Friday, March 19, 2010

MAUKAH ENGKAU SEMBUH

Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Yohanes 5:8


Yesus memperhatikan seorang yang lumpuh selama 38 tahun. Oleh karena orang-orang saleh menghindarinya karena dosanya pada masa lalu, tidak seorangpun membawanya ke dalam air apaabila air itu bergoncang. Dari waktu ke waktu yang lumpuh itu mengangkat kepalanya, memandang dengan amat rindu kepada air itu, lalu dengan kecewa menurunkan kepalanya karena kehabisan tenaga. Tiba-tiba suatu wajah yang penuh belas kasihan menunduk di atas tempat tidurnya. “Maukah engkau sembuh?” Tanya Yesus, harapan muncul tetapi segera hilang karena mengingat sudah sering ia tidak berhasil sampai ke tepi kolam itu. Dengan rasa putus asa dijawabnya, “Pak, tidak ada orang yang membawaku ke kolam itu pada waktu airnya bergoncang:karena ketika aku berusaha orang lain sudah mendahuluiku” (Yoh 5:7). Karena tidak punya teman dan tanpa harapan, ia hanya menantikan kematian. Perhatiannya masih terpusat pada mukjizat kesembuhan dari kolam itu, dan ia tidak terbayang bahwa Yesus sanggup menolongnya.

Yesus memerintahkannya, “Bangkitlah, bawa tempat tidurmu dan berjalan.” Sekonyong-konyong imannya menyambutnya, lalu ia melompat dan berdiri. “Yesus tidak memberikannya jaminan pertolongan Ilahi. Orang tersebut boleh saja berhenti di dalam kebimbangan, dan kehilangan satu-satunya kesempatan kesembuhan. Akan tetapi ia mempercayai firman Kristus, dan menurutnya serta mendapat kekuatan. Diangkatnya tikarnya lalu mencari yang berbuat baik kepadanya untuk mengucapkan terimakasih, tetapi Yesus sudah bergabung ke tengah-tengah orang banyak peserta Paskah itu. Ketika ia cepat-cepat menuju baik suci, beberapa orang Farisi menghentikan orang yang sudah sembuh itu. Dengan sukacita ia beritahu mukjizat kesembuhannya dan ia heran karena mereka tidak turut bergembira. Dengan keras mereka menghentikan ceriteranya dan dengan sikap dingin menanyai mengapa ia membawa tikarnya pada hari Sabat. Ia tidak berusaha membenarkan pelanggarannya. Ia hanya menjawab, “Ia yang menyembuhkanku berkata kepadaku, “Angkatlah tempat tidurmu dan berjalnalah” (ay 11). Orang Farisi mengetahui bahwa hanya seorang saja yang memiliki kuasa yang membuat mukjizat seperti itu. Mereka menghendaki bukti agar mereka dapat menuduh-Nya melanggar Sabat. Tetapi ia tidak mengenal Kristus. Kemudian dihalaman bait suci yang berdesak-desakan itu, Yesus bertemu dengan orang tersebut dan menjelaskan hubungan penyembuhan jasmaninya dengan pengampunan dosa-dosanya. “Tengok, engkau sudah sembuh. Jangan berbuat dosa lagi, supaya engkau tidak mengalami hal yang lebih parah” (ay 14).

Yesus membuat setiap mukjizat dengan suatu maksud tertentu. “Segala perbuatan ajaib-Nya adalah demi kebaikan orang lain”.