Monday, June 22, 2009

Hari Perhentian

Hari Jumat 19 Juni 2009, jam menunjukkan pukul 19:30 ketika Ibu Tina Wira membuka perbaktian Vesper dengan mengundang jemaat untuk menyanyikan lagu sion nomor 238 “Oh Hari Perhentian”. Setelah itu, disambut dengan doa pembukaan yang dilayangkan oleh Bapak Joko Prasetyo. Lagu pujian pada kebaktian ini dibawakan oleh keluarga Jamesson Silitonga. Pembicara pada kebaktian ini adalah Bapak Munas Tambunan yang mengambil judul “Hari Perhentian”. Bapak Munas memulai renungannya dengan menanyakan “Apa yang kita lakukan pada hari Sabat dan apakah perbedaannya pada waktu dulu dengan sekarang”. Pembicara menyoroti bagaimana kebanyakan orang kristen pada saat ini kehilangan makna dari menyucikan hari Sabat, Anak mudapun telah kehilangan komunikasi dengan Tuhan. Saat ini, TV, radio, tape, Game, bahkan HP telah membuat banyak anak muda tergoda untuk mengalihkan perhatian mereka dari Tuhan.

Pada waktu Yesus dan murid-muridnya melewati ladang gandung, dan murid-muridnya memetik bulir gandum dan memakannya, maka orang Farisi menegur mereka. Menurut peraturan hari Sabat, orang Jahudi dilarang melakukan kegiatan tersebut. Orang Farisi itu terpaku pada peraturan mengenai Hari Sabat, sehingga apabila ada yang melanggar, mereka tinggal mengutip peraturan tersebut. Disini, Yesus tidak berdebat dengan orang Farisi itu, namun mengajukan bukti-bukti dan pertanyaan yang dapat mematahkan argumentasi orang Farisi tentang peraturan hari Sabat. Yesus ingin mengembalikan fungsi hari Sabat. Hari Sabat bukanlah suatu beban, itu adalah hari kenikmatan. Enam hari lamanya Tuhan menciptakan dunia dan isinya, dan pada hari yang ketujuh, Tuhan beristirahat.

Jadi hari Sabat itu merupakan hari yang istimewa. Hari perhentian, dimana kita boleh berhenti untuk beristirahat dari segala kegiatan keduniawian dan dapat memusatkan pikiran dan kegiatan kita kepada hal-hal rohaniah. Dalam kenyataannya, ada kalanya, kita terpaksa melakukan sesuatu kegiatan yang tidak berhubungan dengan kerohanian. Misalnya, pada hari Sabat, kita dengan terpaksa harus mengisi bahan bakar, ataupun membeli makanan. Sekali lagi, ini adalah hal-hal yang mendesak. Sebenarnya, kita dapat mempersiapkan hal tersebut sebelum tiba pada hari Sabat. Jadi, bilamana hal itu sudah menjadi kebiasaan, dan tidak ada rasa bersalah, maka itulah yang semestinya kita perbaiki dalam kehidupan kita. Kalau kita mempelajari Alkitab, ada hal-hal yang masih dapat ditolelir mengenai hari Sabat ini. Salah satunya, cerita di atas mengenai murid-murid Yesus yang memetik bulir gandum pada hari Sabat. Yesus tidak kaku dalam menerapkan hari Sabat. Namun, hal-hal ini boleh terjadi hanya dalam keadaan mendesak dan bukan menjadi kebiasaan.

Namun, ada juga beberapa orang yang menganggap hari Sabat adalah hari yang melelahkan. Hari yang padat dengan kegiatan-kegiatan gereja yang dapat membuat stres. Sebagian lagi menganggap hari kenikmatan, sehingga dapat santai dan bangun lebih siang Semua anggapan-anggapan ini dapat menghalangi kita untuk menyembah Tuhan. Kita harus membuat keputusan untuk berkomitmen kepada Yesus, memelihara hati dan pikiran kita. Di setiap komunitas dimana kita berada, biarlah kita dapat memancarkan kasih kasih karunia kepada sekitar kita. Biarlah kita tetap setia untuk memelihara hari Sabat dan menyucikannya.

Kebaktian Vesper ini diakhiri dengan menyanyikan lagu “Sabat, Hari Perhentian” dari Lagu Sion nomor 241. Dan seperti biasanya, setelah doa tutup dilayangkan oleh Bapak Munas Tambunan, jemaat berkumpul di halaman Gereja untuk membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu :God is so Good”. Setelah itu mengucapkan “Selamat sabat! Selamat sabat! Selamat sabat! Tuhan memberkati! Halleluyah! Amin!”.