Sunday, August 02, 2009

Ingin Jadi Pramugari

Yesaya 55 : 8 "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN."








Selesai ujian semester seperti biasa saya diperbolehkan oleh orang tua untuk berlibur pulang ke kampung halaman. Tidak sabar rasanya menunggu tiba waktu untuk pulang bertemu dengan keluarga. Pagi itu cuaca sangat cerah, kami sudah tiba di airport. Kami menunggu tidak begitu lama, karena sudah ada panggilan untuk memasuki pesawat. Selama dalam pesawat saya memperhatikan pramugari yang bertugas. Saya tertarik melihat pelayanan dan keramahan yang diperlihatkan oleh pramugari yang bertugas, apalagi penampilan dan wajah mereka yang rata-rata cantik dan menawan. “Selamat pagi, bisa dibantu berapa nomor bangku pesawatnya?”, tanya pramugari dengan senyumnya yang ramah. “Pagi, nomor 25E & 25F…”, sahut kakak saya. Lalu ia berjalan di depan kami dan menunjukkan kursi dengan nomor yang ada di tiket kami. “Silahkan duduk, ini kursinya.”, sahut pramugari tersenyum lebar sambil menunjukkan kursi yang sudah kami pesan. Karena terkesan dengan sikap yang mereka berikan, di dalam hati saya menyimpan cita-cita ingin menjadi pramugari.

Malam hari ketika kami semua sudah berkumpul bercengkrama melepas rindu, saya beranikan diri untuk menyampaikan keinginan hati saya. “Mama, kalau aku sudah selesai sekolah nanti, boleh enggak aku jadi pramugari?”, tanyaku pada mama. “Loh, kok tiba-tiba ingin jadi pramugari ? Pasti ada sebabnya nih…”, kata mama ingin tahu. “Iya ma, tadi selama dalam perjalanan aku lihat pramugarinya cantik dan pekerjaannya enak. Bisa jalan-jalan kemana-mana secara gratis…”, jawab saya kepada mama sambil membayangkan pekerjaan pramugari. “Boleh-boleh saja, asalkan kamu selesaikan dulu kuliah ya…”, kata mama dengan senyumnya. Waktu berlalu dan mama menepati janjinya. Ketika ada informasi bahwa ada perekrutan pramugari dari satu perusahaan penerbangan, maka saya dan mama tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kamipun segera mengikuti proses yang sudah di tentukan. Saya berhasil melalui tahapan tes dengan baik. Tes terakhir dilakukan di satu hari yang saya tidak bisa ikuti. Saya berusaha menanyakan apakah bisa dilakukan di lain hari, tetapi tidak bisa. Terus terang saya merasa kecewa, karena impian saya gagal. Beberapa bulan kemudian, saya mendengar berita pesawat-pesawat yang mengalami kecelakaan. Dalam hati saya merasa takut melihat kejadian itu. Saya percaya Tuhan telah menunjukkan yang terbaik bagi saya saat gagal menjadi pramugari, karena saya tidak cukup kuat menghadapi salah satu resiko menjadi pegawai di atas udara.

Ayat renungan kita pagi ini mengatakan bahwa rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita, jalan Tuhan berbeda dengan jalan kita. Dalam hidup ini kita memiliki banyak rencana. Memiliki rencana sangat penting untuk merangkai tindakan-tindakan dalam mencapai tujuan penting dalam hidup. Kita memiliki rencana untuk sekolah, rencana untuk berkeluarga, rencana karir dan pekerjaan. Kita perlu melibatkan Tuhan dalam setiap rencana yang kita buat, karena setiap rencana mengandung masa depan yang kita tidak tahu pasti, melibatkan faktor-faktor yang berada di luar pengetahuan dan pikiran kita. Apa yang kita rasa baik, belum tentu baik di pandangan Tuhan. Bila kita mengajak Tuhan di setiap awal rencana kita, maka kita akan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan setiap langkah yang kita buat dan hasil yang kita capai. Kalau pun kita gagal mendapatkan hasil yang telah kita rencanakan, maka Tuhan akan memberikan kita kebijaksanaan untuk memahami setiap maksud Tuhan dalam kegagalan. Tuhan akan menolong kita untuk tidak kecewa dan terus bersemangat. Tuhan akan menunjukkan yang terbaik untuk kita dapatkan sesuai dengan rancangan-Nya.

Have a nice holiday !