Sunday, December 27, 2009

Mundur Selangkah Untuk Maju Tiga Langkah

Mazmur 11:7 “Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.”




“Hugghhhh…! Hughhhh…!”, suara tangisan sayup-sayup terdengar. Saya coba dekati dari mana arah suara itu keluar. Rupanya berasal dari balik gedung sekolah ini. “Hai nona…, kenapa kamu menangis?”, tanya saya sambil mendekati dan duduk di sebelahnya. “Ibu…, hidup saya sudah tidak ada lagi artinya ! Saya diberhentikan dari sekolah ini…”, suaranya dibarengi dengan isak tangisnya yang semakin keras. “Kenapa kamu merasa seperti itu?”, tanya saya ingin tahu. “Saya memang sudah melanggar peraturan sekolah… Banyak teman-teman lain melakukan pelanggaran yang lebih berat…, tetapi mereka tidak di hukum seberat saya!”, katanya mulai terdengar emosi. “Sabar dulu… Semua masalah tentu ada jalan keluarnya. Kamu tenang dulu ya…”, jawab saya menenangkan. “Tidak bisa bu…! Saya mau menuntut keadilan… Saya tidak terima diberhentikan dari sekolah ini…!!”, suranya kembali bernada tinggi. “Siapa tahu dengan kamu keluar dan pindah ke sekolah yang baru kamu akan memulai segalanya dengan lembaran yang baru…”, kata saya sambil memeluknya. “Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan, tetapi saya akan coba mendengar nasihat ibu… Semuanya tergantung kedua orangtua saya. Semoga saja mereka tidak akan marah mendengar masalah yang saya hadapi.”, katanya mulai mereda. Sore itu walau akhirnya kami berpisah, tetapi saya yakin dari wajahnya saya melihat dia sudah lebih mengerti lagi.

Siswi saya itu kembali ke kampung halamannya, berkumpul kembali bersama keluarganya. Tidak lama setelah itu, saya mendapat kabar darinya. “Ibu, saya sudah kembali bersekolah. Kedua orang tua saya sudah mendapat sekolah yang baik. Tolong doakan saya bu…, saya ingin memulai lembaran yang baru dalam hidup saya…”, katanya dengan bijak. “Ibu sangat senang mendengar kabar kamu. Ibu pasti akan mendoakan agar kamu berhasil melalui masa-masa yang baru dalam hidup kamu.”, kata saya memberi semangat. “Nanti jika ibu ada waktu, saya mau tetap bercerita kepada ibu agar ada yang tetap memberi dorongan supaya saya tetap bersikap positif ya bu…!”, suaranya terdengar begitu ceria. “Pasti, ibu akan membantu kamu. Semoga kamu sukses ya nak ! Lupakan hal-hal yang tidak baik dan jangan coba-coba lagi untuk melakukanya.”, kata saya mengakhiri pembicaraan kami.

Ayat renungan kita pagi ini mengatakan bahwa Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi keadilan. Kita terkadang merasa dunia tidak adil dan bertanya-tanya mengapa harus ada ketidak-adilan. Kadangkala kesalahan yang cukup besar mendapatkan hukuman yang kecil, dan sebaliknya kesalahan yang kecil mendapat hukuman yang berat. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mundurlah satu langkah, untuk maju tiga langkah. Di saat kita menghadapi hal yang dirasa tidak adil, kita mundur dari perkara itu dan datanglah kepada Tuhan. Tuhan penuh dengan keadilan. Tuhan akan memberikan kebijaksanaan dan kesanggupan bagi kita untuk kembali maju melangkah. Tuhan akan menuntun kita melangkah ke satu lembaran yang baru dalam kehidupan kita. Lembaran yang akan mengisi kehidupan kita di masa depan yang lebih baik lagi. Tuhan penuh kasih dan keadilan. Dia tidak akan membiarkan kita sendiri.

Have a refreshing holiday !