Friday, March 12, 2010

KEBAHAGIAAN DALAM PENURUTAN

Dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih Kol 1: 12, 13.




Kebahagiaan kita di masa yang akan datang tergantung kepada apa yang kita lakukan dalam kemanusiaan; dengan segala kekuatan dan kemampuan yang semuanya digunakan untuk menurut Allah dan menempatkannya di bawah pengendalian Ilahi. Banyak orang tidak percaya kepada Kristus. Mereka berkata, “Adalah mudah bagi Kristus menuruti kehendak Bapa-Nya karena Ia sendiri adalah Ilahi”. Tetapi firman-Nya menyatakan bahwa Ia telah dicobai hanya tidak berbuat dosa (Ibr 4:15). Ia dicobai menurut dan sebanding dengan ketinggian pikiran-Nya, Ia tidak melemahkan atau melumpuhkan kuasa Ilahi-Nya oleh tunduk kepada pencobaan. Dalam hidup-Nya di dunia ini Kristus adalah gambaran dari apa yang bisa diberikan kepada kemanusiaan di dalam Dia melalui kesempatan yang diberikan kepada mereka.

Pada waktu Setan menggoda nenek moyang kita yang pertama, ia mencoba membujuk mereka untuk mempercayai bahwa mereka akan ditinggikan di atas batas kemanusiaan. Tetapi Kristus, dengan teladan yang telah diberikan-Nya bagi kita, mendorong umat manusia untuk menjadi manusia yang menuruti firman Allah dalam batas kemanusiaan mereka. Ia sendiri menjadi manusia – yang tidak terikat kepada perhambaan Setan untuk melakukan sifatnya, tetapi manusia yang mempunyai kekuatan moral, menuruti hukum Allah, yang menjadi catatan tabiat-Nya. Mereka yang menolak untuk tunduk kepada hukum yang baik dan bijak yang bersal dari Allah menjadi budak kepada kuasa yang murtad.

Yesus menjadi manusia agar Ia bisa menjadi pengantara antara manusia dengan Allah, agar Ia bisa memulihkan kepada manusia itu pikiran yang semula yang telah hilang di Taman Eden melalui penipuan dan pencobaan Setan. Sikap tidak menurut tidak sesuai dengan sifat yang diberikan Allah kepada manusia di Taman Eden. Melalui kuasa moral yang telah dibawa Kristus kepada manusia kita boleh bersyukur kepada Allah yang telah membuat kita pewaris bersama orang-orang kudus. Melalui Yesus Kristus setiap manusia boleh menjadi pemenang, berdiri dengan tabiat masing-masing.