Monday, December 19, 2011

Pikirkan Yang Baik




Mazmur 119 : 66  “Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.”







Pukul 04:35..., memang masih pagi.   Tapi kicauan burung tidak terdengar sama sekali.  Saya menggeser gorden kamar, ingin tahu apa yang terjadi di luar sana.  Rupanya hujan rintik-rintik.  Pantas saja sepi.  Udara terasa lebih sejuk dari biasanya.  “Mama, masih pagi kan?”  bisikan si kecil mengagetkan saya.  “Adek bobo lagi ya… ini kan hari Minggu,” jawab saya sambil mendekati dan kembali berbaring di sebelahnya.   “Tapi adek sudah enggak bisa bobo mama..,” katanya pelan.   “Adek sudah kenyang bobo mama…,” lanjutnya lagi.  “Oke. Kalau begitu kita baca renungan dulu, supaya kita bisa cerita-cerita yuk…,” ajak saya sambil meraih tangannya.    “Iya mama…,” jawabnya sambil mengikuti saya keluar kamar.  Selesai renungan, saya mulai bicara dengannya.   “Adek punya cerita nyata nggak yang bisa mama jadikan buat renungan?  Keluarga kita dapat giliran menulis renungan pagi minggu depan lho…,”  tanya saya sambil melihat reaksinya.  Tidak menjawab, tapi wajahnya terlihat berpikir keras.  ”Oh, ada mama!  Sebentar adek tulis ya…,” terlihat matanya berbinar semangat. 

Dengan cepat dia mengambil kertas dan pena, lalu mulai menulis.  Saya tinggalkan si kecil yang begitu asyik dengan tulisannya.  “Mama, ini ceritanya sudah selesai…!” kata anak bungsu-ku ini dengan semangat setelah selesai menulis.  “Waduh, anak mama pintar yaa…!” puji saya sambil memberi sebuah kecupan di pipinya.   Karena penasaran, dengan cepat langsung saya baca tulisannya.  “Suatu hari saya sedang naik Busway.  Di sebelah saya duduk seorang lelaki dengan wajah yang sangat menyeramkan.  Saya langsung menggeser duduk,  berusaha menghindar dari dia.  Tak lama kemudian ibu di sebelahnya bersuara,’ jangan takut dek, ini anak saya.’  Saya jadi malu karena ketahuan oleh ibu itu.  Tak lama setelah itu, mereka turun.  Bergantian yang naik seorang ibu membawa anaknya yang kecil.  Saya berikan tempat untuk mereka.  Bukannya menyambut ramah, malah bisikan ibu itu terdengar jelas di telinga saya.  ‘Jangan dekat-dekat nak,  kita tidak tahu apakah dia orang baik atau jahat’.  Saya jadi teringat kejadian sebelumnya.  Kini justru saya mendapat balasannya. Oleh karena itu, kita jangan menilai orang dari penampilan luarnya.”   Itu akhir dari tulisan si bungsu.  “Sayang, ceritanya bagus sekali.  Tetapi ini bukan kisah adek , jadi mama nggak bisa jadikan buat renungan,” saya peluk dia sambil memberi pengertian.   “Yah mama, please dong.   Adek  kan sudah cape menulisnya,” jawabnya dengan wajah memelas. “Oke deh, nanti mama coba buat ya,” jawab saya tak ingin membuatnya kecewa.  

Ayat renungan pagi ini mengajak kita untuk  belajar memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik.   Kita diajak untuk memiliki kesanggupan untuk membedakan yang baik dan yang salah secara bijaksana.  Sebagai manusia, kita acap menggunakan indera penglihatan sebagai penuntun dalam membuat satu kesimpulan.  Dan itu boleh jadi kita pakai dalam kehidupan sosial kita setiap hari.  Padahal, sisi luar yang kita lihat, tidak sepenuhnya menggambarkan isi hati dan pikiran seseorang.   Kita diajak untuk menjadi bijaksana.  Juga untuk selalu berpikir positif dan yang baik.  Tuhan akan menyanggupkan kita untuk menjadi bijaksana, bila kita datang dengan hati sungguh kepada-Nya.   Have a good day !


Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat anda hari ini.  Gunakan tombol "Tell A Friend" di bawah ini untuk berbagi.