Sunday, September 25, 2016

Perkataan yang baik akan diingat


Amsal 25 : 11
“Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”

Dalam sebuah kesempatan membawakan firman Tuhan,  dari atas mimbar saya memperhatikan ada seorang ibu dengan wajah yang tidak terlalu asing, sepertinya sangat mengikuti firman yang saya sampaikan. Ibu itu selalu tersenyum, sekali-sekali mengangguk, bahkan sering kali merespon pertanyaan yang saya  lontarkan.
"Mari kita berfoto bersama, setelah itu langsung ke ruang serba guna di belakang gereja.  Kita akan makan bersama.  Makanan sederhana yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu."  Demikian seorang ketua jemaat menghampiri kami sekeluarga,  setelah jam khotbah selesai.

Di ruang serba guna, saya melihat  meja penuh dengan makanan yang lezat-lezat, tidak ketinggalan semua makanan khas daerah setempat  yang  tersaji dengan lengkap.   Dalam setiap kesempatan berkunjung ke kota ini,  selalu banyak kenangan masa lalu yang kadang-kadang muncul tanpa di sangka-sangka.  "Masih kenal saya?"  ibu yang selalu menebar senyum ketika saya berkhotbah, datang menghampiri dan duduk di samping saya.  “Maaf,  wajah ibu tidak asing buat saya,  tapi saya lupa namanya, maaf, maaf….."  Ada perasaan tidak nyaman, karena saya kesulitan mengingat nama ibu ini.  Ibu itu tersenyum lalu berkata "Tidak apa, maklum sudah lebih dari 30 tahun tidak bertemu.  Saya adalah........” si ibu menyebutkan namanya.         “Masih ingat peristiwa waktu saya membawakan pengumuman dalam bahasa Inggris yang berantakan  di jam 'worship.'?" Anak-anak asrama semua mentertawakan saya,   tapi kamu membela saya, dan  memberi semangat kepada saya untuk terus belajar Bahasa Inggris."  "Oh  begitu,  …  Ya.. ya..  saya jadi ingat sekarang ..." Sementara kalimat ini saya ucapkan,  sebenarnya saya masih berusaha keras membuka file kenangan lama waktu di kampus, untuk mengingat kejadian yang disampaikan oleh ibu tadi.  Di kampus memang ada program  ‘English Day’.  Pada waktu ‘English Day’, semua harus menggunakan bahasa Inggris, baik yang sudah fasih, maupun yang baru belajar.   Kejadian serupa yang dialami oleh ibu tadi,  sebenarnya adalah hal yang biasa terjadi pada jam worship di  ‘English Day’.     "Karena kejadian itu,  dan karena saya dibela dan diberi semangat,  saya jadi dipacu untuk belajar bahasa Inggris. Sekarang saya adalah guru bahasa Inggris."  "Wow,  Puji Tuhan!!”

Pena inspirasi menjelaskan, di antara banyak pelajaran yang dapat ditarik dari kehidupan Salomo, tidak ada yang lebih kuat ditekankan daripada kuasa pengaruh, perkara yang baik atau perkara yang buruk.  Betapapun kecilnya lingkungan kita, kita tetap memberikan suatu pengaruh untuk kebahagiaan atau kesengsaraan.  Di luar pengendalian atau sepengetahuan kita, hal itu menyatakan berkat atau kutuk bagi orang lain.  Setiap perbuatan, setiap perkataan, adalah suatu benih yang akan mendatangkan buahnya.  Raja Salomo mengatakan perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”   Dengan pertolongan Tuhan,  kiranya hanya kata-kata berkat yang akan terucap dari bibir kita yang akan membawa pengaruh kebahagiaan bagi orang lain.  Tuhan memberkati.