Wednesday, June 23, 2010

HARI SABAT

Anak Manusia adalah TUHAN atas hari Sabat. Lukas 6:5.


Hari Sabat adalah bagian dari sepuluh hukum, akan tetapi itu bukanlah untuk pertama kalinya dinyatakan sebagai hari perhentian. Orang-orang Israel sudah tahu tentang Sabat sebelum mereka tiba di Sinai (Lihat Keluaran 16:28). Sabat bukanlah hanya untuk orang Israel tetapi untuk dunia. Ketika orang-orang Yahudi menyimpang dari TUHAN dan gagal untuk menjadikan kebenaran Kristus menjadi milik mereka melalui iman, Sabat kehilangan keistimewaannya bagi mereka. Di zaman Yesus, Sabat telah begitu diselewengkan dari tujuannya yang semula sehingga pemeliharaanya menunjukkan tabiat manusia yang mementingkan diri dan tak terkendali daripada tabiat Bapa di surga yang penuh kasih. Para rabi membawa orang banyak untuk melihat Allah sebagai orang yang kejam dan mengira bahwa pemeliharaan Sabat, seperti yang dituntut-Nya, akan membuat hati manusia keras dan kejam. Adalah tugas Yesus untuk membuang pengertian-pengertian yang salah ini.

Pada hari Sabat murid-murd Yesus memetik gandum yang ada di sisi jalan ketika mereka sedang berjalan dan memakan biji-bijinya. Para mata-mata rabi melaporkan hal ini sebagai pelanggaran yang berganda – menuai gandum dan memecahkannya pada hari Sabat. Yesus membatalkan tuntutan-tuntutan yang tidak berdasar dari para pemimpin agama itu dan menekankan bahwa murid-murid-Nya tidaklah bersalah. Hal yang penting untuk menyelesaikan pekerjaan TUHAN adalah layak dilakukan pada hari Sabat. Adalah benar untuk melakukan hal yang baik pada hari Sabat, tegas Yesus (lihat Matius 12:12). Kembali Yesus mengulangi kebenaran bahwa korban-korban mereka itu tidak berfaedah. Semua itu adalah sarana dan bukan tujuannya. Tujuannya adalah untuk memimpin manusia kepada Juruselamat, dan dengan demikian menyesuaikan mereka dengan Allah. Adalah pelayanan oleh kasih yang dinilai oleh Allah. Jika perkara ini tidak ada, maka rentetan acara-acara itu adalah penghinaan kepada Allah. demikian pun dengan hari Sabat. Itu telah direncanakan untuk membawa manusia ke dalam persekutuan dengan Allah; tetapi apabila pikiran dikuasai dengan upacara-upacara membosankan, tujuan Sabat sudah dirintangi. Jika hanya pemeliharaan secara lahir saja, itu adalah penghinaan. (Alfa dan Omega jilid 5, hlm 303)