Saturday, July 04, 2009

Berpegang Pada Tuhan

Mazmur 119 : 9 “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih ? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”






Di luar masih gelap sekali, walaupun hari sudah menyongsong pagi, orang-orang masih lelap tertidur. Kami terbangun karena suara keras yang terdengar dari sebelah rumah kami. “Papa, bangun ! Tadi saya dengar suara ribut-ribut dari tetangga sebelah kita!”, kata saya membangunkan suami yang masih lelap tidur. “Mama mungkin salah dengar. Masak pagi-pagi begini ada keributan?”, jawab suami saya masih mengantuk. “Benar kok pa, itu kan suara bapak tetangga kita!”, jawab saya yakin. “Oke, coba kita dengar lagi lebih jelas.”, katanya sambil bangun dan duduk berdiam diri. “Kamu sudah memalukan nama baik keluarga! Dasar anak tidak tahu diri, nama baik keluarga jadi tercemar gara-gara kamu!”, suara bapak tetangga terdengar jelas dan menggelegar. Mereka baru saja pindah dari Sumatera, sehingga dialek dan intonasinya masih terdengar sangat keras. “Kenapa kamu pacaran dengan anak itu? Memangnya tidak ada orang lain yang lebih pantas buat kamu!”, kini giliran suara ibunya yang terdengar. “Aku sayang dan cinta dia ma..”, jawab anaknya perlahan tapi pasti. “Apa katamu? Anak nakal seperti itu dan tidak jelas apa yang dia kerjakan, kamu katakan kamu mencintai dia ?!!”, suara papanya terdengar berang.

”Kalau begini sikap kamu, mama menyesal sekali kita pindah ke Jakarta… Dulu waktu kita masih tinggal di daerah, kamu sangat penurut dan baik anakku…”, suara mamanya sudah mulai bercampur tangisan. Tidak lama kemudian yang terdengar hanyalah suara pintu yang dibanting. “Wah anak itu kelihatannya sudah tidak perduli dengan perkataan ibu dan bapaknya…”, suara kami bersamaan karena setelah itu suasana menjadi hening. Pada pagi hari ketika saya sedang berbelanja sayur, saya bertemu dengan ibu tetangga tersebut. Kelihatan sekali wajahnya terlihat sedih dan gelisah. “Saya bingung sekali menghadapi anak saya bu, sekarang dia sudah tidak mau lagi mendengar nasehat saya”, jelasnya tanpa ditanya. “Ibu banyaklah berdoa. Tuhan akan melembutkan hati anak ibu, sehingga dia mau mendengar kembali apa yang dikatakan oleh bapak dan ibu”, jawab saya menenangkannya. “Kelihatannya sudah sulit bu, sekarang hampir tiap hari dia pulang dini hari, saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan padanya.”, katanya lagi, “Saya doakan agar ibu bisa melalui semua kesulitan ini”, kata saya yang disambut senyum olehnya.

Ayat renungan pagi ini mengatakan agar kita memegang teguh firman Allah yang menyanggupkan kita untuk menjaga perbuatan kita. Setiap manusia memiliki pergumulan untuk menjalani kehidupan. Tantangan, godaan, cobaan, semua datang silih berganti setiap hari. Sebagai manusia yang lemah, kita memerlukan penopang dan pegangan agar tidak jatuh tersandung. Bila kita tersandung, kita perlu penopang untuk segera bangkit dan berjalan lagi. Firman Allah adalah penopang kehidupan. Di dalam rumah tangga kita, jadikanlah firman Allah sebagai yang pertama untuk mengawali hari-hari kita. Firman Tuhan akan memberikan arahan dan kekuatan bagi seorang ayah, ibu dan anak-anak dalam menghadapi masalah, tantangan dan godaan setiap hari. Berjalan bersama Tuhan setiap hari akan menyanggupkan kita memelihara perbuatan kita setuju dengan Allah.

May His wonderful blessings be ours every day !