Monday, June 01, 2009

Melayani Allah Berdasarkan Prinsip

Hari Jumat 29 Mei 2009 adalah Jumat terakhir di bulan Mei. Seperti biasa kebaktian Vesper di Jumat akhir bulan diadakan di tiap-tiap kelompok kerja. Begitu pula dengan pembukaan sabat ini, dilakukan tidak di gereja, namun dilakukan di rumah salah satu anggota UKSS – Unit Kerja Sekolah Sabat. Kali ini kebaktian Vesper kelompok UKSS Galaxi diadakan di rumah keluarga Sontani Purnama di kawasan Jaka Permai. Anggota UKSS ini terdiri dari keluarga yang tinggal di perumahan Taman Galaxi dan sekitarnya sampai ke Pondok Kelapa, seperti keluarga Joko Prasetyo, keluarga Jerry Manurung, keluarga Mulana Simanjuntak, keluarga Joy Silaban, keluarga Larry Manurung, keluarga Sudianto Suhardjo, keluarga Dharlen Simanjuntak, keluarga Aswin Sugiarto, keluarga Rizal Maringka, keluarga Wilson Tobing, keluarga Viertin Tobing dan keluarga Sontani Purnama.

Kebaktian pembukaan sabat dibuka oleh Bapak Aswin Sugiarto dengan mengundang yang hadir untuk menyanyikan lagu sion nomor 159, “Mari Kita Kerja Bagi Tuhan” sebagai lagu pembukaan. Doa buka dilayangkan oleh Bapak Dharlen Simanjuntak. Sebuah lagu pujian dibawakan oleh para bapak-bapak. Pada bagian kesaksian, Bapak Aswin menyaksikan penyertaan Tuhan saat dia dalam perjalanan pulang menuju rumah. Dalam perjalanannya, Bapak Aswin merasa bahwa dia dikelingi oleh para pencopet. Namun oleh karena doanya sepanjang perjalanan, maka Tuhan boleh luputkan pak Aswin dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kesaksian kedua dibawakan oleh Bapak Dharlen Simanjuntak yang mengucapkan terima kasih pada Tuhan karena Tuhan telah menolong dan menyertai Stefani, anak bapak Simanjuntak yang bertugas sebagai dokter di puskesmas yang cukup jauh jaraknya dari rumah. Stefani setiap hari harus melakukan perjalanan yang cukup melelahkan sehingga dia harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang di atas jam 8 malam. Namun, berkat pertolongan Tuhan, dia dapat menjalani itu, dan teristimewa, saat ini dia sudah mendapat tempat kos sehingga dia dapat lebih cepat sampai di tempat tugasnya.

Pembahasan pada malam hari ini mengenai motif pelayanan orang kristen. Ada dua cerita yang dapat kita pelajari pada malam ini. Satu mengenai Yusuf, yang walaupun telah mengalami hal-hal yang menyakitkan dalam perjalanan hidupnya, namun dia tetap setia melayani Allah yang disembahnya. Yusuf telah dijual ke Mesir oleh saudara-saudaranya sendiri. Di Mesir, saat dia bekerja di rumah Potifar, dia dia difitnah karena dia tidak mau melanggar hukum Tuhan, dan dimasukkan ke dalam penjara. Di penjara, saat juru minuman telah melupakannya, dia juga tetap setia dalam melayani Allah. Yusuf mempunyai prinsip untuk melayani Allah. Pada cerita yang kedua, diceritakan tentang seorang pangeran yang menawarkan hadiah kepada orang yang mau menolong satu keluarga yang terperangkap di tengah banjir. Saat itu, seorang petani miskin lewat dan ia melihat keluarga yang terperangkap banjir itu. Dengan segera ia melompat ke dalam sebuah perahu dan menentang arus sungai yang menyebabkan banjir itu untuk menolong keluarga yang terperangkap itu. Saat tiba di tempat aman, sang pangeran memberikan hadiahnya, namun petani itu menjawab, “Terima kasih atas kebaikan tuan, tetapi berikanlah hadiah itu kepada keluarga yang malang ini. Ia tetah kehilangan segala sesuatunya”.

Dari dua cerita di atas, kita dapat mengambil pelajaran mengenai motif dari pelayanan. Apakah motif pelayanan kita? Apakah kita tetap memegang prinsip kita? Dalam cerita tentang orang samaria yang baik hati, Kristus melukiskan sikap agama yang benar. Ia menunjukkan, bahwa agama yang benar itu bukanlah bergantung pada peraturan, kepercayaan, atau upacara agama, melainkan dalam melakukan perbuatan kasih, dalam membawa keuntungan terbesar bagi orang lain. (Kebahagian sejati hal. 129). Dengan dorongan kasih Yesus Kristus, marilah kita menjadi orang kristen yang praktis dan bukan hanya teoritis. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” Kolose 3:23-24

Sebelum kebaktian ditutup, semua yang hadir bertelut untuk berdoa. Ibu Gladys Maringka dan bapak Dharlen Simanjuntak melayangkan doa syafaat dengan pokok doa : anggota yang sakit, anak-anak yang sedang dan akan ujian, persatuan dan pertumbuhan kerohanian anggota, semua orang tua kita, kelompok KPA, keluarga Arsyad yang berduka, keluarga Richard Pelaupessy sebagai Family of The Month, dan lain-lain. Kemudian, kebaktian ditutup dengan menyanyikan lagu sion nomor 217, “Tambahkanlah Trang Lampumu” dan dilanjutkan dengan doa tutup yang dilayangkan oleh bapak Viertin Tobing. Selamat Sabat, Selamat Sabat, Selamat Sabat, Tuhan Memberkati, Haleluyah, Amin.