Monday, February 22, 2010

PERKARA-PERKARA TERBAIK DALAM HIDUP

Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Yoh 10:10b




Setiap saat dalam hidup kita benar-benar nyata. Hidup bukan suatu permainan; itu adalah tanggung jawab yang sangat penting, penuh dengan tanggung jawab kekal. Bilamana kita memandang hidup dari sudut pandang ini , kita menyadari kebutuhan kita akan pertolongan Ilahi. Keyakinan akan ditekankan kepada kita bahwa hidup tanpa Kristus adalah hidup yang gagal, tetapi jikalau Yesus tinggal bersama kita, kita akan hidup dengan satu tujuan. Kemudian kita akan menyadari bahwa tanpa kuasa kasih karunia Allah dan Roh kita tidak bisa mencapai standar yang tinggi yang telah ditetapkan-Nya dihadapan kita. Ada kesempurnaan tabiat Ilahi yang kita harus capai dan dalam berusaha untuk mencapai standar surga, rangsangan Ilahi akan mendorong kita terus, pikiran kita menjadi seimbang dan kegelisahan jiwa akan sirna dalam ketenangan bersama Kristus.
Seberapa seringkah kita berhubungan dengan orang yang tidak pernah bahagia? Mereka gagal menikmati kepuasan dan kedamaian yang bisa diberikan oleh Yesus. Mereka mengaku menjadi orang Kristen, tatapi mereka tidak sesuai dengan keadaan dengan mana janji Allah digenapi. Yesus telah mengatakan, “Marilah kepadaku,… Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11: 28-30). Alasan mengapa banyak orang berada dalam keadaan gelisah adalah karena mereka tidak belajar dalam sekolah TUHAN. Anak Allah yang bersikap tunduk dan suka berkorban, mengerti apa itu kedamaian dalam Kristus melalui pengalaman mereka.
Perkara-perkara penting dalam hidup­-kesederhanaan, kejujuran, dapat dipercaya, kesucian, integritas yang tidak bercela-tidak bisa dijual atau dibeli. Perkara-perkara ini diberikan dengan cuma-cuma kepada orang buta huruf maupun kepada kaum terpelajar, kepada orang berkulit putih maupun berkulit hitam, kepada orang miskin maupun kepada raja bertahkta. Dalam ladang kehidupan, kita semua menaburkan bibit. Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Mereka yang manbur kasih akan diri sendiri, kepahitan, kecemburuan, akan menuai hasil yang serupa itu. Mereka yang menabur kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, kebaikan, perhatian lemah-lembuh akan perasaan orang lain, akan menuai tuaian yang sangat berharga.