Friday, July 17, 2009

Jikalau Tidak Kamu Melihat Tanda-tanda Dan Mujizat, Tidak Juga Kamu Percaya

Hari Rabu 15 Juli 2009, tepat jam 19:30 acara kebaktian Rabu malam dimulai. Pendeta R.Y. Hutauruk mengundang jemaat untuk berdiri dan menyanyikan lagu pembukaan yang diambil dari Lagu Sion nomor 174, “Pada-Mu Batu Zaman”. Sutikno melayangkan doa pembukaan. Sebuah lagu pujian yang merdu dibawakan oleh keluarga Jamesson Silitonga. Renungan di kebaktian Rabu malam ini diambil dari buku “Kerinduan Segala Zaman” pasal 20 yang berjudul “Jikalau Tidak Kamu Melihat Tanda-tanda Dan Mujizat, Tidak Juga Kamu Percaya.” Renungan dibawakan oleh Bapak Marlan Sianturi.

Bapak Marlan memulai pembahasan dengan menampilkan peta perjalanan Yesus. Saat Yesus kembali dari Yudea menuju ke Kana, Dia tidak mengunjungi Nazaret karena para penduduk disana tidak percaya pada Yesus. Jadi bila kita menginginkan Yesus hadir dalam rumah dan diri kita, maka yang pertama kita harus percaya pada Yesus. Berita pulangnya Yesus ke Kana menarik perhatian seorang bangsawan dari Kapernaun. Anak dari bangsawan ini sakit dan tidak ada tabib yang dapat menolongnya. Ia mau menempuh perjalanan dari Kapernaun ke Kana selama 3-4 jam untuk menemui Yesus. Saat ia melihat Yesus, imannya sedikit goyah karena ia hanya melihat seseorang yang berpakaian sederhana, penuh debu dan sudah penat karena perjalanan jauh. Namun demikian, dengan bangsawan ini datang untuk memohon kepada Yesus, berarti ia telah memiliki sedikit iman dan itu merupakan berkat yang terindah.

Juru Selamat rindu hendak mengaruniakan kepada kita suatu berkat yang lebih besar dari pada yang kita minta dan mohon kepada-Nya. Dan bila Yesus menunda jawaban kepada permohonan kita, Dia ingin menunjukkan kepada kita keburukan hati kita dan keperluan kita yang lebih besar akan rahmat-Nya. Ia rindu agar kita meninggalkan sifat mementingkan diri, dan ini akan menuntun kita untuk mencari Dia. Dengan mengakui keadaan kita yang tak berdaya dan keperluan kita yang besar, maka kita akan mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada kasih-Nya.

Di akhir renungan ini Bapak Marlan mengajak kita untuk tidak mementingkan diri sendiri, melainkan harus mendahulukan Tuhan. Walaupun iman kita lemah, kalau kita datang kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan suatu berkat yang besar, bahkan lebih besar dari yang kita harapkan. Efesus 3:20 mengatakan, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Sebelum jemaat membentuk kelompok doa, beberapa orang memberikan kesaksian dan menyampaikan beberapa hal yang perlu didoakan pada malam ini. Setelah itu, jemaat membentuk beberapa kelompok doa dan dengan tekun menyampaikan satu per satu permohonan kepada Tuhan. Kebaktian Permintaan Doa malam ini ditutup dengan menyanyikan lagu ”Tiada Sahabat S’perti Yesus”. Bapak Marlan Sianturi melayangkan doa tutup. Jemaat pulang ke rumah dengan sukacita di malam kebaktian penuh dengan berkat ini.