Friday, September 04, 2009

Pengharapan Jadi Kenyataan

Seminar rumah tangga pada KKR Wilayah 4 hari Kamis 3 September 2009 baru saja berakhir. Sebelum memasuki pekabaran Firman Tuhan yang dibawakan oleh Pendeta Johny Lubis, Kwartet Jemaat Kemang Pratama membawakan sebuah lagu pujian yang merdu. Sambil jemaat mendengarkan pekabaran dalam lagu, para diakon mengedarkan pundi-pundi persembahan. Doa persembahan dilayangkan oleh Bapak D. Mamora. Setelah lagu tema “Kita Punya Satu Pengharapan” dinyanyikan, Pendeta Lubis memulai pekabarannya dengan doa. Pada kesempatan ini, Pendeta Lubis mengucapkan terima kasih kepada para pendeta di wilayah 4, panitia, anggota-anggota jemaat serta para tamu yang telah hadir dengan setia dari malam ke malam.

Pendeta Lubis menyampaikan permohonan maaf, bilamana dalam penyampaian pekabaran ini ada kata-kata yang tidak sesuai dengan kultur yang dianut oleh masing-masing pendengar. Beliau berharap agar dengan pekabaran KKR ini, kita dapat memperbaiki iman dan rumah tangga kita. Pada kesempatan itu pula, pembicara mengudang semua yang hadir untuk menghadiri KKR yang akan diselenggarakan di gedung PRJ Hall A, Kemayoran, Jakarta. KKR yang akan berlangsung dari tanggal 4 – 12 September 2009 dengan pembicara Pendeta Mark A. Finley. Pendeta Finley ini adalah seorang pembicara yang sangat terkenal, terutama di kalangan GMAHK. Beliau juga banyak menulis dan menerbitkan buku. Seorang evangelis yang luar biasa. Pembicara di televisi di Amerika Serikat. Beliau adalah Wakil Ketua General Conference. Seorang yang sangat sibuk dalam pelayanan.

Pendeta Lubis menyaksikan dia perlu melakukan pendekatan selama 3 tahun untuk mendatangkan Pendeta Finley ke Indonesia. Tahun pertama, Pendeta Finley belum memiliki waktu. Tahun kedua pun masih belum bisa menyisihkan waktu untuk datang, kendati sudah ada 5 orang wakil ketua General Conference datang ke Indonesia. Dan pada tahun lalu, bersama dengan Pendeta Jonathan Kuntaraf, Pendeta Finley menyatakan dapat datang ke Indonesia pada tanggal 4 – 12 September 2009. Dan puji syukur, Pendeta Finley telah tiba di Jakarta pada hari Kamis 3 September pagi dan siap menyampaikan firman Tuhan. Oleh sebab itu, Pendeta Lubis mengajak semua untuk bersama-sama hadir mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani "Pengharapan Untuk Indonesia" yang diperkirakan akan dihadiri oleh ribuan orang.

“Pada malam pertama KKR kita telah membahas tentang Alkitab sebagai Firman Tuhan yang menuntun kehidupan kita. Pada hari yang kedua, kita mempelajari tanda-tanda yang akan mendahului kedatangan Yesus yang kedua kali. Pada hari yang ketiga, kita mempelajari rahasia panjang umur melalui makanan yang sesuai dengan Firman Tuhan. Malam keempat, kita membahas mengenai harapan hidup makmur dengan mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan melalui perpuluhan.”, kata Pendeta Lubis saat mulai menyampaikan firman Tuhan. "Malam ini, adalah malam yang terakhir dan malam dimana pengharapan akan menjadi kenyataan. Ada seorang yang bernama Naaman terkena penyakit kusta, dan oleh pemberitahuan pembantunya, ia mau datang kepada nabi Elisa untuk memohon kesembuhan. Singkat cerita, nabi Elisa menyuruh Naaman untuk mencelupkan tubuhnya ke dalam sungai Yordan sebanyak 7 kali. Sungai Yordan adalah sungai yang kotor, namun Naaman mau menuruti perintah nabi Elisa karena keinginannya untuk sembuh. Dan ternyata, setelah 7 kali mencelupkan dirinya di sungai Yordan, Naaman memperoleh kesembuhan. Kesembuhan yang diperoleh Naaman, bukanlah karena kasiat dari air sungai Yordan itu. Dia sembuh karena iman kepercayaannya.”, jelas Pendeta Lubis.

“Dalam suatu proses kelahiran manusia, ada dua unsur yang harus dipenuhi. Kelahiran jasmani membutuhkan sperma dan ovum untuk membentuk kehidupan. Dan untuk Kelahiran rohani, juga membutuhkan dua unsur kelahiran, yaitu dilahirkan dari air dan dilahirkan dari roh. Dilahirkan dari air berarti baptisan dan dilahirkan dari roh berarti pertobatan.”, lanjut Pendeta Lubis. “Dalam kelahiran jasmani, ada karunia Allah yaitu ovum dan sperma. Dan dalam kelahiran Rohani juga ada karunia Allah, yaitu pertobatan dan baptisan. Bila sperma tidak bersatu dengan ovum, maka tidak akan ada kehidupan. Demikian juga pertobatan, tanpa baptisan tidak akan ada hidup yang kekal.”, terang Pende Lubis tentang kelahiran rohani. Mengutip Markus 16:16 dikatakan, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”

Di dalam Markus 1 : 9-11 dikatakan saat Yesus dari Nazaret di tanah Galilea dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Yesus telah melakukan teladan bagi kita semua. Ia membiarkan dirinya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Yesus dibaptis dengan cara diselamkan ke dalam air. Dengan menerima baptisan ini, berarti kita mengakui Yesus sebagai Juru Selamat kita. Pertobatan dan baptisan akan membawa kita kepada hidup yang kekal. Yesus berdiri di depan pintu hati kita. Dia mengetuk. Wahyu 3:20, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”

Pendeta Lubis menceritakan ilustrasi tentang sebuah keluarga yang tidak mendengar ketukan tamu di pintu rumahnya. Mereka menyadari bahwa mereka ada di ruang bawah tanah atau basement, sehingga tidak bisa mendengar suara ketukan itu. “Saudara, dengarlah ketukan Yesus. Jangan membiarkan dirimu ada di ruang bawah tanah seperti ilustrasi tadi, sehingga sehingga Firman Tuhan dari malam ke malam tidak kita dengar. Jika kita mendengar, bukalah pintu hati kita, maka Yesus akan masuk. Biarkan yang ada di dalam hati keluar, agar digantikan oleh Yesus. Setelah Yesus masuk, kita kunci agar Dia selalu ada dalam hati kita. Kita akan bersama-sama denganYesus.”, ajak Pendeta Lubis kepada semua yang hadir dan mengakhiri firman Tuhan malam ini.

Sambil diiringi lagu “Aku Dengar Yesus Panggil” yang dinyanyikan setengah suara oleh trio, Pendeta Lubis melakukan panggilan kepada jiwa-jiwa yang siap untuk menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Lampu-lampu dibuat redup, sambil lagu trio terus mengalun dengan pelan. Sangat menyentuh hati yang sudah rindu untuk datang kepada Tuhan. Puji Tuhan! Satu-persatu jiwa-jiwa datang ke depan menyerahkan diri pada Tuhan. Ada yang semula masih ragu, hatinya diluluhkan oleh Roh Kudus dan akhirnya memutuskan untuk datang ke depan mimbar. Ada yang masih ragu dan bergumul dalam hatinya, sementara Pendeta Lubis melakukan panggilan dan menyerahkan semua pergumulan kepada Tuhan. Jiwanya mendengar ketukan Yesus di pintu hatinya, dan ia membukakan pintu hatinya. Dia pun maju menyerahkan diri ke depan.

Pendeta Lubis menghimbau yang ada di bangku sebelah kanan dan bangku sebelah kiri untuk datang pada Yesus. Sementara satu per satu maju ke depan, Pendeta Richard Y. Hutauruk melayangkan doa dan juga panggilan kepada siapa saja yang masih rindu menerima Yesus. Di akhir panggilan, ada 35 orang yang maju ke depan untuk menyerahkan dirinya kepada Yesus. Puji Tuhan ! Pendeta Lubis melayangkan doa kepada semua yang telah menyerahkan dirinya datang pada Yesus agar diteguhkan hingga mereka menerima baptisan nanti. Setelah itu satu persatu jiwa yang telah menyerahkan diri menerima ucapan selamat dari Pendeta Lubis, Ibu Poppy Lubis dan dari semua gembala jemaat di Wilayah 4. Semua yang hadir merasa diberkati oleh firman Tuhan yang disampaikan oleh Pendeta Lubis dari malam ke malam KKR wilayah 4 ini.