Friday, March 18, 2011

Juru Kemudi


M
azmur 139:23-24, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”


Hari itu kami hendak bepergian ke luar rumah dalam rangka menghadiri acara syukuran di rumah salah seorang abang sepupu saya yang tinggal di salah satu daerah yang sama dengan kami. Sudah lama kami ingin berkunjung namun kami kurang menguasai lokasi rumah tersebut karena kami baru saja hijrah dari daerah ke kota ini. Namun demikian petunjuk arah telah diberikan kepada kami. Kami pun bergerak keluar rumah menuju lokasi dengan sebuah harapan agar tiba dengan tepat waktu. Tiba disalah satu persimpangan, istri saya berkata, “Pi, sepertinya lewat sana". Saya menjawab, “Nggak. Lewat sini aja. Papi pernah lewat sini waktu naik motor.” Istri saya kembali bertanya, “Memang kalau lewat situ tembus kemana?”. “Ke daerah rumah abang,” sahut saya.

Lalu istri saya menjawab, “Ikuti saja arah yang tadi sudah dikirim. Biar kita nggak salah jalan.” Namun saat itu saya berkeras untuk menggunakan jalan yang saya pernah lalui menggunakan motor. Akhirnya sudah hampir beberapa saat kami berjalan, kami pun mulai kebingungan ke mana arah jalan ini sebenarnya. Dengan penuh perjuangan, akhirnya kami tiba di jalan utama menuju rumah abang sepupu saya. “Ikutin instruksinya aja, jangan ambil jalan lain lagi sudah hampir terlambat kita,” istri saya mencoba mengingatkan saya. Sambil membuka telepon genggam, istri saya berusaha membimbing saya untuk menunjukkan arah yang benar dan kami pun berhasil tiba dengan sukacita, berkumpul dengan keluarga disana dalam suatu suasana yang gembira.

Sudah pasti Surga adalah tujuan akhir hidup kita dan Allah telah memberikan segudang petunjuk di dalam Alkitab. Namun, betapa sering kita mencoba mengambil jalan pintas, mencoba lari dari petunjuk-petunjuk yang Allah berikan kepada kita dan mengandalkan diri kita sendiri seolah-olah kita lebih mengerti dibandingkan Allah. Kita sering bersandar kepada pemikiran kita sendiri, yang akhirnya menjerumuskan kita ke jalan yang salah dan berbahaya. Namun syukur kepada Allah atas kasih dan kemurahan-Nya, memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali mengikuti segala petunjuk yang Allah berikan, bilamana dengan penuh kerendahan hati kita mau membiarkan Tuhan mengemudikan kemudi kehidupan kita. Ingatlah, di akhir perjalanan itu ada sukacita bersama Allah dan umat percaya lainnya menjadi bagian saudara dan saya. Kiranya Allah menjadi Juru Kemudi hidup anda dan saya.


Mari kita bagikan Roti Pagi ini kepada sahabat kita dengan menggunakan tombol "Tell A Friend" di bawah ini.