Monday, April 07, 2014

HAMBA BAGI ORANG BERDOSA - Pdt Rindu Hutapea

Kebaktian Sabat
GMAHK Kemang Pratama
Pembicara : Pdt. Rindu Hutapea 
Sabat, 05 April 2014

Kebaktian khotbah di awali dengan lagu pendahuluan dari LS No. 515 "Tuhan ada dalam Bait Allah" dipimpin oleh Sdr. Erhart Tobing dengan pianist Joshua Simanjuntak.  Para participant khotbah memasuki mimbar dan jemaat menyanyi dai LS No 1 "Di hadapan Hadirat Mu" dilanjutkan doa khotbah dilayangkan oleh Pdt Rindu Hutapea. Bacaan Alkitab bersahutan di pimpin oleh Ketua Bp. Mulana Simanjuntak terdapat dalam Mazmur 15:1-5 dibacakan oleh pemimpin dan jemaat secara bergantian. Lagu buka dari LS No. 276 "Darah Yesus Tlah tertumpah" dinyanyikan semua ayat, dan doa syafaat di layangkan oleh Ketua Bp. Sontani Purnama. Sambutan doa jemaat menyanyi dari LS No. 517 "Dengar Ya Tuhan kami berdoa".

Bacaan persembahan dibawakan oleh Ketua Bp. David Tampubolon, himbauan persembahan agung yang pantas kita berikan hanya kepada Dia yang agung, Yesus Kristus. Persembahan di jalankan diiringi musik instrumentalia, dilanjutkan sambutan persembahan jemaat menyanyi dari LS No 21 "Pada Mu Allah ku puji" dan doa persembahan di layangkan oleh Bp. David Tampubolon. Sebuah cerita anak2 mengawali khotbah dibawakan oleh Ibu Pdt Laddy Hutape, dilanjutkan lagu istimewa ayng di bawakan oleh seluruh Diakon dan Diakones, dengan judul lagu "Di Tempat Yang Lebih Tinggi".
Ayat inti khotbah dibacakan oleh Bp. Mulana Simanjuntak terdapat dalam Yohanes 13:12. Menyambut firman yang akan disampaikan jemaat menyanyi lagu penghantar khotbah "Tuhan bersabda padaku" dengan setengah suara. "Hamba bagi orang berdosa" adalah judul khotbah yang dibawakan oleh gembala jemaat Pdt Rindu Hutapea. Diawali dengan ilustrasi singkat mengenai seorang anak yang melakukan kesalahan di sekolah dan mendapatkan sangsi untuk menulis sebuah tulisan yang cukup panjang di sebuah buku dan harus dalam keadaan lurus. Saat tulisan anak tsb bengkok, guru akan memperingatkannya kembali bahkan berulang-ulang untuk menulis dengan lurus.  Demikian pula yang terjadi dengan kita umat manusia. Setiap kali kita melakukan kesalahan, Tuhan memberikan kepada kita suatu upacara yang disebut dengan perjamuan kudus, waktu dimana kita mengaku dosa dan mengambil peran sebagai seoarng hamba untuk melayani sesama manusia. Meminum anggur yang melambangkan darahnya yang tercurah di kayu salib dan memakan roti yang melambangkan kematian tubuhNya adalah sebuah upacara kudus untuk memperbaharui commitment kita untuk selalu memandang Salib itu.   
  
Hal serupa yang dilakukanNya saat Dia berada di dunia ini. Bersama murid2nya, Yesus mengadakan perjamuan kudus dan Ia telah memberikan teladan untuk menjadi hamba bagi murid2nya - Kerinduan segala zaman jilid 2. Di surga, Yesus di sembah oleh malikat2Nya, tetapi saat Dia di dunia ini  Dia menjadi hamba bagi murid2nya dengan membasuh kaki mereka.
Yohanes 13:7 " Apa yang Ku perbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak". Yesus tidak membeda-bedakan muridNya ketika melakukan pembasuhan kaki mereka. Membasuh kaki murid2Nya adalah sebuah pengorbanan yang dilakukanNya bagi murid2 itu. Bukan untuk mencari perhatian tetapi untuk menunjukan simpati dan empati. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa hidup kita adalah untuk melayani, bukan untuk di layani - Matius 27:28 "Mereka menanggalkan pakaianNya, dan mengenakan jubah ungu kepadaNya.

Hitler dan Mother Theresa adalah dua tokoh yang sangat terkenal di dunia. Hitler oleh karena kejahatannya, Mother Theresea oleh karena kebaikannya. Dari keduanya, manakah yang lebih di hargai?

Ketika berada di dunia ini Yesus pun sebenarnya layak mendapatkan penghargaan Nobel seperti tokoh kebaikan lainnya, oleh karena kasih dan kemurahan hati yang dimilikiNya. Tetapi Dia mengajarkan suatu teladan bagi kita untuk menjadi pelayan bagi sesama manusia bukan untuk mencari perhatian dan meminta pujian, tetapi Dia mengajarkan untuk mengutamakan dan mendahulukan orang lain, merendahkan diri satu dengan yang lain, dan hidup seperti seorang hamba di dalam pelayanan. Allah inginkan kita mengikuti teladanNya, menjadi seperti Dia yang hidup dalam kasih pelayanan yang sejati, penuh dengan berkat dan kerendahan hati, dan menjadi sahabat Allah dan sesama manusia. Demikian Pdt Rindu Hutapea mengakhiri khotbah mengawali upacara perjamuan kudus pada Sabat siang itu.

Jemaat mengikuti acara pembasuhan kaki di ruang yang telah di sediakan oleh para diakon/nes diiringi beberapa lagu dari LS yang dipimpin oleh Sdr. Erhart Tobing. Di lanjutkan dengan upacara perjamuan kudus, memakan roti yang melambangkan tubuh Kristus dan meminum anggur yang melambangkan darahNya yang tercurah di kayu salib, dipimpin oleh para ketua jemaat dan gembala, dan dilayani oleh para diakon dan diakones. 

Waktu yang indah diberikan kepada anggota jemaat yang rindu untuk membagikan kesaksian atas berkat dan perlindungan Tuhan yang mereka alami. Maka Bp. Sontani Purnama, Bp. Solichin dan Bp. A. Silalahi membagikan kesaksian mereka atas berkat dan perlindungan Tuhan atas keluarga mereka untuk menjadi berkat bagi jemaat yang mendengarkan.

Acara kebaktian dan perjamuan kudus diakhiri dengan doa berkat yang dilayangkan oleh Pdt Rindu Hutapea, jemaat menyambut dengan menyanyi dari LS No 522 "Curahkan berkat Mu Ya Tuhan", diakhiri dengan anggot jemaat saling bersalaman dan membentuk lingkaran, untuk selanjutnya bergandengan tangan dan menyebutkan 'Selamat Sabat, Tuhan memberkati". Waktu selanjutnya adalah mengikuti potluck - makan siang bersama.
 
Selamat perjamuan, Selamat Sabat, Tuhan berkati.    

Lynda Karman