Friday, August 06, 2010

KEBAIKAN DARI SUDUT PANDANG TUHAN

Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu." Kata orang itu: "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Lukas 18 : 20–22

Pada umumnya orang yang bermoral, santun dan beretika akan mengusahakan dirinya agar menjadi manusia yang baik. Demikian pula dengan agama-agama pada umumnya, yang akan berusaha menjadikan umatnya berkepribadian baik. Namun persoalannya adalah, apakah kebaikan itu? Pernahkah kita mempersoalkan, bagaimanakah manusia yang baik itu? Apa ukuran kebaikan itu? Dalam percakapan antara TUHAN Yesus dengan pemimpin yang kaya, sang pemimpin yang kaya ini bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay. 18) Ia memperkarakan tentang kebaikan. Ia ingin tahu, perbuatan manusia yang bagaimanakah yang berkategori baik itu. Orang kaya ini percaya bahwa perbuatan yang baik akan membuahkan hidup yang kekal. Saat berbicara mengenai hidup kekal, biasanya orang mengacu pada kehidupan di surga nanti. Padahal kekekalan tidak hanya ada di surga; di neraka pun ada. Jadi ketika Alkitab berbicara mengenai hidup kekal, bukan semata-mata mengacu pada kehidupan abadi setelah mati, melainkan hidup yang berkualitas, bermutu di dalam Kerajaan Surga. Apa gunanya kekekalan jika hidup di neraka? Berarti orang kaya ini bertanya kepada TUHAN Yesus, apa yang harus diperbuatnya supaya memperoleh hidup yang berkualitas di dalam Kerajaan Surga.


Menjawab pertanyaan itu, Yesus mengemukakan pernyataan bahwa hanya satu yang baik, yaitu ALLAH saja (ay. 19). ALLAH ah sumber kebaikan. Dari pernyataan ini, TUHAN Yesus menunjukkan bahwa ukuran kebaikan harus berpijak dari sudut pandang ALLAH, bukan dari sudut pandang manusia, siapa pun itu. Maka jika orang kaya ini mengakui bahwa Yesus baik, seharusnya ia mengaku pula bahwa Yesus berasal dari ALLAH, atau ALLAH sendiri. Oleh sebab itu seyogyanyalah ia tunduk kepada kehendak TUHAN Yesus, yaitu menjual segala miliknya, membagikan kepada orang miskin dan datang untuk mengikut TUHAN. Melepas belenggu kekayaan yang mengikat dirinya, karena jika seseorang terikat akan hal lain selain terikat pada TUHAN, maka tidak mungkin dirinya dapat mengakui dan terikat pada otoritas TUHAN. Mengakui otoritas TUHAN Yesus adalah ukuran kebaikan. Kenyataannya ia menolak melakukan apa yang diperintahkan TUHAN Yesus. Ia tidak mengenal kebaikan yang ditawarkan oleh TUHAN kepadanya.Dari sini kita belajar bahwa suatu kebaikan harus ditinjau dari sudut pandang TUHAN, bukan dari sudut pandang manusia. Ini karena TUHAN lah sang Arsitek Agung yang menciptakan manusia. DIA lah yang berhak menentukan ukuran kebaikan itu. DIA lah yang tahu apa sesungguhnya kebaikan itu. Kiranya kisah ini mengingatkan kita agar memberi diri tunduk kepada otoritas TUHAN Yesus, yaitu mempelajari dan menerima apa yang diajarkan-NYA, serta melakukannya dengan tekun dan rela.