/* Batas bawah slideshow menu di head */

Minggu, Januari 25, 2009

Hidup Rukun



Mazmur 133 : 1 “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”







Tiga belas tahun yang lalu, suasana di area perumahan kami memang masih terasa sepi karena sebagian pemilik rumah belum mau menempati rumah yang sudah mereka beli. Makanya ketika saya melihat ada mobil yang datang dan mereka melakukan aktifitas pengangkutan barang kami merasa gembira, karena berarti sebentar lagi kami mempunyai tetangga yang baru tepat di depan rumah kami. Setelah kami pertimbangkan kami memberanikan diri mengambil waktu berkunjung ke rumah tetangga kami yang baru itu untuk berkenalan. “Permisi…”, kata kami sambil memanggil dan mengetuk pintu. Tidak lama kemudian seorang bapak berjalan menghampiri pintu dan membalas panggilan kami “Ehh… ada tamu….mangga…mangga… ayo silahkan masuk…”, katanya dengan ramah. “Ini kami yang tinggal di depan rumah bapak datang kesini untuk berkenalan”, kata saya menjelaskan. Menyusul setelah itu keluar istrinya dan kelihatan senyumnya yang begitu memikat dengan suaranya yang lembut. “Waduh… jadi malu nih… orang baru malahan didatangin orang lama…”,ujarnya. Pembicaraan pun mengalir dengan santai dan menyenangkan malam itu. Kami berbagi cerita tentang hal-hal yang sederhana hingga tanpa terasa sudah makin malam dan kami pun pamit untuk pulang.

Keesokan harinya di hari Minggu saya coba-coba untuk mengirimkan sedikit masakan yaitu spaghetti vegetarian, menu andalan saya, barangkali enak untuk mereka santap di hari libur. Ibunya menerima dengan senang hati. “Waduh… jangan repot-repot atuh…”, katanya dengan dialek sunda yang kental. Besok paginya giliran ibu itu yang datang ke rumah saya. “Wah….itu tehh spagehetti-nya model baru yaa? Dagingnya diganti dengan telur dan tahu. Ajarin ibu dong cara masaknya karena bapak doyan sekali…”,ujarnya menjelaskan sambil menyalam saya. “Ooh… itu spaghetti vegetarian bu. Saya coba-coba untuk mengurangi makanan daging , belajar untuk mencoba makanan sehat…”, jawab saya sambil tersenyum. Demikianlah persahabatan kami pun dimulai. Sejak hari itu kami terasa semakin dekat satu dengan yang lain. Banyak hal positif yang saya dapati tentang kesehatan dan cara merawat anak yang saya terima dari ibu itu karena kebetulan mereka jauh lebih senior dari kami dan kebetulan mereka suami istri berlatar belakang dari dunia kesehatan. Yah… rasanya menyenangkan sekali bisa memiliki tetangga yang cocok dengan kita. Walaupun kami berlatar belakang yang berbeda, tetapi kami merasa cocok untuk berteman. Bahkan hingga hari ini persahabatan kami sudah menjelma menjadi seperti orang tua sendiri. Mereka sering memperhatikan dan membantu kami. Demikian juga sebaliknya.

Pagi ini ayat kita mengatakan alangkah baiknya jika kita hidup rukun. Dalam kondisi kehidupan yang semakin sulit terkadang kita tidak sempat memikirkan apa yang layak dan tidak untuk dilakukan. Terkadang kita lupa untuk mengucapkan kata-kata yang manis dan bersikap menyenangkan kepada mereka yang kita kasihi, entah itu anak, istri, suami, orang-tua, teman atau bahkan tetangga kita. Kita sering larut dalam kesibukan kita. Padahal, kata-kata sederhana yang manis dan sikap yang menyenangkan adalah salah satu resep untuk hidup rukun. Mari kita berusaha untuk mengucap kata manis dan bersikap bersahabat. Yesus telah memberikan teladan kepada kita untuk berkata-kata dan bersikap baik kepada semua orang. Bila teladan itu kita terapkan, maka kerukunan akan tercapai dan itu adalah hal yang sangat indah dan baik.

Have a wonderful week end !