Friday, September 24, 2010

MENYANGKAL DIRI

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Matius 16 : 24–26


Kegagalan orang mengenal gambar dirinya terutama bersumber kepada satu hal saja, yaitu tidak mengenal kebenaran TUHAN. Pengalaman hidup dan lain sebagainya juga berpengaruh secara langsung maupun tidak, namun tetap saja dapat dikatakan bahwa sumber yang terutama adalah ketidakmengertian terhadap kebenaran TUHAN. Jaditidak seperti yang dikatakan oleh motivator dan pembicara bahwa pengalaman buruk masa lalulah yang menyebabkan rusaknya gambar diri, tetapi semua pengalaman baik positif dan negatif dapat merusak gambar diri seseorang, sebab dunia yang fasik dan tidak mengenal kebenaran TUHAN telah membangun gambar diri yang salah dalam kehidupan setiap individu. Untuk memulihkan gambar diri, kita harus bersedia menyangkal diri (ay. 24). Menyangkal diri adalah kesediaan untuk membuang segala konsep dan asumsi mengenai kehidupan ini: asumsi mengenai keberhasilan, kebahagiaan dan lain sebagainya. Konsep mengenai kehidupan yang salah menyebabkan seseorang membangun gambar yang salah pula. Hanya dengan penyangkalan dirilah maka gambar diri yang salah itu bisa diganti. Dengan menyangkal diri artinya kita bersedia menanggalkan gambar diri yang salah yang tertanam dalam benak kita.


Jadi kita perlu mengoreksi pemahaman umum selama ini mengenai penyangkalan diri, yang dipahami hanya sebagai sikap yang menolak perbuatan salah—pelanggaran terhadap moral—dan kesediaan melakukan hukum yang dianggap sebagai standar moral. Ini sebenarnya belum bisa dikatakan sebagai penyangkalan diri, tetapi pertarakan. Penyangkalan diri adalah berkata “tidak” bukan hanya kepada perbuatan amoral, melainkan berkata “tidak” kepada semua filosofi hidup yang tidak sesuai dengan kehendak TUHAN. Filosofi hidup yang diwariskan kepada kita pada umumnya adalah perjuangan untuk meraih keberhasilan melalui bersekolah, berkarier, mencari nafkah, menikah, mempunyai anak, membesarkan anak, membesarkan cucu dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan untuk meraih apa yang disebut sebagai keberhasilan atau paling tidak sebuah kelayakan atau kewajaran hidup. Namun anak-anak TUHAN dipanggil untuk mengabdi kepada TUHAN. Kita harus melakukan apa pun juga termasuk makan dan minum hanya untuk kemuliaan ALLAH (1Kor. 10:31). Jadi anak TUHAN memang harus bersekolah, berkarier, menikah dan lain sebagainya, tetapi semua itu harus dilakukan bukan untuk keberhasilan pribadi kita, melainkan bagi TUHAN yang telah menebus kita dan membeli kita dengan darah-NYA. Menyangkal diri berarti berkata “tidak” kepada semua filosofi hidup yang tidak sesuai dengan kehendak TUHAN.