Friday, August 21, 2009

Adakah Namaku Disana ?

Wahyu 20 : 15 “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.”




Setelah mendapat kesempatan untuk memenangkan lomba yang diadakan oleh salah satu majalah wanita di Jakarta, beberapa rumah produksi menawarkan saya untuk mengikuti audisi sebagai pemain film. “Ayo dek ikut saja audisinya buat pengalaman ! Kalau kamu tidak suka, jangan diteruskan. Anggap saja sebagai hiburan…”, kata kakak ketika mengetahui ada yang mengajak saya untuk bermain film. “Aku sih mau saja, tapi nanti kuliahku terganggu karena kesulitan membagi waktu…”, jawab saya ragu. “Kamu coba dengar mereka dulu, siapa tahu kondisinya tidak sesulit itu.”, jawab kakak kembali membujuk saya. Hari yang ditentukan tiba. Saya pergi menuju ke rumah produksi tersebut dan mengikuti semua rangkaian audisi yang sudah ditentukan. Seorang wanita muda keluar dari ruangan menghampiri saya. “Mbak berhasil terpilih untuk memerankan salah satu tokoh dalam sinetron ini. Selamat ya…!”, katanya sambil tersenyum. Saya pulang dengan rasa senang. Karena shooting harus di lakukan di Eropa, maka kami bersama rombongan berangkat menuju ke sana. Saya merasa bersyukur karena dapat bekerja sekaligus menikmati suasana yang baru di negeri orang. Memanfaatkan kesempatan seusai shooting yang padat, saya meminta ijin kepada produser untuk mengambil libur agar saya bisa pergi ke beberapa negara di sekitar sana. “Oke, kamu bisa cuti selama 1 minggu. Jaga kesehatan agar kegiatan kita selanjutnya tidak terganggu.”, jawab produser ketika saya meminta ijin. Sementara saya melanjutkan perjalanan, semua rombongan kembali ke tanah air.

Dengan membawa tas koper yang besar dan berat karena berisi perlengkapan kostum, saya mencari orang yang bisa menolong saya untuk menemukan di mana stasiun kereta api berada. Saya bermaksud untuk berkunjung ke negara lain yang berdekatan dari situ. Tapi entah mengapa, orang yang sedianya akan mengantar tiba-tiba pergi meninggalkan saya ! Terus terang saya kecewa dengan sikapnya, apalagi saya sudah memberikan sejumlah uang dan hari sudah mulai malam waktu itu. Demi keamanan saya segera mencari tempat penginapan dan baru meneruskan perjalanan keesokan harinya. Pagi-pagi sekali saya bangun dan menanyakan dimana letak stasiun kereta api, setelah itu saya langsung menuju ke sana. “Karcis yang tersedia tinggal kelas ekonomi, apakah anda mau?”, tanya petugas loket kereta api. “Oh tidak apa-apa bu, yang penting saya bisa tiba di tempat tujuan.”, jawab saya dengan senyum. “Anda akan berangkat sebentar lagi, dan ini karcis anda…”, jawabnya sambil menyerahkan karcis. Kereta api pun datang. Walau sedikit kesusahan saya mengangkat koper yang lumayan berat ke dalam gerbong dan segera mengambil tempat duduk yang ada. “Permisi, ini tempat duduk saya… “, kata seorang lelaki muda menegur saya. Saya pun terpaksa segera berdiri. Saya beruntung karena tidak lama setelah itu ada yang turun, sehingga saya bisa duduk lagi. Tetapi tidak lama kemudian kembali ada yang menegur saya. “Permisi, ini tempat duduk saya…”, katanya sambil menunjukkan namanya yang tertera di karcis. Hal seperti ini terjadi selama 4 kali ! Padahal perjalanan yang akan ditempuh memakan waktu 6 jam ! Dalam hati saya mulai mengerti, ternyata untuk mendapat tempat duduk kita harus memilih tiket yang bukan jenis ekonomi. Tiket ekonomi membuat saya tidak berhak duduk di kursi, karena setiap kursi sudah ada yang menempati dengan tiket yang tertulis namanya. Bila kita memilih tiket jenis itu, maka nama kita akan tertera di atasnya. Bila nama sudah tertera di tiket, maka kita berhak mendapatkan tempat duduk dan tiba dengan nyaman di tempat tujuan tanpa gangguan apa pun. Peristiwa ini mengingatkan saya tentang kitab kehidupan di surga.

Ayat renungan kita hari ini mengatakan bahwa setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu. Dalam kehidupan di dunia, kita dihadapkan pada pentingnya tertulis nama kita agar kita diakui untuk masuk ke dalam kelompok atau komunitas. Nama kita yang tertera di undangan, membuat kita berhak masuk ke dalam satu gedung pesta atau pertunjukan. Nama di atas kartu pegawai, membuat kita berhak masuk ke dalam ruang kantor dimana kita bekerja. Bila nama kita tertera di atas tiket pesawat, kita pun berhak masuk ke dalam pesawat. Demikian juga dengan surga. Bila nama kita di dalam kitab kehidupan, maka kita akan berhak masuk dalam kerajaan surga. Menjadi kerinduan kita semua agar nama kita tercatat di dalam kitab kehidupan. Untuk itu, marilah kita selalu berdoa dan berjalan bersama Tuhan setiap hari, agar kita diberikan kesanggupan untuk menghadapi setiap pergumulan dan tantangan, menjadi umat yang setia hingga Yesus datang kedua kali.

Have a great day !

Bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat kita dengan menggunakan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.