Friday, December 31, 2010

Khotbah Evelyn dan Meiske "Janji Adalah Janji"


Tips Keluarga "Datang Tepat Waktu Di Gereja"

Pelayanan Perorangan Oleh Debby Simanjuntak

Cerita Anak Oleh Ibu K.Doloksaribu

Instrumentalia Klarinet dan Piano

Koor Anak "No More Night"

Koor Anak "I Need Thee Every Hour"

Resep Membuat "Klappertaart"

Khotbah Bapak P. Doloksaribu

Trio Evelyn, Della, Natalia "Tiap Langkahku"

Khotbah "Suka Dekat Pada Allah"

Kel. Munas Tambunan "Shine On Us"

Pelayanan Perorangan Oleh Wilson Tobing

Wilson Tobing "His Eye's On The Sparrow"

Khotbah "Revival and Reformation"

The Madrigal "Jesus Will Still Be There"

Duet Della & Natalia "Di Salib"

Khotbah "Petrus, Ikutlah Aku"

Ecole du Sabbat

Bienvenue sur le audio des lecons de l’ecole du Sabbat en Francais !

En cette semaine du 12 au 18 Février 2011, nous sommes à l'écoute de la leçon 8, qui nous disent comment avoir de La résilience.

J'espère que vous apprécierez l'écoute de cette leçon.

Que Dieu vous bénisse.



Koor Anak Kemang Pratama

Kwartet Kemang Pratama "Just One Touch"

Triple S Trio "Doa Mengubah Segalanya"

You Raise Me Up

Khotbah

Renungan Pagi

Sekolah Sabat

Where Is God When Tragedy Strikes ?


Seri Pelajaran Alkitab "Discover"

From "Knotted Strings" to Talking Bibles

This is a wonder filled story of how God takes a young boy from a small farm in Minnesota to Africa and uses him and his wife in the Sudan and Ethiopia to translate the Bible in written and audio form. Career missionary and missiologist, Harvey and Lavina' story overflows with testimony to God's direction, empowerment, provision and sustaining love as two people impact the lives of thousands in Africa and beyond. This missionary biography is full of joy and wonder! We may listen to their story in audio below which was written and read by Dr. Havey T. Hoekstra himself. Click the play button of audio player below. God bless you.

Ini adalah kisah yang penuh dengan keajaiban bagaimana Allah memanggil seorang anak muda dari sebuah peternakan kecil di Minnesota untuk Afrika dan menggunakan dia dan istrinya di Sudan dan Ethiopia untuk menerjemahkan Alkitab dalam bentuk tertulis dan audio. Menjalani karir sebagai misionaris dan missiologist, kisah tentang Harvey dan Lavina ini mengalir dengan kesaksian akan pimpinan Tuhan, pemberdayaan, penyediaan dan mempertahankan cinta saat kedua orang ini mempengaruhi kehidupan ribuan orang di Afrika dan sekitarnya. Ini adalah sebuah biografi misionaris penuh dengan sukacita dan keajaiban! Ikuti kisah mereka yang ditulis dan dibacakan oleh Dr. Havey T. Hoekstra sendiri dalam audio. Klik tombol "play" dari audio player di bawah ini. Tuhan memberkati anda.

Simbol Seventh Day Adventist

Thursday, December 30, 2010

Saturday, October 23, 2010

Sabat Anak dan Chidren Talent – „Berbicaralah Tuhan! Aku mendengar“

Spanduk dengan tulisan “Berbicaralah Tuhan! Aku mendengar – Sabat Anak 23 Oktober 2010” terpampang di atas mimbar, dan sekaligus mengingatkan jemaat yang hadir, bahwa pada sabat ini, 23 Oktober 2010 merupakan sabat anak yang diperingati setiap tahunnya oleh Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh se dunia. Hari ini, semua acara, dari mulai Sabat pagi dalam acara Sekolah Sabat sampai dengan acara khotbah, dibawakan oleh departemen Pelayanan Anak.

Khotbah sabat ini dibawakan oleh ibu Lies Purnama, sebagai Pemimpin departemen Pelayanan Anak Jemaat Kemang Pratama. Seperti biasa, sebelum khotbah disampaikan, anak-anak berkumpul untuk mendengarkan cerita anak. Pada hari Sabat istimewa ini, bapak Ramlan Sormin dengan cara yang sedikit berbeda dari yang biasanya. Cerita anak kali ini dikemas dalam sebuah drama singkat, lengkap dengan suara-suara efek yang sangat menarik perhatian yang mendengarnya. Drama yang diperankan oleh berapa orang tua dan anak-anak itu bercerita bagaimana Hana yang memohon kepada Tuhan agar memperoleh anak, dan setelah diberikan anak, kemudian Hana menyerahkannya kepada imam Eli untuk melayani Tuhan di Kaabah. Di tempat imam Eli inilah, Samuel kecil menerima panggilan dari Tuhan.

Setelah cerita untuk anak, lagu pujian dikumandangkan oleh koor anak-anak yang dipimpin oleh bapak Joy Silaban dan Sdri. Natalia Tampubolon.

Khotbah sabat ini dibawakan sesuai dengan apa yang tertulis di spanduk: „Berbicaralah Tuhan! Aku mendengar“. Khotbah ini terdiri dari beberapa bagian dan pada setiap bagian, diawali dengan penampilan seorang anak yang memerankan salah satu tokoh Alkitab.

Samuel, yang diperankan oleh Malvin Simanjuntak bertutur tentang bagaimana Allah memanggil Samuel. Tuhan Memanggil – Aku Menjawab. Pada bagian kedua, Gideon yang diperankan oleh Rodney Maringka menuturkan bagaimana Allah Menunjukkan tanda kepada Gideon. Allah Tunjukkan – Aku Melihat. Bagian ketiga diperankan oleh Christ Simanjuntak sebagai Josia, seorang raja yang berkomitmen untuk menurut kepada Allah melalui tulisan yang diberikan kepada Musa. Allah Menulis – Saya Merespon.

Selanjutnya, Velan Sormin yang memerankan Maria, yang mau peduli terhadap sesama karena Allah sudah memeliharanya dan membuktikan kepeduliannya kepada Maria dengan mati di kayu salib. Allah Peduli – Saya Peduli. Dan pada bagian akhir Paulus, yang diperankan oleh Timothy Purnama bertutur tentang bagaimana Allah selalu memimpin, membimbing dan melindunginya kemanapun dia pergi. Allah Melindungi – Aku Mengikuti.

Intinya, Allah mau menjangkau kita masing-masing. Tuhan ingin punya hubungan dengan kita semua. Tidak peduli berapa usia kita, tidak peduli apa yang terjadi kemarin, Tuhan menginginkan kita, dan Dia akan menggunakan segala cara untuk mencapai kita. Allah memanggil kita. Silakan kita menjawab, "Berbicaralah, Tuhan! Aku mendengar"

Siangnya, setelah potluck dan latihan koor, anak-anak bersiap untuk menampilkan talenta-talenta mereka dalam Ayat Hafalan, Bercerita dan Berkhotbah. Timothy Purnama, Sari Silalahi dan Malvin Simanjuntak secara bergantian dengan Raissa Maringka dan Felisya Tambunan memandu acara Children Talent ini yang berlangsung sejak siang sampai pada penutupan hari Sabat.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu „He’s Able“ dan dilanjutkan dengan doa pembukaan yang dilayangkan oleh bapak Wilson Tobing. Sebelum anak-anak menampilkan talenta-talenta mereka, ibu Lies Purnama, sebagai koordinator acara memberikan laporan dan menyemangati para peserta. Peserta Children Talent kali ini memang hanya diikuti oleh Power Point dan Teenage (Real Time Faith).

Anak-anak yang ambil bagian dalam Chindren Talent ini adalah :
  1. Glory Karamoy membawakan cerita: "Yesus Penyelamat“
  2. Caca Milleny Saragih, membawakan khotbah: "Bersahabat”
  3. Sandy Silalahi, membawakan khotbah: “Betapa IndahNya cinta kasih itu”
  4. Joshua Osmond Simanjuntak, membawakan Khotbah: “ Penjagaan malaikat Allah ”
  5. Verrel Sormin, membawakan Khotbah: “Arti Persahabatan”
  6. Junior Tampubolon, membawakan Khotbah: “Kisah Sup Batu”
  7. Kimberly Simanjuntak, membawakan Cerita: “Teladan Yusuf”
  8. Ivana Tobing, membawakan Cerita: “Daud & Goliat”
  9. Marcellino Karamoy, membawakan Khotbah: “Yohanes Pembabtis”
  10. Ivada Zanetta D. Putri, membawakan Ayat Hafalan
  11. Bayu Aji, membawakan Khotbah: “Samuel anak Tuhan”
  12. Rivaldo Simanjuntak, membawakan Khotbah: “Samuel”
  13. Chloudya Siboro, membawakan Cerita Alkitab: “Gereja menghadapi kesulitan”
  14. Rodney Giovanni Maringka, membawakan Khotbah: “Gossip & Grace”
  15. Elsa Tambunan, membawakan Khotbah: “ Perjuangan itu membawa berkat”
  16. Marchellino Pelaupessy membawakan Khotbah: “Bukan mengapa tapi bagaimana"
  17. Veber Sormin, membawakan Cerita: “Arti Kasih”
  18. Michelle Tobing, membawakan Cerita: “Allah terdiri dari 3 kesatuan”
  19. Odelia Levana Hasyim, membawakan Khotbah “.....................”
  20. Nicole Barnabas, membawakan Cerita “”

Para juri yang terdiri dari bapak Pdt. Saiman Saragih, ibu Yunita Wuisan dan ibu Naomi Tobing memuji semua anak-anak yang yang sudah berani menampilkan talenta-talenta mereka. Para juri sangat menghargai kemauan dan semangat para peserta. Tidak ada yang menang dan yang kalah dalam Children Talent ini. Yang ada, hanyalah nasihat-nasihat dari para juri agar para peserta dalam lebih baik lagi dalam menampilkan talenta-talenta mereka.

Di akhir acara, Ivana Tobing dalam sambutannya yang mewakili anak-anak, mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada anak-anak. Dan saat sambutan yang mewakili orang tua, bapak Ramlan Sormin mengingatkan kembali akan pentingnya Sabat Anak dan makna dari Sabat Anak. Terakhir, bapak Willy Wuisan, yang mewakili gereja, mengucapkan selamat kepada anak-anak dan berbangga karena anak-anak dapat menabung untuk dapat mempunyai seragam.

Tak terasa, waktu tutup Sabat telah tiba. Setelah renungan tutup Sabat dan doa yang dibawakan oleh bapak Munas Tambunan, dengan sukacita semua yang hadir beramah tamah di halaman gereja.

Puji Tuhan atas acara yang begitu baik.

-aster ungu-

Monday, October 11, 2010

KKR Wilayah IV.2 - "Sedap Harap Pada Yesus Kristus"

Harapan adalah suatu hal yang selalu didambakan oleh setiap manusia. Harapan berhubungan erat dengan masa depan dan tujuan hidup. Setiap orang yang normal, pasti mempunyai sebuah harapan. Ada penyataan yang tertulis sebagai berikut: “Kecil disuka, muda kaya raya, mati masuk surga.” Harapan untuk hidup damai (disukai semua orang), harapan untuk masa depan (kaya raya), atapun harapan untuk masa yang lebih jauh dari sekedar hidup di dunia ini (masuk surga). Harapan telah menjadi kebutuhan pokok manusia. Dan kalaupun saat ini harapan-harapan tersebut belum telaksana, masih ada satu harapan yang terakhir. Harapan yang sangat penting. Yang merupakan tujuan akhir dari perjalanan umat manusia. Harapan untuk mendapatkan kehidupan yang kekal di Surga.

Sebagai pengikut Kristus, kita bersyukur bahwa Tuhan Yesus
Kristus telah memberikan pengharapan hidup kekal. Pengharapan yang akan diberikan secara cuma-cuma kepada setiap orang yang percaya dan mau menerimanya. Roma 10:13, “Sebab, barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan“. Namun masalahnya, masih banyak orang yang tidak percaya dan bahkan belum mengenal sumber dari pengharapan itu.

Oleh karena itu, adalah menjadi tugas kita untuk memberitahukan kepada orang lain akan pengharapan keselamatan ini. Roma 10:14 mengatakan “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakannya?” Setiap orang yang telah menerima dan mengetahui pengharapan ini, berkewajiban membagikan kabar pengharapan ini kepada orang-orang yang belum mengetahuinya.

Banyak metode yang digunakan untuk melakukan pekabaran ini.
Salah satunya adalah dengan membentuk KPA (Kelompok Pendalaman Alkitab) di lingkungan kita. Dengan KPA-KPA ini, diharapkan pekabaran pengharapan akan keselamatan dari Yesus akan dapat didengar dan dimengerti oleh orang lain, dan pada akhirnya orang tersebut dapat percaya kepada Yesus dan memperoleh keselamatan.

Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Wilayah IV.2 yang dilaksanakan di Gereja MAHK Jemaat Kemang Pratama merupakan suatu wadah pematangan iman para pelajar Alkitab di KPA-KPA. Melalui KKR ini, para pelajar ini dapat dikuatkan dan dapat mengakui imannya kepada Yesus dengan menerima panggilan untuk dibaptis.


Pdt. Samuel Simorangkir D.Min, yang merupakan direktur departemen komunikasi Konferens DKI Jakarta dan sekitarnya, dan merangkap sebagai koordinator di Wilayah IV, dengan sangat baik membawakan pekabaran keselamatan ini. Dengan tema “SEDAP HARAP PADA YESUS KRISTUS”, selama lima malam, dari tanggal 4-8 Oktober 2010, pembicara membahas isu-isu seputar pengharapan.


Dari malam ke malam, secara bergantian, pembawa acara menyapa para tamu yang sudah rindu untuk
mendengarkan kabar sukacita yang akan diberitakan. Para pemimpin pujian, dengan bersemangat memimpin lagu-lagu pujian untuk memuliakan Tuhan. Selain puji-pujian yang dibawakan oleh jemaat-jemaat di wilayah IV.2 dan koor tamu dari gereja HKBP, para tamu juga mendapat pengetahuan tentang kesehatan yang dibawakan oleh ibu S. Palawi dan pengetahuan tentang rumah tangga yang bawakan oleh bapak Pdt. D.H. Manurung.

Malam pertama, pembicara membawakan pekabaran yang berjudul “Yesus Kristus Yang Kita Tinggikan”. Bersama Kristus nilai kemanusiaan kita ditinggikan se-level denganNya dan manusia dapat bersatu untuk memuliakan namaNya.


Pada malam kedua, pembicara membahas judul “Semuanya Karena Cinta“. Ini menjelaskan bahgaimana Bapa tekah mengirim Yesus dan Yesus mau berkorban untuk manusia hanya berdasarkan cinta yang merupakan kepribadian dari Allah.

Di malam ketiga, pembahasan dengan judul „Aku Ingin Seperti Yesus Kristus“, membahas bagaimana manusia diciptakan sesuai degan peta/citra Allah. Dan Melalui Kasih KaruniaNya kita semua ingin hidup Kudus seperti Yesus Kristus yang memiliki Kasih terhadap Allah dan sesama.

Sedangkan di malam keempat, pembicara mengambil judul „Sudah Waktunya Untuk Hidup Baru“. Disini pembicara membahas bagaimana manusia lama harus binasa melalui Baptisan yang Kudus agar aku dapat hidup berdamai dengan Allah.

Klimaksnya pada malam kelima, atau yang terakhir, dengan judul „Hidup Yang Berpengharapan“, pembicara membahas KedatanganNya yang ke-2 kali yang sudah dekat. Inilah saatnya kita hidup baru dan memiliki tabit seperti Yesus. Hidup seperti kelompok 144.000 yang selalu mengikuti anak domba kemana saja Dia pergi.

Oh, Betapa indah dan sedapnya berharap kepada Tuhan Yesus Kristus.


Pada Malam terakhir ini, menjadi malam yang istimewa, oleh karena pada malam ini, sebelum pembicara menyampaikan pembahasannya, terlebih dahulu anak-anak tampil untuk membawakan lagu pujian kepada Tuhan.

Sebelumnya, anak-anak ini, yang turut hadir dari malam ke malam, dalam acara KKR ini, mengikuti Acara Pembangunan Tabiat Anak (APTA). Dalam acara ini, anak-anak diajarkan bernyanyi, pengetahuan kesehatan, prakarya dan cerita Alkitab. Begitu antusiasnya anak-anak ini, sehingga setiap malamnya, kelas anak-anak selalu saja penuh.

Anak-anak ini secara berturut-turut membawakan 3 lagu pujian yaitu ”Yesus Dalam Keluarga”, ”Yesus Cinta Anak-anak”, dan ”I have the Joy”. Namun, yang istimewa, anak-anak ini dapat menyanyikan dalam banyak bahasa. Dalam bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, India, Jawa, Sunda, Batak, dan Menado.


Pada malam terakhir ini pula, pembicara mengadakan panggilan. Dan tercatat 14 orang telah maju ke depan untuk menerima panggilan itu.


Puji Tuhan atas jiwa-jiwa yang telah digerakkan oleh Roh Kudus.

-aster ungu-

Tuesday, October 05, 2010

MELAKUKAN KEHENDAK BAPA

Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Yakobus 2 : 14–17



Mengapa orang yang sudah berprestasi dalam pelayanan dengan mengusir setan dan melakukan mukjizat demi nama Yesus masih tidak dikenal oleh-NYA? Bukankah ini bertentangan dengan konsep yang diterima oleh banyak orang Kristen hari ini, bahwa dengan mengaku Yesus adalah TUHAN, mereka sudah menjadi umat-NYA? Mereka mengatakan bahwa keyakinan akan keselamatan juga semakin kuat tatkala membandingkan diri mereka dengan orang-orang yang tidak percaya kepada TUHAN Yesus, apalagi bila membandingkan dengan mereka yang menghina nama Yesus. Orang-orang Kristen ini merasa sudah istimewa di mata TUHAN. Akhirnya mereka merasa puas dengan hidup Kekristenan yang telah mereka capai tanpa menyadari bahaya yang membayang di balik kepuasan itu. Pengakuan bahwa Yesus adalah TUHAN tidak sekadar pengakuan di bibir, tetapi harus bersumber dari kepercayaan dalam hati (Rm. 10:9–10). Mungkin kita berpikir, kalau orang bisa mengaku, pastilah itu berasal dari hatinya yang percaya. Tetapi tidak demikian, karena orang-orang yang dienyahkan oleh TUHAN (Mat. 7:23) pasti juga merasa dirinya percaya kepada TUHAN. Tetapi ternyata TUHAN Yesus tidak percaya bahwa mereka percaya kepada-NYA. Kepercayaan mereka ternyata tidak menyelamatkan mereka.
Kepercayaan yang benar dalam hati pasti terwujud dalam tindakan, sebab iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh, dan pada hakikatnya adalah mati (ay. 17, 26). Jadi iman harus disertai dengan tindakan atas pengakuan kita bahwa Yesus adalah TUHAN. setan-setan pun percaya bahwa Yesus adalah TUHAN (ay. 19), tetapi percaya seperti itu bukan iman yang menyelamatkan. Iman yang menyelamatkan berarti tidak saja kita dapat memanggil Yesus sebagai TUHAN, tetapi juga melakukan kehendak BAPA. Melakukan kehendak BAPA sama dengan hidup dalam otoritas TUHAN Yesus, sebab IA menyampaikan apa yang dikehendaki BAPA untuk dilakukan oleh umat-NYA, sehingga kita harus mendengarkan-NYA (Mat. 17:5). Marilah kita renungkan, sejauh mana kita telah hidup dalam otoritas TUHAN? Sedalam apa kita telah belajar mengerti kehendak TUHAN dan melakukannya? Orang yang sungguh-sungguh berniat menjadikan Yesus sebagai TUHAN dan memperlakukan-NYA dengan proporsional sebagai Majikan Agungakan senantiasa berusaha mencari kehendak-NYA dan melakukannya. Jangan jemu-jemu mempelajari Firman-NYA, supaya kehendak-NYA nyata untuk kita lakukan dan pada saatnya nanti, IA menerima kita sebagai hamba-NYA yang setia. Orang yang percaya Yesus sebagai TUHAN akan senantiasa berusaha melakukan kehendak ALLAH.

Monday, October 04, 2010

DENGAN SEGENAP AKAL BUDI

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Matius 22 : 37–40


Semua gereja pasti menganjurkan anggotanya untuk intensif membaca Alkitab. Tapi apakah gereja telah membekali orang percaya dengan rambu-rambu yang jelas dalam menggali Alkitab? Sebab Alkitab seperti hutan belantara yang harus dikuasai jalan setapaknya; kalau tidak, si penjelajah akan tersesat di jalan dan tidak bisa pulang. Memahami isi Alkitab memang tidak mudah, tetapi dapat dilakukan. Untuk memahaminya kita sama sekali tidak membutuhkan wahyu yang bersifat mistis. Yang penting adalah untuk menggali Alkitab kita harus menggunakan akal budi kita, yaitu rasio yang maksimal melalui kerja keras. Itulah sebabnya TUHAN mengatakan bahwa kita harus mengasihi DIA dengan segenap akal budi juga (ay. 37). Akalbudi adalah pikiran, yang haruslah selalu mengalami pembaruan (Rm. 12:2). Berkenaan dengan ini, kita harus terlebih dahulu memahami apa maksudnya “Alkitab adalah Firman TUHAN”. Apa sebenarnya yang Firman TUHAN: bukunya secara fisik, atau huruf-huruf yang menyusun kata-kata, atau bagian lain? Ataukah hanya sebagian saja dari Alkitab yang merupakan Firman TUHAN, yaitu yang mengutip kata-kata TUHAN? Sebenarnya maksud “Alkitab adalah Firman TUHAN” ialah, Alkitab ditulis berdasarkan inspirasi dari Roh Kudus, serta sudah lengkap dan memadai guna mengajar dan memandu kita untuk beriman dan hidup dalam kebenaran menuju kesempurnaan, kembali kepada rencana ALLAH yang mula-mula.


Kemudian perlu pula kita pahami, bagaimana kita dapat menemukan kebenaran dari dalam Alkitab? Sebab ternyata dari dalam Alkitab orang bisa menarik kesimpulan dari apa yang dimengertinya sebagai kebenaran, padahal ternyata bukan. Kita tahu, ajaran-ajaran sesat yang mencoba merusak iman jemaat yang murni juga melandaskan doktrinnya kepada Alkitab. Untuk menemukan kebenaran dari dalam Alkitab yang benar-benar benar, sekali lagi kita harus melibatkan akal budi kita dalam memilih dua hal. Pertama, kita harus berani memilih, siapa yang layak didengar ajarannya. Kita harus memperhatikan apa yang disampaikan setiap pemberita Firman. Kalau pembicara menyampaikan Firman TUHAN yang murni, maka paradigma atau cara berpikirnya menjadi benar. Kedua, kita harus memilih berbagai buku dan majalah rohani yang bermutu untuk dipelajari, yang dapat meletakkan fondasi iman yang benar. Untuk itu kalau kita tidak tahu, kita perlu bertanya dan berdiskusi dengan saudara-saudara seiman yang mengerti mengenai hal ini.Untuk menggali Alkitab kita harus menggunakan akal budi kita, bukan dengan pengalaman mistis.

Friday, October 01, 2010

DATANGLAH KERAJAANMU

Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Matius 6 : 10


Perhatian kita harus dipancangkan kepada apa yang menjadi visi dan misi Yesus, yaitu kedatangan Kerajaan-NYA. Itulah sebabnya dalam Doa Bapa Kami TUHAN Yesus mengajarkan kalimat doa yang merupakan pola kehidupan yang harus diselenggarakan, bukan hanya diucapkan: “Datanglah Kerajaan-MU”. Kerajaan ALLAH yang kita rindukan itu bukan kerajaan duniawi, melainkan Kerajaan kekal yang mulai saat ini seharusnya sudah kita rasakan dengan pemerintahan Kristus dalam hati kita, dan akan datang secara utuh dan lengkap saat Kristus menghancurkan seluruh kekuatan jahat, dan memerintah di langit baru dan bumi baru. Untuk ini, kita harus dipersiapkan menjadi umat yang layak bagi DIA. Kitaharus bersyukur dalam segala keadaan hidup kita di dunia ini, dan tidak boleh menuntut agar hidup kita di dunia ini berkeadaan seperti yang kita inginkan. Hidup di dunia hanyalah masa persiapan menyambut kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan sempurna yang dirancang TUHAN di langit baru dan bumi baru. Dengan memahami dahsyatnya kebenaran ini, kita harus menyadari bahwa Kekristenan tidak sama dengan agama-agama lain. Agama-agama lain mengajarkan kepada pemeluknya bahwa dengan mengikuti ajaran agama dan hukum-hukumnya, hidup akan dapat dijalani dengan lebih mudah dan bahagia karena hidup berkelimpahan secara materi dapat diraih. Maksudnya firdaus dialami di bumi ini dan diharapkan juga dialami di dunia yang akan datang. Tetapi Kekristenan tidak demikian.
Seseorang yang disentuh oleh Injildan mengemban visi dan misi TUHAN akan memasuki kehidupan yang lebih sukar, sebab ia harus mengerti kebenaran dan hidup di dalamnya. Untuk dapat mengemban tugas sebagai saksi Kristus sampai ke ujung bumi, seseorang harus diproses menjadi manusia yang kembali seperti rancangan ALLAH yang mula-mula terlebih dahulu. Tahap ini tidak mudah, tetapi jika kita bersedia melaluinya, kita dapat menghayati apa artinya memiliki hati di Kerajaan Surga, bukan di bumi ini. Justru kesukaran yang kita alami di bumi ini akan mengingatkan kita untuk selalu mengatakan “Datanglah kerajaan-MU” dengan penuh kerinduan, sehingga sekalipun sukar, kita dapat tetap bersukacita di dalam Kristus. Mulaisaat ini marilah kita renungkan, apakah kita masih mau mengiring TUHAN atau tidak. Masih tetap mengiring TUHAN berarti kita harus mengenakan visi dan misi Yesus sebagai baju kehidupan kita, meskipun itu bisa berarti menunda kebahagiaan sampai di kerajaan-NYA nanti. Bila tidak, sia-sia kita menjadi Kristen. Mengenakan visi dan misi Yesus berarti bersedia menempuh hidup yang lebih sukar.

Thursday, September 30, 2010

BENTURAN KONSEP

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehaendaki Aku perbuat bagimu?" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" Markus 10 : 35–38


Konsep yang berbenturan antara TUHAN Yesusdan murid-murid-NYA ternyata berulang-ulang terjadi menurut catatan Alkitab. Benturan konsep ini terutama mengenai kerajaan Israel yang akan dipulihkan oleh TUHAN. Kedua anak Zebedeus yaitu Yakobus dan Yohanes meminta agar mereka menjadi pejabat di sebelah kanan dan kiri Yesus saat TUHAN Yesus memerintah sebagai Raja. Ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti pemerintahan TUHAN Yesus. Mereka memiliki konsep bahwa kerajaan yang akan dibangun TUHAN Yesus adalah kerajaan di dunia ini. Itulah sebabnya TUHAN Yesus menjawab mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.” (ay. 38) Benturan konsep juga terjadi di kesempatan lain. Contohnya, Petrus melarang Yesus pergi ke Yerusalem, sebab ia takut Yesus akan terbunuh dan harapan mereka memiliki raja seperti Daud buyar (Mat. 16:21–23). Mereka tak bisa menerima perkataan Yesus bahwa tubuh-NYA adalah makanan dan darah-NYA adalah minuman, sebab itu mengisyaratkan IA akan mati dan tidak menjadi raja (Yoh. 6:55, 66). Kerajaan yang akan dibangun TUHAN Yesus adalah Kerajaan yang tidak datang dari dunia ini (Yoh. 18:36). IA naik ke Surga; ini membuktikan dan menunjukkan bahwa sesungguhnya Kerajaan dan diri TUHAN Yesus Kristusbukan dari dunia ini, Tetapi janji-NYA, IA pasti datang kembali, dan membangun Kerajaan-NYA.
Jadi kalau kita melihat hari ini banyak orang Kristen yang selalu ingin menikmati pemulihan atas segala aspek hidupnya sekarang juga di bumi ini menurut waktu dan seleranya, sesungguhnya mereka berkeadaan sama dengan murid-murid yang salah konsepnya. Mereka berhasrat menjadikan Yesus sebagai Raja dan Mesias model mereka: Raja duniawi, Mesias duniawi, dan TUHAN duniawi yang berkutat pada pemulihan kebutuhan ekonomi, kesehatan, keluarga, pekerjaan, jodoh, keturunan dan hal-hal lainnya. Yesus sendiri menegur mereka bahwa mereka mencari TUHAN bukan karena melihat tanda agar mereka mengerti maksud penyelamatan dalam diri-NYA, namun mereka mencari TUHAN hanya karena roti fana (Yoh. 6:26). Sadarilah bahwa hal-hal jasmani itu semestinya tidak menjadi masalah utama ketika kita berurusan dengan TUHAN. TUHAN sudah menyediakan berkat-NYA asal kita bertanggung jawab dalam hidup ini, bekerja keras, menjaga kesehatan dan berhati-hati dalam setiap tindakan atau langkah kita. Jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk memerintah di Kerajaan kekal hanya karena kita mau hidup enak di kerajaan fana. Kenakan konsep yang benar dan kejarlah Kerajaan kekal.

Wednesday, September 29, 2010

RESTORASI YANG BENAR

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Kisah Para Rasul 1: 6-8



Sebelum TUHAN Yesusnaik ke Surga, IA ditanyai oleh murid-murid-NYA, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Dari pertanyaan ini ada dua hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, “pada masa ini” (ἐν τῷ χρόνῳ τούτῳ, én tó khrónō tutō), dan yang kedua, “memulihkan kerajaan bagi Israel” (ἀποκαθιστάνεις τὴν βασιλείαν τῷ Ἰσραήλ, apokathistanīs tēn basilían tó Israél). Maksud bagian kalimat yang kedua ini adalah merestorasi, memugar, atau membangun kembali kerajaan Israel. Dari pertanyaan para murid ini tampak bahwa mereka menghendaki agar pada masa mereka masih hidup di dunia, TUHAN Yesus merestorasi atau membangun kembali (apokathistanīs) kerajaan Israel yang pernah mengalami puncak keemasannya pada zaman Raja Daud dan Salomo. Tidak pernah bangsa Israel mengalami kejayaan seperti pada zaman dua raja besar itu.
Sebenarnya pertanyaan para murid ini lebih tepat disebut sebagai tuntutan. Mereka menuntut sebab mereka masih belum mengerti visi dan misi kedatangan TUHAN Yesus ke dalam dunia ini. Ironis, padahal mereka sudah belajar selama tiga setengah tahun siang dan malam dari Sang Mahaguru Agung, tetapi mereka masih mempunyai konsep yang salah. Di mana letak kesalahannya? Pertama, mereka tidak mengerti bahwa pemulihan kerajaan Israel bukanlah pada waktu yang diingini oleh mereka, melainkan pada saat yang akan ditentukan oleh BAPA (ay. 7). Kedua, mereka seharusnya sadar bahwa mereka tidak perlu tahu kapan BAPA mengadakan pemulihan itu. Secara tidak langsung TUHAN juga ingin mengisyaratkan ada hal yang lebih penting yang harus mereka tahu dan kerjakan, yaitu menerima kuasa untuk menjadi saksi TUHAN sampai ke ujung bumi (ay. 8). Ketiga, yang akan berdiri sampai selama-lamanya bukanlah kerajaan Israel duniawi, tetapi Kerajaan TUHAN Yesus Kristus setelah semua zaman raja-raja dan kerajaan berakhir. Empat puluh tahun setelah percakapan itu, Yerusalem dihancurkan dan mereka tidak lagi memiliki tanah air sampai 14 Mei 1948, saat Negara bernama Israel berdiri di tanah itu. Murid-murid Yesus ternyata salah, tetapi ini tidak boleh menjadi alasan pembenaran untuk kita juga berkonsep salah. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama, tetapi kita harus mempelajari Alkitab sampai mengerti konsep TUHAN Yesus yang benar dan memeliharanya. Nantikanlah Kerajaan TUHAN Yesus dengan sukacita, bukan kerajaan duniawi.

Tuesday, September 28, 2010

BUKAN UNTUK YANG TIDAK PENTING

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Lukas 12 : 13-15



TUHAN Yesus menolak orang yang datang meminta-NYA untuk membantunya dalam berbagi warisan. Ini bukan berarti TUHAN menolak orang ini, tetapi yang ditolak adalah bisnisnya. Misi TUHAN Yesus adalah menyelamatkan manusia dan membawa mereka ke langit baru dan bumi baru, bukan mengurusi masalah fana yang tidak penting. Ternyata banyak orang seperti orang di kisah ini. Mereka berurusan dengan TUHAN hanya untuk bisnis di bumi ini. Selanjutnya di keabadian mereka tidak akan berurusan dengan TUHAN. Betapa liciknya orang yang melibatkan TUHAN hanya dalam masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani saat masih mengenakan tubuh jasmani di bumi. Mereka tidak mau masuk kepada proses penyempurnaan dari TUHAN, tetapi kalau mati nanti minta dibawa ke Surga. Maunya enaknya saja. TUHAN kita dahsyat. Tentunya dari-NYA kita mengharapkan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia atau kuasa lain. Kalau hanya mengenai kesehatan, rezeki, karier dan lain sebagainya, kita bisa berusaha mencapainya dengan sekuat tenaga, dan TUHAN pasti menegakkan hukum-NYA: apa yang ditabur orang, itu juga yang dituainya. Tetapi untuk menjadi sempurna atau memiliki kehidupan sesuai dengan kehendak TUHAN, harus ada pertolongan TUHAN, sebab manusia tidak bisa melakukannya sendiri maupun dengan bantuan kuasa lain. Manusia hanya perlu memiliki kemauan, kerinduan, dan tekad yang kuat untuk masuk kepada proses penyempurnaan.

Jadi kita perlu berhati-hati dengan ajaran yang menggiring pemikiran orang untuk mengandalkan kuasa TUHAN untuk masalah-masalah hidup di dunia ini, mengalami kuasa TUHAN hari ini di bumi ini, tetapi tidak mempersoalkan dengan serius rencana TUHAN agar manusia kembali kepada rancangan-NYA yang mula-mula. Hal ini menggiring jiwa kepada tujuan yang salah. Banyak orang berpikir ia sedang berurusan dengan TUHAN di bumi, dan ia akan diterima BAPA selamanya. Padahal dengan keinginannya berurusan dengan TUHAN hanya mengenai kehidupan di dunia ini, di keabadian mereka tidak akan dikenal oleh BAPA. TUHAN Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah,” artinya yang harus diutamakan adalah bagaimana menjadi warga Kerajaan Surga yang baik. Berurusanlah dengan TUHAN dalam rangka mau menjadi warga Kerajaan Surga yang baik. Yang terpenting adalah perjalanan menuju Kerajaan-NYA dan berkat abadi yang TUHAN sediakan. Berkat inilah yang seharusnya menjadi fokus kita. Adapun berkat jasmani sudah TUHAN sediakan, tidak perlu diminta lagi. Dengan bekerja untuk meraihnya, TUHAN pasti menyertai dan membekati kita dengan berkat jasmani. Jangan libatkan TUHAN untuk urusan yang tidak penting; berurusanlah dengan-NYA untuk menuju kesempurnaan

Monday, September 27, 2010

MENGHARGAI KESUCIAN DAN KEBENARAN TUHAN

Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Lukas 12 : 15



Tingkat kesucian dan kebenaran TUHAN rentangnya atau jaraknya bisa tidak terbatas. Seandainya seseorang memiliki masa umur hidup 1000 tahun, itu pun tak akan cukup untuk menjangkau kesucian dan kebenaran TUHAN yang tersedia bagi manusia. Sangat mungkin bahwa perkembangan kesucian dan kebenaran TUHAN dalam hidup seseorang akan berlanjut nanti di langit dan bumi yang baru, tetapi ini hanya dialami oleh orang-orang yang selama hidup di dunia ini menghargainya. Menghargai kesucian dan kebenaran TUHAN berarti berusaha untuk melakukan kehendak TUHAN: apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Sayang sekali, kalau hari ini kita lihat banyak orang mau memiliki rumah, mobil, kehormatan, pangkat dan fasilitas lain yang serba terbaik, tetapi tidak merindukan kehidupan rohani yang terbaik. Inilah yang Alkitab katakan sebagai orang-orang bodoh (Luk. 12:20), tak beda dengan Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan. Jika seseorang tidak kaya di hadapan ALLAH, ketika ia menutup mata, barulah ia menyadari kebodohannya, namun tak ada kesempatan lagi. JadiFirman TUHAN agar kita mengumpulkan harta di surga dan bukan di bumi, maksudnya adalah agar kita membenahi jiwa kita untuk diisi kebenaran TUHAN, menggantikan segala hal busuk yang ada di dalamnya. Jika seseorang mempertahankan jiwa yang busuk, tak heran jika ia berprinsip “makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah,” hidup bagi dirinya sendiri dan bersikap seolah-olah tidak ada kehidupan di balik kubur.
Kesempatan membenahi jiwa kita ini merupakan kesempatan yang diberikan hanya kepada orang percaya. Orang percaya diberi kuasa untuk hidup sebagai anak-anak TUHAN (Yoh. 1:12), yaitu kemampuan untuk hidup dalam pimpinan Roh (Rm. 8:14). Paket ini hanya disediakan bagi orang yang percaya TUHAN Yesus Kristus. Jadi kalau seseorang hanya mau hidup sebagai orang baik, ia tidak perlu menjadi orang Kristen. Orang Kristen adalah orang yang dipanggil untuk mencapai standar kesucian dan kebenaran TUHAN serta menghargai kesucian dan kebenaran TUHAN tersebut. Itulah sebabnya IA menghendaki kita memprioritaskan Kerajaan-NYA. Ini tidak akan mengganggu kegiatan hidup kita setiap hari, bahkan sebaliknya TUHAN akan membuat masalah pemenuhan kebutuhan jasmani kita tidak mengganggu pergumulan dalam mencapai standar kesucian dan kebenaran-NYA yaitu menjadi sempurna sama seperti BAPA Di Surgaadalah sempurna. Ya inilah pergumulan kita sebagai anak TUHAN. Kita harus menghargai kesucian dan kebenaran-NYA agar perkembangannya terus berlanjut dalam diri kita di langit dan bumi baru kelak.

Friday, September 24, 2010

MENYANGKAL DIRI

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Matius 16 : 24–26


Kegagalan orang mengenal gambar dirinya terutama bersumber kepada satu hal saja, yaitu tidak mengenal kebenaran TUHAN. Pengalaman hidup dan lain sebagainya juga berpengaruh secara langsung maupun tidak, namun tetap saja dapat dikatakan bahwa sumber yang terutama adalah ketidakmengertian terhadap kebenaran TUHAN. Jaditidak seperti yang dikatakan oleh motivator dan pembicara bahwa pengalaman buruk masa lalulah yang menyebabkan rusaknya gambar diri, tetapi semua pengalaman baik positif dan negatif dapat merusak gambar diri seseorang, sebab dunia yang fasik dan tidak mengenal kebenaran TUHAN telah membangun gambar diri yang salah dalam kehidupan setiap individu. Untuk memulihkan gambar diri, kita harus bersedia menyangkal diri (ay. 24). Menyangkal diri adalah kesediaan untuk membuang segala konsep dan asumsi mengenai kehidupan ini: asumsi mengenai keberhasilan, kebahagiaan dan lain sebagainya. Konsep mengenai kehidupan yang salah menyebabkan seseorang membangun gambar yang salah pula. Hanya dengan penyangkalan dirilah maka gambar diri yang salah itu bisa diganti. Dengan menyangkal diri artinya kita bersedia menanggalkan gambar diri yang salah yang tertanam dalam benak kita.


Jadi kita perlu mengoreksi pemahaman umum selama ini mengenai penyangkalan diri, yang dipahami hanya sebagai sikap yang menolak perbuatan salah—pelanggaran terhadap moral—dan kesediaan melakukan hukum yang dianggap sebagai standar moral. Ini sebenarnya belum bisa dikatakan sebagai penyangkalan diri, tetapi pertarakan. Penyangkalan diri adalah berkata “tidak” bukan hanya kepada perbuatan amoral, melainkan berkata “tidak” kepada semua filosofi hidup yang tidak sesuai dengan kehendak TUHAN. Filosofi hidup yang diwariskan kepada kita pada umumnya adalah perjuangan untuk meraih keberhasilan melalui bersekolah, berkarier, mencari nafkah, menikah, mempunyai anak, membesarkan anak, membesarkan cucu dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan untuk meraih apa yang disebut sebagai keberhasilan atau paling tidak sebuah kelayakan atau kewajaran hidup. Namun anak-anak TUHAN dipanggil untuk mengabdi kepada TUHAN. Kita harus melakukan apa pun juga termasuk makan dan minum hanya untuk kemuliaan ALLAH (1Kor. 10:31). Jadi anak TUHAN memang harus bersekolah, berkarier, menikah dan lain sebagainya, tetapi semua itu harus dilakukan bukan untuk keberhasilan pribadi kita, melainkan bagi TUHAN yang telah menebus kita dan membeli kita dengan darah-NYA. Menyangkal diri berarti berkata “tidak” kepada semua filosofi hidup yang tidak sesuai dengan kehendak TUHAN.

Thursday, September 23, 2010

KRISIS GAMBAR DIRI

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. Roma 8 : 28–30



Keselamatan dalam Yesus Kristus membuka peluang manusia untuk dapat belajar mengenal dirinya dengan benar dan mengembangkannya sesuai dengan apa yang TUHAN kehendaki. Pernyataan TUHAN Yesus bahwa orang percaya harus sempurna seperti BAPA di Surga (Mat. 5:48) sebenarnya sama dengan panggilan untuk menemukan gambar diri yang dikehendaki BAPA di Surga. Gambar diri ini adalah kesempurnaan. Pergumulan untuk menemukan gambar diri ini belum tuntas diselesaikan oleh Adam. Sekiranya Adam tuntas mengejar kesempurnaan seperti BAPA di Surga, niscaya ia tidak jatuh ke dalam dosa dan tidak berada di bumi lagi. Kesempurnaan, yaitu keadaan segambar dan serupa dengan ALLAH, berarti iblis tak akan mampu mengungguli manusia. Dengan demikian istilah “krisis gambar diri” harus dikoreksi dan dipahami dengan pemahaman yang baru. Sebab kalau dikatakan “krisis”, seolah-olah pernah ada suatu masa saat manusia pernah memiliki gambar diri yang sempurna. Padahal sebelum Anak ALLAH datang, manusia belum sempat sampai kepada tingkat mengungguli iblis. Jadi pengertian yang benar mengenai krisis gambar diri bukanlah pengembalian gambar diri seolah-olah manusia pernah mencapai gambar diri yang ideal atau sempurna dan pernah menetap permanen dalam dirinya, melainkan pengembalian proses penyempurnaan untuk menemukan gambar diri yang telah gagal oleh manusia pertama.
Maka panggilan untuk sempurna seperti BAPA adalah menjalani proses penyempurnaan manusia yang tertunda karena jatuhnya Adam dalam dosa. Kedatangan TUHAN Yesus sebagai Adam kedua merupakan awal dari dimulainya kembali pencarian gambar diri oleh manusia yang diciptakan segambar dengan ALLAH agar sempurna seperti BAPA di Surga dengan menjalani proses penyempurnaan di kehidupan ini. Tidak semua manusia diberikan kesempatan menjalani proses penyempurnaan ini dan pemahaman akan arti proses penyempurnaan ini., namun hanya kepada oang percaya saja. Maukah kita menjalani proses penyempurnaan ini agar menemukan gambar diri kita yang sempurna, seperti BAPA Di Surga. Panggilan untuk sempurna seperti BAPA adalah menjalani proses penyempurnaan untuk menemukan gambar dirinya.

Tuesday, September 21, 2010

MENGENAL GAMBAR DIRI

Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Mazmur 51 : 4–6


Manusia pada dasarnya telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan ALLAH, serta terlahir dalam keadaan yang tidak berpotensi sama sekali untuk memiliki dan mengenal gambar diri yang benar. Ini bagian dari dosa warisan yang diterima setiap anak-anak Adam (Mzm. 51:7). Jadi adalah keliru kalau orang berpendirian bahwa manusia dapat mengenal gambar dirinya tanpa perlu mengenal kebenaran Injil. Adam sendiri telah kehilangan kesempatan untuk menemukan gambar dirinya dengan benar dan bertumbuh menuju keserupaan dengan ALLAH lebih baik. Manusia jatuh ke dalam dosa karena terkecoh tipuan dan bujuk rayu Iblisuntuk menjadi seperti ALLAH (Kej. 3:5) dengan cara yang instan (cukup memakan buah) & melanggar perintah ALLAH. Ini membuktikan bahwa saat itu Adam dan Hawapun belum mengenal gambar dirinya dengan benar. Kalau manusia memahami gambar dirinya dengan benar, maka ia tidak akan makan buah terlarang, karena itu dilarang ALLAH. Siapakah sebenarnya manusia itu? Manusia adalah mahkota ciptaan ALLAH; ciptaan ALLAH dengan kualitas tertinggi; raja di bumi oleh kuasa yang TUHAN berikan. Manusia diberi kemampuan untuk menaklukkan bumi dan menaklukkan semua rintangan yang merintangi penyelenggaraan pemerintahannya. Potensi terbesar yang dapat mengganggu pemerintahan manusia di bumi adalah malaikat-malaikat pemberontak yang dibuang ke bumi (Why. 12:4).

Dengan mandat menaklukkan bumi, berarti manusia juga diberi kesanggupan untuk mengalahkan iblis. Mana bisa manusia menaklukkan iblis? Mengapa tidak? Itulah rencana awal BAPA, sebab tak mungkin IA sengaja merancang kejatuhan manusia ke dalam dosa. Seharusnya manusialah yang menjadi alat ALLAH untuk mengalahkan iblis dengan segala tipu muslihatnya. Kita harus menolak pandangan yang menganggap bahwa ALLAH merancang skenario kejatuhan manusia ke dalam dosa dengan alasan inkarnasi ALLAH ANAKmenjadi manusia merupakan skenario yang pasti harus dilakukan, sebab pandangan ini sama dengan menuduh ALLAH sebagai sumber dosa dan bencana. Sesungguhnya manusia dirancang untuk bersekutu dengan ALLAH dalam kurun waktu yang tidak terbatas. IA menciptakan manusia hanya untuk hidup dalam persekutuan dengan DIA dan pengabdian kepada-NYA selamanya. Betapa dahsyat makhluk ini. Sayang Adam belum menemukan gambar diri ini dengan sempurna. Sekiranya gambar diri ini telah dipahami Adam dengan utuh dan benar, manusia tidak akan jatuh dalam dosa. Manusia dirancang menurut gambar dan rupa ALLAH; menjadi seperti BAPAnya, yaitu ALLAH sendiri. Manusia adalah makhluk yang dahsyat, yang dirancang untuk bersekutu dan mengabdi kepada ALLAH selamanya.

Thursday, September 16, 2010

PEMULIHAN GAMBAR DIRI

Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Galatia 5 : 19–21


Dewasa ini banyak orang sedang berbicara mengenai pemulihan gambar diri, baik di dalam maupun di luar lingkungan gereja. Karena dianggap penting, dalam pelatihan-pelatihan para pemimpin dan pejabat gereja pun tema ini juga diangkat ke permukaan sebagai materi pengajaran wajib. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan gambar diri itu? Gambar diri adalah pemahaman seseorang mengenai siapa dirinya dan harus menjadi apa atau bagaimana dirinya tersebut. Bagaimana seseorang memandang dirinya saat ini merupakan aspek kekinian (present) dari gambar diri. Setiap orang memiliki penilaian atau harga terhadap dirinya sendiri. Ada orang yang menilai dirinya terlalu tinggi, tetapi ada pula yang menghargai dirinya terlalu rendah. Contohnya, tak jarang orang yang secara ekonomi pas-pasan merasa minder apabila berkumpul dalam kelompok orang berada; sebaliknya, ada orang yang merasa dirinya terhormat, sehingga punya kepercayaan diri yang tinggi dan merasa pasti diterima siapa pun dan di mana pun. Kebanyakan orang menganggap kepercayaan diri yang tinggi seperti ini positif, padahal belum tentu, sebab bisa jadi ada kesombongan terselubung dalam dirinya. Sebaliknya orang yang minder tadi juga sesungguhnya orang yang sombong. Karena ia tidak bisa mencapai standar yang ditetapkannya, ia tidak menerima diri sebagaimana adanya. Ia tidak menerima keadaan dirinya. Itulah letak kesombongannya.
Dalam ceramah dan pelatihan penemuan gambar diri, biasanya kepercayaan diri dianggap sebagai salah satu ukuran dan tanda bahwa seseorang telah menemukan gambar dirinya. Dengan mengutip ayat seperti Mzm. 139:13–14, orang didorong untuk merasa dirinya berharga dan memiliki kepercayaan diri. Padahal sesungguhnya itu hanya merupakan pengembangan kepribadian, yang tidak ada bedanya dengan pelatihan pengembangan diri oleh para motivator di luar gereja. Pengembangan kepribadian seperti ini bila diajarkan tanpa landasan kebenaran Injil, sekali lagi jika diajarkan tanpa landasan kebenaran Injil, dapat membangun sikap humanisme (menganggap manusia lebih penting daripada segalanya) dan antroposentrisme (berpusat kepada diri sendiri). Padahal Alkitab mengajarkan bahwa semestinya kita bersikap bahwa kita yang lama telah mati, dan hidup kita sekarang bukan kita lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Memang saat manusia jatuh ke dalam dosa, gambar diri yang ditempatkan ALLAH telah rusak. Namun IA ingin agar kita memiliki kembali gambar diri dari ALLAH tersebut. TUHAN Yesuslah teladan kita, IA harus hidup di dalam diri kita. Itulah sebabnya kita harus selalu mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Gambar diri yang benar ada dalam diri Kristus yang hidup dalam diri kita.

Wednesday, September 15, 2010

DETIK DEMI DETIK

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. 2 Korintus 4 : 16–18


Masa hidup manusia hanya tujuh puluh tahun; jika kuat, delapan puluh tahun (Mzm. 90:10). Tujuh puluh tahun tersebut menentukan nasib kekal atau keberadaan abadi seseorang. Paulus menulis bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini (selama 70 tahun), mengerjakan bagi orang percaya kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan itu. Kalau penderitaan selama tujuh puluh tahun akan menghasilkan kemuliaan tujuh juta tahun, setiap detiknya sangat berarti. Kalau tujuh puluh tahun menghasilkan kemuliaan tujuh milyar tahun, setiap detiknya berarti sangat besar. Kalau tujuh puluh tahun menghasilkan kemuliaan di kekekalan, maka setiap detiknya mengerjakan kemuliaan yang tiada tara. Mata perhatian kita tidak boleh hanya memandang seolah-olah hanya detik terakhirlah yang menentukan nasib kekal. Yang menentukan nasib kekal manusia bukan hanya akhir perjalanan hidupnya, melainkan sepanjang perjalanan hidupnya. Kalau awalnya sudah salah, maka sulit untuk menjadi benar kemudian. Awalnya benar saja belum tentu akhirnya benar; apalagi kalau awalnya sudah salah, maka kesalahan akan terjadi terus sampai akhir.


Harus diingat bahwa tak seorang pun tahu kapan detik terakhirnya. Setiap detik adalah momentum (kairós) yang memuat pelajaran rohani yang berharga, sesuai dengan jadwal pembentukan yang TUHAN susun seperti kurikulum (khrónos). Itulah sebabnya Firman TUHAN menyatakan bahwa kita harus memanfaatkan setiap waktu yang ada, sebab hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:16). Satu detik kita memiliki arti yang sangat berharga, karena itu bagian dari durasi (hóra), urut-urutan (khrónos) dan kesempatan (kairós) yang TUHAN berikan. Bila waktu digunakan dengan baik, maka waktu itu membawa kita kepada kemuliaan. Ingatlah bahwa hóra kita makin berkurang, kairós dapat berlalu tanpa hasil, dan khrónos pembentukan TUHAN atas kita dapat menjadi sia-sia. Detik demi detik berlalu, TUHAN menunggu anak-anak-NYA untuk menggunakan kesempatan hidup ini untuk meraih berkat kesulungan yang dimiliki orang percaya, yaitu menjadi sempurna agar bisa dipermuliakan bersama-sama dengan Yesus. Jangan seperti Esau yang mengkhianati TUHAN, dengan menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan. Jadi bukan hanya detik terakhir yang menentukan, tetapi juga semua detik hidup yang diberikan TUHAN kepada kita. Detik demi detik hidup kita harus digunakan sebaik-baiknya untuk menuju kesempurnaan.

Tuesday, September 14, 2010

BERJUANG

Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Lukas 13 : 24


Mengapa banyak orang Kristen menganggap bahwa yang terpenting adalah akhir perjalanan hidup kita? Harus diakui ini diakibatkan pengertian yang salah mengenai keselamatan dalam pikiran banyak orang Kristen. Keselamatan dianggap begitu murahan dan gampangan. Inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen memiliki hidup kerohanian yang tidak bermutu. Padahal TUHAN Yesus sendiri berkata, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (Luk. 13:24) Berjuang, atau ἀγωνίζεσθε (agōnizesthe) mengandung arti “berusaha keras”, atau “bekerja dengan semangat menyala-nyala.” Pemahaman keselamatan yang salah disebabkan juga karena interpretasi yang salah terhadap fragmen penyaliban, yaitu keselamatan yang diterima oleh salah satu penjahat yang disalib di samping TUHAN Yesus. Hanya dengan mengucapkan, “Ingatlah aku kalau ENGKAU datang sebagai Raja”, ia sudah selamat. Sesederhana itukah? Banyak orang tidak memahami bahwa penjahat tersebut memiliki sikap hati yang luar biasa, yang karenanya ia layak menerima keselamatan. Ini tampak dalam beberapa pernyataan yang diucapkannya di kayu salib tersebut: ia mengakui bahwa TUHAN Yesus adalah Mesias; ia mengakui Yesus berkuasa menyelamatkan dirinya di kekekalan; ia percaya bahwa Yesuslah Raja. Saat orang-orang—termasuk murid-murid Yesus—meninggalkan TUHAN Yesus, justru si penjahat inilah satu-satunya orang yang masih percaya pada waktu itu.


Keselamatan seseorang ditentukan oleh kesetiaannya sampai akhir, tetapi ini tidak hanya ditentukan oleh menit-menit terakhir. Seperti kemenangan petinju bukan hanya ditentukan oleh menit-menit terakhir di atas ring tinju, tetapi oleh hari-hari panjang saat ia mempersiapkan diri berlatih sebelum pertandingan. Penjahat ini menerima dengan rela hukuman salib terhadap dirinya, sebab ia merasa bahwa pantas menerimanya (Luk. 23:41). Ini menunjuk pengakuan dosanya yang tulus dan jujur. Inilah pertobatan yang sesungguhnya, bukan pertobatan semu. Tidak mungkin sikap hati seperti ini dapat dimilikinya secara mendadak. Tentu ia telah membangunnya melalui detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun-tahun yang panjang. Apa yang dilakukan penjahat ini adalah peta perjalanan yang telah dilaluinya. Bukan detik terakhirnyalah yang merupakan penentu satu-satunya untuk keselamatannya. Keselamatan tidak murahan, tetapi membutuhkan perjuangan hidup.

Monday, September 13, 2010

MENGENAL ISI HATI TUHAN

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. 1 Korintus 13 : 13


Satu hal yang harus dimengerti dan dipahami adalah bahwa kebaikan yang dimiliki orang percaya haruslah kebaikan yang menurut standar ALLAH. Itu bukan diukur dari apa dan bagaimana kebaikan itu, tetapi apakah tujuan perbuatan itu, berangkat dari isi hati TUHAN atau kehendak manusia? Sebab selama ini yang menjadi ukuran berbuat baik adalah jika perbuatan kita membuat orang senang: orang lapar diberi makanan sehingga kenyang, orang telanjang diberi baju sehingga berpakaian. Sesederhana itu, padahal membuat orang lain senang belum tentu baik. Baik di sini menurut ukuran TUHAN tentunya. Kalau kebaikan berangkat dari isi hati dan pertimbangan manusia, misalnya menyenangkan orang lain, itu belum tentu berarti dia orang baik. Tetapi bila perbuatan baik yang kita lakukan berangkat dari isi hati TUHAN, maka orang itu pasti adalah orang baik. Kepada jemaat di Korintus, RasulPaulus menjelaskan mengenai kasih. Apa itu kasih?… sekalipun membagi-bagikan segala sesuatu… sekalipun menyerahkan tubuh untuk dibakar, tanpa kasih sia-sia.” Tidakkah ini membingungkan?

Kasih itu bukan sekadar perbuatan baik. Belum tentu perbuatan baik itu adalah tindakan kasih. Kasih adalah semua tindakan yang berangkat dari hati TUHAN. Ingat ketika pemimpin yang kaya datang kepada TUHAN Yesusdan berkata, “Guru yang baik,” (Luk. 18:18) lalu Yesus menyahut, “Tidak ada yang baik selain ALLAH.” Ini bukan berarti Yesus tidak baik; tetapi Yesus ingin meluruskan pandangan orang itu, bahwa hanya tindakan yang berangkat dari hati ALLAH lah yang baik; kebaikan itu tidak seperti apa yang dianggap orang itu. Jadikalau ada tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran ALLAH, itu tidak baik, itu pasti kejahatan di mata TUHAN, apa pun perbuatan itu. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1Yoh. 4:8) Berarti semua tindakan di luar pikiran dan kehendak ALLAH, pasti bukan kasih, pasti tidak baik, pasti kejahatan. Jadi jangan heran kalau ada orang yang misalnya bisa bernubuat, memberikan seluruh hartanya, atau mengorbankan dirinya untuk dibakar. Bila tidak sesuai dengan kehendak dan isi hati TUHAN, berarti itu tanpa kasih, sia-sia belaka, tidak baik. Jadi untuk memiliki perbuatan baik, marilah kita bukan sekadar belajar moral dan budi pekerti, tetapi lebih dari itu, mari belajar semakin mengenal isi hati TUHAN.

Thursday, September 09, 2010

BUKAN MENCARI KEHORMATAN

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Matius 5 : 14–16



Kebaikan yang sesungguhnya adalah kebaikan yang dilakukan seseorang tanpa mencari penghormatan; kebaikan yang dilakukan tanpa maksud untuk menunjukkannya kepada orang lain supaya mendapat pujian. Ini bukan hal yang mudah, sebab umumnya setiap orang memiliki kecenderungan mencari penghargaan dari apa yang dilakukannya. Kebaikan yang tulus lahir dari sikap batiniah seseorang; sesungguhnya adalah kebaikan yang diraih melalui pergumulan berat disertai pertolongan Roh Kudus. Dalam Mat. 5:45 diajarkan kepada umat pilihan, bahwa mereka harus seperti BAPA yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Ini bukan sesuatu yang mudah. Ini bagi manusia rasanya mustahil; tetapi apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi ALLAH. Hanya oleh pimpinan Roh TUHAN setiap harilah kita didewasakan sehingga mencapai satu tingkat kesempurnaan, meraih tingkat kebaikan yang TUHAN kehendaki. Jika kita benar-benar menyadari bahwa semuanya tercapai oleh karena pimpinan TUHAN, maka kita pun tidak akan sanggup menyombongkan diri bahwa apa yang kita capai adalah karena jasa atau kehebatan kita. Kita tahu bahwa jika bukan TUHAN yang menuntun kita, kita tidak bisa mencapai kebaikan seperti BAPA.


Jadi jika kita bisa berbuat baik, kita tidak merasa berjasa; kita juga tidak merasa hebat, karena hanya oleh pertolongan Roh Kudus lah kita dapat berbuat baik. Kebaikan yang dihayati seperti ini akan membuat kita benar-benar memuliakan BAPA di Surga. Seperti diungkapkan oleh TUHAN Yesus, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga.” (ay. 16) Artinya, bukan diri kita yang dimuliakan atau dipuji, melainkan BAPA di Surga. Dalam dunia ini banyak perbuatan baik yang dilakukan seseorang yang membuat orang tertarik kepada seorang individu, tertarik kepada manusianya, sehingga fokusnya adalah ke orang yang melakukan perbuatan baik itu. Tetapi TUHAN mengajarkan kepada kita perbuatan baik yang dikehendaki oleh TUHAN adalah perbuatan baik yang membuat orang terfokus kepada TUHAN. Jika perbuatan baik yang dilakukan oleh orang percaya adalah perbuatan baik hasil pimpinan Roh Kudus dan memiliki kualitas yang tinggi, yaitu seperti BAPA, maka perbuatan baik yang dilakukan itu adalah perbuatan baik yang memuliakan BAPA di Surga.

Wednesday, September 08, 2010

KEBAIKAN

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." Lukas 6 : 43–45



Sebagai umat pilihan yang diproses oleh TUHAN untuk menjadi serupa dengan gambar-NYA dan memiliki standar kebaikan seperti yang dikehendaki-NYA, sesungguhnya tidak ada alasan sama sekali bagi kita untuk menjadi sombong atau angkuh. Mengapa? Karena kebaikan yang ada pada kita itu bukan kebaikan secara lahiriah, bukan kebaikan yang artifisial. Meskipun kebaikan kita terbaca, terekspresi, terkristal secara konkret dalam bentuk yang dapat dilihat dan dirasa, kebaikan kita itu berangkat dari batin kita. Menyadari bahwa kebaikan itu berangkat dari dalam hati atau batin akan mengajarkan kita memahami apa artinya rendah hati. TUHAN Yesus memperingatkan orang-orang Yahudibahwa pohon dikenal dari buahnya. Jadi orang yang baik mengeluarkan kebaikan dari hatinya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan kejahatan dari hatinya yang jahat. Jadi, jika seseorang sengaja menunjukkan kebaikannya di mata orang, atau sengaja membanggakan kelakuan baiknya didepan orang, maka ia belum memiliki kebaikan itu dan ia tidak tahu apa sebenarnya kebaikan itu. Ini bedanya kebenaran Kristiani dengan keberagamaan. Keangkuhan lahiriah itu terekspresikan dari hatinya yang sombong, sehingga di mata TUHAN itu bukan kebaikan, melainkan kejahatan.


Kita sering melihat ada orang Kristen secara langsung atau tidak langsung, secara terselubung atau terang-terangan, ingin menunjukan kebaikannya di mata orang lain. Tak jarang ia berusaha membandingkan dirinya dengan orang lain dan seolah-olah ia ingin membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Orang-orang seperti ini belum mengerti apa itukebaikan, sebab kebaikan-kebaikan lahiriah yang tidak berasal dari batin adalah munafik. Kebaikan dari dalam akan terekspresi secara konkret, maka sikap batiniahnya memahami benar apa artinya rendah hati. Kerendahan hati akan mencegah seseorang menjadi sombong. Dalam hal ini kerendahan hati sifatnya sangat pribadi: jika seseorang melakukan suatu kebaikan karena mengharapkan pujian atau karena gerakan hatinya yang mencintai TUHAN, hanya TUHAN lah yang dapat menilainya dengan sempurna. Tetapi sebagaimana buah yang tidak baik merupakan hasil dari pohon yang tidak baik, orang yang sombong pastilah tidak baik. Sebagai anak-anak TUHAN yang diajar untuk memiliki sikap batiniah yang baik, kita harus belajar memahami kebenaran yang sejati, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan adalah dorongan pikiran dan perasaan yang telah diimpartasikan oleh TUHAN di dalam diri kita. Batin yang baik niscaya membuahkan perbuatan yang baik.