhan memberkati



Kamis, September 15, 2016

LAMPION


Matius 5:13, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

"Acara apa 'pelepasan Lampion' itu ya? tanya saya sedikit penasaran kepada salah seorang panitia setelah melihat daftar acara yang dibuat untuk malam itu. Seperti apa nanti acaranya, apakah tidak bahaya, pesertanya siapa saja yang diperbolehkan atau yang bisa melakukan pelepasan lampion itu dan tempat nya dimana?" Serentetan pertanyaan ini kemudian dijawab oleh nya; "Pasti akan seru sekali bang, tidak bahaya, dan semuanya bisa melepaskan lampion." Luar biasa memang ide orang muda gereja kami untuk acara yang menarik semacam ini pikirku.

Suasana keceriaan malam minggu dalam acara Retreat Jemaat di Gereja kami yang diadakan di salah satu penginapan nan sejuk diperbukitan yang indah belum berakhir dan bahkan berlanjut dengan acara puncak yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu pelepasan lampion."Waaah, seru sekali tentunya dan semakin penasaran seperti apa nanti pikir ku?"
Semua peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini, mulai dari anak-anak hingga para orang tua, masing- masing membawa lampion sambil berjalan menuju lapangan terbuka sesaat setelah gerimis turun. Masing-masing membentuk kelompoknya 4 orang untuk memegang di 4 sisi kertas lampion, membakar sumbu yang ada ditengahnya kemudian setelah menyala dengan sempurna, kertas lampion akan mengembang lalu perlahan dilepaskan keudara dan akan terbang melayang tertiup angin dengan pendar cahaya warna warni sesuai warna kertasnya menghiasi langit yang gelap dengan rupa warna cahaya lampu lampion.
Betapa indahnya terang itu bercahaya di tengah malam yang gelap gulita, Cahaya yang dipancarkan dapat terlihat dari kejauhan membuat hati merasa tenang, aman, senang, tentram dan nyaman bagi orang- orang disekelilingnya.

Demikian juga Tuhan inginkan kita menjadi “terang dunia." Terang tidak mungkin tidak diperlihatkan. Cahayanya haruslah terpancar untuk menerangi sekitarnya. Seperti halnya lampion yang sanggup menjadi terang dimalam gelap, cahaya terang kita haruslah terlihat, sanggup menerangi dan memberi manfaat bagi orang-orang disekitar kita. Tuhan akan menolong kita untuk menjadi lampion – lampion indah yang akan membawa terang ke seluruh dunia. Kiranya Tuhan memberkati kita!


Rabu, September 14, 2016

Beratkah bebanmu?


Matius 11 : 28, “Marilah kepada-Ku   semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan  kepadamu.

"Terima kasih Tuhan atas penyertaanMu......"  adalah  doa yang kulayangkan,  segera setelah pesawat yang kutumpangi mendarat dengan mulus di bandara International Soekarno Hatta.  Menurut statistik, pesawat adalah salah satu alat tranportasi yang teraman di dunia, namun setahuku,  hanya pesawat yang menyiapkan  “penuntun doa”  dalam berbagai bahasa,  untuk dilayangkan sebelum pesawat  akan "take off" Rasanya kita semua setuju, ketika bepergian dengan pesawat, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menyerahkan perjalanan itu ke dalam tangan Tuhan.

Setelah mengambil bagasi, aku berjalan ke luar, membeli tiket bus Damri jurusan Bekasi.  Selang beberapa saat, bus yang ditunggu tiba, aku segera naik diikuti beberapa penumpang lainnya. Koper bawaan kuletakkan di tempat yang disediakan di dalam bus.  Di sampingku duduk seorang penumpang yang berbadan cukup besar.  Sementara duduk, dia  memangku barang bawaannya yang cukup besar pula. Aku merasa sedikit kurang nyaman, bukan saja karena badannya yang besar, tapi karena barang bawaannya   sudah mengenai tubuhku.  " Pak,  di depan itu ada tempat untuk menaruh bawaan.  Di atas kepala juga ada.  Bapak taruh saja bawaan yang besar di depan,  sedangkan yang kecil  taruh di tempat di atas."  Aku berusaha menganjurkan  kepada bapak di sampingku agar dia  meletakkan barang bawaannya pada tempat yang disediakan.  Si Bapak menoleh,  memandangku tanpa berkedip, tapi tidak  ada tanda-tanda untuk bergerak.   "Aman  pak,  daripada bapak memangku sepanjang perjalanan,  Bekasi kan jauh."  Kataku lebih lanjut untuk meyakinkan si bapak, kalau-kalau ada barang berharga yang dia kuatir akan hilang.   Kembali, si bapak hanya menoleh kepadaku tanpa berucap sepatah katapun.   Akupun jadi terdiam seribu basa,  ada rasa kesal dan ingin marah, tapi aku berusaha menahan diri.   Akhirnya,   aku berusaha menikmati perjalanan panjang dari Cengkareng  ke Bekasi dengan posisi duduk terhimpit  oleh tubuh dan bawaan besar penumpang yang duduk di sampingku.

Pengalaman kurang nyaman yang aku alami dalam bus Damri sebenarnya memberikan pelajaran yang sangat berarti bagiku.  Sering,  ketika beban permasalahan rasanya begitu berat, gantinya kita menyerahkan kepada Tuhan, kita berusaha untuk menanggungnya sendiri, padahal Tuhan sudah meminta kita untuk menyerahkan kepadaNya segala beban  kita.  Yang lebih parah, ketika kita berusaha menanggungnya dengan kemampuan kita sendiri,  tanpa kita sadari, kita sudah menyusahkan orang-orang yang ada di sekitar kita.   Oleh sebab itu, mari kita belajar menyerahkan semua beban2 kita kepada Yesus, maka Diapun akan memberikan kelegaan pada kita.  Tuhan memberkati.

Selasa, September 13, 2016

3S – Seyum, Sapa, Santun




Amsal 17:22, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Walaupun pada hari itu cuaca tidak bersahabat, hujan deras dan angin cukup kencang, menambah suasana hati kurang bersemangat untuk berangkat kantor, tetapi saya putuskan,  “Ma brangkat dulu yaa “ dan saya pun berangkat ke kantor.  Setelah beberapa menit berkendara, saya pun tiba di pintu Tol yang mengarah ke Jakarta, seperti biasa ketika saya membayar untuk masuk tol, Bapak penjaga Tol itu, menyambut saya dengan 3S – Seyum, Sapa, dan Santun…
Bapak penjaga pintu tol ini melempar seyuman dengan ramahnya dan menyapa “Selamat Pagi Pak !! “..dan kebetulan uang yang saya bayarkan ada kembaliannya, dan sambil terseyum kembali, Bapak penjaga tol itu berkata, “Ini kembaliannya pak……..”! “ terima kasih, hati – hati dijalan selamat sampai tujuan !” lanjut Bapak itu berkata kepada saya. ….Waaauw, Bapak yang  luar biasa pikir saya… Saya langsung merasakan satu hal yang sedikit berbeda pagi itu atas keramahan bapak penjaga Tol ini. 

Gardu pintu tol itu, hanya berukuran kira-kira 2 x 1m dan bapak ini berada didalamnya, bekerja sepanjang hari, sekitar 7 ~ 8jam, apakah dia tidak merasa jenuh? dan bahkan ia harus memberikan pelayanan yang maksimal kepada pelanggan tol, dengan sapaan dan keramahan. “Customer Satisfaction“ banget yaa…pikir saya! kemudian muncul banyak pertanyaan di benak saya, pada saat itu, apa bapak itu melakukan hal yang sama kepada semua orang saat bertransaksi di gardu tol tersebut?, apakah ia tidak capek?, apakah ada tambahan bonus bagi bapak itu dengan berlaku demikian?, apakah bapak itu melakukannya karena ada CCTV atau ada atasannya yang mengawasinya?, apa bapak itu sedang gembira hari itu? dan apakah bapak  itu akan melakukannya setiap hari? 
Terkadang didalam kehidupan ini, kita kurang peduli dengan orang sekitar kita dalam berinteraksi, kita menunggu orang lain untuk melayani kita dalam hal – hal yang terkecil sekalipun, kita berpikir dan mungkin mengharapkan orang lain memberikan sesuatu kepada kita lebih dulu agar kita dapat memberi. Atau mungkin kita akan melakukan sesuatu yang baik itu oleh karena sesuatu hal? ada imbalan yang besar dijanjikan ? atau karena merupakan tuntutan pekerjaan kita. Apapun itu kalau itu bukan menjadi kebiasaan kita, ketulusan hati kita, kesadaran kita. Maka itu tidak akan menjadi sesuatu hal yang besar yang dapat merubahan kehidupan kita yang memiliki hati yang gembira, malahan sebaliknya manjadikan kita beban. 

Marilah dimanapun kita berada teristimewa didalam pelayanan kita di dalam keseharian kita, Kita memiliki sesuatu pengalaman yang berbeda, menjadi saluran berkat bagi orang disekitar sekaligus kita memiliki hati yang gembira karena itulah obat yang manjur. 
Kiranya Tuhan memberkati kita sepanjang hari ini dalam aktivitas kita.
















Jumat, September 09, 2016

Sebuah Keputusan



Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara – perkara kecil, ia setia juga dalam perkara – perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara – perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara – perkara besar.”

“Pa, tadi ada surat edaran dari tempat ballet anak kita...” kata istriku di satu pagi.  "Oh, ya ?" jawab ku. “Trus apa isinya?" lanjut saya bertanya kepada istri. "Ini, mengenai pemberitahuan akan ada konser besar di Gedung Kesenian Jakarta.  Semua siswa musik dan ballet akan konser disana. Si kecil sudah senang banget, antusias banget pa. Tau akan ada konser itu, pengen banget dia ikutan pentas….seperti yang dia liat di mall tempo hari itu," sambung istri menjelaskan dengan semangat. “Ooh…bagus dong kapan itu konsernya? Boleh juga nanti kita nonton yaa," jawab saya. "Nah, itu dia masalahnya. Konsernya itu sayangnya dibuat di  hari Sabat. Bagaimana ya  menjelaskan ke si kecil, bahwa dia tidak bisa ambil bagian di konser itu, karena hari Sabat..” tanya istri saya sambil mengerutkan kening-nya. "Pasti dia akan kecewa karena tidak bisa ikut konser itu," lanjutnya.  “Nggak lah, tidak apa-apa..." jawab saya. “ Mama coba aja pelan-pelan jelasin ke dia kenapa nggak bisa ikut konser itu, karena diadakan di hari Sabat. Pasti dia mau ngerti dan nggak bakalan kecewa.  Yakin deh," jawab saya meyakinkan istri saya.   “Oke deh,  kalau begitu nanti coba mama bilangin yaa..” jawab istriku.

Keesokan harinya,  “Pa, puji Tuhan !! Luar biasa, anak kita bisa putuskan sendiri pilihan dia, untuk tidak ikut konser itu.  Dia lebih memilih ke gereja pada hari Sabat.!” kata istriku.  “Oh ya?" jawab saya. "Bagaimana cara mama menjelaskan dan membujuk dia?" tanya saya.  "Eheheheee.. ada deh," jawabnya sambil terseyum. "Jadi begini," lanjut istri menjelaskan, "Mama coba tes si kecil dan bertanya kepada dia langsung, dan mau tau pilihan dia bagaimana kalau konser ballet itu pentasnya di hari Sabat.  Mama bilang, nak, konser ballet ini pada hari Sabat loh, gimana? Mau ikut konser ini atau ke gereja di hari Sabat ? Kemudian si kecil diam sesaat dan sedikit kecewa.  Tapi, dia lantas menjawab dengan yakin : Nggak ma..., aku nggak ikut konser aja.   Nggak apa-apa, aku pilih ke Gereja Hari Sabat.!"  jelas istriku.  Praise the Lord!!

Seperti ayat diatas, bahwa barang siapa setia dalam perkara kecil, ia akan setia juga dalam perkara-perkara besar.  Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa, setiap hari kita akan dihadapkan pada banyak pilihan, menentukan pilihan di dalam kehidupan kita.  Mari kita belajar setia dalam perkara kecil dan berdoa kepada Tuhan agar dimampukan juga untuk setia dalam perkara besar. Pilihan ini bukan hanya bagi kita orang dewasa saja, tapi kepada anak-anak pun dapat diajarkan untuk bisa mengambil keputusan, pilihan yang baik bagi dirinya.  Sehingga anak-anak akan bertumbuh semakin dewasa dan dengan pertolongan Tuhan mereka akan setia di dalam hal-hal yang baik di dalam keputusan hidupnya.

Tuhan memberkati.

Kamis, September 08, 2016

Satu Tahun Sudah Berlalu

Mazmur 34:19 “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya”

“Tut..tut..tut…!” suara pengingat untuk bangun berbunyi keras membangunkan aku pagi ini.  Semalam aku tidur agak larut karena harus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen.  “Hmmm…hari ini aku mau bikin kejutan buat papa !” Aku tersenyum membayangkan wajah papa yang lucu nanti melihat kejutan kecil dariku.  Aku raih telepon genggamku.   “Papa masih ingat nggak potongan film ini?” tulisku melalui pesan whatsapp sambil kukirim sebuah potongan video yang aku buat sendiri, yang menyerupai adegan pembuka film rohani yang papa pernah buat.  “Hai kak…wah tentu dong papa masih ingat!  Tapi yang kamu buat lebih bagus dari yang papa pernah bikin… Kamu punya bakat yang bagus kak!” kalimat pujian dari papa mengalir di layar telepon genggamku.  Aku tersenyum malu membacanya.

“Kak, hari ini mama genap satu tahun ya…” tulis papa lagi mengingatkan aku.  Ya, hari ini memang satu tahun sudah mama beristirahat untuk sementara.  Tentu saja aku mengingatnya.  Minggu lalu aku berjalan melewati perhentian bis dekat asrama dimana aku tinggal.  Aaahhh…aku teringat berjalan bersama mama di tempat itu tahun lalu.  Aku dan mama berpelukan dan berjalan bersama melintasi jalan menuju asrama, sambil berbagi banyak cerita.  “Kamu harus sukses ya di tempat ini…” terngiang ucapan mama memberi semangat kala itu.   "Rrrrtt...! Rrrrttt...!" nada getar di telepon membuyarkan lamunanku.  “Kita semua tetap setia ya kak, sampai Yesus datang…Nanti kita bisa ketemu mama, peluk mama dan cerita-cerita lagi sama mama.  Papa juga punya banyak cerita yang papa mau ceritakan saat ketemu mama nanti…” lanjut papa menuliskan kalimat-kalimat yang memberi semangat.  Aku tercekat haru dan segera menulis lagi.  “Iya pa, hanya iman saja yang bisa membuat kita bisa terus berjalan sambil menantikan hari saat kita akan ketemu mama lagi nanti ya…” balasku cepat menghibur papa dan diriku juga.

Aku harus berpisah dengan mama yang aku cintai pada saat aku sendiri belum merasa siap.   Hari-hari yang kulalui terasa berat.  Tapi papa selalu ajak aku dan adik-adikku untuk berpegang pada janji Tuhan.  Ayat inti Roti Pagi hari ini mengatakan bahwa Tuhan selalu dekat dengan orang-orang yang patah hati. Aku datang pada Tuhan dengan beban hatiku.  Tuhan menepati janjiNya.  Aku bisa merasakan kehadiran Tuhan setiap hari.  Dia memberi penghiburan dan kekuatan bagiku.  Dengan Tuhan di sampingku, aku bisa melewati satu tahun yang berat ini dengan kepala tegak.  Dengan Tuhan di sisiku, aku sanggup berjalan sambil menatap ke depan.  Satu saat nanti aku akan kembali memeluk mama, berjalan bersama dan berbagi banyak cerita dengan mama lagi.  Terima kasih Tuhan untuk selalu ada dekat di sampingku.

Be glad today,  because Jesus cares !

Rabu, September 07, 2016

SHARING IS CARING


Matius 25 : 40, "Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

"Saya akan transfer hari ini, kalau masih kurang hubungi saya kembali", demikian saya mendengar teman saya berbicara kepada teman saya yang lain. Teman saya mengacungkan jempol dan mengangkat tangan keatas tanda ucapan terima kasih. Kami mulai berbincang tentang sahabat kami tersebut, dari hal kehidupan pribadi, rumah tangga, pekerjaan dan pelayanan di dalam gereja. Kami tiba pada kesimpulan sahabat kami yang dahulu biasa-biasa secara ekonomi ketika masih kuliah dan di tahun-tahun pertama mulai bekerja kini menjadi salah satu donatur rutin sebuah yayasan non profit dan selalu menjadi andalan saat teman2 membutuhkan bantuan finansial.

"Bagaimana persiapan kita untuk besok?", saya mendengar teman saya itu bertanya kepada teman saya yang lain. "So far so good, puji Tuhan", sambil mengacungkan jempolnya tanda beres. Saya kemudian tak tahan untuk tidak bertanya, "Apa kamu bisa hadir besok di kunjungan pelayanan angkatan kita?", saya mulai mendekatinya sambil menyodorkan draft run down acara untuk diketahuinya. "Ya, tentu saja saya bisa hadir", dia  tersenyum penuh antusias. "Apa kamu tidak sibuk?"", saya bertanya lagi. "Saya memang sibuk, tapi saya selau ingin meluangkan waktu saya untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan disekitar saya," "Apa acara kita tidak mengganggu jadwal sibuk kamu?", saya mulai menggali lebih dalam setelah cukup lama tidak berkomunikasi dan saling memberi kabar oleh karena kesibukan masing-masing. "Saya sudah berkomitment meluangkan waktu saya untuk hal-hal positif dalam pelayanan dan sosial, saya merasa terberkati atas apa yang telah saya lakukan 5 tahun terakhir", demikian dia menjelaskan sambil mencoba meyakinkan saya bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sebuah commitment penatalayanan, yang mencakup tenaga, waktu dan materi.

Kami sedang asyik berbincang di salah satu cafe di ibukota, saat teman kami yang sedang kami bicarakan tiba dan bergabung dengan kami.  Kami mengobrol sambil memesan makanan dan minuman. "Saya pesan air mineral dan satu porsi soto ayam", demikian dia berbicara kepada teman saya yg lain. "Hanya itu?", teman saya bertanya heran. "Jangan memesan makanan terlalu banyak jika tidak dihabiskan, masih banyak orang-orang di sekitar kita yang kurang beruntung tidak bisa menikmati makanan seperti kita", sambil tersenyum bergurau dia merangkul teman saya itu.

Saya mendapatkan pelajaran berharga dari persahabatan kami, dalam keadaan sesibuk apapun sedapat mungkin kita diharapkan dapat memberikan perhatian kepada lingkungan sekitar kita yang membutuhkan bantuan dan mau berbagi dengan mereka. Melakukan kebaikan dan kebajikan setiap hari adalah melatih hidup kita untuk menjalankan hidup yang berkemurahan. Teladan yang diberikan oleh Yesus Kristus, juruselamat hidup kita.

Selamat pagi, Tuhan memberkati.

Selasa, September 06, 2016

PERTOLONGAN DARI TUHAN


Mazmur 121 : 1 – 2,  “Nyanyian Ziarah. Aku melayangkan mataku kegunung gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”

"Aduh …pak!  Tolong!"  Suamiku segera menemui saya yang sedang mencuci pakaian  "Kenapa ma?" tanya suami saya. "Perut saya sangat sakit dan kaki saya keram... tidak bisa berdiri..."  Suamiku  membantu saya untuk  berdiri dan dibawa masuk ke dalam rumah . Suami berusaha untuk memberikan pertolongan seadanya dengan mengoleskan minyak tawon.  Tapi sakitnya tidak kunjung berkurang .Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu sore. Suami dan kedua anak kami berdoa memohon pertolongan dan petunjuk TUHAN. Pengobatan dari luar tidak dapat mengurangi sakit dan  sore itu sebelum ke Perbaktian Rabu Malam kami ke dokter praktek yang dekat dengan Gereja.  Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa radang usus buntu dan dianjurkan untuk berpuasa malam itu dan segera ke rumah sakit. Setelah dari Dokter kami ke Perbaktian Rabu Malam , karena kebetulan malam itu suami yang melayani di acara perbaktian itu.

Di acara rabu malam Suami saya memberi kesaksian dan usulan untuk mendoakan saya, saya percaya bahwa Tuhan mendengar doa dari saudara- seiman malam itu, sehingga saya  dapat  bertahan untuk mengikuti kebaktian hingga selesai, seusai kebaktian kami segera pulang ke rumah mempersiapkan diri untuk masuk Rumah Sakit malam itu juga. Setelah tiba di R S dokter kembali memeriksa secara intensif dan dokter menyatakan bahwa tindakan operasi diadakan besok pagi jam 10 .00 Wita. Setelah itu suami mengantar saya kekamar dan malam itu saya sendiri, karena suami harus segera kembali untuk menemani kedua anak kami yang masih kecil dirumah. Malam itu saya terus berdoa kepada Tuhan memohon pertolongan-Nya, Pagi pun tiba, dan sekitar jam 08.00 perawat dan dokter kembali memeriksa kondisi saya dan diiangatkan lagi bahwa pada jam 10.00 akan diadakan tindakan operasi, hati saya agak kecut karena tidak seorangpun keluarga yang menemani saya. Saya tidak dapat berkomunikasi dengan siapapun karena saat itu belum ada alat komunikasi  seperti  sekarang, namun saya teringat sebuah syair lagu yang saya nyanyikan dalam hati saat itu, “ Telepon Kesurga Indah sentiasa ,hubunganNya baik ku rasa sungguh, Panggil pada Yesus dengan Telepon itu……”
Oh……. Tuhan saya percaya... Engkau selalu ada disisi saya, yang selalu siap memberikan semangat, kekuatan, dan pertolongan setiap saat itu doa dari hati saya. 2 Orang perawat datang mempersiapkan saya untuk dibawah ke kamar Operasi, sambil menunggu suami datang untuk menandatangani surat Operasi, jam sudah menunjukkan pukul 10,00 tepat tapi suami belum kunjung datang, sudah lewat 5 menit , 10 menit, lalu saya memohon kepada perawat agar saya saja yang menandatangani surat operasi itu, dengan alasan bahwa suami masih menunggu anak-anak keluar dari Sekolah. Dan akhirnya saya didorong ke kamar Operasi tanpa ditemani oleh keluarga. Tapi saya percaya bahwa Tuhan selalu menemani dan saya terus berdoa dalam hati, memohon pertolongan TUHAN buat saya, buat dokter dan bagi perawat agar diberikan hikmat oleh Tuhan dalam tindakan operasi , hingga saya tidak sadar lagi.
Sayup-sayup saya dengar ada suara –suara dan lama kelamaan saya pun sadar saya dapat melihat suami dan ke  dua anak kami serta saudara – saudara seiman  yang datang mengunjungi dan mendoakan saya. Setelah liwat 7 hari dirawat di Rumah Sakit, saya pun dapat kembali kerumah.

Saat itu saya teringat peristiwa 16 tahun yang lalu ketika saya mengalami sakit yang sama dan dokter pun menyatakan harus segera menjalani tindakan operasi, tapi TUHAN berkata lain melalui obat sederhana yang diberikan oleh orang tua dan campur tangan TUHAN menunda hingga 16 tahun kemudian baru tindakan operasi diadakan, dan ternyata usus buntu saya membiru dan membesar.
Semuanya ini  terjadi hanya karena kemurahan TUHAN saja, dan apapun yang terjadi dalam kehidupan kita berada dalam sepengetahuan-Nya.

Senin, September 05, 2016

DALAM LINDUNGAN TUHAN


Mazmur 37:5, “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya maka Ia akan bertindak”.


Setelah menamatkan SMA saya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi oleh karena belum ada biaya, maka saya gunakan waktu satu tahun untuk mengumpulkan biaya dengan jalan menjual buku. Dan saya ditempatkan ke pulau yang lain untuk bergabung dengan Penginjil Literature (PL) yang ada di sana. Tidak pernah timbul dalam pikiran saya bahwa setelah tiba di pulau tersebut akan dibagi lagi dalam kelompok-kelompok dan ditugaskan ke pulau-pulau kecil yang ada di sekitar pulau tersebut, saat itu saya agak kecewa dan rasanya ingin pulang, namun ada seorang PL yang sudah berpengalaman memberikan nasehat dan semangat kepada saya, dia katakan “kemana saja kamu ditugaskan berarti ada rencana Tuhan untuk kamu disana jadi jangan kecewa laksanakan tugasmu dengan baik, maka Tuhan akan laksanakan bagian-Nya bagimu.” Dari waktu ke waktu saya tetap giat untuk melaksanakan pekerjaan tersebut dan banyak pengalaman indah yang saya peroleh, teristimewa hubungan dengan Tuhan terasa lebih dekat.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat tersisa tiga bulan lagi saya harus meninggalkan pulau tersebut. Namun di jeda waktu tiga bulan tersebut saya jatuh sakit, perut saya sangat sakit dan tidak dapat melangkah. Saya pun dibawa ke dokter oleh teman-teman PL, dan setelah mengalami pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa saya harus segera menjalani operasi karena usus buntu saya sudah parah. Saya pasrahkan hidup saya dalam tangan Tuhan biar kehendak Tuhan yang terjadi. Saya memohon kepada dokter agar tindakan operasi dilaksanakan di tempat orang tua berada. Permohonan saya dikabulkan dan saya diberi obat saja. Saya memohon kepada Tuhan untuk memberikan kesempatan agar dapat kembali ke tempat orang tua untuk tindakan operasi. Tuhan sangat baik dan sangat mengasihi saya. Dua hari setelah itu saya pun pulang dengan menggunakan perahu motor. Saya begitu senang dalam pelayaran itu dan saya tidak memikirkan sakit saya alami karena besok pagi saya sudah bisa bertemu dengan orang tua dan saudara-saudara saya. Pada tengah malam diumumkan bahwa terdapat kerusakan pada mesin perahu tersebut sehingga perahu tersebut hanya menggunakan layar saja. Perasaan yang tadinya diliputi kegembiraan tiba-tiba langsung berubah menjadi suatu kegusaran dan kecemasan. Namunsay tidak putus harapan, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan perlindungan kepada kami karena saya percaya bahwa hanya Tuhan yang mengetahui jalan hidup saya. Setelah berdoa, saya melewati setengah dari malam itu dengan berusaha untuk memejamkan mata agar menghilangkan segala beban pikiran tentang masalah yang sedang kami hadapi di perahu tersebut. Akhirnya saya pun terlelap dalam tidur dan ketika terbangun keesokan harinya yang saya dapati ialah kami masih belum bisa melihat adanya daratan yang seharusnya pukul 6.00 pagi sudah tiba di pelabuhan namun tertunda hingga kira-kira pukul 10.00-11.00 saat itu.
Setelah tiba di rumah orang tua saya terheran karena saya telah pulang sebelum waktunya yang sudah ditentukan sebelumnya. Akhirnya saya menceritakan apa yang telah terjadi kepada saya selama berada di tempat bekerja bagaimana saya harus menderita kesakitan akibat usus buntu saya yang mengalami gangguan. Mendengar akan cerita saya, gantinya membawa saya ke rumah sakit, ibu saya memberikan kepada saya pengobatan alamiah, yaitu setiap pagi saya disuguhkan 1 sendok makan sari jeruk purut selama satu minggu dan sejak itu saya tidak merasakan sakit lagi dan tidak perlu mengalami tindakan operasi pada saat itu dan akhirnya saya dapat melanjutkan pendidikan ke universitas.


Melihat akan peristiwa yang saya alami, maka dapat saya saksikan bahwa pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Tuhan selalu memenuhi apapun yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Untuk itu jangan pernah lewatkan sehari dalam kehidupan kita tanpa menyerahkan akan kehidupan kita sepenuhnya ke dalam tangan kasih Tuhan.

Jumat, September 02, 2016

Tuhan Menjawab Doa Kami




I Yohanes 4: 14: Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu  kepada-Nya menurut kehendak-Nya."


"Tuhan, kami memohon kepada-Mu berikanlah kami buah hati", demikian doa saya dan istri setelah kami menikah pada tahun 2011. "Kapan jadwal kita periksa ke dokter, Ma?", saya bertanya kepada istri saya. "Besok, pukul 05 sore Pa", istri saya menjawb dengan antusias. Memang benar kami sangat berbahagia karena satu bulan setelah kami menikah dokter kandungan yang kami kunjungi saat itu menyatakan bahwa istri saya positif mengandung.


"Jangan lupa berdoa dan membaca satu ayat Alkitab hari ini", saya mengingatkan istri saya sesaat sebelum saya meninggalkannya untuk berangkat ke kantor. "Tentu, bahkan saya juga akan membaca buku Mendidik dan Membimbing Anak Ellen G. White, yang papa hadiahkan kepada saya saat kita masih berpacaran",  demikian istri saya menjawab. Kami tertawa bersama dan merasakan sukacita dan kebahagiaan yang luar biasa yang Tuhan anugerahkan kepada kami.


Kami berusaha untuk selalu berdoa dan melakukan kebaktian renungan pagi dan renungan malam setiap hari agar Janin dalam kandungan sehat dan untuk meminta berkat Tuhan kepada keluarga kecil kami.
Saya juga  meminta istri saya untuk mempelajari kembali buku Matematika SD dan SMP karena kata orang-orang pintar apa yang dilakukan ibu pada waktu mengandung akan berpengaruh terhadap pertumbuhan janin dalam kandungan.


Demikianlah kami melakukan apa yang dapat kami lakukan yang terbaik untuk menunggu kehadiran buah hati. Kami sangat berbahagia karena Tuhan menjawab doa-doa kami, anak kami yang pertama lahir pada bulan September 2012.
Kami bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat-Nya yang menjawab doa-doa kami. 
Terimakasih Tuhan sudah menjawab doa dan permohonan kami.

Tuhan kiranya memberkati kita memasuki hari persiapan, menjelang hari Sabat.